Dua dekade berlalu sejak gempa dan tsunami melanda Aceh. Menapaki jejak bencana seolah memutar balik waktu, melihat sisa kehancuran sekaligus kebangkitan.
26 Des 2024 10:03 WIB · Lingkungan
Lorong itu gelap dan dingin. Jalanannya menurun dengan alur melengkung. Suara ombak dan gemercik air yang merembes di dinding terdengar, bercampur dengan lantunan kalimat tahlil. Perpaduan itu menciptakan sensasi takut, panik, dan limbung sekaligus.
Lorong yang menjadi salah satu bagian Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, tersebut dibuat sedemikian rupa agar membawa pada suasana dua dekade silam atau tepatnya 26 Desember 2004 saat tsunami melanda ”Serambi Mekkah”. Di museum yang diresmikan pada 2009 itu, pengunjung diajak merasakan pengalaman emosional yang mendalam.
Santi (52), pengunjung asal Kalimantan Selatan, bahkan tak kuasa menahan air matanya ketika menceritakan pengalaman melalui setiap ruang di Museum Tsunami, termasuk lorong yang dinamai ”Lorong Tsunami” itu. Santi mendadak ingat 20 tahun lalu, perasaannya tak karuan ketika mendengar kabar gempa dan tsunami meluluhlantakkan Aceh.
Apalagi, di antara ratusan ribu korban, ada rekannya sesama polisi yang ditugaskan selama Aceh menjadi daerah operasi militer (DOM). Nama rekannya itu juga mungkin ada di ”Sumur Doa”, ruangan mirip cerobong yang dipenuhi nama-nama korban meninggal dunia akibat tsunami.
”Saya sekarang bisa merasakan apa yang mereka pernah alami. Saya rasa tidak ada pengunjung yang tidak merasakan perihnya dampak tsunami setelah memasuki Museum Tsunami,” kata Santi, September lalu.
Santi datang ke Aceh sebagai bagian dari kontingen Kalimantan Selatan untuk PON Aceh-Sumut 2024. Selama perhelatan pesta olahraga terbesar di Indonesia itu, tidak sedikit kontingen mendatangi tempat-tempat yang meninggalkan jejak tsunami, termasuk Museum Tsunami Aceh.
Jejak-jejak itu memang harus ditelusuri ke tempat-tempat tertentu. Sebab, jika melihat Aceh secara sekilas setelah dua dekade bencana alam itu datang, jejak itu tidak tampak. Kehidupan berjalan seperti biasa. Bangunan-bangunan juga berdiri di mana-mana, termasuk di dekat pantai.
Kota telah dibangun ulang setelah banyak wilayah yang tersapu tsunami tidak lagi layak huni. Begitu pula dengan jalan dan fasilitas umum. Pembangunan infrastruktur berlangsung pesat. Apabila tak ada jejak tertentu yang khas, sepertinya tidak akan mudah melihat langsung bahwa tsunami pernah menerpa Aceh.
Salah satu jejak tsunami sekaligus saksi bisu kedahsyatan bencana tersebut ialah Kapal PLTD Apung yang tidak lagi berada di laut. Kapal milik PT Perusahaan Listrik Negara seberat 2.600 ton itu terbawa gelombang tsunami hingga jarak 3 kilometer. Dari Pelabuhan Ulee Lheue, Kapal PLTD Apung terseret ke tengah permukiman di Punge Blang Cut, Banda Aceh.
Seorang anak yang berkunjung pada September lalu harus menengadah untuk melihat kapal dengan panjang 63 meter dan lebar 19 meter itu. Matanya berbinar ketika membaca tulisan WKB, yang merupakan singkatan dari Wilayah Kalimantan Barat. Kapal yang pada bagian buritannya terpampang tulisan PLTD Apung I dulu pernah beroperasi di Kalbar sebelum akhirnya dipindah ke Aceh.
Di Aceh, PLTD Apung I baru beroperasi sekitar satu tahun sebelum tsunami menuntaskan tugasnya. Kini, bagian dalam PLTD Apung I disulap menjadi museum dengan berbagai informasi tentang proses terdamparnya kapal tersebut. Pengunjung juga bisa naik ke dek dan melihat pemandangan di sekitar lokasi kapal.
Aqila (32), yang datang ke Aceh dari Jakarta untuk berlibur, asyik mencoba teropong yang tak lagi berfungsi. Kata Aqila, berkunjung ke PLTD Apung I terasa surreal, tidak nyata dan aneh sekaligus. Dia memprediksi, perasaan serupa akan kembali muncul saat mendatangi situs-situs tsunami lain.
”Ada semacam keanehan karena berwisata bencana, apalagi banyak orang yang jadi korban. Tapi, enggak bisa ngelak juga kalau salah satu daya tarik wisata ke Aceh ya untuk berkunjung ke tempat-tempat yang terdampak tsunami. Bagusnya ini jadi pelajaran soal bencana dan pengingat untuk bangkit lebih kuat,” tutur karyawan swasta ini.
Situs lain yang juga menjadi saksi bisu kedahsyatan tsunami Aceh ialah Kapal di Atas Rumah yang berada di Gampong Lampulo, Banda Aceh. Seperti PLTD Apung I, kapal berbahan kayu dengan bobot 20 ton dan panjang 25 meter serta lebar 5,5 meter ini terseret gelombang tsunami.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/21/39b3d36f-fe8e-4a5c-9eb2-1e616cb9f25c_jpg.jpg)
Kapal yang awalnya berada di tempat pengedokan di Sungai Krueng itu kemudian tersangkut di lantai dua rumah keluarga pasangan Misbah dan Abbasiyah. Bundiyah, warga setempat yang kerap disapa Wak Kolak, mengatakan, kapal itu sempat dikira sebagai kapal penyelamat bagi warga yang tengah berlindung di rumah Misbah. Alhasil, Bundiyah dan 58 warga lain pun memutuskan menaiki kapal tersebut.
Bagian rumah Misbah masih terjaga untuk menopang keberadaan kapal. Kendati tidak lagi dalam keadaan utuh, rumah itu juga turut menjadi saksi bisu gempa dan tsunami. Bagian lain rumah yang tidak terkena kapal juga masih terjaga, termasuk lantai dua.
Terdapat sebuah ruangan yang menampilkan foto-foto kapal dan kondisi Kota Banda Aceh saat diterjang gempa dan tsunami. Ada juga semacam balkon yang berbatasan langsung dengan kapal. Seseorang harus melompat dari pagar di balkon untuk bisa mencapai kapal. Dari situlah, kata Bundiyah, 59 warga naik ke kapal tanpa bisa dimengerti caranya.
”Ada yang tolak, ada yang tarik. Begitu terus sampai semua masuk kapal. Kalau situasi normal, pasti susah untuk bisa naik ke kapal yang posisinya cukup tinggi,” tutur Bundiyah.
Di area kapal itu, beberapa warga yang juga pernah menjadi korban tsunami duduk-duduk bersantai. Beberapa lainnya berjualan buku dan makanan. Setiap ada pengunjung yang datang, mereka berbagi cerita ketika mereka menghadapi bencana besar tersebut.
Nilawati, misalnya, yang kini jadi pengelola Kapal di Atas Rumah, mengatakan, dia selamat setelah tersangkut pohon kelapa. Nilawati, yang sempat terpisah dengan anak-anaknya, kemudian berusaha mencapai permukaan agar bisa bernapas. Selama berjam-jam hingga air surut, dia berpegangan ke puncak pohon kelapa.
Pengunjung yang datang, beberapa di antaranya berasal dari negara tetangga, seperti Malaysia, mendengarkan dengan saksama kisah Wak Kolak dan Nilawati. Sesekali mereka mengaku merinding mendengar kisah tersebut langsung dari orang yang mengalaminya. Dan pencerita tak menunjukkan sedikit pun kesedihan atau penyesalan kendati musibah itu membuat mereka kehilangan.
Sementara jejak tsunami masih terlihat jelas di PLTD Apung I ataupun Kapal di Atas Rumah, jejak serupa tidak benar-benar tampak di Masjid Rahmatullah, di Lampuuk, Kabupaten Aceh Besar. Masjid ini kerap tertukar dengan Masjid Baiturrahman di Banda Aceh.
Seorang pengunjung Masjid Baiturraman, Andri Novriandi, misalnya, mengatakan, alasannya ke masjid tersebut karena foto ikonik yang pernah dilihatnya beberapa tahun silam. Foto udara itu menampilkan pemandangan masjid yang tetap berdiri kokoh ketika bangunan sekitarnya rata dengan tanah. Andri mengiranya sebagai Masjid Baiturrahman.
Masjid Baiturrahman, yang merupakan salah satu ikon Aceh, memang masih berdiri kokoh saat tsunami. Puluhan ribu orang mengungsi dan selamat dari musibah tersebut. Namun, masjid ini tidak benar-benar terkena empasan gelombang karena tertahan banyak bangunan di sekitarnya. Masjid ini terkena limpasan air yang juga membawa puing dan mayat korban.
Adapun masjid yang ada dalam foto pascatsunami yang dilihat Andri itu ialah Masjid Rahmatullah. Berjarak hanya sekitar 500 meter dari bibir pantai, masjid ini tetap berdiri saat bangunan lain di sekitarnya luluh lantak.
Masjid yang saat ini telah direnovasi dan diperbesar itu masih mempertahankan desain lama. Tak hanya itu, beberapa tiang bangunan yang patah diterjang tsunami bahkan sengaja dibiarkan sebagai pengingat kedahsyatan tsunami saat itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/21/1f76aa91-97bb-4986-8000-3bbb480b797b_jpg.jpg)
Lorong gelap, kapal terdampar dan tersangkut, serta masjid yang tetap kokoh menjadi saksi bisu tragedi yang meluluhlantakkan Aceh dua dekade silam. Di antara jejak-jejak itu, kisah manusia yang bertahan menyisakan serpihan keberanian, doa, dan pelajaran akan ketangguhan.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Adrian FajriansyahEditor:
Dahono FitriantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .