Mengenal Sindrom Asperger yang Dimiliki Bill Gates

Tingkatnya berbeda-beda di setiap orang yang memiliki. Kesamaannya ialah perhatian dan energi yang fokus untuk satu hal secara spesifik.

03 Mei 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

Phoebe Gates, putri dari pendiri Microsoft sekaligus filantropis Bill Gates, baru-baru ini mengungkapkan bahwa ayahnya adalah orang dengan sindrom Asperger. Sindrom ini merupakan bagian dari gangguan spektrum autisme atau GSA. Gejalanya beragam di setiap orang, tetapi salah satu yang awam adalah kecanggungan di dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Phoebe (22) menceritakan hal itu di dalam acara siniar ”Call Her Daddy” bersama penyiar Alex Cooper pada Rabu (30/4/2025). ”Aduh, tiap kali membawa pacar atau teman ke rumah, saya rasanya mau mati, deh, karena malu,” katanya.

Hal itu karena Gates (69) tidak bisa berbasa-basi. Setiap kali anak-anaknya membawa teman ke rumah, ia berusaha berbicara dengan mereka. Akan tetapi, gayanya kaku dan tema pembicaraannya kerap enggak nyambung dengan anak muda. Walhasil, yang terjadi adalah suasana canggung.

Bahkan, menurut Phoebe, beberapa temannya sampai takut datang lagi ke rumah mereka. ”Ayah punya (sindrom) Asperger, makanya payah kalau diajak mengobrol santai,” tutur Phoebe.

Pengakuan Gates

Sebenarnya, di dalam buku biografi Source Code yang terbit pada Februari 2025, Gates mengatakan ia menduga dirinya memiliki GSA. Ia tidak pernah secara formal diperiksa oleh tenaga kesehatan ataupun psikolog terkait hal tersebut. Akan tetapi, ia meyakini memilikinya.

”Mungkin kalau zaman saya masih kecil diagnosis sudah semaju sekarang, saya tergolong anak dengan neurodivergen,” tulisnya. Ia mengatakan, kemungkinan ahli kejiwaan dan ahli saraf akan mengategorikan dia orang dengan GSA.

Gates di dalam bukunya menuturkan, pada 1950-an dan 1960-an masyarakat belum bisa menerima konsep bahwa ada sebagian orang yang kinerja otaknya berbeda dengan orang kebanyakan. Kedua orangtuanya tidak bisa memahami putra mereka susah berteman ataupun berkomunikasi secara sosial.

Alih-alih pergi nongkrong dengan teman sekelas, Gates muda malah sibuk berkutat dengan berbagai proyek. Banyak dari proyek itu menyedot perhatiannya secara menyeluruh. Padahal, bagi orang lain, proyek itu remeh, aneh, ataupun tidak berarti.

<p>Infografik Kompas.id Resensi buku Bill Gates: How to Avoid Climate Disaster</p>

”Sejak kecil saya tahu bahwa otak saya bekerja dengan cara yang berbeda dari anak-anak lain. Orang lain kebingungan menghadapi saya,” katanya kepada Axios.

Gates mengungkapkan, 25 tahun lalu ada salah seorang teman yang menanyakan jika ia memiliki GSA. Teman ini mengamati pola Gates berbicara dan beraktivitas. Gates ketika itu juga kebingungan menanggapi pertanyaan tersebut.

”Saya berpikir ’spektrum itu apa?’. Masa iya seorang pemimpin perusahaan bisa memiliki GSA? Baru kemudian sama belajar soal itu dan menyimpulkan jangan-jangan saya memang ada GSA,” tuturnya.

Sindrom Asperger

Sindrom Asperger adalah salah satu bagian dari GSA. Tingkatnya, layaknya GSA, bervariasi di setiap orang. Pada orang dengan sindrom Asperger ringan, ia lancar berkomunikasi dan bersosialisasi. Bahkan, menurut makalah Mandy Roy dan kawan-kawan yang terbit di jurnal Deutches Arzteblatt International edisi 30 Januari 2009, orang dengan sindrom Asperger kerap memiliki kekayaan kosakata di atas rata-rata.

Namun, cara berkomunikasinya oleh masyarakat awam dianggap agak atau sangat berbeda. Hal ini karena orang dengan sindrom Asperger kerap tidak bisa membaca situasi sosial, misalnya tampilan emosional seseorang, gestur, dan ekspresi wajah. Ini yang membuat percakapan bisa menjurus ke situasi yang canggung.

<p>Nominees for the 92nd Annual Academy Awards (Oscars) &#8211; ceremony to be held Sunday, February 9th, 2020 &#8211; Anthony Hopkins nominated for Best Actor In A Supporting Role for &#8220;The Two Popes&#8221;. &#8211; File Photo by: zz/RE/Westcom/STAR MAX/IPx 2011 1/26/11 Anthony Hopkins at the premiere of &#8220;The Rite&#8221;. (Hollywood, CA)</p>

Gejala lain yang dinilai umum ialah ketertarikan orang dengan sindrom Asperger pada hal-hal tertentu. Ketertarikan ini tidak sekadar hobi, tetapi benar-benar mencurahkan perhatian dan energinya ke hal tersebut dalam jangka waktu lama. Mereka juga memiliki ritual, yaitu kebiasaan sehari-hari yang harus dilakukan secara spesifik.

”Kemampuan orang dengan sindrom Asperger untuk berkonsentrasi membuat mereka memiliki potensi selalu mencari jalan keluar untuk permasalahan,” tulis keterangan di Healthline.

Menurut Pusat Informasi Bioteknologi Nasional AS, gejala sindrom Asperger kentara di usia anak-anak. Seringnya, di kategori orang dewasa gejala ini kurang terlihat, kecuali dengan pengamatan mendalam. Itu pun harus melalui pemeriksaan para ahli dengan melihat latar belakang kesehatan dan pengalaman tumbuh kembang.

Selain Gates, orang-orang terkenal dengan sindrom Asperger adalah aktor Anthony Hopkins. Ia mengungkapkannya pada 2017 dan mengatakan bahwa ia didiagnosis saat sudah lanjut usia. ”Mungkin ini pula yang membuat saya harus total dalam menyelami setiap peran,” ujarnya.

Aktris Daryl Hannah kepada majalah Women’s Weekly mengatakan, sindrom Asperger yang dimilikinya membuat ia fokus berkarya. Akan tetapi, ia selalu menghindari acara pemutaran perdana film ataupun perayaan pemberian penghargaan di dunia perfilman.

Aktivis lingkungan dari Swedia Greta Thunberg berbicara pada aksi “Youth Strike 4 Climate”, pada Jumat (6/3/2020) di Brusel, Belgia.

”Saya tidak pernah tahu cara mengobrol dengan orang lain di luar soal pekerjaan atau hal-hal yang saya minati,” katanya.

Pegiat lingkungan Greta Thunberg juga didiagnosis memiliki sindrom Asperger sejak usia dini. Ini yang membuat dia fokus memperjuangkan mitigasi krisis iklim. Salah satu hal yang mengagetkan dunia adalah pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi Iklim di New York, Amerika Serikat, pada 2019.

Thunberg ketika itu berumur 16 tahun berani mengkritik langsung para pemimpin dunia. ”How dare you (berani sekali Anda) berpura-pura isu iklim bisa diselesaikan tanpa upaya lebih…. Kalian masih belum cukup dewasa untuk mengakui krisis ini,” ucapnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra