Mempercepat Era Energi Bersih

Negara yang masih bergantung pada bahan bakar fosil bukan sedang menjaga stabilitas perekonomiannya, justru melemahkan daya saing dan melewatkan peluang ekonomi.

27 Jul 2025 11:00 WIB · Artikel Opini

Oleh António Guterres

Energi membentuk perjalanan umat manusia dari awal menguasai api, memanfaatkan tenaga uap, hingga membelah atom. Kini, kita berada di ambang era yang baru. Matahari tengah menyingsing menyambut era energi bersih.

Tahun lalu, hampir seluruh kapasitas pembangkit listrik baru berasal dari energi terbarukan. Investasi pada energi bersih melonjak hingga 2 triliun dollar AS—selisih 800 miliar dollar AS lebih besar dibandingkan dengan investasi di bahan bakar fosil.

Tenaga surya dan angin kini menjadi sumber energi termurah di Bumi, dan sektor energi bersih menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan mempercepat kemajuan, meski bahan bakar fosil masih menerima subsidi yang jauh lebih besar.

Negara-negara yang masih bergantung pada bahan bakar fosil bukan sedang menjaga stabilitas perekonomiannya, justru malah melemahkan daya saing dan melewatkan peluang ekonomi terbesar abad ke-21.

Aktivitas perawatan di PLTS terapung Cirata, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Senin (15/7/2024). PLTS terbesar di Asia Tenggara ini memiliki kapasitas 192 megawatt-peak (MWp) dan mampu memproduksi 245 juta kilowatt jam (kWh) energi bersih per tahun. Kapasitas tersebut dapat mengaliri listrik setara lebih dari 50.000 rumah.

Energi bersih juga memberikan kedaulatan dan keamanan energi. Pasar bahan bakar fosil sangat rentan terhadap gejolak harga, gangguan rantai pasok, dan konflik geopolitik, seperti yang terlihat saat Rusia menginvasi Ukraina.

Namun, tidak ada lonjakan harga untuk sinar matahari, angin tidak dapat diembargo, dan hampir setiap negara memiliki potensi sumber energi terbarukan yang cukup untuk mandiri secara energi.

Pada akhirnya, energi bersih menjadi bahan bakar pembangunan. Energi ini dapat menjangkau ratusan juta orang yang masih hidup tanpa listrik—dengan cara yang cepat, terjangkau, dan berkelanjutan, terutama melalui teknologi surya off-grid dan skala kecil.

Belum cukup cepat dan merata

Semua ini menjadikan era energi bersih tak terhentikan. Namun, sayangnya, transisi ini belum berlangsung cukup cepat atau merata. Negara-negara berkembang masih tertinggal.

Sistem energi dunia masih didominasi bahan bakar fosil, dan emisi terus meningkat, padahal seharusnya menurun drastis demi menghindari krisis iklim yang lebih parah.

Untuk mengatasi hal tersebut, ada enam langkah utama yang perlu kita tempuh.

Pertama, pemerintah harus berkomitmen penuh pada masa depan energi bersih. Dalam beberapa bulan mendatang, setiap negara akan menyerahkan rencana iklim nasional barunya—dikenal sebagai nationally determined contributions (NDCs)—yang menjadi penentu arah satu dekade mendatang.

Rencana-rencana ini harus selaras dengan target pembatasan kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat celsius, mencakup semua sektor dan emisi, serta menyajikan peta jalan yang jelas menuju energi bersih.

Negara-negara G20, yang bertanggung jawab atas sekitar 80 persen emisi global, harus menjadi yang terdepan.

Kedua, kita perlu membangun sistem energi abad ke-21. Tanpa jaringan listrik dan sistem penyimpanan yang modern, energi terbarukan tidak akan mampu mencapai potensi penuhnya. Namun, saat ini, untuk setiap 1 dollar AS yang diinvestasikan pada energi terbarukan, hanya 60 sen yang dialokasikan untuk jaringan dan penyimpanan. Harusnya, rasio ini adalah satu banding satu.

Ketiga, pemerintah perlu mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi dunia dengan solusi terbarukan. Perusahaan teknologi besar juga harus mengambil peran. Pada 2030, konsumsi listrik pusat data bisa setara dengan penggunaan listrik seluruh Jepang saat ini.

Perusahaan-perusahaan harus berkomitmen untuk menggunakan energi terbarukan sebagai sumber daya mereka.

Keempat, keadilan harus jadi inti dari transisi energi. Ini berarti membantu komunitas yang masih bergantung pada bahan bakar fosil agar siap menghadapi masa depan energi bersih. Kita juga harus membenahi rantai pasok mineral penting.

Saat ini, rantai tersebut masih dibayang-bayangi pelanggaran hak dan kerusakan lingkungan, serta negara-negara berkembang terperangkap di bagian paling bawah dari rantai nilai. Ini harus dihentikan.

Kelima, kita harus menjadikan perdagangan sebagai alat transformasi energi. Rantai pasok energi bersih masih sangat terkonsentrasi, sementara perdagangan global tengah mengalami fragmentasi.

Negara-negara yang sudah berkomitmen pada era energi baru harus bekerja sama untuk mendiversifikasi pasokan, memangkas tarif impor untuk produk energi bersih, dan memperbarui perjanjian investasi untuk mendukung transisi energi.

Aksi kolektif global

Keenam, kita harus mengarahkan pendanaan ke negara-negara berkembang. Tahun lalu, Afrika hanya menerima 2 persen dari investasi energi terbarukan, padahal benua ini memiliki 60 persen potensi tenaga surya terbaik di dunia.

Kita butuh aksi kolektif global untuk mencegah beban utang menggerus anggaran negara berkembang dan agar bank pembangunan multilateral bisa meningkatkan kapasitas pinjaman serta menarik lebih banyak dana dari sektor swasta.

Lembaga pemeringkat dan investor juga perlu mengubah cara menilai risiko dengan mempertimbangkan potensi energi bersih, biaya dari kekacauan iklim, dan risiko aset bahan bakar fosil yang sewaktu-waktu bisa kehilangan nilai.

Era energi baru sudah di depan mata—era yang memiliki energi murah, ramah lingkungan, dan berlimpah mendorong dunia yang kaya akan peluang ekonomi, memiliki keamanan dari kemandirian energi, serta listrik menjadi anugerah bagi semua orang.

Ini saatnya mempercepat perubahan global. Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya.

António Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa


Kerabat Kerja

Penulis:

António Guterres
 | 

Editor:

Neli Triana, Sri Hartati Samhadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan