Sesar Sagaing merupakan pertemuan Lempeng India dan Lempeng Sunda. Sesar itu memanjang dari utara ke selatan, membelah Myanmar tepat di bagian tengah.
28 Mar 2025 20:19 WIB · Internasional
Gempa dahsyat bermagnitudo 7,7 mengguncang Myanmar dan Thailand, Jumat (28/3/2025) siang, sekitar pukul 12.50 waktu setempat. Gempa tak kalah kuat dengan magnitudo 6,4 menyusul beberapa waktu setelah gempa pertama. Guncangan kedua gempa tersebut dirasakan hingga China, Kamboja, Bangladesh, dan India.
Laman Indiatoday.in menyebutkan, episentrum gempa berada di kedalaman 10 kilometer, sekitar 16 kilometer barat laut kota Sagaing, Myanmar. Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengatakan, gempa tersebut merupakan gempa dangkal.
Gempa tersebut menjadi catatan terbaru aktivitas seismik di sepanjang Sesar Sagaing. Sesar tersebut memanjang dari utara ke selatan dan tepat berada di tengah Myanmar. Kondisi tersebut menyebabkan Myanmar menjadi ”akrab” dengan gempa bumi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/28/32f060b6-9ed9-4f1e-9f7c-c11d5f08f370_png.png)
USGS mencatat, antara tahun 1930 dan 1956 terjadi enam gempa bermagnitudo 7,0 atau lebih di dekat Sesar Sagaing. Pada tahun 2016, terjadi pula gempa bermagnitudo 6,8 mengguncang Bagan, sebuah kota kuno di Myanmar. Kota itu berada di barat daya Sagaing, sekitar 174 kilometer jauhnya.
Sesar Sagaing, merujuk laman sciencedirect.com, adalah struktur tektonik utama antara Lempeng India dan Lempeng Sunda. Sesar tersebut membentang sepanjang 1.200 kilometer dari utara ke selatan dan tepat memotong bagian tengah Myanmar. Banyak perkotaan di Myanmar terletak di sepanjang patahan tersebut.
Negeri itu, terletak di wilayah tektonik aktif dari lempeng India dan Sunda yang turut membentuk lempeng mikro Burma, serta Lempeng Eurasia. Dalam sebuah kajian berbasis sistem pemosisian global pada tahun 2011 hingga 2014 diketahui, sisi timur Sesar Sagaing bergerak ke tenggara dengan kecepatan rata-rata sekitar 32-40 milimeter per tahun. Kembali merujuk sciencedirect.com, sisi barat sesar bergerak ke timur laut dengan kecepatan berkisar 31-35 milimeter per tahun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/28/fbe90897-3e26-4b3a-b1e2-896a828266b2_jpg.jpg)
Sejumlah ahli menduga pergerakan lempeng-lempeng itu menjadi penyebab gempa di Sagaing, sebagaimana gempa-gempa sebelumnya di Myanmar. Kepada sciencemediacentre.org, peneliti pada British Geological Survey, Roger Musson, mengatakan, gempa serupa terjadi pada tahun 1956. ”Penyebab utama gempa itu adalah pergerakan Lempeng India ke utara, yang menghasilkan efek sobek di sepanjang patahan vertikal yang berarah utara-selatan,” kata Musson.
Menyusul kerusakan dan situasi buruk yang dipicu gempa tersebut, junta militer Myanmar mengumumkan keadaan darurat di enam wilayah. Keenam wilayah itu adalah Sagaing, Mandalay, Magway, Negara Bagian Shan, Naypyidaw, dan Bago.
Selain itu, junta juga mengajukan dukungan bantuan kemanusiaan dari komunitas internasional. ”Kami ingin masyarakat internasional memberikan bantuan kemanusiaan sesegera mungkin,” kata Zaw Min Tun, juru bicara junta militer Myanmar.
Sejauh ini jumlah korban jiwa belum diketahui. Kantor Berita AFP melaporkan, pemimpin junta militer Myanmar, Min Aung Hlaing, menyempatkan diri menjenguk korban luka-luka yang dirawat di sebuah rumah sakti di Naypyidaw.
Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra juga mengumumkan keadaan darurat untuk wilayah Bangkok.
Dari New Delhi dikabarkan, Perdana Menteri India Narendra Modi menyatakan siap membantu. Ia telah memerintahkan jajaran terkait untuk bersiaga dan segera membantu bila dibutuhkan.
Penulis:
Bonifasius Josie Susilo HEditor:
Kris Mada, Bonifasius Josie Susilo H