Pengalaman pribadi, pemikiran, respons atas situasi terkini, dan komitmen Presiden Prabowo Subianto disampaikannya secara langsung kepada sejumlah pemimpin redaksi.
23 Feb 2025 19:09 WIB · Politik & Hukum
Dunia maya ramai dengan tagar #KaburAjaDulu #IndonesiaGelap. Adapun dunia nyata diramaikan aksi mahasiswa dan profesional yang menunjukkan banyak kekecewaan. Sementara itu, dunia survei berbeda lagi. Survei yang dilakukan Kompas, misalnya, mencatat 80,9 persen masyarakat puas dengan kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Apa yang sesungguhnya sedang terjadi?
Oleh karena itu, ketika pada Kamis (20/2/2025) siang, saya mendapat undangan dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo untuk hadir di acara silaturahmi dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, saya langsung menjawab: terima kasih dan siap hadir.
Akan tetapi, acara itu sempat batal karena Angga menginformasikan penundaan pada Kamis sore. Pada Jumat sore, Angga baru kembali mengabarkan acara diubah ke Sabtu sore dan tempatnya pun dipindah dari Istana Kepresidenan ke Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Bogor.
”Hadir, Bapak?” tanya Angga. ”Pasti dong. Banyak yang ingin saya dengar,” jawab saya.
Statecraft adalah strategi mengelola negara dengan andal, terampil, dan cerdas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/23/130a19db06b9dc48b065aa2c36664274-WhatsApp_Image_2025_02_23_at_18.25.13.jpeg)
Setiba di Hambalang, saya pun teringat pada wawancara Kompas dengan Prabowo pada 2019, yang saat itu mencalonkan diri sebagai calon presiden. Terakhir, saya ke Hambalang lagi bersama forum pemimpin redaksi pada akhir 2023 saat Prabowo masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Kali ini, jelas berbeda situasinya karena Prabowo sudah menjadi Presiden ke-8 RI. Namun, ada yang sama, pendamping Prabowo adalah tokoh muda kepercayaannya, yaitu Angga yang saat ini sudah menjadi Wakil Menteri Komunikasi dan Digital. Tokoh-tokoh muda lainnya yang juga hadir dan sering disebut ring-1 Prabowo adalah Menteri Sekretaris Negara Prasetyo, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
Pertemuan pun berlangsung selama empat jam, diwarnai banyak pertanyaan oleh para pemimpin redaksi. Dan, puji syukur, banyak juga yang bisa saya dengar dan cerna, mulai dari pengalaman pribadi Prabowo, pemikiran, respons atas situasi terkini, hingga komitmen. Semuanya keluar langsung dari bibir Presiden Prabowo, tidak melalui perantara, sehingga bisa dicatat dan suatu saat ditagih.
Seperti biasanya, Prabowo selalu menerima tamunya dengan hangat. Bagi banyak orang yang pernah bertamu, pasti merasakannya. Bedanya, kalau di pertemuan terakhir, Prabowo membuka obrolan dengan persoalan perkudaan, kali ini soal perkopian. Rupanya, Presiden yang gemar membaca buku ini juga gemar meminum kopi sejak muda.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/23/4b7d459c-248e-4f4e-b7ba-410a6edce27e_jpg.jpg)
Prabowo pun bercerita kebiasaan minum kopi itu yang mendorong keberhasilannya mengerjakan banyak tugas saat mengikuti pendidikan militer lanjutan di Kansas, Amerika Serikat. Dia bahkan menyebut hasil ujiannya ada yang bernilai 9,9, bahkan 10 karena setelah minum kopi, dia merasa bisa mengingat banyak pelajaran.
Sedemikian herannya dengan hasil yang dicapainya, para guru besar di sana pun sempat ada yang mengira dirinya pernah mengikuti pendidikan militer di United States Military Academy (West Point) atau Royal Military Academy Sandhurst, Inggris, dua sekolah militer ternama dunia. ”Saya jawab Magelang, mereka tidak tahu,” kata Prabowo yang memantik tawa.
Pembicaraan mulai serius setelah Prabowo membuka partemuan. Kali ini, dia membukanya dengan menjelaskan teori Statecraft. Dalam pertemuan sebelumnya, Prabowo menyampaikan pemikirannya pada Teori Negara Gagal yang ditulis Daron Acemoglu dan James Robinson.
”Statecraft adalah strategi mengelola negara dengan andal, terampil, dan cerdas,” kata Prabowo.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/23/c23cdf7b-374d-44c0-9b03-207763a5c32b_jpg.jpg)
Dalam konteks teori, Statecraft merujuk pada strategi negara menjalankan diplomasi, menjaga keamanan nasional, membangun aliansi, serta menghadapi tantangan internasional dan domestik dengan tujuan untuk mempertahankan kepentingan nasional atau survival.
Menurut dia, ada tiga aliran bernegara. Pertama, melihat dari sisi ideologi (demokrasi vs otokrasi, rasialisme vs liberalisasi, agama vs sekuler, dan kapitalisme vs sosialisme). Kedua, berfokus pada ekonomi atau mengutamakan kesejahteraan. Aliran ketiga adalah realisme untuk survival.
Mencerna apa yang disampaikan selama empat jam, tampaknya Presiden Prabowo memberi penekanan pada survival. Prabowo sangat mencermati situasi geopolitik. Menurut dia, kita sering diajarkan bahwa hubungan antarnegara baik-baik saja. Pada kenyataannya, ancaman itu selalu ada. Dicontohkan, ada perang Sudan, Ukraina, dan terakhir Gaza.
Berbagai aliansi pun dibangun atas kepentingan negara masing-masing. Perlakuan bisa berbeda-beda sesuai kepentingan. Bahkan, ancaman perang nuklir pun masih ada. Sejumlah negara bahkan ada yang sudah mempersiapkan bunker bawah tanah untuk mengantisipasi terjadi perang nuklir.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/19/1f36a56a-6c1d-49d7-9e40-b22f7afd2221_jpg.jpg)
Banyak negara pun mengalokasikan anggaran besar untuk pertahanan nasionalnya. Hegemoni negara terjadi antara negara great power, middle rank power, dan lesser power, dan banyak juga negara gagal, failed states. Banyak bangsa lain pun sejak dahulu ingin menguasai Indonesia yang memiliki kekayaan melimpah ruah ini.
Pemikiran ini tampaknya yang mendasari Prabowo untuk mewujudkan berbagai program utamanya, mulai dari Makan Bergizi Gratis, efisiensi, hingga hilirisasi mandiri. Prabowo juga mengaku sejak kecil sering berkunjung ke Mohammad Hatta yang melandasi berbagai pemikirannya untuk membangun negeri ini.
Prabowo pun menjelaskan program Makan Bergizi Gratis, efisiensi, dan hilirisasi mandiri dengan berapi-api. Seberapa penting program itu di mata Prabowo dan bagaimana Prabowo merespons sejumlah kritik padanya yang ditanyakan para pemimpin redaksi, saya ceritakan dalam tulisan selanjutnya.
Penulis:
Sutta DharmasaputraEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari