Ramadhan, Kentongan Pun Tergantikan Perang Sarung hingga ”Sound Horeg”

Sejumlah kegiatan remaja saat Ramadhan terpaksa dibubarkan aparat kepolisian karena dinilai mengganggu ketertiban.

18 Mar 2025 19:06 WIB · Nusantara

Oleh Defri Werdiono

Beberapa aksi remaja, seperti perang sarung hingga ”sound horeg” dibubarkan aparat kepolisian di Malang, Jawa Timur, selama Ramadhan 1446 H. Selain kurang produktif, kegiatan yang sebagian besar dilakukan oleh remaja itu juga dinilai mengganggu ketertiban dan kekhusyukan ibadah.

Akhir pekan lalu, Sabtu (15/3/2025), Polsek Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, membubarkan aksi perang sarung yang melibatkan belasan anak di Dusun Randu 3, Desa Randuagung, Kecamatan Singosari. Sebanyak 18 anak muda yang mayoritas pelajar SMP-SMA ditangkap berikut sembilan sepeda motor dan sejumlah sarung.

Kepala Polsek Singosari Ajun Komisaris Try Widyanto Fauzal mengatakan, perang sarung berlangsung pukul 00.30-04.00. Polisi bergerak seusai menerima laporan dari masyarakat yang resah oleh ulah para remaja itu.

Perang sarung yang biasa muncul saat Ramadhan pun disesalkan. Aksi semacam itu bisa berkembang menjadi tawuran dengan skala lebih besar jika tidak segera ditindak. Sebagai langkah lanjutan, polisi memanggil orangtua pelaku serta pihak sekolah guna melakukan pembinaan.

Ternyata perang sarung di Randuagung bukan satu-satunya aksi yang memanfaatkan sarung sebagai senjata saling pukul itu. Sebelumnya, 10 Maret, delapan remaja diamankan akibat aksi serupa di Dusun Krajan, Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan. Seperti di Singosari, mereka akhirnya juga mendapat pembinaan agar tidak mengulangi kembali perbuatan itu.  

Belasan remaja yang terlibat aksi perang sarung diamankan pihak kepolisian di Randuagung, Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pertengahan Ramadhan 1446 H.

Sementara itu, pada Minggu (9/3/2025) dini hari, polisi menyita sebuah truk mengangkut pengeras suara (sound system) di Kecamatan Kepanjen. Masyarakat Malang menyebut perangkat audio yang tertata di atas kendaraan tersebut sebagai sound horeg. Peranti ini mampu mengeluarkan suara hingga di atas 135 desibel.

Dalam beberapa kasus, sound horeg mengakibatkan kerusakan bagian rumah hingga infrastruktur lantaran dipaksakan lewat di jalan sempit. Perangkat ini juga dinilai bisa memicu stres pada orang-orang kesehatannya rentan. Sound horeg biasa dipakai saat karnaval di perdesaan. Bahkan, jumlahnya bisa lebih dari satu set dalam satu event.   

Kepala Seksi Humas Polres Malang Ajun Komisaris Bambang Subinanjar mengatakan, penggunaan pengeras suara berdaya besar di tengah permukiman menimbulkan kebisingan dan merasahkan warga.

”Kami banyak menerima aduan dari warga terkait suara bising sound horeg, terutama saat dini hari. Oleh karena itu, kami tidak akan segan melakukan penertiban demi menjaga kenyamanan dan ketertiban bersama,” ujarnya.

Pada hari yang sama, Polsek Dau juga menyita sebuah mobil bak terbuka bermuatan perangkat sound horeg lengkap dengan generator. Perangkat ini ternyata digunakan untuk memeriahkan kegiatan balapan liar. Polisi pun mengamankan 25 unit kendaraan tidak sesuai spesifikasi yang digunakan untuk balapan.

Pada 14 Maret, Polres Malang juga memupuskan rencana sahur on the road oleh sejumlah remaja menggunakan pengeras suara berlebihan di Jalan Sumberkembar, Kelurahan/Kecamatan Dampit. Saat polisi datang, mereka baru tahap uji coba perangkat tersebut.

Rentetan kegiatan kurang produktif itu tak hanya terjadi di Malang. Berdasarkan penelusuran Kompas, fenomena perang sarung dalam beberapa hari terakhir juga terjadi, antara lain, di Purworejo, Banjarnegara, Salatiga, dan Wonogiri, semua di Jawa Tengah (Jateng); Subang, Jawa Barat (Jabar); serta Duri Kosambi dan Tambora, Jakarta Barat.

Sementara balap liar di Situbondo, Ponorogo, Banyuwangi, Pamekasan, Jawa Timur; Bogor, Jabar; hingga Tebing Tinggi (Sumatera Utara) dan Aceh. Adapun sound horeg yang dibubarkan aparat terjadi di Sidoarjo dan Situbondo. Sejumlah daerah di Jateng dan Jatim juga mengeluarkan larangan sound horeg dipakai untuk kegiatan sahur.  

Pihak Polsek Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mendatangi sekelompok remaja yang tengah uji coba ”sound horeg” untuk kegiatan sahur ”on the road”, 14 Maret 2025.

Lantas, mengapa kegiatan-kegiatan itu bisa muncul saat bulan puasa. Apakah di luar Ramadhan balap liar dan semacamnya itu tidak ada?

Pengamat budaya dan ruang sosial sekaligus akademisi pada Departemen Industri Kreatif dan Digital, Fakultas Vokasi, Universitas Brawijaya Malang, Redy Eko Prasetyo, Selasa (18/3/2025), mengatakan, semua itu tak bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi.

Intervensi perkembangan teknologi yang berbasis sound melatarbelakangi sound horeg. Ekosistem media digital, termasuk media sosial, telah mendapatkan porsi tersendiri di kalangan masyarakat yang kemudian menjadi ekosistem industri. Otomatis, kata Redy, semua itu akan saling terkait.

Quote

Membangunkan orang sahur kalau memakai kentongan kini sudah tidak ’ngetren’. Sama-sama ramai, tetapi konteks ’berisik’-nya beda

Sementara, di satu sisi, provider seperti pemilik sound menilai, ini menjadi peluang yang berdampak ekonomi. Ramadhan dengan banyak orang beraktivitas di malam hari menjadi momentum tersendiri. Sementara, di sisi lain, masyarakat menginterpretasikannya dengan full ekspresi.

”Kebebasan ekspresi dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa menjadi hal yang dianggap lumrah. Membangunkan orang sahur kalau memakai kentongan kini sudah tidak ngetren. Sama-sama ramai, tetapi konteks ’berisik’-nya beda. Sekarang ’berisik’ dengan intervensi teknologi. Dulu kentongan dipakai karena intervensi teknologi belum banyak,” katanya.

Menurut Redy, keberadaan sound horeg mulai muncul sebelum pandemi Covid-19. Dimulai dari anak-anak kecil yang bermain miniatur truk yang dilengkapi salon (pengeras suara) di gang-gang permukiman. Lambat laun, hal ini diimplementasikan di kendaraan yang sesungguhnya, utamanya truk dan mobil bak terbuka.

Adapun soal balap liar, penggagas Jaringan Kampung Nusantara ini menilai, sejak lama kegiatan itu sebenarnya sudah ada. Anak-anak muda berlomba adu kecepatan dengan sepeda motor yang sebagian telah dimodifikasi dan minim perlengkapan keselamatan. Biasanya, kegiatan itu dilakukan pada sore hari dan intensitasnya makin terasa saat Ramadhan tiba.

”Sambil menunggu berbuka puasa. Mereka mengalihkan aktivitas, model ngabuburit. Konteks menunggu dengan memanfaatkan momentum yang seharusnya diisi dengan hal-hal baik, seperti mengaji, tetapi di kalangan anak muda itu (balap liar) menjadi bagian dari ekspresi mereka,” ucapnya.

Polisi membubarkan aksi balap liar di Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, 11 Maret 2025.

Oleh karena itu, di zaman tsunami informasi dan teknologi, menurut Redy, menempatkan kata kreatif harus hati-hati saat berhubungan dengan ekspresi publik. Sound horeg dan balap liar dianggap sebagai kreativitas oleh pelakunya. Namun, orang lain melihatnya berbeda, mereka menganggap mengganggu ketertiban.

Oleh karena itu, perlu ada kanal lain yang positif yang bisa menggantikannya. ”Misalnya road race resmi atau balapan lari. Itu bisa menjadi pengalihan energi yang positif. Kita harus memberikan pembanding-pembanding seperti itu,” ucapnya.

Hal senada disampaikan sosiolog Universitas Brawijaya, Haris El Mahdi. Menurut Haris, kegiatan di atas kerap dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang, bersenang-senang menunggu sahur. Hal ini tidak terjadi di luar puasa. ”Ada jeda waktu berkumpul saat puasa. Anak-anak muda mengisinya dengan tren yang lagi hit saat ini,” ujarnya.

Sebagai solusi, menurut Haris, perlu ada saluran bagi mereka untuk berekspresi, yang bisa mengalihkan perhatian dari hal-hal di atas. Misalnya, pemerintah kota atau desa menyediakan ruang bagi anak muda berekspresi sehingga tidak mengganggu ketertiban.

Dengan begitu, harapannya, kegiatan-kegiatan yang berbau mengganggu ketertiban bisa dikurangi atau dihentikan. Tidak saja selama bulan puasa, tetapi juga di waktu-waktu yang lain. Semoga….

 

  


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum