Menembus Desa Terisolasi di Tapanuli Tengah, Bencana yang Belum Pernah Terbayangkan

Untuk melihat kondisi desa terisolasi, ”Kompas” berjalan dari Tapanuli Utara ke Tapanuli Tengah. Bau amis menyeruak dari puing-puing rumah yang tertimbun lumpur.

07 Des 2025 08:00 WIB · Lingkungan

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Nikson Sinaga

Sudah 11 hari Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga terisolasi akibat banjir bandang dan longsor. Untuk melihat kondisi di kedua daerah itu, Kompas ikut berjalan kaki dari Tapanuli Utara ke Tapanuli Tengah bersama-sama para penyintas bencana yang mencari bahan makanan hingga obat-obatan.

Perjalanan menuju desa terisolasi menggambarkan skala bencana yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kompas memulai perjalanan dari Desa Pagaran Lambung I, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Jumat (5/12/2025) pagi. Desa itu adalah titik terakhir yang bisa diakses menuju Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Ada sekitar 20 lokasi longsor yang harus dilalui untuk bisa tiba di Tapanuli Tengah.

Suasana di desa terisolasi sangat menyesakkan. Akses listrik dan telekomunikasi lumpuh total. Tiada BBM tersedia, apalagi bahan makanan hingga obat-obatan.

Warga harus berjalan kaki keluar daerah itu demi mendapatkan beras, bahan lauk, obat-obatan, hingga susu anak. Waktu tempuhnya memakan waktu 8 hingga 12 jam.

Jalan Tarutung-Sibolga merupakan jalan utama penghubung Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Aksesnya terputus total sejak bencana banjir bandang dan longsor melanda kawasan Tapanuli pada Senin (24/11/2025). Jalan tertimbun longsor dan ambles pada lebih dari 50 lokasi, mulai dari Kilometer 14 di Tapanuli Utara hingga Kilometer 62 di Kota Sibolga.

Anak-anak berjalan melewati lumpur dan jalan longsor di Desa Pagaran Lambung I, Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Jumat (5/12/2025). Mereka berjalan setiap hari pergi pulang 10 jam untuk mencari bantuan. Desa mereka masih terisolasi dan belum bisa diakses kendaraan dari jalur darat.

Hingga saat ini, petugas sudah bisa membuka jalan hingga Kilometer 38. Namun, jalan masih tertimbun longsor puluhan lokasi di sepanjang 24 kilometer. Pada beberapa titik, jalan di punggung Bukit Barisan itu ambles.

Longsor dan banjir bandang di Kilometer 38 merupakan salah satu yang paling parah. Sedikitnya 20 truk tertimbun longsoran di lokasi itu. Lumpur menumpuk hingga setinggi 5 meter di jalan sepanjang 500 meter.

Setelah berhasil menembus lokasi longsor itu, Kompas bertemu dengan puluhan sopir yang terjebak sejak awal longsor. Di jalan itu mereka membuat tenda dari terpal sebagai tempat berteduh dan tidur. Para sopir memasak mi instan yang dibeli dari desa terdekat. Mereka mencuci baju dan membuat jemuran di pinggir jalan.

Sepanjang perjalanan menuju desa terisolasi, warga tampak berjalan membawa beras, biskuit, minyak goreng, hingga tabung elpiji. Mereka menahan lapar dan memaksa diri tetap berjalan meskipun kaki sudah terluka. Anak-anak, lanjut usia, dan orang dewasa berpeluh keringat dan berlumur lumpur.

Warga harus berhati-hati melewati jalan di punggung bukit terjal yang dipenuhi timbunan lumpur dan batang pohon. Agar bisa melewati jalan penuh lumpur, mereka menenteng sandal.

Minnaria Sinabutar menangis histeris menanti pencarian anak dan cucunya yang tertimbun longsor di Desa Naga Timbul, Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Jumat (5/12/2025). Sudah 10 hari desa mereka terisolasi. Tim SAR dan alat berat belum bisa dikerahkan ke desanya.

Di sisi jalan masih terdapat tebing tinggi bekas longsor dan sisi lainnya adalah jurang sedalam lebih 100 meter. Di beberapa lokasi, warga harus melipir ke jalan hutan dan ladang untuk menghindari timbunan lumpur yang sangat tinggi.

”Sudah lebih sepekan kami berjalan 10 jam setiap hari untuk mendapat beras. Kami hampir menyerah. Kami mohon agar jalan ini bisa segera dibuka,” kata Anggiat Hutagalung (60), warga Kelurahan Nauli, Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah.

Luluh lantak

Setelah empat jam perjalanan, Kompas tiba di Tapanuli Tengah di Desa Naga Timbul, Kecamatan Sitahuis. Salah satu perkampungan di desa itu luluh lantak dihantam banjir bandang dan longsor. Bau amis menyeruak dari puing-puing rumah yang tertimbun lumpur. Beberapa korban belum ditemukan.

Seorang ibu, Minnaria Sinabutar (60), menangis histeris menanti tim pencarian dan pertolongan (SAR) selama berhari-hari. Seorang anak perempuannya dan seorang cucunya masih hilang tertimbun longsoran. Dua cucunya sudah ditemukan dalam kondisi meninggal.

”Kami berhari-hari menunggu petugas agar keluarga kami bisa ditemukan. Kami sudah berupaya mencari, tetapi belum bisa karena di sini belum ada alat berat,” kata Minnaria.

Foto udara Sungai Aek Raisan yang menjadi batas alam Tapanuli Utara (sisi atas) dan Tapanuli Tengah (sisi bawah), Sumatera Utara, Jumat (5/12/2025). Sudah Tapanuli Tengah terisolasi akibat banjir bandang dan longsor.

Di sebuah rumah kayu di Desa Naga Timbul, Rumensen Sinaga (65) menangis. Dia sudah berhari-hari tidak punya beras. ”Kami sudah tidak punya beras lagi. Saya dan anak makan dan tidur di pos pengungsian,” katanya.

Stok beras warga di desa terisolasi itu sudah hampir habis. Di tengah kondisi itu, mereka sepakat untuk berbagi peran agar bisa bertahan menghadapi bencana. Mereka mengumpulkan semua bantuan di dua pos pengungsian di desa itu.

Warga yang sudah lanjut usia bertugas di dapur umum untuk memasak. Orang dewasa dan anak muda berjalan ke Tapanuli Utara mencari bantuan. Mereka juga mencari korban yang masih tertimbun. ”Kami kumpulkan semua bantuan yang didapat dan memasaknya di dapur umum agar semua warga bisa makan,” kata Rumensen.

Siang itu, warga makan ikan teri dan nasi. Mereka berhemat agar stok berasnya cukup.

Saat berkunjung ke Tapanuli Selatan, Kamis (4/12/2025), Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengatakan, pemerintah berupaya memberikan pelayanan bagi masyarakat terdampak bencana alam Sumatera di Sumut, Sumbar, dan Aceh. Dia meminta semua lembaga memberikan bantuan, mulai dari fase penanganan darurat hingga pemulihan pascabencana.

Gibran mengatakan, aspirasi para penyintas terkait kebutuhan dasar disalurkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, dan sukarelawan.

”Kami meminta distribusi kebutuhan dasar dapat dilakukan terus-menerus, baik lewat udara, darat, maupun laut,” kata Gibran.

Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayor Jenderal TNI Budi Irawan mengatakan, pemerintah berupaya memberikan segala kebutuhan dasar pengungsi. Distribusi di Tapanuli dilakukan dengan lima helikopter, kendaraan angkut darat, dan personel dari berbagai satuan.

Budi mengatakan, pemerintah juga memprioritaskan pembukaan akses Jalan Tarutung-Sibolga yang menjadi jalur utama menuju Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan sebagian Tapanuli Selatan.

Tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan mengevakuasi korban meninggal dari lokasi longsor dan banjir bandang di Desa Pagaran Lambung I, Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Jumat (5/12/2025).

Pembukaan jalan sangat penting untuk memasok bantuan dan tim SAR ke desa-desa terisolasi. Hingga Sabtu (6/12/2025), jumlah korban yang dilaporkan meninggal di Sumut mencapai 318 orang, 123 orang hilang, dan 37.158 mengungsi.

Saat hari telah menjelang sore, ratusan korban bencana berjalan terburu-buru menembus timbunan longsoran menuju desanya masing-masing di berbagai daerah di Tapanuli Tengah dan Sibolga. Cuaca mendung dan gerimis mulai turun.

Warga tak bisa menyembunyikan trauma dari raut wajahnya. Begitulah bencana alam Sumatera merenggut kehidupan dan masa depan warga, bencana yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.…


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikson Sinaga
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim