Menengok Panda di Kampung Halamannya

Tiga provinsi di China diberkahi menjadi habitat asli atau tempat persebaran panda, binatang lucu berbulu putih dan hitam dengan bulatan hitam di kelopak matanya.

23 Okt 2025 12:10 WIB · Cerita Perjalanan

Oleh Cyprianus Anto Saptowalyono dari Chengdu, China

”Anda tahu apa warna ekor panda?” tanya pemandu tur Sally kepada para jurnalis yang diundang Kedutaan Besar China di Indonesia untuk mengunjungi Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding di Chengdu, Provinsi Sichuan, China, Senin (20/10/2025).

Saat kami menebak, kebanyakan menyebut warna hitam. Sally pun menyusulkan pertanyaan lanjutan, ”Panda itu memangnya punya ekor?” Kami pun sejenak menjadi tidak yakin dengan jawaban yang telah kami sampaikan.

Apalagi, jawaban yang kami berikan itu hanya mengacu, antara lain, pada tampilan figur panda di film Kungfu Panda atau pada sebuah patung anak panda yang sempat kami lihat di salah satu titik kota Chengdu. Alih-alih memberi jawaban, Sally mengajak kami semua untuk mencari dan memastikan jawaban itu saat nantinya kami sampai ke Panda Giant Breeding.

Jawaban yang juga harus kami pastikan dari pertanyaan Sally adalah jumlah jari panda. ”Siapa yang memilih tiga?” tanya Sally. Beberapa dari kami mengacungkan jari. ”Kalau cuma tiga jari, lalu bagaimana panda bisa memegang bambu yang dimakannya? Ada yang memilih empat? Lima?” tanya Sally. Makin banyak yang mengacungkan jari setelah diingatkan perihal syarat ”memegang bambu” tadi.

Quote

Panda banyak tidur. Dalam sehari panda bisa tidur 14 jam, namun tidak terus-menerus. Di sela-sela tidurnya dia makan dan bermain.

Dua panda bermain di Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding di Chengdu, Provinsi Sichuan, Senin (20/10/2025).

Berjarak sekitar 90 menit perjalanan darat menggunakan minibus dari hotel tempat kami menginap di tengah Chengdu, kami pun akhirnya sampai di tempat pelestarian panda tersebut. Saatnya tiba untuk memastikan jawaban pertanyaan Sally. Dan, ternyata panda-panda yang kami lihat itu punya ekor. Ekor panda berukuran kecil dan warnanya putih.

Lalu bagaimana mengenai jumlah jarinya? Panda ternyata berjari enam, dengan satu di antaranya merupakan jempol ”palsu” yang membantunya saat memegang bambu ketika makan.

Ditemani pemandu Violeta, kami pun mendapat banyak penjelasan mengenai panda sembari melihat hewan berwajah imut tersebut. Apa pun yang dilakukan panda mudah membuat jatuh hati. Melihat anak panda bergulingan di tanah, menggelendot manja di dahan, atau duduk diam memunggungi pengunjung pun sudah membuat pengunjung gemas. Beberapa pengunjung justru mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan panda di pagi yang mendung itu.

Ada panda yang tidur dengan sopan, diam, merunduk. Ada pula yang tidak elegan; telentang dengan santainya, namun banyak pengunjung yang tertawa melihatnya. Pihak pengelola pun melengkapi tiap kandang terbuka dengan papan informasi berisi identitas panda. Sesuatu yang memberikan tambahan informasi bagi kami mengenai panda tersebut.

Sebut, misalnya, panda jantan bernama Xiong Bang yang lahir 17 Desember 2001 di Shirahama Adventure World, Jepang. Xiong Bang, anak dari panda bernama Mei Mei, adalah panda raksasa pertama yang dikembalikan dari seberang lautan ke Panda Base di Sichuan.

Ada pula Xi Lan, yang dilahirkan induknya, Lun Lun, di Kebun Binatang Atlanta, Amerika Serikat, pada 30 Agustus 2008. Xi Lan terbilang bandel dan dipisahkan dari induknya karena mengganggu Lun Lun - nama sang induk - saat sedang mengunyah bambu.

Selanjutnya adalah balita panda bernama Bei Chen yang lahir pada 10 Juli 2022 dari induk bernama Bei Chuan. Bei Chen disebut ”berwajah manis”. Panda jantan ini penuh energi dan menyukai cabang-cabang pepohonan yang menjadi tempatnya bermain dan, tentu saja, tidur.

”Panda banyak tidur. Dalam sehari panda bisa tidur 14 jam, namun tidak terus-menerus. Di sela-sela tidurnya dia makan dan bermain,” kata Violeta yang menjelaskan bahwa panda tak hanya makan bambu, tetapi juga apel dan lainnya.

Balita panda lainnya adalah Jiao Yi. Panda jantan ini dilahirkan oleh induknya, yakni Da Jiao, pada 15 Juni 2022. Jiao Yi punya bintik hitam di kepalanya, sebuah penanda yang memudahkan untuk  mengenalinya.

Monumen Panda di Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding di Chengdu, Provinsi Sichuan, China, Senin (20/10/2025).

Sementara panda bernama Zi Yu lahir sehari berikutnya, yakni 16 Juni 2022, dari induk bernama Ya Yun. Zi Yu adalah panda jantan yang energik. Dia suka memanjat pohon dan mengeksplorasi area sekitar.

Panda memiliki kuku tajam yang membantu mereka mampu memanjat pohon dengan cepat untuk bersenang-senang, istirahat, dan juga menghindari predator. Di alam liar, panda raksasa hanya tersebar di area sempit enam wilayah pegunungan di tiga provinsi, yakni Sichuan, Shaanxi, dan Gansu. Enam pegunungan dimaksud adalah Qinling, Minshan, Qionglai, Daxiangling, Xiaoxiangling, dan Liangshan.

Panda secara umum tinggal di kawasan hutan bambu dengan ketinggian 1.500-3.500 meter, bersuhu di bawah 20 derajat celsius sepanjang tahun.

Sejarah evolusi panda yang ditampilkan di Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding di Chengdu, Provinsi Sichuan, Senin (20/10/2025).

Pada September 2016, International Union of Conservation of Nature (IUCN) mengumumkan bahwa mereka telah menurunkan tingkat ancaman panda raksasa dari ”terancam punah” menjadi ”rentan”. Penurunan status panda ini disebutkan mencerminkan perbaikan lingkungan ekologi di China dan efektivitas upaya konservasi panda raksasa.

Kelucuan panda pun menjadikannya satwa yang banyak bersentuhan langsung dengan figur-figur penting dari sejumlah negara. Di museum yang berada di Chengdu dapat disaksikan pula sejumlah foto sosok tenar bersama panda.

Sebut, misalnya, saat Presiden China Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan, serta Kanselir Jerman Angela Merkel yang pada 5 Juli 2017 menghadiri seremoni Giant Panda Pavilion di Kebun Binatang Berlin, tempat panda Meng Meng dan Jiao Qing tinggal. Kemudian, sekitar setahun sebelumnya, 7 Maret 2016 saat Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menghadiri acara seremoni pemberian nama bagi dua anak panda.

Tak heran apabila disebutkan bahwa sebagai spesies andalan dari keanekaragaman hayati global dengan nilai sejarah, ekologi, dan budaya yang kaya, panda telah mendapat perhatian besar dari negara-negara di seluruh dunia dan sekaligus memberikan pengaruh internasional yang besar pula.

Diplomasi panda

Obrolan soal panda pun mewarnai perbincangan kami dengan Director General of Foreign Affairs Office of Chengdu Municipal People’s Government, Jiang Bin, yang mengundang kami di jamuan makan siang. Sambil  menikmati kuliner Sichuan, Jiang Bin menyebutkan bahwa Panda Base adalah tujuan utama wisatawan datang ke Chengdu.

Di sela perbincangan yang berlangsung dalam suasana akrab, dan sesekali bernuansa canda, kami pun sempat bertanya soal ”diplomasi panda” yang dilakukan Pemerintah China dengan meminjamkan panda ke beberapa negara, termasuk Indonesia, dalam ikhtiar mempererat hubungan antarbangsa.

Saat mendengar pertanyaan, ”Apa ada rencana untuk memberikan panda tersebut, dan bukan sekadar meminjamkannya?” Jiang Bin pun tertawa sambil menjawab, ”Ha ha ha... saya tidak dalam posisi memutuskan. Itu kebijakan pemerintah pusat.”


Kerabat Kerja

Penulis:

Cyprianus Anto Saptowalyono dari Chengdu, China
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto