Indonesia U-23 berada pada jalur yang benar bersama Gerald Vanenburg. Tim usia muda sebaiknya lebih banyak menyentuh bola alih-alih hanya mengincar kemenangan.
21 Jul 2025 07:06 WIB · Olahraga
Dalam tiap sesi wawancara, Gerald Vanenburg nyaris selalu menyebut kemenangan sebagai targetnya pada tiap laga Kejuaraan ASEAN U-23. Ini membuat Vanenburg terkesan pragmatis.
Namun, pelatih Indonesia U-23 tersebut bukanlah sosok demikian layaknya Massimiliano Allegri yang menjadikan kemenangan, dengan skor tipis sekalipun, sebagai satu-satunya tujuan. Kemenangan memang perlu diraih demi bisa memenuhi target menjuarai Kejuaraan ASEAN U-23 di markas sendiri.
Target untuk menang tidak serta-merta mengaburkan niat untuk menyuguhkan permainan sepak bola yang menghibur dan mengembangkan pemain agar lebih matang melalui kompetisi. Vanenburg memegang prinsip itu. Ia mendidik para pemain muda Indonesia untuk lebih berani menguasai bola dan bermain atraktif.
Buktinya terletak pada statistik ”Garuda Muda” setelah menjalani dua laga di fase penyisihan grup. Dari 10 tim kontestan Kejuaraan ASEAN U-23, Indonesia termasuk tim dengan jumlah tembakan tepat sasaran, operan, dan rerata penguasaan bola tertinggi.
Dari segi jumlah tembakan tepat sasaran, Indonesia memimpin dengan 21 kali percobaan tendangan. Unggul dua tendangan atas Malaysia di peringkat kedua dengan 19 kali. Mayoritas percobaan tembakan yang dicatatkan Indonesia dan Malaysia berasal dari laga menghadapi Brunei Darussalam sebagai tim terlemah di Grup A.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/15/ef013427179a374d52299033fbb09fbb-FAK_1009.jpg)
Demikian pula dengan statistik mengenai rerata penguasaan bola. Indonesia mencatatkan rerata penguasaan bola sebesar 74 persen, unggul atas Malaysia dengan 73,2 persen.
Jumlah operan Indonesia pun unggul dibandingkan Malaysia. Garuda Muda tercatat melepaskan 1.143 operan sukses dari 1.270 percobaan. Ini membuat persentase operan sukses Indonesia mencapai 90 persen.
Faktor melawan Brunei memang menjadi penyebab utama mengapa Indonesia dan Malaysia bisa mencatatkan keunggulan statistik seperti itu. Namun, tetap saja Indonesia bisa tampil lebih baik dibandingkan Malaysia.
Selain itu, saat menghadapi Filipina yang memiliki kualitas pemain jauh di atas Brunei, para pemain Indonesia juga membuang jauh-jauh pragmatisme.
Alih-alih tampil pasif atau bermain aman, Vanenburg menginstruksikan para pemainnya untuk terus menggempur pertahanan Filipina. Dominasi penguasaan bola hingga 67 persen dan tujuh tembakan tepat sasaran berbanding satu milik Filipina menjadi buktinya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/20/90f4a01ff833033648c3794e57659fd8-cropped_image.jpg)
Meski data yang tersedia masih bersifat sementara, lantaran Vietnam dan Thailand di grup lainnya baru memainkan satu laga, statistik Indonesia ini bisa digunakan sebagai gambaran bagaimana ciri khas permainan yang sedang coba dibangun Vanenburg. Keunggulan statistik seperti yang diperlihatkan Indonesia sulit ditemui pada tim yang menjadikan kemenangan sebagai tujuan tunggal mengikuti turnamen.
Ada dua faktor yang melatari mengapa Vanenburg menekankan kepada para pemainnya untuk lebih berani bermain atraktif. Pertama, menyentuh bola lebih banyak sangat penting bagi para pemain muda.
Pemahaman ini juga dianut Byun Sung-hwan saat melatih Korea Selatan dalam perhelatan Piala Dunia U-17 di Indonesia pada 2023. Byun berani mengambil risiko tersingkir pada fase penyisihan grup tanpa meraih satu pun poin asalkan timnya mampu tampil atraktif dan merepotkan lawan-lawannya.
Hasil pada akhirnya belum berpihak pada Korea Selatan, tetapi mereka mampu menyuguhkan permainan yang menghibur melawan tim yang secara kualitas lebih baik. Meski kalah, Korsel bisa memberikan perlawanan maksimal yang tecermin dari jumlah tembakan tepat sasaran dan dominasi pengusaan bola.
”Kami akan setia pada gaya kami sejak pertandingan pertama dan saya akan bertanggung jawab atas hasilnya,” ujar Byun kala itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/15/04669d6222680ac2c12f1b784e4b514a-FAK_1241.jpg)
Byun selalu percaya, dengan lebih sering menyentuh dan menguasai bola, para pemain muda Korea Selatan akan terus berkembang. Menjadikan kemenangan sebagai tujuan satu-satunya merupakan hal yang keliru jika diterapkan pada tim sepak bola usia muda.
Faktor kedua adalah Vanenburg melihat Kejuaraan ASEAN U-23 ini sebagai sarana mematangkan timnya sebelum berjuang pada kualifikasi Piala Asia U-23 September mendatang. Jika hanya menjadikan trofi Kejuaraan ASEAN U-23 sebagai tujuan, Vanenburg tidak perlu repot-repot memoles timnya agar piawai dalam membangun serangan lalu menciptakan peluang.
Dia pun rela tidak menyertakan Marselino Ferdinan dan Rafael Struick ke dalam timnya. Padahal, keberadaan Marselino dan Struick yang punya jam terbang tinggi di tim senior hampir dipastikan menambah kekuatan Indonesia U-23. Dengan begitu, jalan memenangkan Kejuaraan ASEAN U-23 tentu jadi lebih lapang.
”Kami akan bermain dengan cara kami sendiri. Namun, saya rasa yang terpenting adalah kami punya karakter karena kami tidak (terus) membutuhkan semua pemain yang sama. Jadi ,saya rasa kami senang dengan pilihan pemain ini,” kata Vanenburg.
Saat laga menghadapi Filipina, Vanenburg merombak lini belakang dengan memainkan Kadek Arel, Alfharezzi Buffon, dan Kakang Rudianto. Di sini ia coba memberikan menit bermain yang adil kepada seluruh pemain. Tidak melulu mengandalkan Muhammad Ferarri dan Brandon Scheunemann sebagai palang pintu terakhir Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/15/27702826b4d07f6f4e4507ab2032ae98-YGA_2552.jpg)
Di lini serang pun, Vanenburg menarik Jens Raven dan memberi kepercayaan kepada Hokky Caraka. Sebuah keputusan yang memicu pertanyaan mengingat performa Raven yang mencetak hattrick ganda saat mengalahkan Brunei.
Sulit membayangkan Vanenburg berani merotasi pemain secara besar-besaran jika memang kemenangan adalah satu-satunya tujuan Garuda Muda.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan