Upaya menghentikan serangan antara Pakistan dan India bisa menjadi sinyal untuk menutup potensi perang yang lebih besar, termasuk perang nuklir antara kedua negara.
11 Mei 2025 10:00 WIB · Riset
Seberapa besar potensi penggunaan senjata nuklir di negara masing-masing yang sudah empat kali berperang itu sejak era 1947?
Segera setelah Perdana Menteri India Narendra Modi mengizinkan Angkatan Bersenjata India untuk ”menggunakan segala” cara untuk menghukum para teroris atas serangan teror ke Pahalgam, Jammu Kashmir, pada 22 April 2025 segera digelar operasi Sindoor.
Operasi Sindoor digelar untuk menghancurkan kemampuan logistik dan operasional kelompok teroris pelaku serangan teror yang bermarkas di Pakistan.
Berbeda dengan serangan lintas batas dalam operasi-operasi pemberantasan terorisme sebelumnya yang bersifat terbatas dan surgical strikes, Operasi Sindoor bersifat luas dan didukung kemampuan teknologi India.
Pada Rabu (7/5/2025) dini hari mulai sekitar pukul 01.28 waktu setempat, India menyerang sembilan wilayah di Pakistan yang dianggap merupakan lokasi atau kamp/infrastruktur terorisme sebagai bagian dari Operasi Sindoor.
Serangan dilakukan menggunakan rudal dari jet-jet tempur India yang meluncurkan rudal dari perbatasan Pakistan-India dan didampingi pengintaian dari pesawat tanpa awak (drone).
”Skala kehancuran militan mengirim pesan kuat ke jaringan teroris dan para pendukungnya. India sekarang memiliki hak untuk menyerang dulu (preemptive strike), dan tak ada lokasi yang tak mampu dijangkau,” ujar seorang pejabat India pada rilis resmi kepada pers.
Pakistan sudah lama dituding melindungi secara diam-diam kelompok-kelompok teroris meski selalu disangkal Islamabad.
Kementerian Pertahanan India yang dikutip CNN menyatakan wilayah-wilayah itu adalah Bahawalpur, Muridke, Sarjal, Mehmoona Joya, Barnala, Kotli (2 target), dan Muzzafarabad (2 target).
Mayoritas dari target-target itu berada di wilayah Pakistan. Akibat serangan itu, sebanyak 31 warga sipil tewas dan 57 orang luka-luka sebagaimana klaim dari otoritas Pakistan.
Sebagai balasan, pasukan Pakistan menghujani wilayah Kashmir India dengan tembakan artileri yang menewaskan 15 orang dan melukai 43 warga India.
Klaim dari India menyatakan bahwa serangan dini hari itu terhadap kamp teroris Pakistan telah dilakukan dengan ”presisi, tepat, dan terukur” dan menyatakan sasaran serangan adalah para teroris.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/07/e5421021-78d8-40ed-bf27-757d70e140df_jpg.jpg)
Sejumlah sumber menyatakan bahwa Operasi Sindoor itu berlangsung selama 23 menit yang melibatkan puluhan jet tercanggih India.
Rekaman video serangan rudal itu bertebaran di media sosial menunjukkan kerumunan warga lokal Pakistan yang secara kasatmata melihat ledakan besar berkali-kali di wilayah mereka pada dini hari sekitar pukul 01.28 waktu setempat.
Eskalasi konflik bersenjata di antara kedua negara bertetangga itu tampaknya akan kian meningkat. Sebab, selain korban manusia telah jatuh, juga telah dipakainya persenjataan canggih yang dimiliki kedua negara.
Dalam serangan ke Pakistan, India ditengarai menggunakan alutsista udara terbaiknya, seperti pesawat jet Rafale, Sukhoi-30, Mig-29, dan rudal jelajah canggih SCALP/Storm Shadow buatan Perancis, rudal penetrasi bungker AASM Hammer, serta rudal jelajah Brahmos buatan India.
Demikian pula drone-drone diproduksi bersama India dan Israel, seperti Hermes dan Harop, diberitakan turut dipakai.
Sebaliknya, Pakistan mengimbangi dengan kekuatan pertahanan udara terbaiknya yang meliputi jet tempur F-16, Mirage III, JF-17 buatan China-Pakistan, dan J-10 buatan China serta pesawat radar dan peringatan dini (AWACS) Saab 2000 buatan Swedia.
Pakistan juga menggunakan rudal PL-15 buatan China yang ditengarai berhasil menjatuhkan paling tidak sebuah jet canggih Rafale India.
Laman The Independent ataupun CNN pada Kamis (8/5/2025) menyitir keterangan seorang pejabat senior intelijen Perancis menyatakan bahwa sedikitnya satu jet tempur Rafale yang dioperasikan India diyakini telah ditembak jatuh oleh Pakistan. Sementara itu, seorang pejabat pertahanan di AS menyatakan bahwa dua Rafale telah ditembak jatuh. Betapapun, perang udara itu belum terungkap secara gamblang, termasuk penyebab ditembak jatuhnya jet Rafale India. Informasi awal adalah peperangan udara pada dini hari yang hanya berlangsung 23 menit itu digambarkan sebagai ”pertempuran udara era modern terbesar” setelah PD II.
Laporan CNN menyebutkan, total ada 125 jet dari kedua negara yang saling mengincar di kegelapan malam dari wilayah masing-masing dan menembakkan rudal udara ke udara dari jarak ratusan kilometer.
Pakistan mengklaim berhasil menembak jatuh 3 Rafale, 1 Sukhoi 30, dan 1 Mig-29 milik India dan satu drone Heron meski laporan ini tidak dikonfirmasi oleh militer India.
Bahkan Biro Informasi Pers India menyangkal dengan memperingati di media sosial. ”Sebuah gambar lama yang memperlihatkan sebuah pesawat jatuh beredar dengan klaim bahwa Pakistan baru-baru ini menembak jatuh jet Rafale India di dekat Bahawalpur selama Operasi Sindoor yang sedang berlangsung. Gambar ini berasal dari insiden sebelumnya yang melibatkan jet tempur Mig-21 IAF yang jatuh di distrik Moga di Punjab pada tahun 2021,” tulis PIB pada akun X resminya.
Selain serangan jet India yang telah menewaskan puluhan warga Pakistan dan menghancurkan infrastruktur, tingginya ketegangan politik di antara kedua negara berdampingan itu juga telah diperparah dengan berbagai pemutusan total hubungan diplomatik, pengusiran warga negara pihak lawan, penutupan ruang udara, dan pembatalan perjanjian air Sungai Indus yang sangat strategis.
Pakistan sangat bergantung pada Sungai Indus, yang merupakan sumber utama air dan irigasi pertanian. Sekitar 87 persen dari total persediaan air di Pakistan berasal dari Sistem Irigasi Cekungan Indus dari aliran anak Sungai Indus, Jhelum dan Chenab, yang menyumbang 166,52 miliar meter kubik air per tahun dan meliputi 19 persen PDB Pakistan.
India secara sepihak telah membatalkan kesepakatan perjanjian Traktat Air Sungai Indus dan anak-anak sungai itu.
Traktat Indus Water Treaty (IWT) itu disepakati pada 1960 untuk menyelesaikan konflik India-Pakistan selama beberapa tahun akibat berebut hak pemanfaatan sungai-sungai penting.
Selama ini, meski telah empat kali berperang besar dan puluhan kali konflik ”kecil”, India tetap mempertahankan Traktat Air karena sensitivitasnya bagi eksistensi Pakistan.
India berulang kali mengancam membekukan traktat setiap kali ada kekerasan di Kashmir, tetapi belum pernah dilakukan hingga saat ini berubah.
Traktat Indus Water Treaty (IWT) ditandatangani Perdana Menteri India saat itu Jawaharlal Nehru dan Presiden Pakistan Ayub Khan dan diperantarai oleh Bank Dunia (saat itu dikenal sebagai Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan) setelah negosiasi yang berlangsung selama sembilan tahun.
Sejak pemisahan India dan Pakistan pada tahun 1947, Sungai Indus yang berhulu di wilayah Tibet telah menjadi sumber pertikaian empat negara yang dilaluinya: India, Pakistan, China, dan Afghanistan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/07/df779924-f599-4a5e-9ce4-fe5f6548f783_png.png)
India sempat memblokir pasokan air ke Pakistan pada tahun 1948 karena perang India-Pakistan pertama, tetapi kemudian memulihkannya setelah gencatan senjata.
Pada tahun 1951, Pakistan membawa masalah ini ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menuduh India memutus pasokan air. Atas rekomendasi PBB, Bank Dunia membuat rintisan perjanjian ini pada tahun 1954 dan traktat perjanjian ini akhirnya ditandatangani pada 19 September 1960.
Perjanjian tersebut mengalokasikan sungai-sungai di wilayah barat (Indus, Jhelum, Chenab) untuk kebutuhan Pakistan dan sungai-sungai di wilayah timur (Ravi, Beas, Sutlej) untuk kebutuhan India.
Pada saat yang sama, perjanjian tersebut memberikan hak kepada negara masing-masing untuk menggunakan sungai-sungai yang dialokasikan untuk negara lain.
Untuk kebutuhan domestik dan nonkonsumtif India, seperti penyimpanan, irigasi, dan juga pembangkitan listrik, meliputi 20 persen air dari sistem Sungai Indus dan sisanya 80 persen ke Pakistan.
Besarnya sensitivitas isu aliran Sungai Indus ini tecermin dari pernyataan pejabat Pakistan. Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan, India berupaya memanfaatkan insiden tragis Pahalgam untuk melemahkan komitmen internasional yang mengikat.
Di laman X, ia menulis, ”Ketentuan ini tidak memerlukan interpretasi. Ketentuan tersebut dengan jelas menyatakan apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan India. India telah lama mencoba untuk keluar dari perjanjian ini dengan berbagai dalih dan sekarang menggunakan tindakan terorisme yang tragis ini untuk memenuhi tujuan lama.”
Sementara itu, pernyataan Menteri Energi Awais Leghari lebih keras. ”Penangguhan Perjanjian Perairan Indus yang sembrono oleh India merupakan tindakan perang air; tindakan pengecut dan ilegal. Setiap tetes air adalah hak kami, dan kami akan mempertahankannya dengan kekuatan penuh secara hukum, politik, dan global,” katanya.
Sejarah pengembangan senjata nuklir India dan Pakistan saling terkait erat karena peperangan yang berulang sejak era kemerdekaan kedua negara dari Inggris tahun 1947.
Kedua negara bertetangga itu saling berlomba dalam keunggulan teknologi persenjataan untuk ”modal penggertak sekaligus pertahanan” bagi negara tetangganya.
Meski diawasi secara ketat oleh lembaga pengawas nuklir internasional, baik India maupun Pakistan secara diam-diam dan rahasia berhasil membuat dan menguji coba perdana peledakan hulu ledak nuklir bawah tanah.
India berhasil melakukannya pada 18 Mei 1974, sedangkan Pakistan baru berhasil membuntuti upaya menjadi negara nuklir itu pada 28 Mei 1998. Artinya, ada jangka waktu 24 tahun pencapaian negara berkekuatan nuklir dari kedua negara itu.
Menurut Federasi Ilmuwan Amerika (Federation of American Scientist, fas.org), pada awal tahun ini India diperkirakan telah memiliki sekitar 180 hulu ledak nuklir dan memiliki kemampuan peluncuran senjata nuklir berbasis darat (silo atau kendaraan berat/ICBMs), berbasis laut (via kapal selam/SLBMs), dan peluncuran udara (via pesawat jet pengebom atau misil).
Sementara itu, Pakistan memiliki sekitar 170 hulu ledak nuklir, tetapi dengan tingkat kemampuan peluncuran yang lebih terbatas daripada India.
Mayoritas kemampuan peluncuran hulu ledak nuklir Pakistan berada di darat melalui misil-misil besar, seperti Shaheen-II, Ghauri, dan Ghaznavi. Untuk peluncuran dari laut, Pakistan jauh tertinggal dari India (Bulletin of Atomic Scientist, September 2023).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/07/b0b7dc19-513e-4036-805d-1c731d0696f7_jpg.jpg)
Betapapun, Pakistan ditengarai aktif mengejar teknologi dan perimbangan senjata nuklir dengan India. Para ahli memperkirakan bahwa negara ini mungkin memiliki persenjataan terbesar ke-5 pada tahun 2025 dengan sekitar 200 hulu ledak.
Jumlah hulu ledak saat ini pun bahkan sudah melebihi proyeksi yang dibuat Badan Intelijen Pertahanan AS, bahwa pada tahun 2020 Pakistan baru akan memiliki 60-80 hulu ledak nuklir.
Yield (kekuatan ledakan) rata-rata nuklir strategis kedua negara diperkirakan berada di rentang belasan hingga puluhan kiloton (KT) setara TNT, atau beberapa kali kekuatan bom atom Hiroshima-Nagasaki yang memiliki yield 15-20 KT.
Baik India maupun Pakistan kini juga sudah sama-sama berhasil meriset bom termonuklir/bom hidrogen yang menghasilkan yield jauh lebih besar dari bom fusi nuklir biasa. Percobaan nuklir terbaru yang sudah dilakukan Pakistan, yield mencapai 40 KT, sedangkan India 46 KT.
India mengembangkan kemampuan penyebaran metode peluncuran melalui triad nuklir (darat, laut, udara) dan jarak jangkau. Selain unggul dalam jangkauan rudal dan sifat pencegahan strategis, India saat ini juga ditengarai memiliki 700 kg plutonium tingkat tinggi yang bisa diubah menjadi 213 hulu ledak nuklir.
Rudal balistik Agni-V India dapat mencapai jarak jangkauan hingga 8.000 kilometer dan memungkinkan serangan jauh ke wilayah lawan, terutama China. Bandingkan dengan rudal jarak jauh Pakistan yang sedang dikembangkan, Shaheen-III, baru memiliki jangkauan sekitar 2.750 kilometer.
Pakistan lebih mengejar pada efektivitas kekuatan nuklir taktis dengan yield lebih rendah. Yield yang dihasilkan nuklir taktis berkisar 0,1 KT-1 KT dan lebih ”masuk akal” untuk digunakan secara langsung dalam perang modern tanpa risiko kehancuran bersama (mutually assured destruction) dibandingkan menggunakan nuklir strategis.
Nuklir taktis Pakistan ini bisa diusung misil Nasr (Hatf-9), dengan jangkauan pendek 70 kilometer, yang dirancang untuk digunakan di medan perang konvensional.
Selain berbeda dalam metode modernisasi nuklir, kedua negara bertetangga itu juga berbeda dalam doktrin penggunaan senjata nuklir.
India secara terbuka mempertahankan doktrin NFU (no first use) alias bukan pengguna pertama, berjanji untuk menggunakan senjata nuklir hanya sebagai pembalasan. Hingga saat ini doktrin ini masih resmi dipegang India meski ada upaya mengubahnya jadi lebih agresif.
Para pejabat India memperingatkan bahwa mereka dapat saja menggunakan senjata nuklir (yang pertama) sebagai respons terhadap serangan kimia atau biologi mengingat serangan teroris yang dikaitkan dengan Pakistan (armscontrolcentre.org, Mei 2025).
Pakistan tidak memiliki doktrin yang diumumkan secara terbuka kepada dunia internasional dan ditengarai cenderung lebih agresif dalam penggunaan nuklir sebagai preemptive strike (serangan pendahuluan).
Berbeda dengan kebijakan India yang menyatakan tidak akan menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu, Pakistan memutuskan membuka kemungkinan bahwa Islamabad mungkin akan menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu dalam keadaan tertentu.
Inti doktrin nuklir Pakistan adalah strategi militer mencegah dengan menjamin ”balasan besar-besaran” segera terhadap serangan agresif terhadap negara musuh.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/07/4fed0999-7d28-4f4d-bdcf-01fef7de1ae1_jpg.jpg)
Hal ini mengingat persenjataan nuklir Pakistan serta kekuatan militer Pakistan yang jauh lebih kecil ketimbang India sehingga berfungsi sebagai pencegah terhadap agresi senjata konvensional dan nuklir dari India.
Islamabad menganggap perlu untuk mempertahankan opsi sebagai pengguna pertama senjata nuklir jika ancaman India atau negara asing sudah memasuki tahap yang membahayakan negara, seperti pada masa lalu ketika dikalahkan dalam peperangan India-Pakistan 1971 dan terpecah menjadi negara Bangladesh.
Ada sejumlah parameter yang dipakai angkatan bersenjata Pakistan untuk melegitimasi penggunaan nuklir, dengan intisari ”mencegah kekalahan telak” angkatan bersenjata Pakistan dari serangan negara lain.
Meski demikian, Pakistan juga secara bertahap memandang senjata nuklirnya sebagai instrumen pencegahan, dan tidak berusaha untuk melenyapkan musuh dalam serangan pertama yang hebat atau serangan mendadak.
Pakistan dilaporkan telah menyimpan senjatanya dalam bentuk yang tidak bisa langsung digunakan lagi, yang berarti hulu ledaknya dipisahkan dari kendaraan pengiriman, dengan sistem komando dan kontrol terpusat yang ketat.
Dengan membandingkan doktrin nuklir yang dianut kedua negara, dan melihat eskalasi peperangan yang saat ini masih terfokus pada upaya pemberantasan jejaring teroris (versi India), atau pembalasan yang setimpal terhadap lawan (versi Pakistan), belum tampak risiko yang nyata bagi kedua negara untuk menggunakan senjata nuklir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/04/7187ac55-5df6-4665-9304-bf7a3a9092b0_png.png)
Apalagi sebagai negara yang bertetangga dengan 3.300 kilometer panjang perbatasan dan sulitnya medan pegunungan Kashmir, ledakan nuklir apa pun di satu wilayah bisa membawa risiko langsung bagi penduduk negara sendiri pula.
Risiko yang dihasilkan sebuah ledakan nuklir ada tiga: gelombang kejut mahadahsyat, panas melebihi inti matahari, dan radiasi gamma yang mematikan.
Kalaupun jarak seorang manusia berada jauh beratus kilometer dari pusat ledakan, efek radiasi itu tetap bisa dibawa oleh angin, air hujan, dan debu nuklir sehingga tetap saja berisiko memapar tubuh manusia, hewan, ataupun tanaman.
Akibatnya tentu saja mengerikan, sebagaimana kisah para korban hidup di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pascatahun 1945.
Semoga saja senjata nuklir tak akan pernah dipakai dalam ketegangan politik dan militer kedua negara berkekuatan nuklir di Asia tersebut. Setidaknya harapan itu bisa saja terwujud ketika ada sinyal Pakistan dan India kali ini sedang mempertimbangkan menghentikan serangan jika kedua negara berhenti menyerang. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
M Toto SuryaningtyasEditor:
Yohan WahyuPenyelaras Bahasa:
Nur Adji