Pagi itu, di sebuah sekolah sederhana di Sorong, Papua Barat Daya, sekelompok murid menyusuri gang-gang kampung. Mereka tidak sedang bermain, tetapi sedang melakukan riset lapangan. Tugas mereka sederhana: memahami permasalahan utama masyarakat di sekitar sekolahnya dan mencari solusi. Semangat belajar terasa begitu hangat.
Sesudah berdiskusi dengan guru dan tokoh masyarakat, mereka memutuskan masalah utamanya adalah krisis air bersih. Tiga filter air sederhana mereka buat pada tahun 2021 yang kini masih digunakan warga sekitar.
Tak ada yang menyangka bahwa sekolah yang dulu dilabeli ”sekolah buangan” itu, yang jauh dari pusat-pusat kebijakan, dapat hadir di panggung G20 di Brasil pada akhir Oktober 2024. Sekolah yang bernama SMP Nusantara itu lolos seleksi dan terpilih menjadi salah satu dari lima sekolah di dunia yang diminta membagikan praktik baik pembelajaran.
Sang kepala sekolah, Arby W Mamangsa, berdiri di hadapan para menteri pendidikan negara-negara G20 dan pimpinan tinggi organisasi internasional menceritakan inovasi murid-muridnya. Dari pinggiran ujung timur Indonesia, lahir inspirasi global.
Cerita ini bukan sekadar kebanggaan. Ia adalah penanda arah bahwa pendidikan Indonesia sedang bergeser, perlahan tapi pasti, menjadi lebih berpihak pada murid, lebih mendalam, bermakna, dan relevan dengan tantangan zaman.
Visi, bukan sekadar kebijakan
Pendidikan tak bisa dilihat semata dari kurikulum, ujian, atau infrastruktur. Namun sesungguhnya, pendidikan adalah tentang manusia; tentang anak-anak seperti yang di Sorong itu, dan puluhan juta lainnya di seluruh negeri. Maka, arah kebijakan pendidikan tak bisa dibuat tanpa bertanya terlebih dahulu: manusia seperti apa yang ingin kita hadirkan untuk menjawab tantangan zaman dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045?
Masa depan dunia menuntut kesiapan yang berbeda dari masa lampau. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2023 mencatat bahwa 44 persen keterampilan inti SDM akan berubah dalam lima tahun ke depan. Lima kompetensi paling krusial yang dibutuhkan adalah berpikir analitis, berpikir kreatif, kecakapan dalam kecerdasan buatan dan big data, kepemimpinan dan pengaruh sosial, rasa ingin tahu dan semangat belajar sepanjang hayat.
Sementara itu, OECD melalui kerangka Learning Compass 2030 menekankan pentingnya kombinasi antara kecakapan kognitif dan meta-kognitif, sosial-emosional, dan literasi digital. Tiga kompetensi transformatif yang juga harus dimiliki generasi masa depan adalah menciptakan nilai baru, mendamaikan ketegangan dan dilema, serta mengambil tanggung jawab atas masa depan bersama.
Dan di atas segalanya, masa depan dunia harus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan hendaknya menjadi ruang tempat kita belajar memahami satu sama lain. Ia mengajarkan empati, rasa hormat, dan kepekaan terhadap penderitaan dan harapan sesama. Pendidikan bukan hanya membentuk keterampilan, melainkan membentuk peradaban. Peradaban tidak akan bertahan tanpa kemanusiaan.
Maka, pendidikan harus mampu menjadi fondasi utama pembangunan peradaban yang kita cita-citakan. Kebijakan pendidikan tanpa orientasi pada masa depan hanya akan mengulang pola lama yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman. Pertanyaannya kemudian: Apakah arah kebijakan pendidikan kita semakin mendekatkan atau malah semakin menjauhkan kita dari visi dan kebutuhan masa depan bangsa?
Karena itu, kita harus menjadikan pendidikan sebagai ruang konsensus kebangsaan, dan menjauhkannya dari ruang politik transaksional. Kebijakan pendidikan perlu secara konsisten lahir dari refleksi mendalam tentang arah pembangunan peradaban bangsa dan dunia.
Perubahan dan rekognisi dunia
Beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan lahirnya ekosistem pendidikan baru. Kurikulum menjadi lebih fleksibel dan kontekstual, asesmen sistem pendidikan mendorong refleksi dan perbaikan berbasis data, dan pelatihan guru dan kepemimpinan sekolah dirancang untuk menggerakkan perubahan. Komunitas belajar pendidik tumbuh dan berkembang secara organik, teknologi dijadikan alat untuk memperluas akses, dan pembelajaran berbasis proyek membawa dunia nyata ke dalam kelas.
Apakah itu berdampak? Meski hampir 2,5 tahun pada masa pandemi kita harus banyak melakukan pembelajaran jarak jauh sehingga terdampak learning loss, data Asesmen Nasional menunjukkan pemulihan yang menjanjikan: murid yang mencapai kompetensi minimum literasi naik dari 53 persen (2021) menjadi 68 persen (2024); numerasi dari 33 persen ke 66 persen. Di balik angka itu ada proses yang lebih bermakna, belajar yang lebih mendalam dan lebih memberdayakan.
Perubahan mulai terjadi meski masih belum merata.
Dunia pun mulai menoleh. Selain di G20, rekognisi juga datang dari PBB. UNESCO dan Unicef menggandeng 20 negara dan 9 organisasi internasional untuk hadir langsung ke Indonesia dalam Gateways Study Visit pada Oktober 2024. Ini termasuk negara-negara maju, seperti Singapura, Finlandia, China, Inggris, dan Perancis. Mereka datang untuk belajar dari Indonesia tentang strategi pemanfaatan teknologi untuk memperkuat transformasi pendidikan. Mereka ingin melakukan adopsi dan adaptasi dari inovasi Indonesia.
Indonesia tidak hanya berubah untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi komunitas global.
Berani maju, percaya pada proses
Perubahan pasti menimbulkan ketidaknyamanan. Namun, mempertahankan pola-pola lama yang tidak relevan lagi hanya akan menunda kemajuan. Perubahan sejati dalam sistem pendidikan tidak dapat datang seketika. Ia butuh waktu, ruang, dan kepercayaan. Dan justru karena itu, kita harus menyikapinya dengan cara pandang yang bijak: melihat tunas yang tumbuh, bukan hanya batang yang belum sempurna.
Kini, kita berada di ambang akhir dari bonus demografi. Proporsi penduduk usia produktif sedang pada puncaknya. Kesempatan ini hanya datang sekali dalam sejarah bangsa. Bila kita tidak menyiapkan generasi muda dengan kompetensi dan karakter, peluang ini akan berubah menjadi beban. Deadline-nya bukan 2045. Deadline-nya adalah sekarang.
Perubahan yang tumbuh dari ruang kelas, dari semangat dan keingintahuan murid-murid dan keberanian guru-guru dan pemimpin sekolah berinovasi, itulah yang perlu bertahan dan membudaya.
Nyalakan cahaya, pelihara harapan
Hari Pendidikan Nasional adalah pengingat bahwa masa depan Indonesia sedang kita tulis hari ini—di ruang kelas, di meja kebijakan, dan di setiap keputusan yang kita buat: apakah berpihak kepada anak, apakah berorientasi masa depan, apakah semakin menguatkan nilai kemanusiaan.
Dan bila masih ada yang ragu bahwa perubahan itu mungkin, ingatlah SMP Nusantara di Sorong. Di kelas-kelas sederhana yang jauh dari ibu kota, lahir keberanian untuk berubah dan berpihak kepada murid. Ketika Pak Arby berdiri di panggung G20 berdampingan dengan para menteri pendidikan dunia dan para pemimpin tertinggi organisasi internasional, Indonesia tidak sekadar hadir. Kita menginspirasi.
Cerita dari Sorong mengingatkan: pendidikan bukan milik elite. Ia milik semua anak bangsa. Dan dari tempat yang dulu dianggap jauh dari segalanya, cahaya bisa dinyalakan. Dari sanalah, harapan Indonesia Emas 2045 mulai menyala.
Iwan Syahril, Praktisi pendidikan; Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah periode 2022-2024
Pagi itu, di sebuah sekolah sederhana di Sorong, Papua Barat Daya, sekelompok murid menyusuri gang-gang kampung. Mereka tidak sedang bermain, tetapi sedang melakukan riset lapangan. Tugas mereka sederhana: memahami permasalahan utama masyarakat di sekitar sekolahnya dan mencari solusi. Semangat belajar terasa begitu hangat.
Sesudah berdiskusi dengan guru dan tokoh masyarakat, mereka memutuskan masalah utamanya adalah krisis air bersih. Tiga filter air sederhana mereka buat pada tahun 2021 yang kini masih digunakan warga sekitar.
Tak ada yang menyangka bahwa sekolah yang dulu dilabeli ”sekolah buangan” itu, yang jauh dari pusat-pusat kebijakan, dapat hadir di panggung G20 di Brasil pada akhir Oktober 2024. Sekolah yang bernama SMP Nusantara itu lolos seleksi dan terpilih menjadi salah satu dari lima sekolah di dunia yang diminta membagikan praktik baik pembelajaran.
Sang kepala sekolah, Arby W Mamangsa, berdiri di hadapan para menteri pendidikan negara-negara G20 dan pimpinan tinggi organisasi internasional menceritakan inovasi murid-muridnya. Dari pinggiran ujung timur Indonesia, lahir inspirasi global.
Cerita ini bukan sekadar kebanggaan. Ia adalah penanda arah bahwa pendidikan Indonesia sedang bergeser, perlahan tapi pasti, menjadi lebih berpihak pada murid, lebih mendalam, bermakna, dan relevan dengan tantangan zaman.
Visi, bukan sekadar kebijakan
Pendidikan tak bisa dilihat semata dari kurikulum, ujian, atau infrastruktur. Namun sesungguhnya, pendidikan adalah tentang manusia; tentang anak-anak seperti yang di Sorong itu, dan puluhan juta lainnya di seluruh negeri. Maka, arah kebijakan pendidikan tak bisa dibuat tanpa bertanya terlebih dahulu: manusia seperti apa yang ingin kita hadirkan untuk menjawab tantangan zaman dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045?
Masa depan dunia menuntut kesiapan yang berbeda dari masa lampau. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2023 mencatat bahwa 44 persen keterampilan inti SDM akan berubah dalam lima tahun ke depan. Lima kompetensi paling krusial yang dibutuhkan adalah berpikir analitis, berpikir kreatif, kecakapan dalam kecerdasan buatan dan big data, kepemimpinan dan pengaruh sosial, rasa ingin tahu dan semangat belajar sepanjang hayat.
Sementara itu, OECD melalui kerangka Learning Compass 2030 menekankan pentingnya kombinasi antara kecakapan kognitif dan meta-kognitif, sosial-emosional, dan literasi digital. Tiga kompetensi transformatif yang juga harus dimiliki generasi masa depan adalah menciptakan nilai baru, mendamaikan ketegangan dan dilema, serta mengambil tanggung jawab atas masa depan bersama.
Dan di atas segalanya, masa depan dunia harus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan hendaknya menjadi ruang tempat kita belajar memahami satu sama lain. Ia mengajarkan empati, rasa hormat, dan kepekaan terhadap penderitaan dan harapan sesama. Pendidikan bukan hanya membentuk keterampilan, melainkan membentuk peradaban. Peradaban tidak akan bertahan tanpa kemanusiaan.
Maka, pendidikan harus mampu menjadi fondasi utama pembangunan peradaban yang kita cita-citakan. Kebijakan pendidikan tanpa orientasi pada masa depan hanya akan mengulang pola lama yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman. Pertanyaannya kemudian: Apakah arah kebijakan pendidikan kita semakin mendekatkan atau malah semakin menjauhkan kita dari visi dan kebutuhan masa depan bangsa?
Karena itu, kita harus menjadikan pendidikan sebagai ruang konsensus kebangsaan, dan menjauhkannya dari ruang politik transaksional. Kebijakan pendidikan perlu secara konsisten lahir dari refleksi mendalam tentang arah pembangunan peradaban bangsa dan dunia.
Serial Artikel
Gaza dan Pendidikan Nalar Etis
Sepatutnya berbagai peristiwa sarat dilema moral yang dihadapi murid sehari-hari diperbincangkan di ruang kelas untuk mengasah nalar etis mereka.
Beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan lahirnya ekosistem pendidikan baru. Kurikulum menjadi lebih fleksibel dan kontekstual, asesmen sistem pendidikan mendorong refleksi dan perbaikan berbasis data, dan pelatihan guru dan kepemimpinan sekolah dirancang untuk menggerakkan perubahan. Komunitas belajar pendidik tumbuh dan berkembang secara organik, teknologi dijadikan alat untuk memperluas akses, dan pembelajaran berbasis proyek membawa dunia nyata ke dalam kelas.
Apakah itu berdampak? Meski hampir 2,5 tahun pada masa pandemi kita harus banyak melakukan pembelajaran jarak jauh sehingga terdampak learning loss, data Asesmen Nasional menunjukkan pemulihan yang menjanjikan: murid yang mencapai kompetensi minimum literasi naik dari 53 persen (2021) menjadi 68 persen (2024); numerasi dari 33 persen ke 66 persen. Di balik angka itu ada proses yang lebih bermakna, belajar yang lebih mendalam dan lebih memberdayakan.
Perubahan mulai terjadi meski masih belum merata.
Dunia pun mulai menoleh. Selain di G20, rekognisi juga datang dari PBB. UNESCO dan Unicef menggandeng 20 negara dan 9 organisasi internasional untuk hadir langsung ke Indonesia dalam Gateways Study Visit pada Oktober 2024. Ini termasuk negara-negara maju, seperti Singapura, Finlandia, China, Inggris, dan Perancis. Mereka datang untuk belajar dari Indonesia tentang strategi pemanfaatan teknologi untuk memperkuat transformasi pendidikan. Mereka ingin melakukan adopsi dan adaptasi dari inovasi Indonesia.
Indonesia tidak hanya berubah untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi komunitas global.
Berani maju, percaya pada proses
Perubahan pasti menimbulkan ketidaknyamanan. Namun, mempertahankan pola-pola lama yang tidak relevan lagi hanya akan menunda kemajuan. Perubahan sejati dalam sistem pendidikan tidak dapat datang seketika. Ia butuh waktu, ruang, dan kepercayaan. Dan justru karena itu, kita harus menyikapinya dengan cara pandang yang bijak: melihat tunas yang tumbuh, bukan hanya batang yang belum sempurna.
Kini, kita berada di ambang akhir dari bonus demografi. Proporsi penduduk usia produktif sedang pada puncaknya. Kesempatan ini hanya datang sekali dalam sejarah bangsa. Bila kita tidak menyiapkan generasi muda dengan kompetensi dan karakter, peluang ini akan berubah menjadi beban. Deadline-nya bukan 2045. Deadline-nya adalah sekarang.
Perubahan yang tumbuh dari ruang kelas, dari semangat dan keingintahuan murid-murid dan keberanian guru-guru dan pemimpin sekolah berinovasi, itulah yang perlu bertahan dan membudaya.
Hari Pendidikan Nasional adalah pengingat bahwa masa depan Indonesia sedang kita tulis hari ini—di ruang kelas, di meja kebijakan, dan di setiap keputusan yang kita buat: apakah berpihak kepada anak, apakah berorientasi masa depan, apakah semakin menguatkan nilai kemanusiaan.
Dan bila masih ada yang ragu bahwa perubahan itu mungkin, ingatlah SMP Nusantara di Sorong. Di kelas-kelas sederhana yang jauh dari ibu kota, lahir keberanian untuk berubah dan berpihak kepada murid. Ketika Pak Arby berdiri di panggung G20 berdampingan dengan para menteri pendidikan dunia dan para pemimpin tertinggi organisasi internasional, Indonesia tidak sekadar hadir. Kita menginspirasi.
Cerita dari Sorong mengingatkan: pendidikan bukan milik elite. Ia milik semua anak bangsa. Dan dari tempat yang dulu dianggap jauh dari segalanya, cahaya bisa dinyalakan. Dari sanalah, harapan Indonesia Emas 2045 mulai menyala.
Iwan Syahril, Praktisi pendidikan; Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah periode 2022-2024