Mengapa Trump Incar Greenland?

Kapal-kapal China dan Rusia menjadi alasan Trump ngotot menguasai Greenland.

07 Jan 2026 09:48 WIB · Internasional

AFP

Oleh Irene Sarwindaningrum

Greenland adalah pulau berlapis es berpenduduk jarang dengan ekonomi yang tengah melambat. Namun, Amerika Serikat terus mengincarnya.

Ambisi Donald Trump untuk menguasai wilayah itu sudah ia lontarkan sejak 2019. Keinginan itu kembali diulang pada 2025 sesaat setelah kembali menjabat presiden AS. Ambisi Trump makin tak terbendung pascaserangan militer AS ke Venezuela dengan dalih memberantas jejaring narkoba.

Terkait Greenland, alasan utama Trump mengincar wilayah itu sebenarnya sudah berulang kali ia siratkan. Ia cemas akan menguatnya kehadiran China dan Rusia di kawasan Arktik.

”Sangat strategis. Saat ini, Greenland dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China, di mana-mana. Kami membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu melakukannya,” kata Presiden AS Donald Trump kepada wartawan di atas Air Force One, Minggu (4/1/2026), dikutip dari transkrip resmi Partai Demokrat press gaggle Gedung Putih.

Meski ditentang negara-negara sekutu AS sendiri, Selasa (6/1/2026), Trump bergeming. Ia ngotot mengincar Greenland. Pulau berpenduduk sekitar 56.000 jiwa itu dipandang sebagai penyangga strategis untuk menahan tekanan China dan Rusia di kawasan Arktik.

(FILES) This file aerial view taken on March 11, 2025 shows icebergs floating in the waters beaten down by the sun with buildings in the background off Nuuk, Greenland, on the day of Greenland's legislative elections. Denmark summoned the US charge d'affaires for talks on August 27, 2025 after reports of attempted interference in Greenland, a Danish autonomous territory which US President Donald Trump wants to control. Since returning to the White House in January, Trump has repeatedly said America needs the strategically located, resource-rich island for security reasons, and has refused to rule out the use of force to secure it. The vast majority of Greenland's 57,000 people want to become independent from Denmark, but do not wish to become part of the United States, according to a January opinion poll. (Photo by Odd ANDERSEN / AFP)

Greenland dipandang penting dari nilai pertahanan dan ekonomi AS. Pulau itu kaya akan mineral tanah jarang, berada di dekat simpul jalur pelayaran Arktik, dan punya lokasi strategis untuk pertahanan.

Tiga faktor ini menempatkan Greenland di jantung Arktik yang menjadi ajang persaingan kekuatan global saat ini. China dan Rusia telah memperluas jangkauan ke Arktik selama beberapa tahun terakhir.

Kunci di Atlantik Utara

Arktik semakin menjadi rebutan karena es yang mencair dampak pemanasan global. Kondisi ini membuka jalur pelayaran baru dan akses pada sumber daya alam di sana. Sebelum mencair, akses ke Arktik hampir tak mungkin untuk eksploitasi ekonomi.

Greenland, pulau semiotonom di bawah Denmark itu, menjadi titik masuk terpenting bagi kehadiran strategis dan militer AS di Arktik. Selama ini AS telah menancapkan kakinya di Greenland melalui keberadaan Pangkalan Ruang Angkasa Pituffik.

Letak Greenland menjadikannya titik pertahanan AS sejak Perang Dunia II. Saat itu, AS menduduki Greenland untuk mencegahnya jatuh ke tangan Nazi Jerman sekaligus melindungi jalur pelayaran vital Atlantik Utara.

FILE - A plane carrying Donald Trump Jr. lands in Nuuk, Greenland, Jan. 7, 2025. (Emil Stach/Ritzau Scanpix via AP, file)

Dalam lanskap keamanan Atlantik Utara saat ini, Greenland terkait dengan GIUK Gap (Greenland-Eslandia-Inggris). GIUK Gap adalah koridor laut strategis di Atlantik Utara.

Posisi Greenland di barat, Eslandia di tengah, dan Inggris di timur membentuk gerbang alami yang dipakai NATO sebagai zona pemantauan untuk melacak pergerakan kapal perang serta kapal selam Rusia dari Arktik menuju Atlantik.

Klaim Trump bahwa Denmark tidak mampu melindungi Greenland ditentang oleh langkah konkret Kopenhagen. Dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah Denmark meningkatkan kehadiran militernya di Greenland dan Atlantik Utara.

Quote

Sangat strategis. Saat ini, Greenland dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana. Kami membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu melakukannya.

Salah satunya melalui paket penguatan pertahanan senilai sekitar 14,6 miliar kroner (sekitar Rp 34 triliun) pada 2025. Paket itu mencakup tiga kapal patroli Arktik baru, dua pesawat nirawak (drone) pengawasan jarak jauh, serta peningkatan kapasitas satelit untuk pemantauan kawasan.

Denmark juga mengoperasikan pusat komando bersama, Joint Arctic Command, yang bermarkas di Nuuk, ibu kota Greenland. Pusat komando ini diberi mandat pengawasan, penegakan kedaulatan, dan pertahanan wilayah Greenland serta Kepulauan Faroe. Di lapangan, Denmark menempatkan Sirius Dog Sled Patrol, unit elite yang melakukan patroli jarak jauh di kawasan Arktik.

Nilai pertahanan Greenland bagi AS terutama bertumpu pada pangkalan ruang angkasa AS, Pituffik Space Base. Berada di barat laut Greenland, pangkalan itu dibangun berdasarkan perjanjian pertahanan Denmark–AS pada 1951. Pituffik menopang tiga fungsi kunci, yaitu peringatan dini serangan rudal, dukungan pertahanan rudal, dan pengawasan ruang angkasa.

FILE - Danish military forces participate in an exercise with hundreds of troops from several European NATO members in the Arctic Ocean in Nuuk, Greenland, Sept. 15, 2025. (AP Photo/Ebrahim Noroozi, File)

Fungsi ini menautkan Greenland langsung ke arsitektur pertahanan AS dan kebutuhan keamanan NATO. Di laut, kawasan ini berada di dekat GIUK Gap, yang sebagaimana dijelaskan, untuk memantau pergerakan kapal perang dan kapal selam Rusia dari Arktik menuju Atlantik. Di darat dan ruang angkasa, Pituffik memperkuat kemampuan deteksi dan pemantauan strategis dari arah utara.

Dari sisi lain, Rusia menilai aktivitas NATO di kawasan Arktik sebagai ancaman. Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyatakan Moskwa akan merespons dengan memperkuat kemampuan militernya di wilayah kutub.

Rusia hadir kuat di Arktik melalui pangkalan militer, armada laut dan kapal selam, serta armada pemecah es terbesar di dunia yang memungkinkan operasi sepanjang tahun. Moskwa juga menjadikan Northern Sea Route sebagai jalur strategis nasional dan menilai aktivitas NATO di kawasan itu sebagai ancaman, sehingga berkomitmen memperkuat postur militernya di wilayah kutub.

Sebaliknya, sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, kekhawatiran Eropa terhadap risiko di kawasan utara ikut meningkat.

Jalur pelayaran

Seiring dengan itu, China juga telah menegaskan ambisinya dengan menyebut diri sebagai negara dekat Arktik. Sejak 2018, China telah mendorong gagasan membangun jalan sutra di wilayah kutub Polar Silk Road. Gagasan itu merupakan bagian dari kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI). Polar Silk Road kerap juga disebut Ice Silk Road.

Dokumen kebijakan China di Arktik, “China’s Arctic Policy”, yang dirilis pada 2018 menyebut pengembangan rute pelayaran Arktik sebagai bagian dari strategi tersebut.

Pada 14 Oktober 2025, China merayakan pelayaran perdana yang berhasil menembus jalur pelayaran Arktik itu. Kapal pengangkut peti kemas Istanbul Bridge tiba di Felixstowe, Inggris, melalui rute Arktik. Pencapaian ini disebut menandai pelayaran perdana rute kontainer ekspres Arktik China–Eropa.

Pencapaian ini sekaligus menunjukkan kelayakan komersial jalur pelayaran timur laut. Dikutip dari media China, Global Times, rute itu memangkas waktu pelayaran menjadi sekitar 20 hari, dibandingkan rute tradisional yang memakan 40-50 hari.

A boy throws ice into the sea in Nuuk, Greenland, March 11, 2025. (AP Photo/Evgeniy Maloletka, File)

Media Pemerintah China menampilkan rute Arktik ini sebagai proyek ekonomi dan logistik. Jalur Arktik China-Eropa dinilai tidak hanya memangkas waktu pengiriman, tetapi juga diklaim mengurangi emisi karbon karena jarak tempuh yang lebih pendek.

Jalur ini juga disebut sebagai kontribusi China untuk menjaga stabilitas rantai pasok global di tengah ketidakpastian perdagangan internasional. ”Ini bukan sekadar rute alternatif, tetapi menunjukkan komitmen China terhadap kerja sama dan pembangunan di urusan Arktik,” kata Jian Junbo, Direktur Pusat Hubungan China-Eropa di Institut Studi Internasional Universitas Fudan, saat membahas jalur pelayaran Arktik China-Eropa dan gagasan Ice Silk Road.

Di sisi lain, AS telah lama khawatir tentang kemungkinan Arktik berubah menjadi arena persaingan yang semakin termiliterisasi. ”Apakah kita ingin Samudra Arktik berubah menjadi Laut China Selatan baru, yang sarat militerisasi dan klaim teritorial yang saling bersaing?” kata Menlu AS saat itu, Mike Pompeo, pada Mei 2019.

Mineral tanah jarang

Selain dari aspek pertahanan dan ekonomi, Greenland juga diincar karena kekayaan mineral tanah jarang. Di balik lapisan es yang mulai mencair, bumi Greenland mengandung komponen penting bagi telepon seluler, komputer, baterai, dan perangkat teknologi tinggi lain.

Mencairnya es membuat potensi pengerukan semakin besar. Penilaian sumber daya pada 2023 menyebut Greenland berpotensi memiliki cadangan hingga 31 jenis dari sekitar 50 mineral tanah jarang, seperti litium dan grafit untuk baterai kendaraan listrik serta neodimium untuk magnet motor listrik.

Infografik Trump Ancam Kuasai Greenland

Saat ini China mendominasi rantai pasok mineral-mineral itu. China memproduksi sekitar 65 persen grafit dan sekitar 70 persen mineral tanah jarang dunia. Adapun produksi litium didominasi Australia, Chile, dan China.

Pada sisi pemrosesan, China memurnikan 40-90 persen pasokan global unsur-unsur kunci. Sementara itu, AS harus mengimpor 50-100 persen untuk 41 dari 50 mineral kritis versi Survei Geologi AS (USGS).

Dengan beragam data dan catatan tentang Greenland, ditambah capaian rival-rival AS, Trump tentu gerah. Akan tetapi, terkait ambisi Trump atas Greenland dan potensinya, sekutu AS sendiri, Denmark dan Pemerintah Greenland, tegas-tegas menolaknya.

Mereka menegaskan pulau Arktik itu ”tidak untuk dijual”. Lewat pernyataan bersama, sejumlah pemimpin Eropa menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Greenland.

Pernyataan bersama itu disampaikan Selasa (6/1/2026) oleh tujuh pemimpin Eropa. Mereka adalah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, Presiden Perancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz.

Pernyataan yang sama juga ditandatangani Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez.

Isi pernyataan itu ialah Greenland adalah milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland, dan mereka saja, yang berhak memutuskan persoalan yang menyangkut Denmark dan Greenland.

Namun, Trump tampaknya cenderung mengabaikan seruan tersebut. Setelah gagal membeli, Gedung Putih menyatakan Trump tengah membahas berbagai opsi, termasuk penggunaan kekuatan militer, untuk menguasai Greenland. (AFP/AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji