BerandaOlahragaMenang Adu Penalti Bukan ...

Menang Adu Penalti Bukan Untung-untungan, Butuh Kesiapan Psikologis dan Taktik Jitu

Adu penalti menjadi bagian tak terpisahkan dari turnamen sepak bola. Mengapa banyak tim mengabaikan persiapannya?

28 Jun 2024 21:05 WIB · Olahraga

Oleh PRASETYO EKO PRIHANANTO

Striker Perancis, Kylian Mbappe, melakukan tendangan penalti pada laga Grup D Piala Eropa 2024 melawan Polandia di Dortmund, 25 Juni 2024. Saat fase gugur, adu penalti menjadi cara menentukan pemenang jika hingga perpanjangan waktu berakhir, kedudukan tetap imbang.

Setelah menyelesaikan tiga laga penyisihan grup, Piala Eropa 2024 memasuki fase gugur. Sebanyak 16 tim akan bertarung memperebutkan delapan tiket perempat final. Jika pada pertandingan 16 besar tidak ada yang menang sampai babak perpanjangan waktu, laga harus diakhiri dengan adu penalti.

Suka atau tidak, adu penalti menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah turnamen sepak bola. Adu penalti tidak bisa dihindari karena pada fase gugur harus ada pemenang untuk menentukan tim yang melaju ke fase berikutnya, atau dalam laga puncak harus ada juaranya.

Adu penalti bisa menjadi penentu legasi seorang pemain. Roberto Baggio tidak pernah pulih dari kekecewaan setelah kegagalannya mengeksekusi penalti untuk Italia pada Piala Dunia 1994. Sebaliknya dalam kasus Lionel Messi pada Piala Dunia 2022, keberhasilannya membawa Argentina juara lewat adu penalti di laga final lawan Perancis memastikannya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah.

Ada satu kesamaan antara final Piala Dunia 2022, final Piala Afrika 2021, final Piala Eropa 2020, dan final Copa America 2016. Semuanya diselesaikan dengan adu penalti.

Pemain Inggris, Harry Kane (kiri), mencetak gol pada adu tendangan penalti dengan menaklukkan kiper Italia, Gianluigi Donnarumma, pada final Piala Eropa 2020 di Stadion Wembley, London, Minggu (11/7/2021). Adu penalti menjadi cara menyelesaikan laga yang sebelumnya berakhir imbang.

Itu sebabnya mereka yang mempelajari psikologi dan ilmu sepak bola merasa bingung mengapa sistem penentu kemenangan ini terus diabaikan oleh banyak tim.

”Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyiapkan tim Anda menghadapi adu penalti, melatih mereka menghadapi adu penalti, membantu pemain dan tim menghadapi tekanan adu penalti,” kata Geir Jordet, profesor di Norwegia dan penulis buku Pressure: Lessons from the Psychology of the Penalty Shootout.

”Anda bisa melakukan ini sebagai individu, sebagai tim, sebagai manajer,” tambahnya.

Pendapat yang menyatakan bahwa adu penalti hanya untung-untungan atau lotere sebenarnya sudah usang. Mantan Manajer Chelsea Mauricio Pochettino adalah salah satu orang yang menyatakan hal itu pada Desember tahun lalu.

Johan Cruyff, mendiang maestro Belanda, termasuk salah satu manajer yang tidak terlalu percaya dengan persiapan menghadapi adu penalti. ”Mengambil penalti saat latihan tidak ada gunanya,” katanya pada tahun 2000. ”Penalti adalah keterampilan unik di luar sepak bola.”

Johan Cruyff memberikan instruksi kepada pemain Catalunya saat laga persahabatan antara Catalunya dan Argentina di Stadion Camp Nou, Barcelona, 22 Desember 2009.

Cruyff menganut filosofi bahwa suasana latihan tidak akan bisa menyimulasikan tekanan saat adu penalti. Tekanan yang dihadapi pemain saat menunggu di lingkaran tengah lapangan, berjalan menuju titik putih di hadapan puluhan ribu penonton, kemudian berhadapan dengan tatapan kiper tidak bisa ditiru di lapangan latihan.

Tahun ini, Pelatih Perancis Didier Deschamps juga mengecam upaya Federasi Sepak Bola Perancis yang mengambil inisiatif untuk meningkatkan kinerja tim dalam adu penalti. Meskipun tim asuhannya kalah dalam adu penalti pada final Piala Dunia 2022, Deschamps tidak suka dengan gagasan persiapan adu penalti. Sebelumnya, Perancis juga kalah adu penalti dari Swiss pada babak 16 besar Piala Eropa 2016.

”Saya yakin, dan sejumlah pemain saya memberikan informasi ini, bahwa itu mustahil,” kata Deschamps soal latihan adu penalti.

Alasannya mirip dengan apa yang diucapkan oleh Cruyff. Mustahil, ”untuk menciptakan situasi, dalam level psikologis, antara latihan dan pertandingan”.

Jordet memahami pendapat para pelatih itu. Akan tetapi, dia mengatakan, sungguh absurd jika sebuah tim tidak mencoba atau menolak untuk menyimulasikan situasi tekanan adu penalti itu saat latihan.

”Ada penelitian yang menunjukkan bahwa berlatih dengan tekanan ringan akan mempersiapkan dan membantu Anda tampil lebih baik menghadapi tekanan tinggi,” kata Jordet.

Pelatih Perancis Didier Deschamps tengah berbicara kepada pemainnya saat final Piala Dunia 2022 melawan Argentina di Stadion Lusail, Qatar, 18 Desember 2022. Perancis kalah adu penalti.

Jordet mencontohkan soal itu dengan para tentara yang berlatih perang. ”Jika Anda melihat militer berlatih, di masa damai, haruskah mereka berlatih perang dan menghadapi tekanan serta stres karena berada dalam konflik, atau duduk diam saja dan mengatakan, kita tidak dapat melakukan simulasi tekanan, tekanan saat terlibat baku tembak sesungguhnya. Itu tidak masuk akal. Kasus yang sama terjadi pada pilot atau jika Anda melihat ahli bedah atau dokter UGD,” jelas Jordet.

Jordet mengamati secara khusus adu penalti pada Piala Dunia terakhir, melihat bagaimana para pelatih menghabiskan waktu 2 menit yang mereka miliki dengan pemain, antara berakhirnya perpanjangan waktu dan dimulainya adu penalti. Dia mencatat, tim-tim pemenang, tanpa pengecualian, adalah tim yang pelatihnya memberikan instruksi dalam waktu paling singkat.

Pada laga final antara Argentina dan Perancis, pelatih tim ”Tango”, Lionel Scaloni, hanya membutuhkan waktu 15 detik untuk memberikan instruksi kepada pemainnya. Jordet menyebut, hal itu karena tim Argentina telah bersiap sebelumnya.

”Deschamps,” tambah Jordet, ”menghabiskan 20 detik untuk mempertimbangkan siapa yang harus melakukan tembakan penalti, melihat sekeliling, yang pada dasarnya menunjukkan betapa dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Itu mungkin sesuatu yang juga dirasakan para pemainnya”.

Baca juga: Piala Eropa 2024: Pertentangan Hurikan Harry Kane

Quote

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa berlatih dengan tekanan ringan akan mempersiapan dan membantu Anda tampil lebih baik menghadapi tekanan tinggi.

Pelatih Argentina Lionel Scaloni memberikan motivasi kepada pemainnya saat laga final Piala Dunia 2022 melawan Perancis di Stadion Lusail, Qatar, 18 Desember 2022.

Dalam sejarah Piala Eropa, telah terjadi 22 adu penalti, termasuk empat kali pada 1996 dan tahun 2020. Dari 232 tendangan dalam adu penalti, 178 berhasil masuk, tingkat keberhasilan 76,7 persen. Itu sesuai dengan model data yang menyatakan angka expected goal (xG) penalti adalah 0,76 (76 dari 100 penalti).

Ada persepsi bahwa tim yang harus menendang belakangan berada dalam posisi tidak diuntungkan karena berada di bawah tekanan ekstra. Studi terbaru tentang penalti justru mendapatkan hasil yang sebaliknya.

Sebuah penelitian yang mencakup kompetisi sepak bola putra di Eropa selama 11 tahun terakhir menunjukkan bahwa persentase kemenangan tim yang melakukan tendangan penalti terlebih dahulu adalah 48,83 persen. Jordet mengatakan, keuntungan memilih menjadi penendang pertama telah menyusut drastis dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, yang menyebut bahwa peluang kemenangannya mencapai 60 persen.

Studi yang sama menunjukkan, tingkat keberhasilan tendangan penalti pertama lebih tinggi dibandingkan dengan tendangan lain, hampir 84 persen, dan biasanya dieksekusi oleh pemain paling jago mengambil tendangan penalti dalam tim. Messi dan Kylian Mbappe adalah penendang pertama masing-masing tim pada final Piala Dunia 2022. Tingkat kesuksesan penendang berikutnya anjlok hingga hanya 72 persen.

Menempatkan penendang terbaik sebagai penendang terakhir atau kelima juga sangat berbahaya. Hasil penelitian menunjukkan, sebanyak 42,26 persen penendang kelima tim yang memilih menjadi penendang belakangan berpeluang tidak jadi melakukan tendangan karena timnya sudah kalah terlebih dahulu.

Hal itu terjadi pada Cristiano Ronaldo saat Portugal kalah adu penalti dari Perancis di semifinal Piala Eropa 2012. Ronaldo tidak melakukan eksekusi penalti karena skor sudah memastikan Perancis menang sebelum giliran Ronaldo menendang. Hal yang sama terjadi pada Mohamed Salah, yang juga tidak melakukan tendangan saat Mesir kalah adu penalti dari Senegal di partai final Piala Afrika 2021.

Baca juga: Teka-teki Spalletti

Kekecewaan para pemain Mesir setelah kalah adu penalti pada final Piala Afrika 2021 melawan Senegal di Yaounde, Kamerun, 6 Februari 2022.

Hati-hati dengan taktik-taktik licik di sekitar adu penalti ataupun tendangan penalti biasa. Pemain di tim yang mendapat hukuman penalti kadang terlihat mencoba mengikis rumput di sekitar titik penalti dengan harapan menyebabkan penendang penalti terpeleset.

Menyadari hal itu, dalam beberapa kesempatan, para pemain dari tim yang mendapat hadiah penalti berkumpul di sekitar titik penalti untuk melindungi rumput. Fenomena baru lainnya adalah seorang pemain memegang bola di dekat titik penalti, tetapi pada detik terakhir menyerahkan bola kepada rekannya untuk melakukan tendangan. ”Ini menjadikan mengeksekusi penalti yang sebenarnya individual menjadi kerja kolektif,” kata Jordet.

Ada juga contoh penjaga gawang cadangan atau pemain lain dimasukkan sebagai pemain pengganti di akhir perpanjangan waktu karena mereka memiliki rekor penalti yang lebih baik daripada pemain starter. Hal itu misalnya terjadi pada kiper Belanda, Tim Krul, di Piala Dunia 2014 dan kiper Australia, Andrew Redmayne, pada kualifikasi Piala Dunia 2022.

Ada teknik penalti baru yang dominan—dan ini bukan untuk pemain yang lemah hati. Caranya adalah penendang mendekati bola dan menunggu penjaga gawang melakukan gerakan terlebih dahulu sebelum melakukan tendangan. Biasanya penendang berhenti sejenak ketika ia ancang-ancang hendak menendang. Kelihatannya sederhana, tetapi dalam situasi tekanan tinggi tidak mudah dilakukan.

Menurut Jordet, teknik itu disebut ”teknik bergantung pada kiper”. ”Ini sangat kompleks dan sulit dilakukan ketika ada tekanan,” katanya. ”Jika Anda lihai menerapkan teknik ini, ini akan secara efektif menurunkan faktor risiko kiper bergerak ke arah yang benar.” Striker Polandia, Robert Lewandowski, telah menggunakannya sejak 2016—dan menggunakannya saat melawan Perancis pada Piala Eropa 2024. Striker Harry Kane juga menggunakannya.

Baca juga: Jerman Vs Denmark, ”Panser” Penginjak ”Dinamit”

Pemain Inggris, Bukayo Saka (tengah), dihibur rekan-rekannya setelah tendangannya gagal saat adu penalti melawan Italia pada final Piala Eropa 2020 di Stadion Wembley, London, Inggris, 11 Juli 2021.

Sejarah mencatat, Jerman adalah pengambil penalti terbaik di Eropa setelah memenangi semua enam adu penalti sejak kalah dari Ceko pada final Piala Eropa 1976.

Sementara Inggris adalah tim terburuk. Tim ”Tiga Singa” sering kali menjadi kucing saat adu penalti, dengan rekor 2-7 dalam adu penalti, termasuk final Euro 2020 di kandang sendiri. Belanda juga tidak lebih baik, dengan rekor 2-6 dalam adu penalti. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

PRASETYO EKO PRIHANANTO
 | 

Editor:

EMILIUS CAESAR ALEXEY