Lorong di lantai bawah ini tadinya sempat mati. Namun kini, lorong tersebut bangkit kembali seiring dengan kebangkitan kembali kawasan Blok M.
10 Jan 2025 10:03 WIB · Gaya Hidup
Sebaik-baiknya penantian, menanti nasi bistik ayam selama 10 menit pada jam makan siang adalah yang terbaik.
Berjalan memasuki lorong Mal Blok M di kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, bau tumisan bawang putih dengan aneka bumbu menguar kuat ke indra penciuman. Walaupun saat itu waktu makan siang, pengunjung di area lantai bawah tersebut terbilang tidak padat seperti di lantai atas.
Lorong di lantai bawah ini tadinya sempat mati. Namun kini, lorong tersebut bangkit kembali seiring dengan kebangkitan kembali kawasan Blok M sebagai kawasan gaul Ibu Kota. Di lorong itu kini hadir lima kios makanan Asia, mulai dari hot pot, bakmi, makanan Jepang, hingga nasi bistik.
Lorong tersebut tidak terlalu ramai. Sesekali berseliweran pekerja yang berjalan sambil mungkin sedang berpikir mau makan siang apa. Atau anak muda yang sekadar melihat-lihat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/09/05f1a5a46ef0f532b3e4033bd02383dc-Kuliner_Blok_M_01.jpg)
Perut keroncongan menginginkan makanan berat yang mudah dimakan. Kaki langsung berjalan ke arah kios Nasi Bistik Simpang saat mencium harum nasi goreng yang sedang dimasak.
”Kalau hari biasa gini banyaknya karyawan kantor yang datang, sedangkan pas weekend mah campur,” jelas Triangga (40), pemilik kios Nasi Bistik Simpang, Selasa (7/1/2025).
Sambil menonton seorang anak perempuan bermain sepatu roda, suara dari dapur Nasi Bistik Simpang tidak berhenti berisik. Suara kompor, piring yang sedang disiapkan, atau sekadar percakapan kerap terdengar. Maklum, pembeli masuk, pesanan bertambah.
”Kemarin ada orang kantor dari SCBD naik MRT, turun Blok M, makan sini. Mereka bosan makanan di sana-sana lalu beralih ke sini,” tutur Triangga.
Nasi Bistik Simpang menawarkan tujuh menu makanan, dengan menu utamanya adalah nasi biasa dan bistik ayam, nasi goreng bistik ayam dan nasi goreng merah yang terinspirasi saus tomat Makassar serta nasi goreng kepiting yang harganya ratusan ribu rupiah. Eits…, tapi tenang saja. Untuk dapat menikmati seporsi nasi bistik ayam yang mengenyangkan, pengunjung cukup merogoh kocek Rp 35.000.
Ketika tiba di meja, nasi bistik ayam itu tidak sendirian. Ia ditemani piring kecil berisi sambal merah dan saus cilantro Thailand berwarna hijau. Di atas nasi putih, terdapat beberapa potongan ayam tepung dan kentang yang disiram saus bistik. Warnanya coklat kilap. Di bagian pinggir, ada beberapa potongan kecil wortel, buncis, dan acar timun serta cabai hijau.
Ketika ayam dilahap bersamaan dengan nasi, bumbu mentega bistik langsung menyebar di mulut. Pedas lada yang dominan itu dibantu segarnya asam dari perasan jeruk serta saus cilantro. Jangan lupakan sambal merahnya yang berminyak, tapi makin memperindah rasa nasi bistik ayam! Rasanya akan semakin kaya, meskipun rasa asinnya kurang terasa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/09/a24ec7c9a68524110683cdfa8847003e-Kuliner_Blok_M_02.jpg)
Potongan ayam yang telah dimarinasi dan digoreng itu akan langsung disiram saus bistik asli buatan tangan Triangga ke atas nasi, baik yang biasa maupun nasi goreng yang menguarkan cita rasa asap alias smokey. Kualitas nasinya pun bukan yang banyak batunya. Nasi putih tersebut memang tidak pulen lembek, tetapi pas dimakan dengan bistik ayam.
Saat digigit, potongan daging ayam terasa lembut, tidak garing. Ada beberapa potongan bawang bombai yang melengkapi saus bistik. Ayam yang tidak garing tidak mengurangi kerenyahan nasi bistik yang nikmat, sebab ada buncis dan wortel renyah yang siap membantu! Kres…, kres…, suara buncis yang digigit memenuhi rongga mulut yang penuh dengan nasi dan bistik ayam.
Triangga menjelaskan, dirinya sudah mengantisipasi jam makan siang setiap hari. Bumbu bistik dan ayam tepung dibuatnya langsung di kios dan telah dipersiapkan beberapa stok agar ketika ramai pembeli, ia dan karyawannya tidak akan keteteran.
Lebih jauh lagi, Triangga menceritakan lorong Mal Blok M diupayakan agar kembali hidup dengan kehadiran pelaku usaha kuliner. Walaupun begitu, ada kendala yang nyata, yakni hanya sisi tempat sebarisan dengan Nasi Bistik Simpang yang bisa menjadi kios kuliner karena hanya sisi tersebut yang tersedia saluran air.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/04/4f1c6d64-8860-428f-91bb-3d8f8891b1a1_jpg.jpg)
Saat menginjakkan kaki di setiap sudut Blok M, setidaknya akan ada satu atau dua penjual makanan berjejer. Mulai dari cilok, batagor, nasi padang, dan bakso di bagian depan mal hingga kuliner yang lebih beragam lagi di pujasera bawah mal. Atau hanya ingin sekadar ngopi? Blok M juga punya banyak kafe yang menawarkan menu berbagai jenis kopi.
Walaupun, jalanan basah dan mobil lalu lalang, Marsha (25) tak patah semangat untuk ikut mengantre donat yang sangat viral di media sosial, yakni donat dari Donut & Drinks. ”Aku baru pertama kali mau cobain donat ini karena biasanya antre banget. Aku juga tahu donat ini dari Instagram,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/09/82506d47716483b0c117b46e3d867f86-Kuliner_Blok_M_05.jpg)
Perempuan yang mengenakan kemeja biru garis-garis itu memilih Blok M sebagai tempat kencan dengan suami. Dengan semangat ia bercerita bahwa di Blok M kerap mengadakan acara kuliner menjual berbagai jenis makanan.
”Tenant yang baru itu menarik anak muda banget, sih. Aku pernah mencoba Bakmie Piring di pujasera yang viral banget dan itu ramai banget, sih. Lumayan enak sih, meskipun mengantre 40 menit,” tambahnya.
Terik matahari tepat di atas kepala. Beberapa orang duduk di kursi yang disediakan, menunggu namanya dipanggil tanda pesanan siap. Seorang perempuan langsung tersenyum ketika namanya disebutkan dan dirinya telah memegang plastik berisikan donat.
Varian donut crispy itu tidak melingkar sempurna dan ukurannya cukup kecil, tapi penuh dengan taburan gula halus putih yang manis. Saat digigit, donat tersebut tidak krispi betul-betul. Hanya bagian luarnya yang sedikit krispi dengan bagian dalam yang tipis. Satu donat krispi dibanderol seharga Rp 12.000, sedangkan untuk varian lain variatif mulai dari belasan hingga puluhan ribu rupiah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/09/bbfbb7338be07c4c766cf1c44cebe47a-Kuliner_Blok_M_04.jpg)
Jika dibandingkan dengan donat kentang yang biasa ada di pasar, donat viral ini memang tidak mengembang besar. Terlebih, tidak ada perbedaan signifikan antara gula halus putih donat pasar atau donat kebanggaan Blok M ini.
Mekipun begitu, penantian lama di tengah cuaca panas ini terbayarkan dengan perut kenyang dan hati senang berkat berbagai kuliner nikmat di Blok M.
Catatan: Artikel ini merupakan hasil kolaborasi dengan peserta magang harian Kompas, yakni Giofanny Sasmita, mahasiswi jurusan Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara.
Penulis:
Dahono FitriantoEditor:
Dwi AS Setianingsih