Kafe-kafe ini menerapkan kesetaraan dengan menyediakan lapangan kerja untuk mereka yang berkebutuhan khusus.
23 Feb 2025 09:30 WIB · Gaya Hidup
Lebih dari sekadar ruang bersantap, sejumlah kafe juga menyuburkan empati pengunjung terhadap mereka yang berkebutuhan khusus. Lapangan kerja tercipta sekaligus membentangkan kesetaraan sehingga mereka mengenyam kesempatan yang sama.
Suasana nyaman langsung mendekap begitu pengunjung memasuki Kopi Kamu. Instrumentalia keroncong ”Jembatan Merah” gubahan Gesang yang lembut spontan membelai telinga. Saat malam, giliran lagu-lagu jazz dan temaramnya lampu yang mengajak tubuh semakin rileks.
Lampion merah yang berputar-putar di teras menambah keestetikan kafe di Jalan Wijaya I, Jakarta itu. Di dinding, terpasang tujuh karya penyandang down syndrome. Lukisan-lukisan seperti kucing, matahari, dan kuda merepresentasikan Kopi Kamu yang menaungi para pegawai dengan sindrom tersebut.
Pemilik Kopi Kamu, Rocky Joseph Pesik, tiba lalu menyapa karyawan-karyawannya dengan ramah. Ia menanyakan kabar mereka seraya bersenda gurau. ”Salam dulu, ya. Wah, siapa yang bikin minumannya? Nabila, ya?” ucapnya sambil menikmati passion raspberry, Kamis (20/2/2025).
Rocky lantas mengutarakan kafenya yang buka pada 2021 tersebut. Inisiatif merekrut penyandang down syndrome tercetus saat ia mencicipi kopi pada pertengahan tahun 2023. Warga Pondok Indah, Jakarta, itu terkejut saat menyesap racikan penyandang down syndrome yang lezat.
”Ada stan disewa orangtua yang anaknya down syndrome. Saya lihat mereka bikin kopi. Wah, keren banget. Saya sampai beli dua gelas, kembung juga,” katanya sambil tertawa. Meski sudah terlatih, para penyandang down syndrome ternyata sesekali saja berjualan kopi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/20/8c79ed7d-f5a6-4bb1-b2ca-ac1d9e2234e4_jpg.jpg)
Rocky memandang para barista muda tersebut menyimpan potensi, tetapi sangat disayangkan karena mereka tak punya lokasi permanen. Ia pun menyampaikan niat kepada orangtua untuk menawari anaknya bekerja yang disambut dengan gembira. Pelatihan berlangsung selama tiga bulan.
”Tadinya, orangtua minta diundur. Khawatir belum siap, tapi saya bilang supaya dimulai saja. Jangan takut salah. Saya meyakini tiga pembelajaran,” tuturnya. Pertama, terbuka peluang untuk penyandang down syndrome mengaktualisasikan diri.
Kopi Kamu juga menerapkan kesetaraan dengan menyediakan lapangan kerja untuk mereka yang berkebutuhan khusus. Pengunjung tak ketinggalan diajak untuk berempati. Rocky sungguh bersyukur semua konsumennya sangat mendukung pegawai-pegawai dengan down syndrome.
Tadinya, orangtua minta diundur. Khawatir belum siap, tapi saya bilang supaya dimulai saja. Jangan takut salah. Saya meyakini tiga pembelajaran.
Muhammad Ikhlas Dwi Kurnia (23), misalnya, kerap dilingkupi kebanggaan lantaran pujian-pujian yang dilontarkan konsumen. ”Katanya, wah, kamu keren. Minumannya enak. Sukses terus, ya. Aku juga enggak pernah dikomplain,” ujarnya sambil tersenyum.
Karyawan yang sudah bekerja selama setahun itu pandai meramu macam-macam minuman, seperti oreo latte, fruity tea, black coffee, dan cappuccino. Ikhlas yang hobi melukis, menyanyi, dan main angklung juga piawai menghias lapisan atas kopi dengan gambar bunga atau latte art.
Kopi Kamu mengandalkan beef rice untuk makanannya. Irisan sapi gurih dimasak ala bulgogi yang diracik dengan paprika, cabai merah, buncis, jagung, dan wortel. Sepotong telur ceplok ditaruh di atas nasi dan olahan daging dituang di sekelilingnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/20/fd88e4c3-6b78-44ff-b69d-7adc163541ec_jpg.jpg)
Harga hidangan itu Rp 39.000 per porsi. Sementara, kopi gula aren seharga 35.000 per gelas paling sering dipesan konsumen. Hidangan favorit lain seperti rawon, broti jadoel bakar, dan Korean strawberry milik. Kopi Kamu yang buka pada pukul 08.00-22.00 mempekerjakan total sebanyak 10 karyawan.
Pegawai dengan down syndrome berjumlah tujuh orang. Mereka bekerja setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu pada pukul 10.00-15.00 dengan pertimbangan kesehatan. Kafe tersebut bisa menampung 24 orang, tetapi kursinya bisa ditambah hingga cukup untuk 30 konsumen.
Semangat serupa juga amat kentara di Sunyi Coffee. Konsumen bisa menyebut pesanannya kepada karyawati yang menanti di belakang meja kasir. Seorang pengunjung lantas tampak sedikit terkesiap lantaran pegawai tersebut nyatanya tuli.
Ia hanya bisa sedikit mengeluarkan suara yang lebih mirip gumaman lirih. Tak ada kalimat-kalimat yang meluncur, tetapi komunikasi berlangsung tanpa kendala. Pembeli bisa mengemukakan keinginan lumrahnya di kafe biasa. Kalau toh tak bisa melisankan, pegawai tinggal menunjuk menu.
Sunyi Coffee di Jalan Barito I, Jakarta, itu tak sungguh-sungguh senyap berkat kelakar para pengunjung. Di sudut kafe tersebut, lima pengunjung terlihat mengobrol dengan serunya di sela nyanyian Chrisye, ”Anak Sekolah”, yang mengalun sayup-sayup.
Kafe yang berdiri sejak tahun 2019 itu didirikan tiga penggemar kopi. Mereka bertemu komunitas penyandang tuli yang membangkitkan kesadaran soal ketimpangan aksesibilitas untuk bekerja. Sunyi Coffee akhirnya dibuka sekaligus untuk menumbuhkan egaliterisme.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/19/4ff717df-7409-4541-bc57-8613ec0635cb_jpg.jpg)
”Kalau dikasih kesempatan, kemampuan mereka enggak kalah,” ucap Project Manager Sunyi Coffee Tamiang Jelita Tobing. Pelatihan untuk teman tuli, demikian para pegawai itu disapa, berlangsung sekitar dua minggu. Setelah bekerja, kebolehan mereka ternyata sesuai harapan.
Pegawai Sunyi Coffee berjumlah 25 orang. Semua barista dan juru masak itu tuli. Tamiang tak menampik tantangan saat membuka lowongan. ”Beberapa dari mereka punya pengalaman dan pendidikannya bagus, tapi ada juga yang lulusan SD dan SMP,” katanya.
Tamiang benar-benar selektif dengan lebih mengutamakan etos kerja calon pegawainya. Ia pun sadar tentang pemahaman masyarakat yang belum sepenuhnya sepadan. ”Pasti banyak yang masih awam, tapi kami justru ingin mengundang mereka untuk meningkatkan kesadaran,” ujarnya.
Menu favorit di kafe tersebut, yakiniku beef rice, berwadahkan mangkuk dengan nasi dihiasi topping atau taburan daging tipis dan telur orak-arik. Daging itu tercecap gurih dengan selintas manis. Telur dengan sedikit asin yang pas juga langsung lumat dalam mulut.
Pasti banyak yang masih awam, tapi kami justru ingin mengundang mereka untuk meningkatkan kesadaran.
Yakiniku beef rice bisa dinikmati dengan harga Rp 50.000. Adapun minuman paling disukai konsumen, kopi susu sunyi, dibanderol Rp 32.000. Kafe tersebut buka pada pukul 09.00-22.00 pada hari kerja. Sunyi Coffee beroperasi lebih lama pada akhir pekan atau sampai pukul 23.00.
Kevin Jonathan Tulandi (31) sudah hampir lima tahun bekerja di kafe itu hingga meraih posisi kapten atau semacam koordinator dan pengayom barista. Karyawan itu senang karena rekan-rekannya kompak dan ceria. Ia rela mengendarai sepeda motor dari rumahnya di Kotabumi, Tangerang, Banten.
”Setiap berangkat, saya nyetir selama lebih kurang 1,5 jam,” ujarnya dengan bahasa isyarat yang dipadukan dengan tulisan. Paul, demikian ia kerap disapa, rupanya cepat belajar sehingga hanya membutuhkan satu minggu untuk dilatih lalu bekerja.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/19/29d28483-0246-4d9e-98cd-21ff37996d56_jpg.jpg)
Di Kirei Cafe & Gallery, penyandang autisme, disabilitas rungu, celebral palsy, disabilitas grahita, dan penglihatan terbatas atau low vision juga diterima dengan tangan terbuka. Christina Young mendirikan kafenya di Jalan Raya Cilegon, Kepandean, Serang, Banten, pada tahun 2017.
Kirei Cafe & Gallery juga menjadi ajang edukasi dengan menempatkan bahasa isyarat. Ekspresi sederhana seperti tolong, air, halo, dan terima kasih tercantum pada penampang. ”Jumlah pegawai 19 orang. Masakan andalannya, nasi ayam bakar, seharga Rp 28.000,” tuturnya.
Penulis:
Dwi Bayu RadiusEditor:
Dwi As SetianingsihPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase