Menanti Konklaf, Menghendaki Penerus Takhta Suci

Setelah Paus Fransiskus mangkat, perhatian umat Katolik segera tertuju pada konklaf atau pemilihan paus baru oleh Dewan Kardinal.

23 Apr 2025 13:51 WIB · Internasional

Oleh Ambrosius Harto Manumoyoso

Umat Katolik, termasuk di Keuskupan Surabaya, Jawa Timur, terus mencermati perkembangan informasi mengenai Paus Fransiskus yang wafat di Vatikan pada Senin (21/4/2025). Salah satunya, rencana konklaf atau pemilihan Paus baru oleh Dewan Kardinal.

Informasi tentang konklaf ini turut ditanyakan kepada Uskup Surabaya Monsinyur Agustinus Tri Budi Utomo seusai memimpin misa dengan intensi khusus untuk Paus Fransiskus di Gereja Hati Kudus Yesus (Katedral Surabaya), Jawa Timur, Selasa (22/4/2025) petang.

Sebelumnya, perayaan ekaristi kudus ini ditulis sebagai misa rekuiem atau misa arwah. Agustinus meluruskan bahwa yang telah dipersembahkan ialah Misa Oktaf Paskah dengan intensi khusus untuk Paus Fransiskus. Oktaf Paskah ialah perayaan delapan hari sejak Minggu Paskah (20 April 2025) sampai Minggu Kedua Paskah (27 April 2025) atau Minggu Thomas dalam tradisi Ortodoks atau Quasimodogeniti dalam tradisi Lutheran.

”Pemilihan Paus disebut konklaf yang akan dilaksanakan oleh Dewan Kardinal di Kapel Sistina, Vatikan, setelah pemakaman Paus Fransiskus,” kata Agustinus yang akrab disapa Modik (Romo Didik atau Monsinyur Didik). Yang akan terpilih sebagai Penerus Santo Petrus setelah Paus Fransiskus ialah salah satu di antara Dewan Kardinal berstatus elektor atau berusia kurang dari 80 tahun dan memiliki hak memilih dan dipilih.

Mengutip laman Vatican.va, saat ini ada 252 kardinal di seluruh Gereja Katolik Roma. Sebanyak 135 kardinal di antaranya berstatus elektor atau berhak memilih dan dipilih. Dari Indonesia ada dua kardinal, yakni Julius Riyadi Darmaatmadja SJ (91) dan Ignatius Suharyo Harjoatmodjo (75). Dengan demikian, cuma Kardinal Suharyo yang berstatus kardinal elektor dari Indonesia.

Dari Vatican.va juga diketahui, kardinal elektor terbanyak ada di Eropa dengan 53 orang. Sebanyak 17 orang di antaranya berkebangsaan Italia. Asia di urutan kedua dengan 23 kardinal elektor, 4 orang di antaranya berkebangsaan India dan 3 orang lainnya dari Filipina.

Setelah itu Afrika dengan 18 kardinal elektor, 2 orang di antaranya dari Pantai Gading. Selanjutnya ialah Amerika Selatan dengan 17 kardinal elektor, 7 orang di antaranya dari Brasil. Adapun 4 orang lagi berkebangsaan Argentina yang merupakan negeri kelahiran Paus Fransiskus. Di Amerika Utara ada 16 kardinal elektor dengan 10 orang di antaranya berkebangsaan Amerika Serikat.

(COMBO) This combination of pictures created on April 21, 2025 shows (TOP L to R) Italian Cardinal Matteo Zuppi in Moscow on June 29, 2023, Hungarian Cardinal Peter Erdo in The Vatican on February 28, 2013, Congolese Cardinal Fridolin Ambongo Besungu in The Vatican on October 5, 2019, Ghanaian Cardinal Peter Kodwo Appiah Turkson in The Vatican on March 8, 2013, Maltese Cardinal Mario Grech in The Vatican on October 29, 2023, (MIDDLE L to R) Italian Latin Patriarch of Jerusalem Pierbattista Pizzaballa in the biblical city of Bethlehem in the occupied West Bank on December 25, 2024, French Cardinal Jean-Marc Aveline in The Vatican on August 27, 2022, Italian Vatican's Secretary of State Cardinal Pietro Parolin in Oslo on January 17, 2025, Swedish cardinal Anders Arborelius in The Vatican on June 28, 2017, Filipino Cardinal Luis Tagle in Manila on May 2, 2016, (BOTTOM L to R) Italian Cardinal Claudio Gugerotti in The Vatican on April 18, 2025, US Cardinal Robert Francis Prevost in The Vatican on September 30, 2023, Burmese Cardinal Charles Maung Bo in The Vatican on February 14, 2015, Luxembourgish Cardinal Jean-Claude Hollerich in The Vatican on October 5, 2019, US Cardinal Timothy Dolan in New York City on March 17, 2025. The April 21 death of Pope Francis triggered a period of mourning in the Catholic Church, but also kick-started the race for his successor. Whether diplomats, theologians, mediators or Vatican insiders, here are 15 cardinals who are among the potential favourites to become the next pope, known as the "papabili", divided by region. This list however is by no means exhaustive and Francis's successor could well be someone else. (Photo by various sources / AFP) / - Norway OUT / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / Moscow Patriarchate / VATICAN MEDIA" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Jorge Mario Bergoglio menjadi Paus Fransiskus sejak Maret 2013. Dialah Paus pertama dari Amerika Selatan meskipun keturunan Italia-Argentina. Ayah dan kakek-nenek Paus Fransiskus berasal dari Italia. Akankah konklaf berikutnya menghasilkan pemimpin Gereja Katolik Roma dari luar Eropa seperti Paus Fransiskus?

Agustinus berpandangan, konklaf merupakan proses pemilihan yang amat rahasia. Dewan Kardinal akan terputus dari komunikasi, informasi, dan pengaruh lainnya saat ”dikunci” dalam Kapel Sistina. Konklaf harus digelar 15-20 hari setelah kematian Paus Fransiskus.

Dari statistik Dewan Kardinal (Collegio Cardinalizio), tampak bahwa Eropa, terutama Italia sebagai komunitas kardinal elektor terbanyak. Namun, terpilihnya Bergoglio sebagai Paus menandai era pergeseran wajah Gereja Katolik yang tak melulu Eropa-sentris. ”Bukan berarti hasil konklaf nanti harus bergeser ke kandidat dari Asia, Afrika, atau kembali ke Eropa,” ujar Agustinus.

Mencermati laman Collegeofcardinalreports.com (Cardinalium Collegii Recensio), ada 22 kardinal yang dianggap kandidat kuat atau Papabili sebagai Penerus Santo Petrus untuk Takhta Suci Vatikan. Namun, ada enam kardinal berstatus emeritus berusia 76-80 tahun yang mungkin berhalangan jika dipilih.

Papabili termuda ialah Jose Tolentino Do Mendonca (59) dari Portugal yang menjabat Prefek Dikasteri untuk Kebudayaan dan Pendidikan dalam Dewan Kuria Kepausan atau Kuria Roma. Dari Asia ada empat kardinal Papabili, yakni ialah Pierbattista Pizzaballa (60) dari Jerusalem, Luis Antonio Gokim Tagle (67) dari Filipina, Charles Maung Bo (76) dari Myanmar, dan Albert Malcolm Ranjith Patabendige Don (77) dari Sri Lanka.

Agustinus mengingatkan, sejak Paus Fransiskus sakit parah, dunia mulai membicarakan suksesor. Tidak bisa dihindari kemunculan dan perbincangan tentang bursa Paus baru. Konklaf bukan kontestasi kepemimpinan politik seperti menghasilkan presiden atau perdana menteri. Dalam kontestasi politik seperti itu, para kandidat diteliti oleh publik atau perwakilannya secara berulang kali, pemilihan secara terbuka bahkan diiringi penilikan (survei) hingga hitung cepat.

Ilustrasi Pesan perdamaian dari Kristus, paus

”Memprediksi Paus berikutnya sangat tidak pasti,” tulis laman Collegeofcardinalreports.com. Sebagai contoh, Bergoglio tidak ada dalam daftar Papabili 2013 karena dianggap sebagian besar pengamat konklaf terlalu tua. Saat itu, Bergoglio berusia 76 tahun. Namun, dialah yang menggantikan Paus Benediktus XVI (Joseph Alois Ratzinger) yang mengundurkan diri karena salah satunya alasan kesehatan.

Ada pepatah Romawi yang tetap relevan mengenai konfklaf. Ungkapan itu ialah ”siapa pun yang memasuki konklaf sebagai paus, meninggalkannya sebagai kardinal (chi entra papa in conclave, ne esce cardinale)”. Paus terpilih mungkin bervisi berlawanan dengan pendahulu, misalnya liberal daripada konservatif atau sebaliknya. Harapan sering kali terbalik.

Paus terpilih diyakini sebagai pilihan Allah melalui Roh Kudus. Namun, sejarah perjalanan Gereja Katolik menyimpulkan tidak sedikit Paus di masa silam yang dianggap bertentangan sehingga dianggap bukan dipilih oleh Roh Kudus.

Tampaknya patut disimak pandangan Paus Benediktus XVI yang tidak akan mengatakan Roh Kudus memilih Paus. ”Roh Kudus tidak benar-benar mengendalikan urusan tersebut, tetapi seperti seorang pendidik yang baik seolah-olah memberi kita (Dewan Kardinal) banyak ruang, banyak kebebasan tanpa sepenuhnya meninggalkan kita. Peran Roh Kudus harus dipahami dalam arti yang jauh lebih elastis, bukan mendiktekan kandidat yang harus dipilih,” tulis Paus Benediktus XVI.

Dalam konklaf, hanya ada dua tanda yang akan keluar dari cerobong asap Kapel Sistina. Jika mengepul asap hitam berarti Dewan Kardinal belum berhasil memilih Paus. Jika asap putih, berarti sudah ada Paus terpilih. Selanjutnya, Kardinal Dekan akan mengumumkan Annuntio vobis gaudium magnum. Habemus Papam! Saya umumkan kepada Anda kegembiraan yang luar biasa. Kita memiliki Paus! diikuti kemunculan sosok yang akan melambaikan tangan dan memberi berkat.

Saat ini, mari mendoakan Paus Fransiskus yang masih disemayamkan di Vatikan. Dewan Kardinal telah memutuskan Paus Fransiskus akan dikebumikan pada Sabtu (26/4/2025) di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma. Selamat jalan Bapa Suci. Kami menanti Penerus Takhta Suci.

Reaksi seorang biarawati saat melihat asap putih mengepul dari cerobong asap di Kapel Sistine yang menunjukkan bahwa seorang paus baru telah terpilih di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Rabu, 13 Maret 2013. Kardinal Argentina Jorge Bergoglio, yang memilih nama Paus Fransiskus, adalah paus ke-266.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ambrosius Harto Manumoyoso
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji