Mengapa Iran Tak Akan Menutup Selat Hormuz

Hormuz tetap terbuka, bukan karena Iran kehilangan kekuatan, tetapi karena Iran tidak ingin kehilangan akal.

24 Jun 2025 14:00 WIB · Artikel Opini

Oleh Eko Ernada

Ketika tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat, ancaman klasik tentang penutupan Selat Hormuz kembali mencuat. Ancaman ini bukanlah hal baru; ia telah menjadi bagian dari narasi strategis Iran sejak Revolusi Islam 1979.

Namun, hingga kini ancaman tersebut tidak pernah benar-benar diwujudkan secara penuh. Lantas, mengapa Iran, yang tampaknya memiliki kekuatan untuk mengganggu jalur vital ini, justru bersikap hati-hati dan menahan diri?

Selat Hormuz merupakan jalur perairan sempit, tetapi sangat penting secara strategis, menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. Lebih dari 17 juta barel minyak per hari—sekitar 20 persen dari pasokan global—mengalir melalui selat ini.

Maka, penutupan selat secara teoritis dapat mengguncang pasar energi dunia, memicu lonjakan harga minyak dan menciptakan krisis global. Namun, dalam praktiknya, Iran tampaknya memilih untuk menjaga Hormuz tetap terbuka, atau paling jauh hanya melakukan gangguan terbatas.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Dari perspektif strategis, menutup Hormuz justru bisa menjadi langkah kontra-produktif bagi Iran sendiri. Pertama, Iran juga bergantung pada jalur ini untuk mengekspor minyak dan gasnya, terutama ke negara-negara Asia, seperti China dan India. Dalam situasi ekonomi yang telah ditekan sanksi internasional selama bertahun-tahun, menutup Hormuz berarti mengorbankan sumber devisa utama yang masih tersisa.

Peta lokasi Selat Hormuz

Kedua, efektivitas strategi ini dalam menyakiti Amerika Serikat juga sudah jauh berkurang. Pada era sebelumnya, ketergantungan energi AS terhadap kawasan Teluk sangat tinggi. Namun, sejak revolusi energi shale, AS telah menjadi eksportir bersih minyak dan gas. Bahkan, dalam kondisi harga minyak naik, perusahaan energi AS akan diuntungkan. Dalam logika ini, menutup Hormuz justru dapat memperkuat posisi ekonomi AS, alih-alih melemahkannya.

Ketiga, penutupan selat akan membuka ruang legitimasi bagi serangan balik militer dari AS dan sekutu-sekutunya. Langkah semacam itu akan dianggap sebagai agresi terhadap kepentingan global dan bisa mempercepat isolasi Iran secara internasional. Bahkan, negara-negara mitra, seperti China atau Rusia pun, berpotensi menjaga jarak jika stabilitas energi global terganggu.

Dari sini tampak bahwa strategi Iran tidak ditentukan oleh kemampuan semata, tetapi oleh kalkulasi jangka panjang. Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran strategis klasik. Sun Tzu dalam karyanya, The Art of War, menyatakan, ”Seni tertinggi dalam perang adalah menaklukkan musuh tanpa pertempuran.” Iran tampaknya memahami prinsip ini dengan sangat baik. Ketimbang menyerang secara langsung, Iran memilih menciptakan ketegangan, mengelola ketidakpastian, dan menjaga posisi tawar melalui strategi gertakan.

Iran lebih suka memanfaatkan potensi Hormuz sebagai alat diplomasi tekanan daripada menjadikannya medan konfrontasi. Dalam logika ini, ancaman lebih berharga daripada tindakan. Seperti permainan catur, Iran memahami bahwa menunjukkan pedang kadang lebih efektif daripada mengayunkannya.

Carl von Clausewitz, filsuf perang asal Prusia, juga memberikan kerangka berpikir relevan. Dalam On War, ia menyebut bahwa ”Perang adalah kelanjutan dari politik dengan cara lain.” Iran tidak melihat aksi militer sebagai tujuan, melainkan sebagai instrumen untuk memperkuat negosiasi dan menjaga posisi tawar di arena internasional. Ketika diplomasi formal terhenti, Iran menggunakan kekuatan militer secara simbolik—melalui manuver angkatan laut, dukungan terhadap milisi proksi, atau bahkan serangan siber terbatas.

Clausewitz juga memperkenalkan konsep ”center of gravity”—pusat gravitasi kekuatan musuh yang bila dihantam akan melemahkan seluruh sistem lawan. Jika dahulu ketergantungan AS pada minyak Teluk menjadi pusat itu, kini pusat tersebut telah bergeser. Iran pun menyesuaikan strateginya, tidak lagi menyasar simpul yang telah kehilangan sensitivitas.

Strategi Iran saat ini cenderung bersifat asimetris: penggunaan aktor non-negara, gangguan digital, dan sabotase terbatas di kawasan. Ini semua adalah bentuk dari perang tidak langsung, di mana dampaknya bersifat meresahkan, tetapi tidak memicu eskalasi langsung. Dalam kerangka ini, Selat Hormuz lebih berfungsi sebagai alat simbolik daripada alat tempur.

Menariknya, pendekatan ini mencerminkan bentuk kekuatan baru: kekuatan yang terletak pada kemampuan menahan diri. Dalam dunia yang semakin kompleks dan saling tergantung, strategi ekstrem justru rentan menimbulkan kerugian besar. Iran tampaknya memahami bahwa dalam permainan jangka panjang, stabilitas internal dan dukungan eksternal lebih penting daripada aksi simbolik yang merugikan diri sendiri.

Jika Iran tidak menutup Selat Hormuz, itu bukan karena tidak mampu, tetapi karena memahami bahwa langkah tersebut tidak lagi relevan dalam lanskap geopolitik saat ini. Retorika memang tetap penting—ia menjaga citra perlawanan dan ketegasan—tetapi tindakan nyata menuntut kalkulasi yang jauh lebih cermat.

Dalam konteks ini, sikap Iran dapat dibaca sebagai upaya menyeimbangkan antara provokasi simbolik dan stabilitas strategis. Ancaman penutupan Hormuz tetap menjadi bagian dari diplomasi Iran, tetapi lebih sebagai sinyal, bukan senjata. Dunia boleh waspada, tetapi Iran tetap berhitung.

Dengan mempertahankan ancaman tanpa melaksanakannya, Iran memainkan seni perang dalam versi modern: perlawanan tidak frontal, tekanan tidak langsung, dan tujuan strategis yang tetap dibingkai dalam kalkulasi rasional. Hormuz tetap terbuka, bukan karena Iran kehilangan kekuatan, tetapi karena Iran tidak ingin kehilangan akal.

Eko Ernada, Dosen dan Peneliti Kajian Timur Tengah, Universitas Jember


Kerabat Kerja

Penulis:

Eko Ernada
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .