BMKG memprakirakan kemarau basah yang melanda sejumlah wilayah Indonesia masih berlangsung hingga Agustus 2025. Ada beberapa risiko yang mengancam masyarakat.
22 Mei 2025 10:00 WIB · Riset
Berbeda dengan kemarau tahun lalu, Indonesia akan mengalami kemarau basah tahun ini. Seperti apa dampaknya terhadap beberapa sektor kehidupan masyarakat di Indonesia?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia kini sedang memasuki musim pancaroba. BMKG melaporkan, 57,7 persen wilayah atau 403 zona musim (Zom) di Indonesia akan memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni nanti.
Musim pancaroba adalah masa peralihan antara musim hujan dan kemarau. Selama periode ini, cuaca dapat berubah dengan cepat, dengan ditandai udara dan cuaca terik pada pagi hingga siang hari, lalu akan turun hujan dari siang hingga petang.
BMKG dalam pembaruan informasi, Senin (5/5/2025), menyebutkan, puncak kemarau diprakirakan terjadi pada Agustus nanti. Bahkan, diprediksi berlangsung sama atau dapat datang lebih awal dari biasanya yang mendominasi seluruh wilayah Indonesia. Jika dibandingkan dengan periode normal, durasi atau periode musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih pendek dari biasanya di 298 Zom atau 43 persen wilayah.
Meskipun kalender telah menandai datangnya musim kemarau, sejumlah daerah di Indonesia hingga kini justru masih diguyur hujan. Fenomena ini tentunya bukan tanpa alasan. BMKG menyebut Indonesia sedang mengalami kemarau basah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/21/00cac555-cd30-4a7e-8600-cd0ddbdf6e5e_jpg.jpg)
Karakteristik yang tidak biasa dari musim kemarau tahun ini tecermin dari curah hujan yang tetap tinggi di beberapa wilayah meskipun secara hitungan kalender musim telah memasuki musim kemarau.
BMKG menyebut kemarau basah tahun ini tidak dipengaruhi kondisi iklim global, seperti El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada dalam fase netral. Fenomena ini cenderung dipengaruhi menghangatnya suhu muka air laut Indonesia yang diprakirakan bertahan hingga September.
Anomali cuaca kemarau basah yang terjadi saat ini bukan berarti ini menjadi fenomena baru bagi Indonesia. Data BMKG menunjukkan kemarau basah sudah beberapa kali terjadi dalam dekade terakhir, termasuk pada tahun 2010, 2013, 2016, 2020, 2023, dan kini terindikasi kembali muncul pada tahun 2025. Polanya menunjukkan tren yang semakin sering dan durasinya lebih panjang.
Pada tahun 2016, sebagian besar wilayah Indonesia belum memasuki musim kemarau hingga Juni dan masih memiliki curah hujan yang tinggi. Kemudian fenomena tersebut terjadi lagi pada tahun 2020 yang musim kemaraunya berlangsung lebih basah dari tahun sebelumnya.
Tahun ini, BMKG memprakirakan fenomena kemarau basah yang melanda sejumlah wilayah Indonesia akan berlangsung hingga Agustus 2025. Artinya, masyarakat masih akan menghadapi curah hujan meski secara kalender sudah memasuki musim kemarau.
Kemarau basah merupakan kondisi meteorologi yang tidak biasa. Menurut BMKG, kemarau basah merupakan kondisi di mana musim kemarau masih diwarnai curah hujan yang cukup signifikan. Biasanya, musim kemarau ditandai dengan cuaca panas dan langit cerah. Namun, pada musim kemarau yang basah, kelembaban udara tetap tinggi sehingga memungkinkan terjadi hujan lebih sering.
Fenomena kemarau basah ini ditandai dengan kelembaban udara yang tinggi dan curah hujan yang masih tinggi selama periode pancaroba hingga awal periode kemarau. Hal ini turut dicatat BMKG, terutama bagi wilayah dengan pola hujan monsunal atau wilayah yang memiliki perbedaan jelas antara musim hujan dan kemarau, seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/21/4c93f407fd8bbf256964e679af9e5dcb-FAK_7454.jpg)
Penyebab fenomena itu cukup kompleks dan dipengaruhi beberapa fenomena atmosfer di wilayah Indonesia. Pantauan BMKG pada Kamis (15/5/2025) mengungkap sirkulasi siklon diprediksi terbentuk di beberapa wilayah, seperti Samudra Hindia sebelah barat daya Sumatera, Selat Makassar, perairan utara Maluku Utara, Maluku, dan perairan utara Papua Barat. Fenomena ini membentuk daerah konvergensi dari titik barat Indonesia hingga Papua Barat.
Pihak BMKG juga mencatat dinamika atmosfer lainnya. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, gelombang Rossby Ekuator, dan gelombang low frequency yang terpantau aktif menjadi kombinasi fenomena yang berpotensi meningkatkan aktivitas konvektif dan pembentukan siklonik di wilayah tersebut. Dampak dari kondisi dinamika atmosfer tersebut turut membawa pengaruh pada potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Menurut BMKG, MJO adalah fenomena alam yang memengaruhi cuaca di wilayah tropis, khususnya di Indonesia, dengan periode 30-60 hari. MJO merupakan gelombang atau osilasi yang bergerak dari barat ke timur, dari Samudra Hindia menuju Samudra Pasifik Tengah, dan membawa perubahan curah hujan.
Gelombang Kelvin atmosfer adalah sistem curah hujan tropis yang disertai pola angin barat dan timur yang khas. Gelombang ini bergerak ke arah timur mengelilingi bumi dan dapat mengelilingi daerah tropis selama sebulan.
Sementara gelombang Equatorial Rossby atau Rossby Ekuator adalah suatu fenomena yang terjadi di fluida (atmosfer/lautan) yang berotasi secara berpasangan dan bergerak ke arah barat di sekitar kawasan ekuator. Gelombang Rossby juga dikenal dengan istilah gelombang planet.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/20/e4e16b33f72c771d0262c0329c260e75-20250520WER5.jpg)
Fenomena itu tidak terjadi merata di seluruh wilayah Indonesia. BMKG, Kamis (15/5/2025), mencatat sejumlah wilayah, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, dan Papua, pada 16-22 Mei 2025 akan mengalami hujan lebat dan potensi angin kencang. Dalam kondisi normal, wilayah tersebut hanya mengalami satu puncak hujan dan satu puncak kemarau. Namun, tahun ini, pola itu terganggu karena hujan tetap turun pada musim kemarau.
BMKG memprediksi kemarau basah akan membuat masyarakat tetap harus menghadapi hujan meskipun telah memasuki musim kemarau. BMKG memproyeksikan fenomena kemarau basah akan berlangsung hingga akhir musim kemarau pada Agustus 2025.
Setelah itu, Indonesia akan memasuki masa peralihan musim atau pancaroba antara September dan November 2025 serta musim hujan kembali datang pada Desember 2025 hingga Februari 2026.
Fenomena kemarau basah yang terjadi tahun ini tentu berpotensi menimbulkan dampak pada sejumlah sektor kehidupan masyarakat, mulai dari lingkungan, pertanian, kesehatan, hingga aktivitas harian masyarakat.
Di sektor lingkungan, meski intensitas hujan tidak selebat pada musim hujan pada awal tahun ini, potensi bencana tetap mengintai. Curah hujan tinggi pada musim kemarau dapat memicu banjir lokal ataupun tanah longsor, terutama di wilayah yang rentan dan tidak siap menghadapi anomali cuaca ini.
Kawasan perkotaan padat penduduk menjadi kawasan rawan genangan saat hujan dengan intensitas panjang dan curah hujan yang lebat, terutama di daerah yang tidak memiliki sistem drainase memadai. Tidak hanya berlaku pada musim hujan saja, musim pancaroba dan kemarau basah kali ini juga turut meningkatkan potensi bencana banjir dan genangan.
Sebagai contoh, sejumlah wilayah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) tergenang banjir seusai hujan yang mengguyur sejak Selasa malam, 13 Mei, hingga Rabu, 14 Mei 2025.
Di sektor pertanian, kemarau basah bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, intensitas hujan yang tinggi menyebabkan cadangan air musim kemarau melimpah sehingga dapat dimanfaatkan petani untuk meningkatkan luas lahan serta produksi padi. Di sisi lain, meningkatkan risiko genangan air di areal persawahan atau bahkan meningkatkan risiko banjir pada aliran sungai yang berdampak pada sawah di sekitarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/10/d587543eeecc6a351a6a834d5de262ac-FAK_1162.jpg)
Meningkatnya suhu muka air laut pada kemarau kali ini kemungkinan berdampak positif pada sektor perikanan tangkap. Kondisi Samudra Pasifik timur yang dingin akan mendorong ikan tuna bergerak memasuki perairan Timur Indonesia yang lebih hangat sehingga akan meningkatkan pendapatan nelayan.
Selanjutnya, di sebagian sektor perkebunan, musim kemarau basah ini kemungkinan memberikan dampak buruk. Intensitas hujan yang tinggi berpotensi menurunkan hasil produksi beberapa komoditas perkebunan, seperti tembakau, tebu, dan teh, serta tanaman hortikultura lainnya, sehingga bisa merugikan petani.
Dari sisi kesehatan, kemarau basah membuka peluang munculnya penyakit-penyakit yang biasanya mewabah pada musim hujan, mulai dari demam berdarah (DBD) hingga penyakit pernapasan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Genangan air yang lama surut bisa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Selain itu, perubahan suhu yang ekstrem antara siang dan malam juga bisa memengaruhi daya tahan tubuh.
Akhirnya fenomena kemarau basah ini bisa menjadi pengingat bahwa perubahan iklim kian terasa di Indonesia. Dampaknya pun beragam, dari kekeringan hingga bencana alam. Karena itu, perlu meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.
Selain itu, pemerintah juga perlu menyusun strategi mitigasi dan penyesuaian terhadap perubahan iklim dan pola cuaca yang makin tidak menentu.
(Litbang Kompas)
Penulis:
Antonius Purwanto, Zikrina RatriEditor:
Budiawan Sidik APenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari