Mengenang Laga Terakhir Indonesia Versus Jepang di GBK

Indonesia belum pernah kebobolan pada dua laga menjamu Jepang di Jakarta. Kali terakhir, ”Garuda” menahan Jepang di pra-Piala Dunia 1990. Bagaimana duel berlangsung?

14 Nov 2024 08:00 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Dalam 16 kali duel Indonesia jumpa Jepang sejak 2 Mei 1954, tim ”Samurai Biru” baru dua kali datang ke Jakarta untuk menjalani pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, dulu Stadion Utama Senayan. Momen itu tercipta pada laga uji coba pada 24 Februari 1981 dan pertandingan kualifikasi Piala Dunia 1990, 28 Mei 1989.

Terdapat satu benang merah dalam dua pertandingan itu. Tim ”Garuda” mampu menjaga gawang nirbobol.

Indonesia menang 2-0 pada 24 Februari 1981. Gol dari Bambang Nurdiansyah dan Berty Tutuarima menyumbang kemenangan terakhir Indonesia atas Jepang hingga saat ini.

Kemudian, perjumpaan perdana di ajang kualifikasi Piala Dunia ditutup imbang tanpa gol. Pada akhirnya, Indonesia dan Jepang gagal melaju ke babak selanjutnya karena gagal bersaing dengan Korea Utara.

Merujuk arsip pemberitaan Kompas, Jepang tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (25/5/1989). Itu artinya mereka hanya menjalani latihan selama dua hari sebelum menghadapi Indonesia. Durasi persiapan itu lebih singkat dibandingkan skuad Jepang di kualifikasi Piala Dunia 2026 yang berlatih empat hari di Jakarta jelang pertandingan.

Dengan wajah berseri-seri, tim Jepang yang membawa 22 pemainnya hari Kamis (25/5/1989) tiba di Bandara Soekarno Hatta. Tim Jepang itu dijadwalkan akan menghadapi tim PSSI, Ahad (28/5/1989) lusa.

Tim Samurai Biru ketika itu dipimpin oleh Manajer merangkap Pelatih Kenzo Yokoyama membawa 22 pemain yang bermain di kompetisi domestik.

Kala itu, Yokoyama memuji kemampuan Indonesia yang mampu menahan seri Korea Utara di Gelora Bung Karno (GBK), 21 Mei 1989. Di luar faktor kekuatan Indonesia, tim Jepang membutuhkan waktu beradaptasi untuk iklimatisasi suhu di Jakarta yang panas.

”Hasil seri saja sudah cukup memuaskan bagi kami,” ujar Yokoyama dikutip dari artikel Kompas berjudul ”Jepang Tidak Berani Sesumbar” edisi Jumat, 26 Mei 1989.

Regu Jepang pada pertandingan Grup VI pra-Piala Dunia 1990 melawan Indonesia, Minggu (28/5/1989) di Stadion Utama Senayan, Jakarta.

Selain pemain dan staf pelatih, Jepang membawa seorang berwajah asing ke Jakarta. Ia adalah Direktur Teknis asal Jerman Barat, Dietmar Kramer, yang tiba pada hari pertandingan.

Tidak boleh lengah

Ketika Jepang datang dengan hanya mengusung target membawa pulang satu poin, kubu Indonesia optimistis bisa meraih kemenangan. Pelatih Indonesia di pra-Piala Dunia 1990, M Basri, mengatakan, hasil imbang melawan Korut membuat kepercayaan diri pemain meninggi jelang menghadapi Jepang.

”Dalam pertandingan (melawan Jepang), kita tinggal menunggu bagaimana para pemain menerapkan dan mengimprovisasikan semua teknik yang sudah diberikan. Sementara kami sendiri tinggal membantu mendoakan di pinggir lapangan,” ujar Basri berdasarkan berita Kompas bertajuk ”Indonesia Bersikap Optimis dalam Menghadapi Jepang”, 27 Mei 1989.

Quote

Hasil seri saja sudah cukup memuaskan bagi kami.

Basri pun tidak menggubris pernyataan Yokoyama yang hanya menargetkan imbang. Kata Basri, pernyataan itu bukan berarti tim Jepang akan tampil setengah hati di Jakarta.

”Kita tidak boleh lengah. Karena kalau memang ada kesempatan, bukan tidak mungkin mereka akan memukul kita,” ujarnya.

Pada sesi latihan resmi sebelum pertandingan, Indonesia berlatih di Stadion Utama GBK. Adapun Jepang menjalani latihan pamungkas di Stadion Menteng, Jakarta Pusat, yang sudah tinggal kenangan.

Regu Indonesia pada pertandingan Grup VI pra-Piala Dunia 1990 melawan Jepang, Minggu (28/5/1989) di Stadion Utama Senayan, Jakarta. *** Local Caption ***

Tempat latihan berbeda pun dijalani saat ini. Skuad Garuda mempersiapkan diri di Stadion Madya Gelora Bung Karno, sedangkan Jepang yang serupa dengan Australia, September lalu, menjalani latihan di Lapangan A Kompleks Gelora Bung Karno. Kedua tim akan melaksanakan latihan ofisial di Stadion Utama GBK, Kamis (14/11/2024) petang.

Penyelesaian akhir buruk

Tampil di hadapan sekitar 80.000 pendukung di Stadion Utama GBK, Indonesia tampil menggebrak sejak awal pertandingan. Namun, buruknya penyelesaian akhir menyebabkan Ricky Yakob dan kawan-kawan gagal mengemas kemenangan di laga kedua Grup VI pra-Piala Dunia 1990 itu.

Dalam lima menit awal pertandingan, Indonesia sudah mengkreasikan tiga peluang di sepertiga akhir pertahanan tim tamu. Laga baru berjalan dua menit, Rully Nere sudah menciptakan ancaman dari sisi kanan pertahanan Jepang, tetapi umpan silangnya gagal dimanfaatkan oleh Ricky.

Susunan 11 pemain utama Indonesia saat menghadapi Jepang pada pertandingan Grup VI pra-Piala Dunia 1990, Minggu (28/5/1989) di Stadion Utama Senayan, Jakarta.

Ujian pertama bagi kiper Jepang, Shigetatsu Matsunaga, tercipta pada menit ketiga. Eksekusi tendangan bebas Indonesia yang diambil Hamdani Lubis bisa ditepis Matsunaga yang berbuah sepak pojok pertama di pertandingan itu. Pada menit keempat, Matsunaga mampu menangkap sundulan Rocky di muka gawang Jepang.

Peluang besar alias emas pertama Indonesia hadir pada menit ke-26. Rully mendapat kesempatan dengan tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Matsunaga, tetapi sepakannya masih bisa dihalau kiper Jepang. Second ball alias bola muntah gagal pula didapatkan Mustaqim yang sejatinya berpeluang menggetarkan jala gawang Jepang yang sudah kosong.

Setelah turun minum, pertandingan berjalan melambat. Indonesia gagal membongkar permainan bertahan Jepang, sedangkan Jepang mencoba keberuntungan dengan serangan yang mengandalkan umpan langsung ke zona pertahanan Indonesia.

Ujung tombak Indonesia, Ricky Yakob (kiri), hanya terpaku menyaksikan gulirnya bola setelah ia diapit dua pemain Jepang. Indonesia bermain imbang, 0-0, ketika menghadapi kesebelasan dari ”Negeri Sakura” pada laga Grup VI pra-Piala Dunia 1990, Minggu (28/5/1989), di Stadion Utama Senayan, Jakarta.
Aksi pemain Indonesia keluar dari kawalan pemain Jepang pada pertandingan Grup VI pra-Piala Dunia 1990, Minggu (28/5/1989) di Stadion Utama Senayan, Jakarta. Indonesia harus puas hasil seri.
Gelandang Indonesia, Rully Nere, menjaga bola dari gangguan pemain Jepang pada pertandingan Grup VI pra-Piala Dunia 1990, Minggu (28/5/1989) di Stadion Utama Senayan, Jakarta.
Penyerang sayap Indonesia, Mustaqim, melepaskan sepakan voli pada laga Grup VI pra-Piala Dunia 1990 melawan Jepang, Minggu (28/5/1989) di Stadion Utama Senayan, Jakarta.
Aksi pemain Indonesia keluar dari kawalan pemain Jepang pada pertandingan Grup VI pra-Piala Dunia 1990, Minggu (28/5/1989) di Stadion Utama Senayan, Jakarta. Indonesia harus puas hasil seri.
Aksi kiper Jepang, Shigetatsu Matsunaga (kiri), pada pertandingan Grup VI pra-Piala Dunia 1990 melawan Indonesia, Minggu (28/5/1989) di Stadion Utama Senayan, Jakarta. Indonesia harus puas dengan hasil sama kuat 0-0.

Skuad Garuda mendapatkan peluang emas kedua memasuki menit ke-89. Umpan silang Robby Darwis yang tinggal diubah arahnya oleh Ricky melalui sundulan gagal berbuah gol. Ricky terlambat milidetik untuk menyambut umpan kunci Robby sehingga dirinya yang masuk gawang, bukan bola.

Meskipun bermain reaktif, Jepang juga membuat kiper Indonesia, Eddy Harto, harus melakukan sejumlah penyelamatan penting. Sejak menit keenam, Eddy sudah unjuk gigi dengan menepis sepakan keras pemain Jepang, Kenta Hasegawa.

Satu-satunya performa minor Eddy adalah gagal mengantisipasi dengan baik umpan silang pemain sayap Jepang, Masanao Sasaki, yang menyebabkan kemelut di kotak penalti Indonesia ketika laga berjalan satu jam. Beruntung, bek sayap, Jaya Hartono, sigap mengeblok tembakan pemain Jepang di depan gawang tim tuan rumah.

Laga yang berakhir imbang itu adalah hasil yang adil bagi kedua tim. Secara umum, Indonesia dan Jepang bermain berimbang. Itu terlihat dalam kreasi peluang.

Halaman utama "Kompas" edisi Senin, 29 Mei 1989, yang memberitakan hasil laga melawan Jepang berjudul "Lepas, Peluang Indonesia".

Indonesia dan Jepang sama-sama menghasilkan delapan tembakan, yang lima tembakan mengarah ke gawang. Selain itu, Indonesia mendapatkan 12 kali tendangan bebas berbanding 11 kali kesempatan tendangan bebas Jepang.

Indonesia hanya dua kali mendapat tendangan sudut. Jepang mengoleksi empat sepak pojok.

Perangkap offside kedua tim juga berjalan baik. Dua kali pemain Indonesia terperangkap jebakan offside bek Jepang. Adapun pemain Jepang hanya sekali terjebak offside.

Hasil pertandingan itu membuat Indonesia gagal memanfaatkan laga kandang demi meraup poin maksimal. Indonesia menutup persaingan Grup VI pra-Piala Dunia 1990 dengan koleksi lima poin dari enam laga. Tim Garuda di bawah Korut (9 poin) dan Jepang (7 poin) sehingga hanya unggul dari Hong Kong yang menutup persaingan dengan tiga poin.

Kualitas Jepang saat ini adalah yang terbaik di Asia dan ada di peringkat ke-13 ranking FIFA. Sulit bagi Indonesia untuk mengulang kemenangan pada 1981. Namun, semoga rekor tanpa kebobolan masih bisa dijaga anak asuhan Shin Tae-yong pada Jumat (15/11/2024) besok.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan