Sejak bencana banjir melanda Sumatera akhir November lalu, media sosial dipenuhi beragam video hoaks bencana alam berbasis AI.
12 Des 2025 17:00 WIB · Artikel Opini
Kompas
Hoaks bencana alam adalah salah satu tantangan masyarakat Indonesia di era akal imitasi (AI) dewasa ini. AI bisa dimanfaatkan untuk memproduksi informasi bencana alam yang terlihat nyata, tetapi ternyata tidak nyata sehingga menyesatkan.
Sejak bencana banjir melanda Sumatera akhir November lalu, media sosial dipenuhi beragam video hoaks bencana alam berbasis AI. Beberapa contoh video tersebut: video ibu kucing menyelamatkan bayinya di tengah banjir, video gajah mengamankan rusa saat luapan air menyerbu, serta video sapi di atas papan sembari mengarungi air pasang.
Tak banyak yang mengetahui bahwa video-video tersebut hanyalah rekayasa AI sebab video tersebut tampak nyata. Apalagi, pengguna media sosial mempunyai kebutuhan untuk mencari informasi terkini mengenai banjir di Sumatera tak hanya karena penasaran tapi juga karena rasa simpati. Hal ini karena bencana alam yang terjadi tak hanya merugikan manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya, termasuk hewan. Dalam kondisi krisis seperti ini, critical thinking untuk melakukan verifikasi informasi menjadi kurang terkondisikan, selain memang tidak mudah melakukan cek fakta terhadap video yang direkayasa melalui AI secara kasatmata.
Pertanyaannya, apakah kemunculan hoaks bencana alam di Indonesia baru terjadi sekarang dalam kasus banjir di Sumatera?
Hoaks bencana alam sebenarnya bukan hal baru di Indonesia sebagai negara yang rawan bencana alam. Banyak hoaks berseliweran tak hanya terkait dengan banjir, tetapi juga tsunami, tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi, kekeringan, angin puting beliung, kekeringan, ataupun bencana lainnya. Hoaks tersebut tak hanya berupa video yang direkayasa AI karena bentuknya bisa beragam, yakni tulisan (teks), gambar, audio, ataupun video.
Mungkin pembaca masih ingat hoaks letusan gunung Merapi yang muncul pertengahan tahun 2018 dengan foto kawah gunung dengan lava berwarna merah semburat kuning menyala disertai tulisan ”Fotografer yang Mengabadikan Kawah Merapi Sungguh Takjub dan Luar Biasa Indah dan Beraninya”. Gambar yang beredar di media sosial tersebut diverifikasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sebagai hoaks.
BPPTKG menjelaskan foto yang terdapat dalam gambar tersebut bukanlah kawah Gunung Merapi, melainkan kawah Gunung Ambytm di Vanuatu. Tidak terbayangkan, berapa banyak orang yang terkecoh gambar tersebut serta mungkin akan memercayai informasi tersebut selamanya karena mereka melewatkan penjelasan cek fakta yang dilakukan BPPTKG.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa hoaks bencana alam merupakan kekacauan informasi yang sengaja diproduksi untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari upaya pengelolaan informasi, sebagai salah satu elemen penting penanganan bencana alam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/07/27/20210727-Ilustrasi-Literasi-Kritis-dan-Hoaks-Seputar-Covid-19_1627396104_jpg.jpg)
Hadirnya AI, terutama generative-AI, mempunyai dua sisi dalam kehidupan kita. Sisi buruknya, generative-AI bisa dimanfaatkan untuk membuat beragam hoaks termasuk hoaks bencana alam karena beberapa alasan. Pertama, AI bisa diminta membuat video palsu dengan menggabungkan video rekayasa dengan video asli. Misalnya, video gajah menyelamatkan rusa yang dibuat AI kemudian digabungkan dengan video asli mengenai banjir di Sumatera.
Kedua, AI mampu memproduksi hoaks bencana alam dalam waktu yang sangat cepat sehingga memudahkan pembuat hoaks membuat variasi hoaks. Misalnya, video penyelamatan kucing saat banjir Sumatera ada beberapa versi, baik versi ibu kucing dan anak kucing saja maupun versi kucing dengan penduduk. Ketiga, AI bisa membuat personalisasi pesan yang disesuaikan dengan konteks lokal. Misalnya, hoaks banjir Sumatera dilengkapi informasi tanggal atau lokasi banjir sehingga lebih meyakinkan.
Sisi baiknya, AI juga bisa dimanfaatkan untuk melawan hoaks bencana alam dengan beragam cara. Pertama, AI bisa digunakan untuk melakukan verifikasi hoaks bencana alam yang dibuat oleh AI, baik konten berupa teks, gambar, audio, maupun video. Kedua, AI bisa dengan mudah dan cepat melakukan verifikasi tersebut. Ketiga, AI juga bisa membuat konten verifikasi terhadap hoaks bencana alam. Namun, tidak semua pengguna media sosial mempunyai kemampuan ataupun kemauan untuk melakukan verifikasi informasi bencana alam dengan AI ataupun tanpa AI.
Mereka yang tidak mempunyai kemampuan umumnya karena tidak terbiasa melakukan verifikasi informasi karena menganggap bahwa semua informasi yang beredar di media sosial pasti sudah disaring pembuatnya atau penyebarnya. Padahal banyak orang sengaja memproduksi hoaks bencana alam entah untuk mencari engagement demi popularitas serta keuntungan ekonomi, kepentingan politik, ataupun kepentingan lainnya. Mereka bisa dikatakan tidak mempunyai kemauan untuk melakukan verifikasi informasi karena merekalah yang memproduksi hoaks bencana alam tersebut.
Mengatasi hoaks bencana alam yang diproduksi menggunakan AI tidak hanya membutuhkan tanggung jawab pengguna media sosial untuk melakukan verifikasi informasi, tetapi juga sejumlah upaya dari berbagai pemangku kepentingan.
Pertama, pemerintah dan berbagai lembaga terkait bencana alam perlu menyediakan informasi bencana alam yang akurat, cepat, dan mudah diakses; mengeluarkan counter narasi atas hoaks bencana alam yang beredar sesegera mungkin; serta melakukan edukasi informasi bencana alam secara rutin bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Kedua, platform media sosial perlu secara aktif melakukan moderasi konten informasi bencana alam dengan cara menandai dan membatasi penyebaran hoaks bencana alam berbasis AI.
Ketiga, industri AI sebaiknya menyediakan watermark ataupun model khusus untuk mendeteksi dan menandai rekayasa informasi supaya mudah dikenali pengguna media sosial. Keempat, media berita, baik media cetak, media penyiaran, maupun media daring, menyediakan berita bencana alam yang akurat dan valid, sekaligus menyampaikan hasil verifikasi pemeriksa fakta atas hoaks tersebut agar mudah diakses khalayak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/31/da0e8e4a-8ff2-47c4-925d-8da3f22d460e_jpg.jpg)
Kelima, pendidik dan pegiat literasi digital idealnya melakukan beragam program edukasi dan literasi, baik formal maupun informal, untuk meningkatkan kompetensi literasi digital masyarakat. Keenam, masyarakat sebagai pengguna media sosial perlu meningkatkan critical thinking agar tidak mudah terjebak hoaks bencana alam, selalu melakukan verifikasi, berhati-hati dalam menyebarkan informasi, serta selalu berpartisipasi untuk melawan hoaks bencana alam termasuk yang berbasis AI.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa mengatasi hoaks bencana alam berbasis AI bukan hanya tanggung jawab pengguna media sosial semata, melainkan tanggung jawab seluruh pihak. Pertanyaannya, apakah kita, seluruh pemangku kepentingan, siap bertanggung jawab?
Novi Kurnia Dosen Ilmu Komunikasi, FISIP UGM, pegiat literasi digital
Penulis:
Novi KurniaEditor:
Yohanes KrisnawanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari