Mengenal Beragam Cara Menentukan Hari Lebaran

Pengumuman hari Lebaran akan disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar nanti malam. Perlu kiranya masyarakat mengenal metode penentuan bulan baru.

29 Mar 2025 10:01 WIB · Humaniora

Oleh Stephanus Aranditio

Pemerintah akan melaksanakan pengamatan hilal atau bulan sabit baru untuk menentukan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah pada Sabtu (29/3/2025) petang. Hasilnya akan disampaikan pada Sidang Isbat yang digelar di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, pukul 18.30.

Sebelum menyimak pengumuman hari Lebaran yang akan disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar, malam nanti, masyarakat perlu memahami perbedaan metode penentuan bulan baru oleh Kementerian Agama (Kemenag) dengan ormas Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Logo Liputan Lebaran 2025

Muhammadiyah menjadi yang pertama menetapkan 1 Syawal 1446 Hijriah jatuh pada Senin, 31 Maret 2025. Keputusan ini didasarkan pada hisab hakiki wujudul hilal, metode penentuan awal bulan Hijriah yang konsisten digunakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Dengan metode ini, awal bulan ditetapkan jika hilal sudah terwujud. Adapun hilal terwujud setelah terjadi ijtimak sebelum Matahari terbenam, bulan terbenam setelah Matahari, dan piringan atas bulan berada di atas ufuk saat matahari terbenam. Jika salah satu dari kriteria ini tidak terpenuhi, bulan digenapkan menjadi 30 hari.

”Di seluruh wilayah Indonesia, bulan juga masih berada di bawah ufuk sehingga tidak memenuhi kriteria wujudul hilal. Oleh karena itu, umur bulan Ramadhan 1446 H disempurnakan menjadi 30 hari, dan 1 Syawal 1446 H pun jatuh pada Senin Pahing, 31 Maret 2025 Masehi,” demikian Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025 yang ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan penjelasan saat acara jumpa pers penetapan hasil hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1446 Hijriah di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Rabu (12/2/2025). PP Muhammadiyah mengumumkan bahwa awal Ramadhan 1446 Hijriah jatuh pada 1 Maret 2025 dan Hari Raya Idul Fitri 1446 H jatuh pada 31 Maret 2025. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Ini menjadi tahun terakhir PP Muhammadiyah menggunakan metode hisab dan beralih ke Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) mulai tahun depan. Dalam sistem KHGT, bumi dianggap sebagai satu kesatuan matlak global sehingga seluruh dunia akan menetapkan awal bulan Hijriah pada hari yang sama.

Metode Rukyat

Sementara itu, Kemenag dan NU menggunakan metode rukyatul hilal (pengamatan langsung) dengan menggunakan Hisab Hakiki Imkan Rukyat sebagai pembantu menentukan awal bulan Hijriah. Metode rukyat dilakukan lewat pengamatan hilal dengan mata telanjang atau menggunakan bantuan alat optik, seperti teleskop.

Jika hilal tidak terlihat, umur bulan digenapkan menjadi 30 hari dan tanggal 1 bulan baru ditetapkan pada waktu maghrib hari berikutnya. Saat ini, Kemenag dan NU telah menggunakan kriteria baru dari Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) dalam menjalankan metode rukyatul hilal, yaitu tinggi hilal minimal adalah 3 derajat dan jarak elongasi minimal 6,4 derajat.

Petugas membaca data hilal menjelang Ramadhan 1445 Hijriah di Masjid Al-Musyari'in, Jakarta Barat, Minggu (10/3/2024). Tim Lembaga Falakiyah Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol DKI Jakarta memantau hilal untuk menentukan awal Ramadhan 1445 Hijriah. Penetapan 1 Ramadhan 1445 Hijriah oleh Kementerian Agama merujuk pada pemantauan hilal di 134 lokasi di seluruh Indonesia. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 10-03-2024

Direktur Jenderal Bina Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Abu Rokhmad menjelaskan, rukyat hilal bukan sekadar kegiatan seremonial dan teknis melihat hilal. Ini adalah kolaborasi lintas sektor yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan keyakinan bisa berjalan beriringan.

Dengan semangat astronomi dan syiar Islam, kata dia, rukyatul hilal diharapkan tidak hanya memberikan hasil yang akurat, tetapi juga menginspirasi kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.

”Ada yang bertanya, kenapa harus repot-repot kalau sudah jelas hasilnya? Justru di sini letak tantangannya. Ini bukan soal hasil semata, melainkan soal proses, soal pembuktian ilmiah, dan soal syiar Islam,” kata Abu.

Adapun pemantauan hilal nanti akan digelar di 33 lokasi di seluruh Indonesia. Namun, pengamatan hilal di Provinsi Bali ditiadakan karena bertepatan dengan hari raya Nyepi (Tahun Baru Saka 1947).

Posisi hilal terkini

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), posisi hilal masih di bawah ufuk karena ketinggiannya negatif. Saat Matahari terbenam pada Sabtu (29/3/2025) petang, tinggi hilal berada pada minus 1,85 derajat di Jakarta hingga minus 1,08 derajat di Banda Aceh. Elongasinya mencapai 1,06 derajat di Jakarta hingga 1,21 derajat di Banda Aceh.

Petugas mengarahkan teleskop ke titik pengamatan hilal di Masjid Al-Musyari'in, Jalan Basmol Raya, Jakarta Barat, Rabu (22/3/2023). Tim Lembaga Falakiyah Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol DKI Jakarta memantau hilal untuk menentukan awal Ramadhan 1444 Hijriah. Dalam pengamatannya, tim dapat melihat hilal dengan ketinggian hilal sekitar tujuh derajat. Kementerian Agama juga menggelar pemantauan hilal awal Ramadhan 1444 Hijriah di 124 lokasi di Indonesia. Di DKI Jakarta, ada empat lokasi yang menjadi tempat pemantauan hilal. Fakhri Fadlurrohman (Z19) 22-03-2023

Akibatnya, sangat kecil kemungkinan hilal terlihat atau dengan kata lain tidak bisa menggunakan metode rukyat. Oleh karena itu, usia bulan Ramadhan akan digenapkan dengan metode hisab menjadi 30 hari dan Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah kemungkinan jatuh pada Senin (31/3/2025). Semua masyarakat Islam dari ormas mana pun akan merayakan hari kemenangan secara bersamaan.

Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh menambahkan, penetapan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyah dan hisab oleh Pemerintah melalui Menteri Agama dan berlaku secara nasional. Ini sesuai dengan Fatwa MUI No 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah.

Dia menegaskan, perbedaan ini tidak menjadi masalah besar di sesama umat Islam di Indonesia. Sidang isbat adalah waktu yang tepat untuk duduk bersama sesuai dengan keilmuannya di bidang agama dan astronomi yang diperkuat dengan kehadiran para pemimpin yang memutuskannya.

”Untuk itu, kita tunggu sidang isbat dan kita tetapkan 1 Syawal 1446 Hijriah,” kata Niam.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Iqbal Basyari
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari