Membidik Ceruk Pasar Rumah (Pintar) Modular

Kemajuan teknologi dan fenomena ”Urban Heat Island” turut menopang pertumbuhan pasar rumah modular dunia. LG Smart Cottage turut meramaikannya.

30 Apr 2025 11:19 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi

Pasar rumah modular dunia diperkirakan kian tumbuh. Urbanisasi, gaya hidup, keterbatasan lahan untuk hunian, dan perubahan iklim menjadi sejumlah faktor pengungkitnya. LG Electronics melalui pondok pintarnya berupaya membidik ceruk pasar tersebut.

Rumah modular merupakan rumah yang dibangun dengan metode prefabrikasi. Artinya, komponen-komponen rumah, seperti dinding, atap, pintu, jendela, dan lantai diproduksi di pabrik, kemudian dirakit di lokasi hunian.

Rumah tersebut tidak memakan banyak lahan, bahkan dapat dipindahkan kapan pun. Rumah bernapas ramah lingkungan dan hemat energi itu menyasar berbagai kalangan, mulai dari yang berpenghasilan rendah, menengah, hingga tinggi.

Mordor Intelligence, firma konsultan riset pasar dunia asal India, memperkirakan nilai pasar rumah modular atau prefabrikasi pada 2025 sebesar 143,55 miliar dollar AS. Pada 2030, nilai pasarnya diperkirakan meningkat menjadi 198,24 miliar dollar AS. Dalam kurun waktu itu, rerata pertumbuhan tahunannya sebesar 6,67 persen.

Kendati hanya mencakup sebagian kecil dari industri konstruksi dunia yang sekitar 1 triliun dollar AS, perkembangan pasar rumah modular itu perlahan terus tumbuh. Rumah prefabrikasi itu menjadi semakin populer karena efektivitasnya di lokasi, peningkatan produktivitas dan keselamatan pekerja, serta biaya konstruksi yang lebih murah.

Quote

Nilai pasar rumah modular atau prefabrikasi pada 2025 sebesar 143,55 miliar dollar AS. Pada 2030, nilai pasarnya diperkirakan meningkat menjadi 198,24 miliar dollar AS.

Salah satu rumah modular atau prefabrikasi dengan sistem modular bongkar-pasang di Bali milik Grhya Prefab.

Tidak hanya itu, di sejumlah negara, termasuk Indonesia, rumah modular menjadi solusi bagi isi dompet yang pas-pasan. Rumah tersebut juga menjadi jawaban atas semakin terbatasnya lahan untuk hunian di kota-kota besar. Bahkan, pembangunan rumah modular dapat mempersingkat masa konstruksi hingga 50 persen atau lebih dibandingkan pembangunan dengan beton bertulang.

Asosiasi Perusahaan Pra-cetak dan Prategang Indonesia (AP3I) menyebutkan, rumah modular belum banyak diminati di Indonesia. Pasar rumah prefabrikasi itu masih terbatas dan baru banyak digunakan untuk rumah pondok pekerja konstruksi dan pertambangan, serta pondok singgah (cottage) di sejumlah lokasi wisata.

Pelaku wisata luar ruangan asal Bali, Debby (46), misalnya, membeli satu unit rumah prefabrikasi untuk usaha sewa penginapan di kawasan wisata Canggu pada 2023. Rumah modular itu berukuran studio 36 meter persegi dan berisi tempat tidur, lengkap dengan dapur, dan kamar mandi.

Produk itu jadi dalam waktu 45 hari dan selesai terinstalasi dalam waktu sebulan. Untuk produk dan seluruh jasa pengerjaan dihargai sekitar Rp 400 juta.

”Salah satu keunggulan bangunan itu adalah bisa dipindahkan kapan saja. Kalau bangunan konvensional, kan, enggak bisa," katanya (Kompas, 11/7/2024).

Tangkapan layar salah satu contoh rumah modular berbasis beton pracetak (precast concrete) yang ditampilkan dalam Wrokshop Konstruksi Indonesia 2024 yang digelar Asosiasi Perusahaan Pra-cetak dan Prategang Indonesia (AP3I) secara hibrida di Tangerang Selatan, Banten, pada 7 November 2024.

Kendati begitu, AP3I menyebutkan, peluang pasar rumah modular di Indonesia cukup besar. Ini mengingat Pemerintah RI di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah menggulirkan program Pembangunan 3 Juta Rumah.

Dalam Workshop Konstruksi Indonesia 2024 pada 7 Novemver 2024, AP3I bersama sejumlah mitra dan anggotanya berupaya membidik ceruk pasar tersebut. Salah satu yang ditawarkan adalah rumah modular berbasis beton pracetak (precast concrete).

Direktur Operasional PT Motive Mulia, anak usaha dari PT Cemindo Gemilang Tbk, Akhmad Syamsuddin menyatakan, material beton pracetak ini merupakan alternatif untuk membangun rumah tapak dan susun. Waktu pembuatan rumah tapak hanya membutuhkan waktu satu hari dengan biaya sekitar Rp 3 juta per meter persegi.

LG Smart Cottage

Berbeda dengan negara-negara lain, seperti di Amerika Serikat, Jerman, Portugal, China, Korea Selatan, dan Jepang, rumah modular untuk hunian sangat diminati. Hal itu tidak terlepas dari gaya hidup generasi terkini, tren keluarga kecil, keterbatasan lahan, dan perubahan iklim.

Faktor perubahan iklim turut menjadi penentu gaya memilih hunian lantaran fenomena urban heat island (UHI). UHI merupakan fenomena peningkatan suhu di daerah perkotaan menjadi lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya yang lebih pedesaan.

Infografik Suhu Permukaan Global: Meningkat di Atas Tingkat Praindustri (1850-1900)

Hal itu disebabkan oleh berbagai faktor, seperti modifikasi permukaan tanah, berkurangnya vegetasi tumbuhan, dan penggunaan energi yang menghasilkan panas. Selain itu, penggunaan material bangunan yang menyerap dan memancarkan panas, serta urbanisasi juga dapat memicu UHI.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyebutkan, fenomena Urban Heat Island terus meningkat seiring dengan terjadinya urbanisasi dan pertumbuhan kota. Salah satunya pembangunan kawasan perumahan yang diperkirakan menghabiskan 40 persen dari konsumsi energi dan menyumbang sekitar 30 persen emisi gas rumah kaca.

Melihat ceruk pasar rumah modular yang besar, LG Electronics berupaya membidiknya. Tentu saja bukan sekadar rumah modular konvensional, melainkan rumah modular pintar yang ramah lingkungan.

LG Electronics merilis LG Smart Cottage atau pondok pintar LG di Internationale Funk Ausstellung (IFA) di Berlin, Jerman, pada September 2023. Smart Cottage merupakan rumah modular kecil yang mengintegrasikan ruang dengan berbagai perlengkapan rumah tangga elektronik dan nonelektronik, serta sistem layanan otomatis yang terkoneksi dengan telepon selular.

Kompas bersama rombongan jurnalis Thailand, Singapura, dan Vietnam menyambangi model pondok pintar LG tersebut di kawasan LG Smart Park: Lighthouse Factory di Changwon, Busan, Korea Selatan, Rabu (23/4/2025). Kegiatan itu dalam rangka LG HS Asia Press Tour di Seoul dan Busan pada 21-24 April 2025.

Quote

Kelistrikannya bersumber dari tenaga surya. Baik model Mono maupun Duo, dilengkapi dengan teknologi sistem tata udara HVAC (heating, ventilation, and air conditioning).

Sejumlah karyawan LG Smart Park melewati model LG Smart Cottage atau Pondok Pintar LG  di LG Smart Park: Lighthouse Factory di Changwon, Busan, Korea Selatan, Rabu (23/4/2025).

Pondok pintar LG di kawasan tersebut bertipe Mono+ Single Story dengan luas bangunan 26,6 meter persegi. Kelistrikannya bersumber dari tenaga surya. Bangunannya terbuat dari baja berkarbon rendah, sedangkan interiornya menggabungkan kayu keras, ubin, dan kuningan.

Model pondok pintar satu lantai tersebut menghubungkan ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan kamar mandi dalam satu ruang. Pondok pintar itu juga dilengkapi dengan peralatan elektronik LG, seperti mesin cuci pakaian dan piring, oven, pemurni air, AC, kulkas, dan televisi.

LG juga melangkapinya dengan perangkat berbasis internet untuk segala (IoT), seperti kunci pintu pintar, CCTV, pengatur kelembaban udara, dan tirai elektrik. Semua perangkat elektronik dan berbasis IoT itu terintegrasi dengan aplikasi LG ThinQ.

”Dengan teknologi itu, pemilik pondok pintar dapat mengoperasikan berbagai perangkat tersebut secara otomatis dengan telepon pintar melalui sentuhan maupun suara. Sistem tersebut juga memungkinkan kendali jarak jauh berbagai perangkat di pondok pintar itu,” kata Yonu Cho, LG Smart Cottage Representative.

Salah satu model LG Smart Cottage yang dibeli SM Entertainment, perusahaan hiburan terbesar di Korea Selatan, di Gangwon, Korea Selatan.
LG Smart Cottage yang dibeli SM Entertainment, perusahaan hiburan terbesar di Korea Selatan, di Gangwon, Korea Selatan.

Menurut Cho, selain model Mono, LG juga mengembangkan model Duo atau dua lantai seluas 45,4 meter persegi. Lantai pertama digunakan sebagai ruang tamu, dapur, dan kamar mandi, sedangkan lantai kedua untuk kamar tidur.

Baik model Mono maupun Duo, dilengkapi dengan teknologi sistem tata udara HVAC (heating, ventilation, and air conditioning). Tujuannya untuk mengontrol suhu, kelembapan, dan kualitas udara di dalam ruangan guna menciptakan lingkungan yang nyaman dan sehat bagi penghuninya.

Cho juga menuturkan, SM Entertainment, perusahaan hiburan terbesar di Korea Selatan, telah memesan tiga unit pondok pintar LG untuk dipasang di Pusat Pelatihan SM Entertainment di Provinsi Gangwon, Korea Selatan. Pesanan itu terdiri dari dua model Mono dan satu model Duo.

”SM Entertainment menggunakan pondok-pondok pintar tersebut sebagai pusat pelatihan dan lokakarya karyawan, termasuk para artis dan calon artis K-pop,” tuturnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari