IRGC adalah jantung ideologis, mesin ekonomi, dan bayang-bayang kekuasaan yang membentang dari jalanan Teheran hingga medan tempur di Timur Tengah.
17 Jun 2025 06:00 WIB · Internasional
Di balik seragam hijau zaitun dan parade militer, Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran (IRGC) bukan sekadar tentara Iran.
Garda ini lahir dari semangat revolusi, tumbuh lewat perang dan sanksi, kekuatan ini menjelma menjadi negara dalam negara yang tak tersentuh konstitusi.
Memahami IRGC adalah membuka pintu ke wajah sejati Republik Islam Iran, sebuah sistem yang dijaga bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Suatu pagi di Teheran, jalanan berdebu dan suara azan belum reda ketika sekelompok remaja berpakaian rapi berjalan memasuki halaman sekolah.
Di antara pelajaran matematika dan puisi Hafez, mereka juga menerima pelatihan militer ringan dan ceramah tentang semangat revolusi Islam.
Di sinilah IRGC memulai perannya, yakni bukan sekadar angkatan bersenjata, tapi arsitek kesetiaan politik dan ideologis generasi Iran berikutnya.
Didirikan pada 1979 atas perintah langsung Ayatollah Khomeini, IRGC lahir di tengah euforia dan kekacauan pasca-revolusi. Republik Islam yang baru saja menggulingkan monarki merasa perlu menciptakan kekuatan yang tidak hanya menjaga keamanan, tapi juga nilai-nilai suci revolusi.
Militer reguler, dengan jejak loyalitas kepada Shah dan dari keraguan itulah IRGC dibentuk sebagai penjaga garis keras ideologi negara.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/13/5422649c-be4c-4ace-8e32-fcdfa4ddb664_png.png)
Militer reguler Iran (Artesh) kala itu dianggap tidak sepenuhnya dapat dipercaya karena masih berakar pada rezim monarki. Maka IRGC menjadi kekuatan alternatif yang langsung bertanggung jawab kepada pemimpin tertinggi Iran, bukan kepada presiden atau parlemen.
Fungsi ini menjadikan IRGC sebagai kekuatan politik sekaligus religius yang sangat kuat dalam struktur negara Iran.
Dalam beberapa tahun pertama, IRGC berperan menumpas kelompok kontra-revolusi, menangani kerusuhan di wilayah Kurdi, dan menjaga stabilitas internal.
Seiring waktu, pasukan ini berkembang menjadi organisasi militer yang mandiri, dengan kepemimpinan yang tumbuh dari loyalis revolusi. Sejak itulah IRGC menancapkan perannya sebagai “negara dalam negara”, bergerak dalam bidang militer, ekonomi, bahkan kebijakan luar negeri.
Perang Iran-Irak (1980–1988) menjadi medan pembuktian IRGC. Selama konflik delapan tahun itu, IRGC bertransformasi dari pasukan semi-paramiliter menjadi lembaga militer terstruktur.
Mereka tak hanya bertempur di garis depan, tapi juga membentuk kekuatan sukarela ratusan ribu rakyat lewat Basij, pasukan milisi yang terkenal karena pengorbanan tanpa pamrih.
Selama delapan tahun konflik, IRGC tak hanya bertahan, tapi tumbuh. Mereka belajar strategi militer, membangun logistik sendiri, dan menanamkan kisah-kisah kepahlawanan yang kini menjadi memori kolektif bangsa.
Di sanalah lahir komandan-komandan legendaris, yang kelak memainkan peran penting bukan hanya di Iran, tetapi di seluruh Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/26/7a0e4697-c3e2-46e9-bfe5-858b0c4bfd87.jpg)
Selain perang terbuka, IRGC juga terlibat dalam perang asimetris melalui serangan siber, sabotase, dan penyelundupan senjata. Kapabilitas rudal dan drone mereka kerap diuji dalam ketegangan dengan Israel, AS, dan Arab Saudi.
IRGC juga menjadi pengelola program pengembangan rudal balistik Iran yang menjadi salah satu alasan sanksi internasional terhadap Teheran di kemudian hari.
Era pasca-perang, mereka tak kembali ke barak. Sebaliknya, IRGC memperluas pengaruh ke luar negeri lewat unit elite mereka, Pasukan Quds. Di bawah pimpinan Jenderal Qasem Soleimani, mereka menyusup ke jantung konflik regional.
Pasukan ini menyebar dari Baghdad hingga Beirut, dari Damaskus hingga Sana’a. Diplomasi mereka tak dilakukan di meja perundingan, tapi di jalanan perang dan kamp milisi.
Soleimani, dengan jubah hitam dan senyuman tipis, lebih dikenal di jalan-jalan Suriah daripada diplomat Iran sendiri. Ia bukan sekadar komandan, tapi simbol bagaimana IRGC melampaui batas nasional dan menjadi kekuatan geopolitik.
Ketika dia terbunuh oleh drone AS di Baghdad pada 2020, jutaan orang turun ke jalan, dan dunia menyadari satu hal: pengaruh IRGC bukan sekadar bayangan, tapi nyata.
IRGC memiliki struktur komando yang terpisah dan independen dari militer reguler Iran. Komando tertingginya langsung berada di bawah Pemimpin Tertinggi, menjadikan mereka bertanggung jawab kepada satu figur sentral dalam sistem politik Iran. Hal ini memungkinkan IRGC untuk bergerak bebas dari pengawasan sipil dan lembaga negara lainnya.
Secara organisasi, IRGC dibagi dalam beberapa cabang utama, yakni Pasukan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Dirgantara, ditambah Pasukan Quds dan Basij.
Tiap cabang memiliki peran spesifik dan infrastruktur operasional yang luas, mencakup pangkalan, unit tempur, serta sistem logistik sendiri. IRGC juga memiliki sistem intelijen internal yang mengawasi loyalitas kader dan mencegah infiltrasi.
Pasukan Quds menjadi cabang paling misterius karena keterlibatannya dalam operasi luar negeri yang sensitif. Mereka menjalankan misi pelatihan milisi, pengiriman senjata, hingga koordinasi strategi geopolitik dengan sekutu Iran di luar negeri.
Struktur tertutup dan fleksibilitas operasional menjadikan IRGC sebagai kekuatan militer-politik yang tak tertandingi dalam sistem pemerintahan Iran.
IRGC bukan hanya mesin militer, tapi juga kekuatan ekonomi. Di Iran, hampir mustahil membedakan mana negara dan mana IRGC. Mereka menguasai proyek infrastruktur strategis, seperti jalan tol, bendungan, kilang, hingga pengelolaan pelabuhan dan tambang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/14/63cd0659-3884-4b3b-a915-66fc7220d327_png.png)
Melalui perusahaan seperti Khatam al-Anbia, IRGC mendapatkan kontrak senilai miliaran dolar dari pemerintah tanpa tender terbuka.
Mereka membangun jembatan, terowongan, dan bahkan menyalurkan listrik ke daerah terpencil. Di saat sektor swasta menderita karena sanksi internasional, IRGC justru tumbuh subur di bawah naungan kekuasaan.
Jaringan bisnis mereka tak hanya luas, tapi juga tersembunyi. Di pasar gelap, mereka mengelola ekspor minyak tak resmi, menjalin perdagangan dengan negara-negara yang dikucilkan, dan menggunakan sistem keuangan bayangan untuk menghindari sanksi. Dari balik bendera revolusi, mereka menjalankan mekanisme kapitalisme gaya sendiri.
Dalam pemerintahan sipil, banyak eks-perwira IRGC menjadi gubernur, menteri, bahkan presiden. Presiden Mahmoud Ahmadinejad adalah contoh nyata hal ini.
Ia adalah mantan insinyur Basij yang naik ke tampuk kekuasaan dengan dukungan kuat IRGC. Dengan kata lain, pengaruh mereka tidak berhenti di medan perang, tapi menembus sampai ke ranah politik negara.
Di balik senjata dan bisnis, ada satu hal yang membuat IRGC sangat berbeda karena misinya bukan menjaga tanah, melainkan menjaga roh revolusi.
Dalam doktrin Wilayat al-Faqih (konsep politik dan hukum yang menjadi dasar bagi sistem pemerintahan di Republik Islam Iran), mereka berkewajiban melindungi supremasi ulama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/10/14/e79aed88-becc-4115-bec8-783fe50d8c67.jpg)
Untuk gerakan dalam negeri, IRGC aktif dalam propaganda melalui media, pendidikan, dan organisasi sipil. Mereka memiliki jaringan penerbitan, universitas, hingga lembaga think tank yang menyebarkan ide-ide revolusi Islam.
Fungsi ini memperkuat pengaruh ideologis mereka atas generasi muda dan kelompok masyarakat yang lebih konservatif.
Basij, sayap paramiliter IRGC, menjadi alat utama penyebaran ideologi di akar rumput. Organisasi ini mengkoordinasikan jutaan anggota, dari pelajar hingga pensiunan, yang diberi pelatihan militer ringan dan doktrin keagamaan.
Dalam banyak demonstrasi dan krisis politik domestik, Basij dikerahkan untuk mempertahankan status quo dan mengintimidasi oposisi.
Tidak heran jika dalam setiap gelombang unjuk rasa, mulai dari mahasiswa yang menuntut kebebasan hingga ibu rumah tangga yang protes harga pangan, Basij dan IRGC hadir dengan pentungan dan gas air mata.
Mereka bukan hanya tentara, tapi juga polisi moral dan benteng terakhir sistem. Di mata rakyat, IRGC bisa menjadi pelindung atau penindas, tergantung dari sisi mana mereka dilihat.
IRGC, dalam banyak hal adalah enigma. Barat menyebut mereka teroris, tapi di banyak negara Syiah, mereka dianggap penyelamat. Amerika Serikat secara resmi menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris asing pada 2019.
Sanksi pun dijatuhkan, aset dibekukan, dan jaringan keuangan mereka dikepung. Namun alih-alih runtuh, IRGC justru beradaptasi.
Mereka membentuk jaringan aliansi informal, memperkuat hubungan dengan Rusia dan Tiongkok, serta menciptakan sistem mandiri yang kebal terhadap tekanan luar. Di Selat Hormuz, mereka masih menantang kapal asing dan memproyeksikan kekuatan dengan percaya diri.
Dengan jaringan proksi dari Hizbullah di Lebanon, milisi Hashd al-Shaabi di Irak, hingga Houthi di Yaman, IRGC menjelma menjadi kekuatan transnasional.
Mereka memainkan perang tanpa bendera, diplomasi tanpa perundingan, dan pengaruh tanpa pengakuan resmi. Dunia mengutuk, tapi juga menghitung ulang karena dalam setiap konflik Timur Tengah, selalu ada bayang-bayang IRGC.
Lebih dari empat dekade setelah revolusi, IRGC tetap berdiri tegak, bahkan semakin kuat. Mereka tak hanya bertahan dari tekanan luar, tapi juga dari perubahan internal. Ketika para reformis mencoba membuka jendela demokrasi, IRGC-lah yang menjaga pintunya tetap tertutup rapat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/13/d6818c60-cedd-4453-8d5f-1ef760275127_jpg.jpg)
Namun, kekuasaan sebesar itu tidak datang tanpa beban. Banyak warga Iran, terutama generasi muda, melihat IRGC sebagai lambang kekakuan, kekerasan, dan masa lalu yang mengekang. Mereka menuntut reformasi, transparansi, dan kebebasan yang selama ini dibatasi atas nama stabilitas.
Dalam koridor rahasia IRGC, desas-desus menggema terkait adanya agen rahasia AS dan Israel berhasil menembus lapisan intelijen Iran selama bertahun-tahun.
Merujuk pengumuman resmi Februari 2025, komandan IRGC di Mazandaran mengatakan, mereka telah menangkap dan membongkar sel mata-mata yang aktif menyusup ke militer dan fasilitas sensitif IRGC.
Di satu sisi, isu ini memicu gelombang aksi “bersih-bersih” internal, penahanan pejabat internal, dan turut menimbulkan paranoia mendalam soal loyalitas dalam tubuh militer Iran.
Di sisi lain, isu ini bisa jadi alat propaganda belaka untuk memperkuat narasi bahwa IRGC selalu dibayangi ancaman asing.
Apalagi, konflik Israel–Iran bukan lagi sekadar adu strategi antarnegara, tapi panggung bagi IRGC menunjukkan kekuatan simbolisnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/13/c0f046c1248a3dccc0550a1d3fe7855d-000_627M48Z.jpg)
Di balik layar, IRGC menyusun gerakan seperti maestro orkestra dalam simfoni perang yang tak pernah selesai: menggiring proksi, mengatur tempo, dan menentukan kapan nada tinggi dibunyikan.
Dari langit Gaza hingga dataran tinggi Golan, jejak tangan mereka tampak dalam serangan rudal, latihan milisi, dan diplomasi bayangan yang mengguncang peta geopolitik.
Bagi IRGC, ini bukan sekadar respons, tapi kelanjutan dari satu narasi besar tentang perlawanan yang diwariskan sejak 1979.
Selain produk sejarah, IRGC juga aktor masa depan. Selama Iran masih memegang erat revolusinya, IRGC akan tetap menjadi bayang-bayang yang menyertainya.
Dari dalam kabut konflik, IRGC terus bergerak, tidak selalu terlihat, tapi selalu ada. Mereka menentukan arah sejarah dengan cara yang hanya mereka pahami. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Yohanes Mega HendartoEditor:
Yohan WahyuPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari