Sebagian orang menemukan makna Ramadhan dengan berpuasa membeli pakaian baru. Mereka ingin mengurangi derita bumi yang sekarat akibat limbah tekstil.
20 Mar 2025 13:28 WIB · Ekonomi
Di Indonesia, merayakan Lebaran identik dengan membeli baju baru. Namun, ada sebagian orang yang justru memaknai Ramadhan dengan berpuasa membeli pakaian. Mereka ingin menjaga agar bumi tidak semakin menderita akibat sampah tekstil yang semakin menggunung.
Ada komunitas grup aplikasi Telegram bernama Bersalingsilang yang punya anggota lebih dari 7.000 orang. Orang-orang di grup itu punya keresahan yang sama soal konsumsi pakaian yang berlebihan. Oleh karena itu, mereka sering mengadakan kopi darat untuk menukar barang bekas yang tidak terpakai.
Pendiri Bersalingsilang, Cynthia S Lestari, mengatakan, sejak berdiri pada 2023, mereka sudah mengadakan lebih dari 20 kali acara di lima kota untuk bertukar baju bekas. Menurut dia, pakaian bekas yang saling ditukar oleh anggota grup itu jumlahnya sudah mencapai puluhan hingga ratusan ribu potong pakaian.
”Bertukar pakaian itu jadi salah satu opsi yang seru dan solutif untuk memanfaatkan pakaian yang tidak terpakai yang menumpuk di lemari,” kata Cynthia, Rabu (19/3/2025).
Industri tekstil menghasilkan sedikitnya 7 persen dari keseluruhan limbah di dunia. Fashion menjadi penyumbang polusi ketiga terbesar di dunia setelah industri energi dan industri pertanian.
Pada 2019, industri tekstil di Indonesia menghasilkan limbah 2,3 juta ton dan diperkirakan meningkat 68 persen menjadi 3,5 juta ton pada 2030. Perkiraan itu berasal dari asumsi adanya 90 juta orang Indonesia potensial menjadi konsumen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/19/3a2f078e04143b6cf353bd9e495353e8-bersalingsilang.jpg)
Kemudian, dari total 2,3 juta ton limbah tekstil yang dihasilkan, hanya sekitar 300.000 ton dapat didaur ulang dan selebihnya dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir (TPA) atau dibakar (Kompas.id, 16/4/2023).
Bersalingsilang, katanya, juga merupakan bagian dari gerakan diet belanja yang dicetuskan komunitas Lyfe With Less. Ini adalah komunitas untuk mengajak warga untuk bijak mengonsumsi barang dan hidup minimalis.
Pada 2025, Lyfe With Less mengampanyekan ”Slow Ramadhan” untuk mengajak warga belanja baju Lebaran di lemari sendiri. Lewat kegiatan itu, Cynthia mengajak orang-orang untuk lebih bijak memaknai Lebaran. Ia menyebut, jangan sampai waktu Lebaran orang-orang justru kalah melawan nafsu belanja tidak terkontrol yang menggoda untuk sedikit-sedikit membeli pakaian baru, padahal lemari sudah penuh.
”Sebenarnya enggak ada, yang mewajibkan kita untuk selalu pakai baju baru di hari Lebaran. Yang ada adalah menggunakan baju yang terbaik, baju yang bersih, dan bebas dari najis,” katanya.
Sepanjang Ramadhan 2025, Bersalingsilang sudah mengadakan lima kali kegiatan bertukar pakaian bekas. Setiap kegiatan diikuti lebih dari 250 orang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/19/59e4790e7760bbbb52a9e61b1c5b0588-20250119AGS_216.jpg)
Ada lagi inisiatif lain untuk mengurangi konsumsi fashion. Misalnya, Beverly Tandjung dan Suzzane Sarah Simanjuntak yang mendirikan Studio Mulih untuk mereparasi pakaian pada 2024. Pusat kegiatan mereka ada di Kedoya, Jakarta Barat.
”Memperbaiki pakaian kadang lebih susah daripada membuat baju baru. Maka, biaya perbaikan kadang bisa menjadi lebih mahal dari harga beli baru. Akan tetapi, ada beberapa orang yang rela bayar karena mungkin ada nilai sentimental yang melekat pada bajunya,” kata Beverly atau biasa disapa Bev.
Ia menuturkan, kalau sebatas memperbaiki baju yang sobek biasanya hanya dipungut Rp 55.000. Namun, ada juga kasus reparasi pakaian yang bisa menghabiskan jutaan rupiah karena jenis bahan yang eksotis dan tingkat kerusakan yang parah.
”Kami pernah terima order (reparasi) yang sampai jutaan rupiah karena harus memperbaiki sweater yang berlubang di lebih dari 30 titik,” ucap Bev.
Pasar yang coba dibidik oleh Studio Mulih adalah warga yang menjalankan gaya hidup slow fashion atau mode lambat. Mereka biasanya memutuskan membeli pakaian didasarkan pada kebutuhan, bukan pada keinginan atau nafsu membeli.
Kesadaran tersebut muncul setelah melihat adanya adanya dampak buruk konsumsi tekstil berlebihan terhadap lingkungan. Peneliti Budaya, Media, dan Komunikasi, Idi Subandy, menyebut, slow fashion adalah perlawanan terhadap gaya hidup konsumtif atau hasrat untuk membeli pakaian baru (Kompas.id, 16/4/2024).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/22/4e21e672-d46b-4767-a22a-10ddd6c0e66f_jpeg.jpg)
Selain bisa ditukar atau direparasi, pakaian bekas juga bisa disumbangkan atau didaur ulang. Gerakan ini salah satunya dipopulerkan oleh Jagatera.id yang didirikan oleh Denny Pondiu pada 2014.
Perusahaan yang merupakan kelanjutan dari Outlet Dhuafa dan Bberes.id itu beroperasi di Depok dan Bandung, Jawa Barat; Yogyakarta; dan Surabaya, Jawa Timur.
Menurut Denny, pada 2024, Jagatera.id menerima 21,4 ton sampah tekstil. Karena Jagatera.id adalah sebuah perusahaan, setiap barang tak terpakai yang disalurkan melalui Jagatera.id ada biaya penjemputan yang diterapkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/07/21/197af438-7d0b-4ab3-b2e5-156275f55c98_jpg.jpg)
Oleh Jagatera.id, pakaian tidak terpakai tersebut kemudian dipilah sesuai dengan kebutuhan dan peruntukan barunya, apakah didonasikan kepada warga yang membutuhkan atau didaur ulang menjadi produk turunan tekstil.
”Pakaian layak pakai didonasikan kepada warga prasejahtera di seluruh wilayah Indonesia. Dalam penyalurannya, kami bekerja sama dengan aparat desa agar tepat sasaran,” ujarnya.
Pada Ramadhan 2025, Denny mengatakan, kegiatan donasi pakaian layak pakai semakin digencarkan. Pada 18-19 Maret, perusahaan telah menyalurkan 5.000 potong pakaian layak pakai kepada warga prasejahtera di sejumlah lokasi di Jawa Timur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/17/a76c18f2ace3bbf3e8e13ba42c6879ce-IMG_0316.jpeg)
Penulis:
Pandu WiyogaEditor:
Caecilia MedianaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .