Kompas.id Brief

Mengapa Pemerintah Mendorong Peran Lebih Besar dalam Perekonomian?

Pemerintah kini lebih aktif mengarahkan pembangunan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

27 Nov 2025 17:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/PRIYOMBODO

Oleh Muhammad Fajar Marta, Aguido Adri, Agustinus Yoga Primantoro

Apa yang Bisa Anda Pelajari dari Artikel Ini?

  • Mengapa Pemerintah Kini Lebih Proaktif Menjadi Motor Pertumbuhan Ekonomi?
  • Bagaimana Pemerintah Menggeser Fokus dari Bansos ke Pemberdayaan Masyarakat?
  • Apakah Mesin Pertumbuhan Baru Mampu Mengakselerasi Transformasi Ekonomi Indonesia?
  • Mengapa Peran Swasta Penting untuk Menghindari Efek Crowding Out Pemerintah?
  • Bagaimana Pemerintah Meningkatkan Kualitas SDM untuk Mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi?

Mengapa Pemerintah Kini Lebih Proaktif Menjadi Motor Pertumbuhan Ekonomi?

copy title

Pemerintah menegaskan peran baru yang lebih aktif dan proaktif untuk memastikan pembangunan nasional berjalan konsisten dengan target Indonesia maju. CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut bahwa perekonomian Indonesia ”disusun”, bukan ”tersusun”, sehingga negara tetap memiliki mandat mengarahkan pembangunan sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945. Artinya, intervensi negara akan semakin kuat, tetapi tetap menghormati mekanisme pasar.

Perubahan ini lahir dari fakta bahwa tiga dekade liberalisasi ekonomi belum mampu mendorong pertumbuhan lebih dari 5 persen. Pemerintah ingin menutup kekosongan peran yang menyebabkan stagnasi, disorientasi ekonomi, dan melemahnya koperasi serta usaha kecil. Target besar, yakni pertumbuhan 8 persen dan status negara berpendapatan tinggi, menuntut negara hadir secara strategis.

Dengan orientasi baru ini, pemerintah berharap perannya justru memicu crowding in dan membuka ruang investasi swasta, bukan menekan. Kesuksesan strategi ini bergantung pada eksekusi, termasuk konsolidasi BUMN melalui Danantara sebagai ”aktor pembangunan” yang lebih solid.

Bagaimana Pemerintah Menggeser Fokus dari Bansos ke Pemberdayaan Masyarakat?

copy title

Pemerintah mengarahkan kebijakan pembangunan menuju ekonomi kerakyatan berbasis pemberdayaan, bukan sekadar bantuan sosial. Menko Pangan Zulkifli Hasan menekankan bahwa program seperti MBG, revitalisasi irigasi, kampung nelayan, serta bibit unggul dirancang agar masyarakat menjadi produktif, bukan pasif. Perubahan paradigma ini penting untuk meningkatkan pendapatan dan mendorong pertumbuhan lokal.

Koperasi Merah Putih menjadi instrumen utama model close loop yang menyerap hasil pertanian, peternakan, dan tambak rakyat, lalu menyalurkannya ke dapur SPPG untuk pemenuhan program MBG. Dengan skema ini, petani dan pelaku usaha kecil memiliki pasar pasti serta akses permodalan yang lebih luas, sekaligus terlindungi dari jeratan rentenir.

Dengan memperbanyak ”lilin-lilin kecil” di desa sesuai pesan Bung Hatta, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi dapat kembali ke kisaran 6–8 persen. Pergeseran dari bansos ke pemberdayaan menjadi kunci mengatasi stagnasi tiga dekade terakhir dan memperkuat akar ekonomi rakyat sebagai fondasi Indonesia Maju.

Apakah Mesin Pertumbuhan Baru Mampu Mengakselerasi Transformasi Ekonomi Indonesia?

copy title

Pemerintah merumuskan tiga mesin pertumbuhan baru: hilirisasi, ekonomi digital, dan transisi energi hijau. Airlangga Hartarto menyebut ketiganya sebagai pilar utama menuju kemandirian ekonomi jangka panjang. Hilirisasi kini diperluas ke ekosistem kendaraan listrik dan pengembangan industri semikonduktor yang ditargetkan menguasai 9 persen pangsa pasar global pada segmen assembling–packaging–testing.

Ekonomi digital didorong untuk membuka peluang usaha, menciptakan industri baru, dan meningkatkan produktivitas. Transisi energi menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui penguatan infrastruktur kelistrikan dan energi terbarukan. PLN menyoroti pentingnya kesiapan menghadapi disrupsi teknologi dan pergeseran investasi global yang cepat.

Dengan strategi yang lebih fokus, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat meningkat ke 5,4–5,6 persen pada triwulan IV-2025. Mesin pertumbuhan baru ini bukan hanya memperbesar nilai tambah, tetapi juga menentukan apakah Indonesia dapat keluar dari jebakan pertumbuhan 5 persen menuju negara maju.

Mengapa Peran Swasta Penting untuk Menghindari Efek ”Crowding Out” Pemerintah?

copy title

Pemerintah menyadari bahwa peran negara dan BUMN harus berjalan beriringan dengan sektor swasta agar pertumbuhan ekonomi optimal. Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menegaskan bahwa peningkatan peran pemerintah tidak boleh menimbulkan crowding out, yakni ketika belanja negara justru menekan investasi swasta. Sebaliknya, kebijakan pemerintah harus menciptakan crowding in.

Investasi terbukti menjadi motor besar pertumbuhan, dengan realisasi Rp 1.434,3 triliun sepanjang Januari–September 2025 dan penyerapan hampir 2 juta tenaga kerja. Jika iklim usaha dijaga, mulai dari kejelasan regulasi, konsistensi kebijakan, hingga kompetisi yang adil, investasi swasta dapat tumbuh lebih agresif dan memperkuat daya saing nasional.

Keseimbangan BUMN–swasta menjadi penting terutama di sektor energi, logistik, dan infrastruktur. Dengan sinergi yang tepat, pemerintah dapat fokus pada sektor yang membutuhkan kehadiran negara, sementara sektor-sektor kompetitif diserahkan kepada swasta untuk menciptakan efisiensi dan pertumbuhan jangka panjang.

Bagaimana Pemerintah Meningkatkan Kualitas SDM untuk Mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi?

copy title

Pemerintah menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai salah satu strategi utama memacu pertumbuhan ekonomi. Program magang nasional bagi 100.000 lulusan baru dirancang agar tenaga kerja muda dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri. Peserta menerima uang saku setara UMK selama enam bulan sambil belajar multiskilling dan multitasking.

Bonus demografi hanya akan menguntungkan jika kompetensi tenaga kerja meningkat. Di era yang penuh disrupsi teknologi, kesenjangan keterampilan menjadi salah satu penghambat produktivitas industri. Karena itu, pemerintah menempatkan peningkatan SDM sebagai pilar percepatan pembangunan.

Dalam jangka panjang, peningkatan kualitas SDM akan berdampak langsung pada produktivitas nasional, penciptaan lapangan kerja, dan kecepatan transformasi ekonomi. SDM yang lebih adaptif menentukan apakah Indonesia mampu mengatasi ketertinggalan dan memenuhi target menjadi negara maju pada 2045.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Fajar Marta, Aguido Adri, Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji