Kita telah hidup di dunia baru yang lebih panas. Sambil berupaya memperlambat perubahan tersebut sehingga memiliki waktu untuk beradaptasi.
10 Feb 2025 08:03 WIB · Humaniora
Mempertahankan pemanasan global jangka panjang pada 2 derajat celsius sebagaimana target Persetujuan Iklim Paris dinilai mustahil. Pemanasan global kini memengaruhi Arktika secara dramatis, mencairkan tanah beku, melepaskan karbon yang telah lama tersimpan ke udara sebagai gas rumah kaca, dan pada akhirnya mempercepat laju perubahan iklim.
Pada tahun 2015, hampir 200 pemimpin dunia berjanji untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celsius. Para ilmuwan mengidentifikasi ambang batas tersebut sebagai hal yang penting untuk mencegah kerusakan sistem sirkulasi laut utama, pencairan tiba-tiba lapisan tanah beku boreal, dan runtuhnya terumbu karang tropis.
Target 1,5 derajat celsius itu telah dilanggar selama dua tahun terakhir, menurut data dari sistem pemantauan iklim Uni Eropa Copernicus. Meskipun, Persetujuan Paris (Paris Agreement) merujuk pada tren jangka panjang selama beberapa dekade.
Jangan menyerah, bahkan saat menghadapi perubahan.
Namun, melihat tren emisi karbon dan kenaikan suhu saat ini, mempertahankan pemanasan global jangka panjang pada 1,5 derajat celsius, bahkan 2 derajat celsius kini ”mustahil”. Analisis baru yang dipimpin oleh ahli iklim terkemuka, James Hansen, dalam jurnal Environment: Science and Policy for Sustainable Development pada 3 Februari 2025 menyimpulkan bahwa iklim Bumi lebih sensitif terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca daripada yang diperkirakan sebelumnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/10/7bb6a5b182c6147182a0b331b5ae8c5e-venv_a_2434494_f0001_c.jpg)
Menurut Hansen, skenario perubahan iklim ambisius yang digariskan oleh panel iklim PBB (IPCC), yang memberi planet ini peluang 50 persen untuk mempertahankan pemanasan di bawah 2 derajat celsius pada tahun 2100, dinilai tidak masuk akal. ”Skenario itu kini tidak mungkin lagi,” kata Hansen, mantan ilmuwan iklim NASA, yang mengumumkan kepada Kongres AS pada tahun 1988 bahwa pemanasan global sedang berlangsung.
Sebaliknya, ia dan timnya berpendapat, kenaikan suhu akan tetap pada atau di atas 1,5 derajat celsius dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini bakal merusak terumbu karang dan memicu badai yang lebih dahsyat, sebelum naik menjadi sekitar 2 derajat celsius pada tahun 2045.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/16/6e980e63-761b-4928-99a9-054b80e8308f_jpg.jpg)
Makalah Hansen memperkirakan pencairan es kutub dan injeksi air tawar ke Atlantik Utara akan memicu penutupan Sirkulasi Terbalik Meridian Atlantik (AMOC) dalam 20-30 tahun ke depan. Akhir dari arus tersebut akan menimbulkan masalah besar, termasuk kenaikan permukaan laut beberapa meter. Para peneliti menggambarkan penutupan AMOC sebagai ’titik yang tidak bisa kembali’.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science pada Kamis (6/2/2025) memperkuat analisis Hansen. Menurut laporan yang ditulis Julienne C Stroeve dari Centre for Earth Observation Science (CEOS), University of Manitoba dan tim, bahkan jika setiap negara menepati komitmen dalam Persetujuan Paris saat ini, dunia masih akan terus memanas hingga 2,7 derajat celsius pada tahun 2100.
”Ini adalah kenyataan yang harus dihadapi. Kita telah mengambil langkah pertama dengan menandatangani Persetujuan Paris, tetapi kita telah hidup di ’dunia yang berubah’ yang sedang kita upayakan untuk dicegah,” kata Profesor Ekologi Ekosistem Ted Schuur dari Northern Arizona University, yang turut dalam studi ini.
Ia menyatakan, sudah saatnya mengambil langkah berikutnya untuk menyesuaikan tujuan iklim. Hal ini agar sesuai dengan kenyataan baru ini.
Menurut Schuur, Bumi melewati pemanasan 1,5 derajat lebih cepat dari yang dibayangkan sebelumnya karena terjadinya perubahan drastis di Lingkaran Arktik. Menurut kajian mereka, Arktik memanas hampir empat kali lebih cepat daripada bagian dunia lainnya. Hal ini disebabkan permukaannya yang beku telah mencair.
Ambil contoh es laut. Sebelum pemanasan global saat ini, Samudra Arktik akan membeku di musim dingin dan mencair sebagian di musim panas.
Namun, sekarang setelah pemanasan global melampaui 1,5 derajat, sebagian besar es musim dingin mencair setiap musim panas sehingga semakin banyak lautan yang terpapar hingga akhir musim gugur. Hal itu mempercepat pemanasan karena air laut berwarna gelap menyerap lebih banyak sinar matahari daripada lapisan es berwarna terang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/10/72b35a891da012542c4c1edfa97c886c-an_arctic_meltdown_is_1.jpg)
”Laut Arktik sudah tidak dapat dikenali lagi. Jumlah es yang tersisa di akhir musim panas terus berkurang seiring berjalannya waktu. Tak lama lagi, es musim panas bisa menjadi bagian dari masa lalu,” kata Schuur.
Kondisi seperti itu akan mengubah kehidupan orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut serta membuka rute pelayaran baru. Dampak selanjutnya, rute baru yang terbuka itu akan menimbulkan masalah hubungan internasional baru.
Di daratan, pemanasan juga memengaruhi Arktik secara dramatis. Saat suhu meningkat, hamparan tanah yang luas yang ditutupi oleh lapisan tanah beku permanen mencair, melepaskan karbon yang telah lama tersimpan ke udara sebagai gas rumah kaca.
Para ilmuwan telah meramalkan bahwa seiring berlanjutnya pemanasan, bahan organik yang membusuk ini akan melepaskan sejumlah karbon dioksida dan metana yang sebanding dengan emisi karbon negara-negara industri besar. Sayangnya, kata Schuur, fenomena ini tidak cukup diperhitungkan dalam perhitungan para pembuat kebijakan pada 2016 (setahun setelah Persetujuan Paris berlaku (entered into force).
”Kita berbicara tentang tempat yang terpencil bagi banyak orang, tetapi perubahan di Arktik tidak hanya terjadi di Arktik,” katanya.
Begitu Arktik kehilangan lapisan bekunya, bahan organik yang tersimpan di dalamnya berubah menjadi gas rumah kaca yang masuk ke atmosfer dan mempercepat pemanasan. ”Musim panas lalu, Phoenix mengalami 70 hari dengan suhu di atas 110. Hal itu terutama disebabkan oleh emisi gas rumah kaca manusia, tetapi hal itu dipercepat sebagian karena gas rumah kaca tambahan dari Arktik,” ujar Schuur.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/10/89b85bd6fe7fbfedda1842b7b2ea7506-an_arctic_meltdown_is.jpg)
Schuur mengatakan sekarang sudah jelas bahwa target kebijakan saat ini akan menghangatkan Bumi sebesar 2,7 derajat pada akhir abad ini, menciptakan dunia yang bahkan lebih hangat daripada yang kita alami saat ini. Sekarang menjadi tugas kolektif untuk membuat masyarakat lebih tangguh terhadap perubahan yang tak terelakkan di masa depan dan mencoba mengurangi emisi gas rumah kaca manusia lebih lanjut.
”Kita tidak dapat menghentikan perubahan, itu sudah terjadi,” kata Schuur.
Namun, manusia masih bisa berupaya memperlambat perubahan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca. Selain itu, perubahan fenomena iklim ini agar bisa dikelola dengan baik sehingga orang dan ekosistem berada pada posisi yang lebih baik untuk masa depan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/06/9ceac252-8e40-4129-b2f5-65e5a9aa7b76_gif.gif)
Para ilmuwan mendorong orang untuk terlibat dalam upaya keberlanjutan kota, daerah, atau negara bagian mereka, karena dampak iklim bisa lebih terasa. Keterlibatan dapat berarti menghadiri pertemuan warga atau menyampaikan gagasan kebijakan baru kepada para pemimpin, atau bisa juga berarti mendukung langkah-langkah keberlanjutan dengan memberikan suara dalam pemilihan lokal.
Di luar upaya bersama yang bersifat struktural, setiap individu juga dituntut terlibat, seperti lebih mengutamakan transportasi umum dan memilih pangan yang rendah karbon. Pilihan-pilihan individu tersebut mungkin tidak menghentikan pemanasan global, tetapi tetap membantu memperlambat laju pemanasan.
”Jangan menyerah, bahkan saat menghadapi perubahan,” kata Schuur.
Kini, kita sudah harus mengubah cara berpikir. Katakan kepada diri sendiri: Saya hidup di dunia yang baru dan telah berubah. Apa yang dapat saya lakukan untuk membantu beradaptasi dan memperlambat perubahan tersebut sehingga kita memiliki lebih banyak waktu untuk beradaptasi?
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .