Beberapa persiapan yang dilakukan fotografer untuk dapat memotret olahraga dengan baik.
09 Agt 2021 08:58 WIB · Gaya Hidup
Dalam dua minggu terakhir ini, kita banyak disuguhi berita tentang helatan ajang olahraga terbesar sejagat, yaitu Olimpiade, yang kali ini digelar di Tokyo, Jepang. Ajang ini seharusnya digelar tahun 2020. Namun, karena pandemi Covid-19, ajang ini dilaksanakan tahun 2021 dengan tetap menyandang nama Olimpiade Tokyo 2020.
Informasi tentang Olimpiade Tokyo ini berseliweran, baik di media massa maupun media sosial. Selain kabar tentang suasana dan nuansa kompetisi, publik juga disuguhi beragam foto dan video terkini dari arena Olimpiade. Visual-visual yang menyebar ke seluruh dunia tersebut tampil sangat menarik, indah, atraktif, dan terasa penuh drama bagi pemirsanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-j_1628430885.jpg)
Di balik keindahan visual tersebut sesungguhnya ada kerja keras para jurnalis, terutama pewarta foto yang harus selalu berada di sisi arena langsung setiap saat. Meliput perhelatan olahraga multicabang sebesar Olimpiade membutuhkan kemampuan individu ataupun kerja sama tim karena banyaknya cabang olahraga dan sebaran tempat pertandingan di sejumlah lokasi. Berbeda dengan meliput sebuah turnamen atau kompetisi salah satu cabang, seperti turnamen sepak bola piala dunia, kejuaraan bulu tangkis, atau hanya satu pertandingan olahraga rutin.
Baca juga: Memilih Foto Kemenangan Greysia/Apriyani
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-z_1628435133.jpg)
Lantas apa sih yang harus dipersiapkan untuk memotret olahraga tersebut?
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan agar dapat memotret olahraga dengan hasil yang bagus. Berikut beberapa hal yang harus disiapkan sebelum memotret olahraga:
Untuk memotret olahraga yang peristiwanya rata-rata berlangsung cepat tentunya dibutuhkan kamera dan lensa yang mendukung. Selain itu, saat memotret olahraga kita tidak boleh mengganggu jalannya pertandingan atau lomba sehingga memotretnya tidak bisa selalu dari jarak dekat. Untuk itu kamera dengan pengaturan kecepatan dan ISO tinggi serta lensa tele dengan kemampuan merekam cepat menjadi peralatan wajib fotografer olahraga. Lensa-lensa sudut lebar pun juga tetap perlu disiapkan untuk alternatif memotret dengan sudut pandang lain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-k_1628430864.jpg)
Peraturan jarak aman memotret ini selain untuk memberi kenyamanan atlet dan perangkat pertandingan juga untuk keselamatan fotografer itu sendiri karena saat berkompetisi atlet akan tampil maksimal yang terkadang pergerakannya bisa berdampak ke sekitar arena. Tak jarang pergerakan atlet bisa sampai ke luar arena sehingga membahayakan perangkat pertandingan atau fotografer yang memotret di sekitar arena. Sudah banyak kejadian fotografer tertabrak atlet yang tak sengaja karena kehilangan kontrol saat berlaga.
Jarak aman juga berlaku untuk beberapa cabang olahraga yang sebenarnya tak banyak dinamikanya dan cenderung statis, seperti catur. Jarak aman dibutuhkan agar pergerakan fotografer tidak mengganggu konsentrasi atlet. Terkadang bunyi rana kamera dengan kecepatan tinggi juga dianggap mengganggu konsentrasi. Saat ini sudah jamak teknologi kamera mirrorless yang memungkinkan kamera tak bersuara.
Baca juga: Kamera Saku Manual dan Lensa Bocor
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-m_1628430796.jpg)
Selain kamera dan lensa memadai, saat ini kita bisa juga melengkapi diri dengan peralatan untuk mengambil foto aerial dari atas atau bawah air untuk cabang akuatik. Dengan teknologi drone yang marak sekarang kita bisa mudah mendapatkan foto aerial, sedangkan untuk foto-foto akuatik bawah air kita bisa menggunakan teknologi kamera robot.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-r_1628430735.jpg)
Mengenali cabang olahraga yang akan kita liput sangatlah penting. Pengenalan tak hanya sekadar nama dan sekilas pertandingannya, tetapi perlu juga kita paham peraturan yang berlaku di olahraga tersebut. Memahaminya akan mempermudah kita mengikuti jalannya pertandingan dengan segala dinamika dan dramanya di arena.
Mengenal cabang olahraga juga memberi kita gambaran awal untuk membuat perencanaan adegan apa yang kita-kira menarik untuk difoto. Untuk memahami kita bisa mencari informasi dari berbagai sumber. Di era digital sekarang tentunya lebih mudah karena kita bisa mencari contoh foto atau bahkan rekaman video berbagai olahraga yang ada untuk mempelajari adegan-adegan apa yang menarik difoto.
Baca juga: Serba Detail di Olimpiade Tokyo 2020
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-e_1628430958.jpg)
Memotret olahraga merupakan salah satu cara mengasah kemampuan teknik fotografi kita. Meskipun di kebanyakan foto olahraga imajinya menggambarkan pembekuan gerak atlet yang berlaga, tak menutup kemungkinan kita membuat imaji berbeda dengan bermain teknik fotografi.
Gambar beku dalam foto olahraga mungkin dianggap sudah lazim. Orang akan berpikir asal ada kamera dengan kemampuan kecepatan tinggi dan lensa memadai kita dengan gampang memperoleh foto olahraga yang bergerak cepat. Kenyataannya mungkin tak semudah itu, butuh pengalaman dan naluri yang terlatih.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-g_1628430935.jpg)
Dan sekarang justru mulai banyak karya foto olahraga yang tidak menampilkan gambar beku, tetapi visual yang diambil dengan teknik kecepatan rendah. Foto yang dihasilkan terkesan blur, tetapi merupakan gambaran dinamika pertandingan. Teknik panning dan slow speed biasa digunakan untuk ini.
Selain itu, bermain komposisi, sudut pengambilan gambar, dan memanfaatkan cahaya yang ada dapat menambah variasi foto kita.
Baca juga: Dinamika Kerja Pewarta Foto
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-p_1628430765.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-o_1628430776.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-q_1628430748.jpg)
Ada beberapa cabang olahraga yang kita mungkin tidak perlu izin khusus untuk bisa memotretnya. Biasanya olahraga ini digelar di wilayah publik yang tidak terlalu ketat pembatasan arenanya. Hal ini bisa terjadi karena olahraga tersebut hanya bisa dilakukan di ruang terbuka dan lepas sehingga ruang publiklah yang bisa digunakan dan masyarakat umum diharapkan berpartisipasi menonton serta menjadi penyemangat para atlet. Misalnya cabang olahraga balap sepeda nomor jalan raya, nomor-nomor atletik jarak jauh, seperti lari maraton dan jalan cepat, renang maraton, atau triatlon.
Cabang olahraga itu bisa menjadi bagian kompetisi olahraga multicabang, seperti Olimpiade, Asian Games, dan PON atau bahkan Pekan Olahraga Daerah serta pelajar. Namun, banyak juga cabang olahraga itu merupakan satu kompetisi sendiri yang hanya melombakan satu atau beberapa nomor sejenis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-h_1628430916.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-x_1628435170.jpg)
Meskipun bisa memotret tanpa izin khusus, sebagai jurnalis kita lebih baik mengurus izin akses liputan karena dengan adanya akses tersebut kita bisa mengambil foto di tempat-tempat khusus yang disiapkan panitia. Pantia lomba biasanya sudah menyediakan tempat-tempat khusus pengambilan foto yang menarik karena mereka berkepentingan kegiatannya terpublikasikan. Untuk lomba-lomba di jalan umum, salah satu tempat menarik mengambil foto adalah di area tempat finish. Hanya dengan izin akses khusus yang bisa memotret di tempat itu.
Untuk kompetisi besar multicabang yang diikuti banyak negara, seperti Olimpiade atau Piala Dunia, akreditasi izin peliputannya bahkan sudah harus diajukan setahun sebelum kompetisi digelar. Dengan akses resmi tersebut, kita punya hak memasuki zona-zona khusus di arena yang bisa memungkinkan kita lebih dekat dengan atlet. Akses juga mempermudah kerja kita untuk mendapatkan informasi pertandingan hingga mengirimkan hasil liputan.
Baca juga: Merekam Semangat Para Pejuang di Kala Pandemi
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-n_1628430811.jpg)
Bukan hanya atlet yang akan berlaga yang harus memiliki kesiapan fisik dan mental, kerja jurnalisme juga membutuhkan hal itu. Apalagi meliput kompetisi olahraga. Sebagai pewarta foto kita diharuskan berada langsung di arena, bahkan sebelum atlet masuk arena kita sudah harus siap di sana sehingga bisa mendapatkan foto lengkap dari awal hingga akhir pertandingan.
Kondisi arena yang berbeda-beda menuntut kita bisa beradaptasi. Untuk kompetisi olahraga di luar ruangan rata-rata digelar saat musim panas supaya tidak terganggu cuaca. Dengan kondisi tersebut pewarta foto juga harus siap di arena terbuka yang pasti cuacanya panas dan terik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-v_1628435216.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-y_1628435150.jpg)
Ada juga cabang-cabang olahraga yang memang hanya bisa diadakan di musim tertentu, yaitu musim salju. Bahkan, untuk ini ada kompetisi khusus, seperti Olimpiade Musim Dingin. Memotret olahraga di sini kita juga harus siap berhadapan dengan cuaca dingin.
Selain itu, ada juga kompetisi olahraga yang berlangsung simultan berhari-hari yang mengharuskan terus bergerak dan pindah lokasi setiap hari. Meliput kompetisi seperti ini sangat membutuhkan kondisi fisik prima. Beberapa jenis kompetisi olahraga ini, misalnya tur balap sepeda, reli mobil, lomba layar di laut, lomba-lomba olahraga lintas alam, dan lomba lari ultramaraton. Lomba seperti itu selalu bergerak berpindah tempat. Bahkan, lari ultramaraton bisa digelar nonstop hingga finish.
Baca juga: ”Jatuh dari Langit” dan di Luar Prediksi
Setelah semua persiapan dilakukan, satu hal penting yang harus diingat adalah melihat jadwal lomba. Segala persiapan yang kita lakukan tak ada artinya jika kita salah melihat jadwal. Dengan jadwal yang tercata,t kita bisa mengatur rencana liputan, mulai persiapan menuju lokasi, mencari posisi memotret, hingga mengirim hasil liputan.
Jadwal lomba biasanya sudah ditetapkan panitia dan disosialisasikan kepada semua atlet hingga yang akan meliput. Untuk lomba tentu harus tepat waktu karena menyangkut disiplin berkompetisi. Meskipun terkadang di kondisi luar biasa jadwal bisa berubah, terutama olahraga yang tergantung kondisi cuaca. Jurnalis yang meliput sebaiknya menyiapkan waktu lebih banyak untuk datang lebih awal ke arena.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-f_1628430984.jpg)
Dengan bekal persiapan tersebut, kita berharap akan lancar menjalankan tugas memotret olahraga. Selanjutnya tinggal kita mengembangkan kemampuan di lapangan. Dengan makin banyak praktik dan mengalami langsung liputan olahraga di lapangan akan menambah jam terbang. Selain itu kita juga harus tetap menambah wawasan dengan mencari referensi serta contoh-contoh foto olahraga karya fotografer senior. Rumus umum yang bisa kita lakukan adalah melihat contoh foto yang kita bisa meniru atau mengulang sudut pengambilannya sebelum kemudian memodifikasi ide pengambilan fotonya. Dari sini kita bisa mengatakan memotret olahraga itu gampang.
Kalau sudah mulai menikmati memotret olahraga dengan sendirinya kita akan menemukan karakter foto olahraga karya kita. Kita akan berusaha mendapatkan foto olahraga yang berbeda dengan fotografer lain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-s_1628430717.jpg)
Fotografer harian Kompas, almarhum Julian Sihombing, menyarankan agar saat di arena selain kita memotret dari sudut umum tempat biasa para fotografer memotret bareng, kita juga harus berani mencari posisi sendiri yang berbeda dengan fotografer lain. Mencari ide dan menjalankannya itu yang terkadang terkesan susah. Namun kalau kita menjalani dengan senang hati, semua bisa menjadi gampang.
Baca juga: Fotografi dan Sepeda
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-u_1628435232.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-t_1628435249.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-i_1628430897.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/08/olahraga-l_1628430850.jpg)
Dan untuk mengasah naluri kita memotret olahraga tak ada yang lebih ampuh selain kita langsung praktik memotret olahraga. Yang paling sederhana kita memotret aktivitas olahraga orang di sekitar kita, kemudian meningkat ke tempat-tempat publik yang biasa banyak orang berolahraga. Kemudian baru kita mencoba memotret kompetisi yang bisa diakses publik sebelum kalau serius kita bisa mengurus izin liputan ajang olahraga resmi.
Penulis:
IWAN SETIYAWANEditor:
Demitrius Wisnu Widiantoro