Menarik Minat Konsumen, Mal Memperkuat Gerai Makanan dan Minuman

Gerai ritel makanan dan minuman menjadi tulang punggung tingkat kunjungan di mal, di tengah pelemahan daya beli.

06 Jun 2025 17:11 WIB · Ekonomi

Oleh Brigita Maria Lukita G.

Pelemahan daya beli masyarakat disikapi pengelola pusat perbelanjaan dengan memperkuat gerai-gerai makanan dan minuman. Di tengah penurunan daya beli, masyarakat tetap butuh ruang interaksi sosial.

Konsultan properti Colliers Indonesia memproyeksikan, gerai makanan dan minuman serta hiburan tetap mendominasi dan menjadi tulang punggung tingkat kunjungan di mal. Beberapa pemilik pusat perbelanjaan menyadari untuk terus berevolusi demi mempertahankan kinerja.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Wijaya menilai, seusai wabah Covid-19 mereda dan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) selama tiga tahun dicabut, yang pertama kali dicari masyarakat bukan belanja, melainkan ruang interaksi sosial.

Masyarakat Indonesia memiliki budaya yang senang berkumpul, baik bersama keluarga, sanak saudara, teman, kolega, maupun komunitas. Penambahan kategori gerai makanan dan minuman di pusat perbelanjaan dinilai bukan semata-mata disebabkan penurunan daya beli, melainkan juga karena fungsi utama mal bukan lagi hanya tempat berbelanja.

”Gerai makanan dan minuman di pusat perbelanjaan menjadi salah satu fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan ruang interaksi sosial,” ujar Alphonzus, saat dihubungi Kamis (5/6/2025).

Ia menambahkan, mal harus bisa menghadirkan pengalaman lebih bagi pengunjung, antara lain lewat konsep yang memadukan tempat belanja dengan hiburan, rekreasi, makanan dan minuman, serta taman bermain dan olahraga. ”Saat ini pusat perbelanjaan harus dapat menambahkan fungsi lain dari sekedar sebagai tempat berbelanja, terutama mal yang berlokasi di kota-kota besar,” ujar Alphonzus.

Pengunjung menikmati wahana permainan yang baru dibuka di Lippo Mall Puri Indah, Jakarta Barat, Kamis (30/1/2025). Pusat perbelanjaan terus berinovasi untuk memberikan pengalaman baru kepada pengunjung guna meningkatkan kunjungan.

Ruang Interaksi

Presiden Direktur PT Metropolitan Land Tbk (Metland) Anhar Sudradjat mengungkapkan, gerai-gerai makanan dan minuman di pusat perbelanjaan saat ini jauh lebih hidup jika dibandingkan gerai fashion. Meski terjadi pelemahan daya beli, masyarakat cenderung tidak menunda untuk melakukan interaksi sosial. Mal menjadi pilihan ruang berinteraksi.

”Kami membaca hasil riset, orang tidak menunda melakukan hangout. Yang mereka tunda adalah pembelian yang skalanya besar, seperti pembelian kendaraan. Jadi akan terjadi secara alamiah pergantian tenant di mal dari fashion ke makanan dan minuman,” ujar Anhar, beberapa waktu lalu.

Suasana di area kuliner di Lippo Mall Puri Indah, Jakarta Barat yang ramai pengunjung, Kamis (30/1/2025). Gerai makanan dan minuman serta hiburan diprediksi tetap mendominasi dan menjadi tulang punggung tingkat kunjungan di mal.

Pergeseran komposisi penyewa yang didominasi gerai makanan dan minuman menjadi strategi perseroan untuk mendorong tingkat kunjungan ke mal. Pihaknya juga mensyaratkan penyewa (tenant) yang akan memperpanjang ruang sewa di mal merenovasi ruangan atau berpindah lokasi gerai guna memberikan penyegaran terhadap mal.

Ia menambahkan, salah satu keunggulan mal adalah penyewa yang dinamis. Oleh karena itu, Metland mengaitkan seluruh aktivitas di mal dengan kegiatan makan dan minum.

”Di mal kami terjadi pergantian alamiah dari tenant fashion ke F&B. (Pergantian) Ini sebetulnya bagus juga, karena ada penyegaran. Jika mal isinya itu-itu saja, pengunjung mungkin menjadi bosan,” ujar Anhar, beberapa waktu lalu.

Cara lain meningkatkan jumlah pengunjung adalah membuat kegiatan atau atraksi di mal yang membidik segmen keluarga, seperti kegiatan lomba anak-anak. Dampak acara yang ditimbulkan dinilai lebih optimal meningkatkan jumlah pengunjung mal jika dibandingkan pertunjukan musik yang mengundang artis atau penyanyi.

”Kegiatan yang menyasar anak kecil, maka ibu dan bapaknya pasti ikut. Setelah itu, mereka makan-makan. Jadi, kami sekarang mengarahkan kegiatan ke situ (keluarga). Strategi ini cocok saat ini, tetapi belum tentu cocok tahun depan,” kata Anhar.

Menurut Anhar, pengelola mal harus bersiap mengantisipasi perubahan orang belanja. Strategi yang ditempuh Metland itu membuat tingkat kunjungan di mal tidak turun signifikan. Saat ini, Metland mengelola beberapa mal, antara lain Metropolitan Mall Bekasi dan Metropolitan Mall Cileungsi.

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengemukakan, sepanjang triwulan I (Januari-Maret) 2025, tingkat keterisian mal di Jakarta rata-rata 74 persen, sedangkan di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) 69 persen. Renovasi dari sisi bauran penyewa hingga tampilan eksterior diprediksi akan lebih banyak terjadi.

Pada triwulan I-2025, tercatat dua mal resmi beroperasi, yakni Agora Mall di Jakarta dan Living World Grand Wisata (Bekasi). Agora Mall antara lain mengusung konsep tempat berkumpul masyarakat urban Jakarta, khususnya aktivitas makanan dan minuman. Komposisi jumlah tenant makanan dan minuman di mal itu mencapai 70 persen.


Kerabat Kerja

Penulis:

Brigita Maria Lukita G.
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari