Donald Trump sudah berkali-kali mengatakan niat untuk membeli Greenland dari Denmark. Bagi AS, Greenland strategis dari segi posisi dan bisnis.
12 Jan 2025 19:00 WIB · Internasional
Amerika Serikat telah lama mengincar Greenland dari Denmark. Keinginan untuk membeli kawasan tersebut kembali dilontarkan Presiden AS terpilih Donald Trump dalam konferensi pers di Palm Beach, Florida, Selasa (7/1/2025). Sejak 2019, Trump sudah menggaungkan ide itu meskipun Greenland tidak dijual.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menolak mentah-mentah tawaran Trump. Tidak masuk akal, menurut dia.
”Kami perlu kerja sama yang sangat erat dengan AS. Di sisi lain, saya ingin mendorong semua orang untuk menghormati bahwa penduduk Greenland adalah suatu bangsa, itu adalah negara mereka, dan hanya Greenland yang dapat menentukan dan mendefinisikan masa depan Greenland,” kata Frederiksen.
Greenland adalah wilayah semiberdaulat di bawah Kerajaan Denmark dengan ibu kota Nuuk. Pada 2009, Greenland mendapat otonomi pemerintahan sendiri, termasuk hak untuk mendeklarasikan kemerdekaan dari Denmark melalui referendum.
Perekonomian Greenland bergantung pada perikanan yang menyumbang lebih dari 95 persen ekspor. Denmark membantu dengan memberi subsidi yang mencakup setengah dari anggaran publik. Secara total, Denmark menghabiskan setidaknya 1 miliar dollar AS setiap tahun atau sekitar 17.500 dollar AS untuk setiap penduduk Greenland.
Hanya saja, hubungan Denmark dan Greenland dengan 57.000 penduduk itu memburuk beberapa tahun terakhir. Pemicunya, tuduhan penganiayaan terhadap penduduk Greenland selama kolonisasi Denmark di masa lampau.
Perdana Menteri Greenland Mute Egede menyatakan, pulau itu tidak untuk dijual. Dia juga mendorong kemerdekaan Greenland.
”Masa depan kita dan perjuangan untuk kemerdekaan adalah urusan kita. Sementara orang lain, termasuk warga Denmark dan Amerika, berhak atas pendapat mereka. Kita tidak boleh terjebak dalam histeria dan membiarkan tekanan eksternal mengalihkan perhatian kita dari jalan kita,” tutur Egede.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/12/b27eb978-431e-45ae-b29b-089dc96fe09b_jpg.jpg)
Mengapa Trump sangat menginginkan Greenland? Dia bahkan tidak mengesampingkan kemungkinan untuk menggunakan kekuatan militer atau ekonomi agar Denmark menyerah.
Greenland memiliki lokasi strategis dan kaya akan sumber daya alam. Greenland terletak lebih dekat ke New York ketimbang Kopenhagen. Pulau ini berada di sepanjang rute terpendek dari Eropa ke Amerika Utara yang sangat penting bagi sistem peringatan rudal balistik AS.
Perjanjian AS-Denmark pada 1951 memberi hak bagi AS untuk membangun pangkalan militer di Greenland. AS sekarang mempunyai Pangkalan Luar Angkasa Pituffik di bagian barat laut. AS bisa menggerakkan pasukan secara besar di wilayah tersebut selama Denmark dan Greenland diberi tahu.
Menurut Kristian Soeby Kristensen, peneliti senior di Pusat Studi Militer, Copenhagen University, Denmark mengakomodasi militer AS di Greenland karena Kopenhagen tidak mampu mempertahankan pulau luas itu sendirian. AS juga memberi jaminan keamanan kepada Denmark melalui aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
AS berniat memperluas pengaruh militer dengan menempatkan radar di Greenland untuk memantau perairan di sekitar Greenland, Eslandia, dan Inggris. Perairan tersebut merupakan pintu gerbang bagi kapal angkatan laut dan kapal selam nuklir Rusia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/12/8b84f7ed-b03d-4220-b087-61c2638b9aed_jpg.jpg)
Di samping lokasi strategis untuk pertahanan, Greenland memiliki kekayaan mineral, minyak, dan gas alam. Namun, pembangunan di Greenland lambat. Pengembangan sektor pertambangan terhambat birokrasi rumit dan penolakan penduduk asli. Selain itu, Greenland melarang ekstraksi minyak dan gas alam karena alasan lingkungan.
Survei oleh Komisi Eropa tahun 2023 menemukan 25 dari 34 mineral kategori penting di Greenland, seperti grafit dan litium untuk baterai dan teknologi lainnya. Ada pula logam tanah jarang atau LTJ (rare earth elements).
LTJ adalah sekumpulan 17 unsur di alam yang terdiri atas 15 unsur dalam seri lantanida ditambah unsur itrium dan unsur skandium. LTJ terbagi menjadi kategori berat dan ringan berdasarkan berat atom.
LTJ penting bagi industri berteknologi tinggi, seperti kendaraan listrik, turbin angin, ponsel pintar, sampai sistem rudal. Sifat unik LTJ dapat meningkatkan efisiensi dan daya tahan sekaligus mengurangi ukuran dan berat komponen elektronik tertentu. Dari 17 unsur LTJ tersebut, melansir Pulitzer Center, disprosium, neodimium, praseodimium, dan terbium sedang diminati untuk teknologi transisi energi.
Bagi Uni Eropa, keberadaan Greenland penting untuk proses transisi energi. Pada 2023, UE menandatangani perjanjian pertambangan dengan Greenland untuk mengamankan pasokan bahan baku di masa depan. Greenland telah mempunyai perjanjian serupa dengan AS.
Mengutip Nasdaq.com edisi April 2024, cadangan LTJ dunia sekitar 130 juta ton metrik. China menjadi negara dengan cadangan LTJ tertinggi, yaitu 44 juta ton metrik. Negara lain yang mengikuti antara lain Vietnam (22 juta ton metrik), Brasil (21 juta ton metrik), dan Rusia (10 juta ton metrik).
Greenland berada di posisi kedelapan dengan 1,5 juta ton metrik, satu peringkat di bawah AS.
Menurut Survei Geologi AS, produksi LTJ global mencapai 350.000 ton metrik pada 2023. Jumlah ini naik dari sebelumnya sebanyak 300.000 ton metrik pada 2022.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/12/b12a88ff-869c-4946-a827-1d050cc18115_jpg.jpg)
Kebutuhan akan LTJ menimbulkan persaingan ketat antara negara-negara Barat dan China. Ilmuwan AS membantu mengembangkan ekstraksi pelarut untuk LTJ pada 1950-an, tetapi limbah radioaktif dari proses tersebut membuatnya jadi tidak populer.
Sejak 1980-an, China fokus menggeluti LTJ. Sampai sekarang, Beijing menguasai 87 persen kapasitas penyulingan LTJ secara global, menurut Badan Energi Internasional (IEA) pada 2023. Ekonomi China lantas menjungkit di posisi kedua di dunia.
CEO Tanbreez Mining Greg Barnes mengatakan, pejabat AS mengunjungi proyek di Greenland selatan dua kali tahun lalu guna melobi dan membahas opsi pendanaan untuk pengembangan mineral penting. Mereka meminta agar perusahaan ini tidak menjual proyek ke perusahaan yang berkaitan dengan China.
Tanbreez Mining adalah perusahaan pengembang deposit LTJ terbesar di Greenland. Deposit Tanbreez mengandung sekitar 30 persen LTJ untuk aplikasi pertahanan. Perusahaan ini tengah kesulitan finansial.
Barnes akhirnya menjual Tanbreez ke Critical Metals yang berkantor di New York. Salah satu investor Critical Metals adalah perusahaan Cantor Fitzgerald yang dipimpin Howard Lutnick. Trump mencalonkan Lutnick untuk memimpin Departemen Perdagangan.
Penjualan Tanbreez Mining yang rumit itu akan selesai akhir tahun ini. Tanbreez hendak menambang 500.000 ton metrik mineral eudialyte yang mengandung LTJ setiap tahun paling cepat mulai tahun 2026. China sebetulnya sudah menawar untuk membeli Tanbreez Mining. ”Ada banyak tekanan untuk tidak menjual ke China,” kata Tony Sage, CEO Critical Metals.
Lobi AS terhadap Tanbreez Mining menunjukkan kepentingan ekonomi jangka panjang AS. Washington mengubah pendekatannya tentang proyek LTJ yang dulu dianggap investasi tidak menarik.
Pekan lalu, putra Trump, Donald Trump Jr, mengunjungi Nuuk untuk agenda pribadi. ”Kami sangat senang berada di sini. Kami di sini sebagai wisatawan untuk melihat tempat yang luar biasa ini,” katanya kepada media lokal KNR.
Perusahaan tambang lainnya, GreenRoc dari Inggris, telah mengajukan permohonan lisensi eksploitasi untuk mengembangkan proyek grafit di Greenland. Sementara perusahaan Neo Performance Materials dari Kanada dan Anglo American dari Inggris sedang melakukan eksplorasi di pulau tersebut.
(Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik W