Mengulik Cerita di Balik Legenda Sinterklas

Sinterklas menjadi figur yang mengalami pergeseran makna seiring dengan bergeraknya zaman.

25 Des 2024 06:00 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Rangga Eka Sakti

Di berbagai belahan dunia, perayaan Natal identik dengan legenda Sinterklas. Sosok yang diceritakan gemar memberi hadiah kepada anak-anak yang berlaku baik ini ternyata memiliki sejarah yang panjang.

Dari sosok historis hingga dorongan kapitalisme, figur ini mengalami pergeseran makna seiring dengan bergeraknya zaman.

Sinterklas, dikenal juga dengan sebutan Santa Claus atau Sinterklaas, merupakan tokoh fiktif yang kerap dikaitkan dengan perayaan Natal.

Di berbagai belahan dunia, badut hingga patung sosok gembul dengan pakaian serba merah ini menghiasi berbagai pusat perbelanjaan menjadi pertanda Natal telah tiba.

Namun, tidak ada rekam jejak sejarah mana pun yang bisa membuktikan keaslian sosok ini. Justru sosok Sinterklas ini merupakan pengejawantahan dari sosok historis Santo Nicholas, seorang agamawan yang berasal dari Myra, Turki, di pengujung abad ke-3 Masehi.

Dikisahkan, sosok suci ini melakukan pelesir sembari memberikan bantuan terhadap kaum papa yang ditemui di perjalanannya.

Terlahir dari keluarga yang kaya, alih-alih berfoya-foya, Santo Nicholas memilih jalur filantropis. Untuk menghargai jasanya, Paus Eugene IV pun melakukan kanonisasi terhadap sosok Santo Nicholas pada pertengahan abad ke-15 Masehi.

Petugas berpakaian Sinterklas menyapa pengunjung pusat perbelanjaan di kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (22/12/2024). Pelaku usaha terus berupaya meningkatkan belanja masyarakat pada momen Natal dan Tahun Baru di tengah kondisi jelang kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen pada 1 Januari 2025 mendatang.

Sifat sederhana dan dorongan untuk berbagi kepada yang membutuhkan ini menjadi semangat yang ditularkan melalui kehadiran sosok Santo Nicholas dalam bentuk Sinterklas di setiap perayaan Natal hingga saat ini.

Tersebarnya kisah tentang Santo Nicholas ini tidak lepas dari gelombang imperialisme. Pada abad ke-16, para pedagang dan perantau dari Eropa, utamanya Belanda, menjelajah bagian dunia yang sebelumnya tak terjamah.

Bersama dengan kapal dan senjata, terbawa pula kisah Santo Nicholas sebagai produk kebudayaan ke daerah-daerah koloni mereka.

Hal ini terlihat dari munculnya catatan terkait dengan perayaan hari kematian Santo Nicholas di New York pada abad ke-17 Masehi, yang ditulis oleh Washington Irving alias Knickerbocker dalam karyanya History of New York.

Tidak heran, nama Santo Nicholas yang dalam bahasa Belanda Sint Nikolaas pun berevolusi menjadi Sinterklaas yang kemudian berubah dalam bahasa Inggris menjadi Santa Claus.

Perubahan makna

Di satu sisi, semangat kesederhanaan dan dorongan untuk berbagi kepada yang membutuhkan ini menjadi inti dari hadirnya Sinterklas di perayaan Natal. Namun, di sisi lain, kemunculan figur Sinterklas ini sempat menimbulkan kontroversi.

Salah satu kontroversi yang muncul dari legenda Sinterklas ini ialah tokoh ”Pit Hitam” yang menjadi pembantu Sinterklas.

Dalam kisahnya, Pit menjadi asisten Sinterklas untuk membagikan permen dan hadiah kepada anak yang berbudi baik. Persoalannya, Pit digambarkan sebagai anak kecil yang memakai baju ala Eropa tetapi berkulit hitam.

Pengunjung mengamati hiasan Natal yang dijual di pusat perbelanjaan ITC Mangga Dua, Jakarta Utara, Senin (2/12/2024). Menjelang Hari Raya Natal, pernik-pernik mulai dicari untuk menghiasi rumah-rumah dan tempat ibadah. Sejak pertengahan November, penjualan berbagai macam dekorasi natal mulai mengalami peningkatan penjualan. Dagangan dekorasi Natal ini dijual musiman menjelang Natal dan Tahun Baru. Pada hari biasa, para pedagang ini menjual baju, sepatu dan tas. Momentum Natal dan Tahun Baru mendatangkan rezeki yang dapat meningkatkan omzet penjualan. Pedagang mengaku bersyukur penjualan masih bergairah d tengah minimnya daya beli masyarakat. Beragam dekorasi yang dicari mulai dari pohon Natal, patung, boneka, lilin, lampu, pernik hiasan pohon Natal hingga topi sinterklas dijual dengan harga bervariasi mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Peningkatan jumlah pembeli tidak hanya terjadi pada penjualan langsung, melainkan juga penjualan daring ke pembeli di kawasan Jabodetabek. Beberapa pembeli yang berburu pernik Natal telah menjadi pelanggan yang secara rutin berbelanja ke toko-toko tersebut setiap tahun. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Tak ayal, tidak sedikit yang kemudian mengaitkan kisah ini dengan agenda kolonialisme dan perbudakan yang dilakukan Belanda di sepanjang abad ke-16 hingga ke-19.

Terlebih lagi, berdasarkan analisis dari Karl Meisen dalam ”Nikolaus Kult und Nikolaus Brauch im Abendlande: Eine alte geographisch-volkskundliche Untersuchung”, budak kulit hitam ini merupakan gambaran dari setan yang berhasil ditaklukkan dan harus bertuan kepada yang mengalahkannya.

Tak heran, sebagian pun memandang legenda Sinterklas sebagai peninggalan imperialis yang sarat dengan muatan rasisme. Tokoh Pit Hitam ini tidak terlalu dikenal di Indonesia. Sebagai salah satu bekas jajahan, sosok ini menjadi lekat dengan memori kolonialisme Belanda yang keji.

Kelindan kapitalisme

Selain persoalan rasisme, kehadiran sosok Sinterklas di tiap makna ini pun bergeser, berkelindan dengan perkembangan dari kapitalisme.

Pada awalnya, kisah dari Santo Nicholas melalui karakter Sinterklas di kala Natal ini dikaitkan dengan semangat berbagi dan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, seiring berjalannya waktu, titik berat dari sosok Sinterklas ini menjadi soal memberi kado di hari Natal.

Sejak awal abad ke-19 Masehi, berbelanja kado natal di AS telah menjadi tradisi. Memasuki pertengahan 1800-an, iklan tentang promo Natal pun tersebar di koran-koran, lengkap dengan sosok Sinterklas di dalamnya.

Sampai saat ini, waktu Natal pun menjadi momen konsumsi yang besar di negara tersebut.

Di 2024 saja, data dari Statista menunjukkan, rata-rata keluarga di AS menghabiskan dana sekitar 1.000 dolar AS untuk berbelanja kado natal. Angka ini merupakan peningkatan jika dibandingkan dengan rerata pengeluaran untuk kado natal setahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, diprediksi angka konsumsi ritel terkait Natal bisa menyentuh angka 973 miliar dolar AS. Tidak heran, figur Sinterklas yang awalnya membawa semangat kesederhanaan justru kini lekat dengan konsumerisme.

Maka dari itu, pergeseran makna yang dihadirkan sosok Sinterklas ini menarik untuk menjadi bahan refleksi. Di tengah situasi ekonomi yang tak menentu, semangat kesederhanaan dan berbagi kepada kaum marjinal yang dibawa oleh Santo Nicholas perlu dihidupkan kembali.

Menariknya, cerminan dari semangat Santo Nicholas ini justru telah muncul dalam tradisi perayaan Natal khas masyarakat di Indonesia. Beberapa di antaranya seperti tradisi Barapen di Papua dan Marbinda di Sumatera Utara.

Di dua tradisi itu, warga yang merayakan Natal dengan menyembelih hewan untuk kemudian dibagikan dan disantap bersama-sama sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas kebahagiaan yang dirayakan di momen Natal. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Rangga Eka Sakti
 | 

Editor:

Yohan Wahyu
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan