PERANG IRAN

Mengapa Sistem Pertahanan Udara Iran Jebol?

Serangan udara oleh pesawat tempur Israel pada 28 Februari 2026 mestinya bisa diantisipasi oleh rudal-rudal pencegat Iran. Namun, mengapa Iran tak mampu membendung?

05 Mar 2026 10:01 WIB · Internasional

AFP

Oleh M Toto Suryaningtyas

Jam menunjukkan pukul 13.15 waktu setempat, Minggu (1/3/2026), ketika Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel membunyikan  alarm di seluruh wilayah dan memberikan peringatan dini langsung ke telepon seluler warga yang berada di sekitar area yang hendak dilindungi dari serangan rudal Iran. Saat itu militer Israel masih menekankan bahwa belum perlu berada di dalam area yang dilindungi atau bunker.

Pada 15.13 waktu setempat, peringatan itu menjadi semakin nyata. Sirene telah dibunyikan di sejumlah wilayah Israel menyusul terdeteksinya peluncuran rudal dari Iran ke arah Israel. Unggahan akun X Angkatan Udara Israel (IAF) menyebutkan, ”Pada saat ini, pasukan IAF tengah beroperasi untuk mencegat dan menembak berbagai ancaman yang membahayakan warga Israel.”

Peringatan itu jelas berkaitan dengan awal serangan kelompok besar jet tempur Israel yang menyerang wilayah Iran menjelang tengah hari di bulan puasa Ramadhan. Diberitakan IAF bahwa mereka menerbangkan 200 jet tempur dari jenis F-35 Adir, F-15, dan F-16 dengan dukungan tiga pesawat tanker Israel dan sejumlah pesawat tanker AS.

Pada saat yang hampir bersamaan, kapal-kapal perang AS yang tergabung dalam gugus tempur kapal induk di Laut Arab dan Laut Mediterania meluncurkan puluhan rudal Tomahawk dan meluncurkan puluhan jet tempur pendukung. Belum jelas berapa jumlah rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan ke Iran, tetapi AS biasanya meluncurkan 70-an rudal dalam sebuah serangan pendahuluan.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran juga mengonfirmasi bahwa serangan bersenjata melalui udara di beberapa kota Iran terjadi sekitar pukul 09.45 waktu setempat. Serangan pada siang hari dan dilakukan setelah berminggu-minggu ketegangan militer dan politik ini agaknya ditujukan untuk menekan Iran secara psikologis dan politik.

Tangkapan layar dari video yang disiarkan Komando Operasi Tengah (CENTCOM) Amerika Serikat pada Rabu (4/3/2026) menunjukkan  rudal Tomahawk hitam yang disebut dipakai dalam Operation Epic Fury. Operasi itu adalah nama sandi serangan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026. Rudal Tomahawk hitam khusus dirancang untuk Angkatan Laut AS.

Amerika Serikat dan Israel ingin memberikan keyakinan kepada rakyat Iran untuk menentang rezim Islam Iran dan supaya mereka percaya diri dalam mengalahkan militer Iran dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Hal ini akan memberi pesan deterensi terbuka yang menjadi bentuk simbolis bahwa ”kami tidak perlu berlindung di gelapnya malam sebagaimana berbagai serangan Israel atau AS sebelumnya”.

Jarak Israel ke Iran yang sekitar 1.600 kilometer perlu ditempuh selama minimal 1,5 hingga 2 jam oleh jet-jet tempur Israel jika menempuhnya secara langsung, tetapi akan lebih lama jika harus mengisi bahan bakar di udara karena harus mengantre akibat keterbatasan pesawat tanker udara.  

Tindakan para pilot tempur Israel itu sangat strategis dalam operasi yang bertajuk Auman Singa atau Roar of the Lion kali ini. Mereka harus menyerang 500 titik sasaran di berbagai wilayah Iran hanya dalam 90 menit, yang meliputi sistem radar dan rudal pertahanan udara, tempat peluncuran rudal balistik, markas IRGC, dan kediaman para pemimpin Iran.

Infografik AFP Ledakan menghantam kota-kota penting di Iran.

Gelombang pertama serangan dilakukan dengan menghancurkan radar Iran dan melancarkan perang elektronik. Suara ledakan serentak terjadi di fasilitas radar di Iran barat dan tengah, yang terintegrasi dengan sistem pertahanan udara S-300 asal Rusia dan sistem Bavar-373 (versi domestik Iran). Kedua sistem pertahanan udara itu merupakan tulang punggung pertahanan udara Iran.

Serangan itu serentak memadamkan sebagian situs penting radar Iran, yang terindikasi dari berkurangnya aktivitas pelacakan radar oleh Iran, serta penutupan wilayah udara oleh otoritas Iran beberapa jam setelah serangan pertama.

Strategi SEAD Israel

Serangan awal itu tidak menghancurkan semua radar Iran, tetapi cukup untuk menciptakan celah yang dapat mengganggu deteksi, pelacakan, dan waktu respons oleh Iran. Ibaratnya, Israel membuat celah melubangi pertahanan Iran untuk mempersiapkan serangan berikutnya.

Hal itu sesuai dengan analisis Institute Study of War (ISW), bahwa tujuan pertama serangan Angkatan Udara Israel (IAF) bukanlah menghancurkan fasilitas strategis Iran, melainkan penetrasi wilayah udara dan melumpuhkan lapis pertahanan pertama.

Model kampanye udara seperti ini sebetulnya jamak dalam sebuah serbuan militer. Mengikuti logika model itu, sasaran penyerangan ini sudah dapat diprediksi, yaitu melumpuhkan jaringan radar, menghancurkan sistem rudal jarak jauh, mengganggu pusat komando dan kendali, serta akhirnya membangun superioritas udara.

Langkah-langkah itu terbukti dari urutan operasional yang diikuti pasukan Israel dan Amerika Serikat dengan cermat. Setelah jangkauan radar terganggu, lapisan kedua adalah menetralkan baterai rudal. Pada tahap ini jet tempur Israel menargetkan baterai peluncur rudal jarak jauh SAM Iran, rudal bergerak, dan kendaraan komando pertahanan udara.

Pesawat F/A-18E Super Hornet bersiap untuk melakukan pendaratan di USS Abraham Lincoln  setelah misi untuk mendukung Operasi Epic Fury, pada hari Sabtu (28/2/2026).

Serangan yang dilakukan bertahap itu selaras dengan doktrin suppression of enemy air defense (SEAD) yang telah lama diterapkan Angkatan Udara Israel dan Angkatan Udara AS dalam menetralkan sistem pertahanan udara terintegrasi. Strateginya bersifat sistemis untuk mengganggu arsitektur pertahanan lawan hingga tingkat komando bukan hanya menghancurkan perangkat kerasnya.

Tujuan utama doktrin ini adalah untuk sementara menetralkan atau menurunkan kinerja sistem pertahanan udara musuh sehingga pesawat kawan dapat beroperasi dengan aman. Tidak harus menghancurkan seluruh sistem pertahanan udara, tetapi sebatas untuk mencegahnya berfungsi secara efektif selama misi dijalankan.

Doktrin SEAD biasanya menggabungkan amunisi presisi jarak jauh, rudal antiradiasi yang dirancang untuk mengincar emisi radar aktif, dan pengacakan elektronik. Meskipun spesifikasi operasional tetap dirahasiakan, para analis berpendapat bahwa sensor radar atau node radar diprioritaskan sebelum target strategis yang lebih dalam diserang.

Ketika sistem pertahanan udara sudah lumpuh, Israel dan AS mengoperasikan drone intai-serang Predator/Reaper AS di atas wilayah perkotaan utama Iran. Pesawat tanpa awak berketinggian menengah itu bukanlah pesawat dengan platform siluman (stealth) sehingga mereka rentan terhadap sistem rudal SAM jarak jauh modern.

Tangkapan layar dari video yang disiarkan Komando Operasi Tengah (CENTCOM) Amerika Serikat pada Rabu (4/3/2026) menunjukkan peluncur roket gerak cepat (HIMARS) menembakkan rudal PrSM yang disebut dipakai dalam Operation Epic Fury. Operasi itu adalah nama sandi serangan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026

Pertahanan udara dibobol

Dalam kondisi normal, jaringan pertahanan udara terpadu yang berfungsi akan mendeteksi, melacak, dan mencoba mencegat pesawat tersebut. Namun, ketiadaan upaya pencegatan yang terkonfirmasi oleh sistem pertahanan udara Iran menunjukkan radar lokal atau jaringan penunjangnya telah lumpuh pada awal serangan.

Amannya drone-drone itu terbang di atas kota besar Iran mengindikasikan pusat komando dan kendali yang berafiliasi dengan IRGC telah dihancurkan pada awal serangan.

Kehancuran pusat komando ini agaknya melemahkan secara signifikan komando operasional Iran secara berantai, seperti operator radar kehilangan pelacakan terkoordinasi, baterai rudal SAM beroperasi secara terisolasi, dan penentuan waktu peluncuran/tembakan melambat secara dramatis.

Itu artinya kemampuan persenjataan masih ada, tetapi sudah tidak efektif untuk menembak balik Israel ataupun AS. Masih ada peluncur rudal Iran yang utuh, tetapi menjadi kurang mematikan karena terpisah dari jaringan dan koordinasi waktu komando.

Iran diketahui menggunakan sistem pertahanan udara bertingkat (multiple layer air defense) yang berarti terdapat lebih dari satu lapisan pertahanan, dari jarak dekat sampai jarak jauh sebagaimana konsep negara besar lain. Sistem ini mencampurkan platform impor dan buatan dalam negeri.

Tangkapan layar dari video yang disiarkan Komando Operasi Tengah (CENTCOM) Amerika Serikat pada Rabu (4/3/2026) menunjukkan pesawat nirawak LUCAS yang disebut dipakai dalam Operation Epic Fury. Operasi itu adalah nama sandi serangan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026. AS mengakui, LUCAS adalah tiruan dari pesawat nirawak Shahed buatan Iran

Lapisan utama pertahanan udara Iran terdiri dari Bavar-373 untuk pertahanan udara jarak jauh buatan Iran yang dirancang menyaingi sistem pertahanan S-300 Rusia. Sistem ini memiliki jangkauan deteksi radar sampai 450 km dan mampu melacak puluhan hingga ratusan target sekaligus. Tidak jelas berapa sistem rudal ini dimiliki Iran meski laporan terbaru menyebut ada minimal dua sistem dimiliki Iran.

Jangkauan intersepsi rudal berkisar 300–400 km untuk sasaran seperti pesawat, drone, rudal jelajah, bahkan rudal balistik tertentu dan dapat menembak beberapa sasaran secara bersamaan yang terbukti dalam latihan. Selama ini, rudal-rudal inilah yang dikhawatirkan negara-negara Barat mampu menembak jatuh pesawat tempur mereka.

Di lapisan kedua terdapat sistem pertahanan S-300 buatan Rusia yang dipasang di beberapa lokasi strategis. Jangkauan efektif intercept rudal ini sampai 200-250 km tergantung versi misil yang digunakan dan terintegrasi dalam jaringan, termasuk radar pencarian, pelacak, dan wahana peluncur.

Hingga Maret 2026, Iran memiliki total empat baterai (setara dengan dua resimen) sistem pertahanan udara S-300PMU-2 yang dibeli dari Rusia. Setiap sistem baterai biasanya mencakup radar, pusat komando, dan beberapa kendaraan peluncur.

Perbandingan Alutsista Udara Militer Israel dan Iran
Infografik-Perbandingan Personel Militer Israel dan Iran *** Local Caption *** Infografik-Perbandingan Personel Militer Israel dan Iran

Ada pula Khordad-15/Sayyad yang merupakan sistem buatan dalam negeri Iran yang memiliki kemampuan menembak jatuh pesawat dan drone sampai jarak 120-150 km tergantung varian rudal. Hingga awal tahun 2026, Iran diperkirakan memiliki 42 atau lebih baterai sistem pertahanan udara ini.

Adapun untuk lapisan jarak dekat dan taktis, Iran mengoperasikan beberapa sistem jarak pendek, seperti TOR-M1 (impor Rusia) untuk pertahanan terhadap UAV jarak pendek 1-12 km, helikopter, dan peluru kendali kecil.

Penyebab kebobolan Iran

Dari gambaran rudal pertahanan udara Iran, di mana jumlah rudal pertahanan amat timpang dengan rudal balistik yang dimiliki (2.000-3.000 unit) dan pesawat nirawak kamikaze, terutama seri Shahed-136 (puluhan ribu unit), tampak bahwa strategi Iran adalah menyerang musuh ketimbang bertahan.

Dalam konflik dengan Israel pada 2024-2025, kemampuan rudal-rudal balistik, rudal jelajah, dan drone penyerang Iran telah membuat koalisi negara Barat kerepotan melindungi wilayah Israel. Namun, ketika saat ini Iran dikepung dua gugus tempur kapal induk, dan puluhan pangkalan militer AS di Timur Tengah, keunggulan dalam kemampuan rudal itu menjadi relatif tertinggal.

Analisis ISW/CTP menyoroti beberapa faktor struktural yang membuat sistem-sistem rudal Iran itu tak efektif, antara lain degradasi kemampuan Iran dari sebelumnya akibat serangan yang dilakukan AS dan Israel pada pertempuran Juni 2025. Disebutkan, dampak serangan itu telah mengurangi kemampuan redundansi/pengulangan serangan balasan Iran karena banyak peralatan perang yang rusak.

Selain itu, ada soal konsentrasi kekuatan, yakni serangan presisi dalam jumlah besar dalam jangka waktu yang singkat, yang dilakukan secara serentak dan rapi oleh jet tempur Israel dan rudal AS, ternyata membebani siklus kemampuan reaksi dari Iran. Pasukan Iran tak cukup punya waktu untuk bereaksi. Setiap kali kendaraan pengangkut rudal keluar dari ”persembunyian”, mereka segera disambut serangan pesawat nirawak pengintai Israel/AS yang terbukti dari sejumlah rekaman video yang beredar di media.

Dalam gambar satelit yang disediakan oleh Vantor ini, bangunan yang rusak terlihat di kediaman resmi Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Iran, Minggu (1/3/2026).

Ketiga, soal asimetri teknologi alias ketimpangan persenjataan dan teknologi. Pasukan koalisi AS memiliki platform siluman canggih, sistem peperangan elektronik, dan senjata jarak jauh yang lebih mumpuni. Hal ini merupakan kerugian bagi pihak Iran, yang selama ini bergantung pada kemampuan rudal balistik dan drone kamikaze. Ketika dua unsur itu mayoritas mampu dinetralisasi, Iran tak memiliki taji cukup kuat untuk menghalau musuh.

Terakhir, kekalahan dalam persiapan intelijen Iran dibandingkan Mossad Israel atau CIA AS. Diakui oleh militer Israel bahwa serangan pembuka 90 menit itu sebenarnya disiapkan berbulan-bulan oleh Israel dan AS agar mampu memberikan jaminan akurasi serangan dan efektivitas hasil operasional. Pemetaan jangka panjang situs-situs radar Iran dan penyebaran peluncur rudal SAM hingga pola kebiasaan para petinggi Iran sudah dipelajari terus-menerus untuk mengetahui kapan mereka bersama dan bergerak ke mana.

Secara keseluruhan, faktor-faktor itulah yang membuat serangan pembuka oleh Israel dan AS mampu dilakukan secara masif dan meraih hasil mencengangkan, dengan sedikit korban jiwa di pihak penyerang. Saat ini, aksi pembalasan Iran masih akan berlangsung dan demikian pula aksi pengeboman dari jet tempur AS. Kita masih akan menunggu bagaimana peperangan asimetris ini akan berlangsung di tengah sorotan mata warga seluruh dunia.

(Litbang Kompas)


Kerabat Kerja

Penulis:

M Toto Suryaningtyas
 | 

Editor:

A. Yoga Prasetyo
 | 

Infografik:

Dimas Tri Adiyanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji