Laut yang makin panas karena perubahan iklim global memperkaya atmosfer dengan kelembaban, mendorong hujan ekstrem bahkan di bulan kemarau seperti saat ini.
08 Jul 2025 09:21 WIB · Lingkungan
Banjir melanda sejumlah wilayah di Jakarta, Bali, hingga Mataram, pada awal Juli 2025 yang biasanya memasuki kemarau dan kering. Jawaban sebagian teka-teki cuaca ini berada di lapisan stratosfer, tempat angin berembus perlahan dari timur atau barat, dalam pola yang disebut Quasi-Biennial Oscillation.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, dalam laporannya, Selasa (8/7/2025), menyebut, sebagian wilayah di Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur terendam banjir. Ada 67 wilayah rukun tetangga (RT) terendam banjir.
Banjir juga dilaporkan terjadi di wilayah Tangerang Selatan, Banten, sejak Minggu (6/7/2025). Intensitas hujan yang tinggi juga menyebabkan longsor melanda Bogor dan Lembang di Jawa Barat, hingga Tanggamus di Lampung. Di Puncak, Bogor, longsor menewaskan tiga orang.
Sebelumnya, hujan lebat dan banjir juga dilaporkan terjadi di Mataram, Lombok, dan Bali pada Minggu (6/7/2025). Dua orang dilaporkan tewas akibat terseret banjir bandang di Desa Seraya, Karangasem, Bali. Sementara itu, di Mataram, satu orang meninggal akibat banjir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/07/be2cccc980bf1c6d007a26f0c0b182b9-FAK_6815.jpg)
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, pada 5 Juli 2025 hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter (mm) per hari tercatat di wilayah Bogor; Mataram, Pulau Lombok; dan sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan, seperti Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai.
”Artinya, tidak hanya di Jawa. Ini juga terjadi di beberapa wilayah di Indonesia,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers daring, Senin (7/7/2025).
Intensitas hujan lebih dari 100 mm per hari, atau masuk kategori sangat lebat, berlanjut pada Minggu dan Senin (6-7/7/2025) di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Lima stasiun meteorologi di Bogor mencatat intensitas hujan di atas 100 mm, tertinggi di AWS IPB Bogor yang mencapai 157 mm per hari atau kategori ekstrem.
Menurut analisis BMKG, hujan lebat hingga sangat lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah dalam sepekan ke depan. Beberapa wilayah berpotensi dilanda hujan lebat, antara lain Jawa bagian barat dan tengah, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/08/6b5a13363749a536597a2e22380e1432-curah_hujan.png)
Beberapa daerah lain yang juga berpotensi dilanda hujan lebat ialah Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan wilayah sekitarnya, Nusa Tenggara Barat, termasuk Mataram, Maluku bagian tengah, dan Papua bagian tengah dan utara.
Bencana hidrometeorologi basah yang terjadi pada bulan Juli relatif langka, apalagi saat ini tidak ada indikasi terjadinya La Nina, yang biasa menyebabkan kemarau lebih basah di wilayah Indonesia. Siklus El Nino Souther Oscillation (ENSO) dilaporkan dalam kondisi netral.
Menurut Dwikorita, hujan lebat hingga ekstrem kali ini disebabkan oleh beberapa faktor atmosfer, seperti lemahnya monsun Australia dan hangatnya suhu muka laut yang menyebabkan kelembaban udara tinggi, terutama di wilayah selatan Indonesia.
Selain itu, kondisi ini disebabkan gelombang Kelvin yang aktif melintas di pesisir utara Jawa dan Laut Jawa disertai pelambatan dan belokan angin di Jawa bagian barat dan selatan yang memicu penumpukan massa udara. Kemudian, labilitas atmosfer lokal juga terpantau kuat dan mempercepat pertumbuhan awan-awan hujan di wilayah tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/07/d247f7ce9f060cdce623a45ac486c618-IMG_20250707_213827.jpg)
Penjelasan ini masih menyimpan banyak tanda tanya. Mengapa angin monsun Australia pada bulan Juli ini melemah? Padahal, selama ini angin musiman ini bertiup dari arah tenggara atau timur-tenggara menuju Indonesia setiap Mei hingga September, dengan puncaknya Juli–Agustus.
Angin dari gurun dan daratan Australia yang memasuki musim dingin ini biasanya sangat kering karena tidak membawa uap air. Hal ini menyebabkan pada bulan Juli biasanya terjadi puncak kemarau di Indonesia, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa.
Peneliti iklim BMKG Siswanto mengatakan, ada pemicu lain yang menyebabkan gejolak cuaca saat ini, yaitu Quasi-Biennial Oscillation (QBO). Fenomena ini mungkin terdengar asing bagi awam, tetapi menurut Siswanto sudah banyak dipelajari.
”Berdasarkan kajian kami, QBO saat ini memodulasi musim kemarau. Hal ini mengakibatkan (intensitas hujan) bersifat di atas normal tahun ini,” ungkapnya menambahkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/07/dd1c3e647e76b7842a7e1a2bc335b421-IMG_20250707_221843.jpg)
Fenomena QBO merupakan pola angin yang berubah arah setiap dua tahunan, lebih tepatnya 22-30 bulan. Angin ini berembus dari timur dan barat secara bergantian, dan terjadi di stratosfer bagian bawah, sekitar 16 sampai 30 kilometer di atas garis khatulistiwa.
Meski berlangsung jauh di atas permukaan bumi, QBO memiliki pengaruh nyata pada iklim dan cuaca di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Pergerakan QBO ini bisa memengaruhi bagaimana awan terbentuk, hujan terjadi, dan bahkan interaksi dengan angin monsun dan sistem cuaca besar seperti El Nino dan La Nina.
Jika terjadi fase QBO easterly (QBO timuran), hal itu akan memicu konveksi atmosfer yang lebih intens. Sebaliknya, QBO westerly (QBO baratan) cenderung menekan konveksi sehingga peluang hujan ekstrem menurun hingga 70 persen.
Menurut data dari BMKG dan pengamatan satelit klimatologi, Indonesia saat ini sedang mengalami fase QBO timuran. Laporan NASA terbaru juga mengonfirmasi saat ini terjadi QBO timuran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/07/09af4deb-d4c4-4798-bca7-75ad6bfcbfc9_png.png)
”Saat QBO timuran, aktivitas MJO cenderung lebih kuat dan lebih sering terjadi sehingga meningkatkan peluang hujan bahkan pada musim kemarau. Ini yang kami duga sedang terjadi saat ini,” kata Siswanto.
Pendinginan di stratosfer bawah selama QBO easterly menyebabkan ketidakstabilan vertikal lebih besar di atmosfer, memudahkan awan konvektif tumbuh ke atas, apalagi jika didampingi oleh kelembaban tinggi dan suhu laut yang hangat di Samudra Pasifik dan Hindia.
Saat QBO timuran, aktivitas MJO cenderung lebih kuat dan lebih sering terjadi sehingga meningkatkan peluang hujan bahkan pada musim kemarau. Ini yang kami duga sedang terjadi saat ini.
Kombinasi ini membuat atmosfer menjadi ”siap meledak”, dan ketika muncul gangguan seperti gelombang Madden-Julian Oscillation (MJO) atau gelombang Rossby tropis, hujan bisa turun deras selama berhari-hari.
Dengan demikian, QBO timuran, saat berinteraksi dengan fase basah MJO, dapat menggandakan curah hujan ekstrem dibandingkan dengan kondisi netral. Inilah yang memperparah curah hujan ekstrem di Jabodetabek dan beberapa wilayah lain di selatan khatulistiwa, yang semestinya kemarau.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/07/f742a587-72fe-4730-bc6f-fe3c32fe8461_png.png)
Jadi, QBO hanya salah satu ”jam iklim” dunia. Meskipun ia tak selalu jadi penyebab tunggal bencana hidrometeorologi, QBO sering menjadi pemicu atau penguat sistem cuaca yang ada. Fenomena QBO menunjukkan bahwa apa yang terjadi puluhan kilometer di atas kita bisa berdampak langsung ke jalan-jalan yang tergenang di bawah sana.
Namun, QBO juga bukan satu-satunya penentu musim, sebagaimana monsun Australia dan MJO. Dalam konteks perubahan iklim global, pola atmosfer dan laut menjadi semakin kompleks dan tak menentu.
Laut yang makin panas karena perubahan iklim global memperkaya atmosfer dengan kelembaban, mendorong hujan ekstrem bahkan pada bulan kemarau seperti saat ini. Fenomena yang dulu bisa diandalkan untuk memprediksi cuaca musiman kini tak lagi bekerja secara konsisten.
Pelajaran penting lain, dalam dunia yang makin dipengaruhi perubahan iklim, tak cukup hanya memperbaiki gorong-gorong. Kita juga perlu membaca laut dan langit, karena jawaban dari banyak masalah bumi, sesungguhnya, dimulai dari sana.
Hal yang pasti, akumulasi emisi gas rumah kaca di laut dan langit, karena ulah manusia membakar bahan bakar fosil, adalah bibit dari pemanasan global yang membuat cuaca dan musim menjadi tak menentu.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji