Dikuasai China lebih dari 2.000 tahun, Haikou menunjukkan ciri khas tersendiri. Meski menampilkan beragam perpaduan, kebudayaan minoritas tetap terlihat.
Kenangan akan terjaga selama tetap dipakai. Demikian diajarkan kawasan Kota Tua Haikou di Provinsi Hainan, China. Selama hampir dua abad, kawasan itu terus berganti fungsi dan tetap berguna sampai sekarang.
Berbeda dari kebanyakan wilayah China lain, Hainan relatif selalu hangat sepanjang tahun. Pulau seluas 33.900 hektar di sisi selatan China dan berada di pesisir Laut China Selatan itu merupakan provinsi terkecil di China. Kota terbesarnya di Sanya dan Haikou.
Sejak pulau itu masih dikenal sebagai Aynam dan Qiongya, Haikou telah menjadi pusat kehidupan Hainan. Jalan Zhongzhan menjadi salah satu inti dari denyut Haikou sejak dulu. Kini, jalan itu menjadi pusat kawasan Kota Tua Haikou atau lebih dikenal sebagai kawasan Qilou.
Pada Sabtu (24/5/2025) pagi, kawasan itu basah oleh hujan di awal musim panas. Dari 596 bangunan, ada yang didirikan pada pertengahan abad ke-19, sebagian tetap menjadi kedai dengan aneka barang dagangan. Sebagian lagi menjadi penginapan. Ada pula bangunan dalam proses perbaikan.
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China menetapkan Qilou sebagai daerah wisata Hainan pada 2022. Sementara, pada 2009, kawasan itu diakui sebagai pusat kebudayaan dan sejarah.
”Paling gampang mencari tahu perkembangan Hainan, dan khususnya Haikou, dengan melihat Qilou. Wajah lama dan mutakhir Haikou bisa dilihat di sekitar kawasan itu,” kata Han Su, penduduk Haikou.
Tentu, tidak ada lagi jejak sejarah kala rombongan tentara Dinasti Han mulai masuk Hainan di akhir abad ke-2 sebelum Masehi. Jejak paling tua di Qilou cuma Kelenteng Tianhou atau dikenal sebagai Kelenteng Mazu.
Berdasarkan keterangan resmi, kelenteng untuk memuja dewi laut, Mazu, itu mulai dibangun di era Dinasti Yuan pada abad ke-13. Pelaut dan pedagang biasanya mampir di kelenteng itu di tengah pelayaran mereka.
Kelenteng itu luar biasa ramai di ujung bulan ketiga dan awal bulan kesembilan dalam kalender China. Ada perayaan khusus untuk Dewi Mazu pada periode itu. Di hari lain, pengunjung tetap ada, dan mayoritas para pelancong.
Perpaduan
Seperti semua daerah persinggahan pelaut, Qilou menampilkan perpaduan beragam budaya. Salah satu toko di Jalan Zhongzhan bernama Toko Durian. Dagangannya? Kelapa dan es cendol.
”Beberapa tahun terakhir, penduduk China semakin tergila-gila pada durian. Harga durian di sini lebih murah ketimbang di Guangzhou, Shenzhen, apalagi Beijing,” tutur Hong Yue, penduduk Haikou.
Ia datang beberapa tahun lalu ke Haikou karena diterima bekerja di salah satu lembaga kajian di Hainan. Ia berasal dari Liaoning, satu dari dua provinsi China yang berbatasan dengan Korea Utara. ”Sampai sekarang, saya belum paham mengapa orang suka durian dan makanan pedas,” kata pria itu sembari geleng-geleng kala menceritakan aneka kuliner Hainan.
Di Qiluo ada pasar tradisional yang menjual aneka masakan. Sebagian kedai khusus menjual sambal. ”Kalau melihat orang makan, sepertinya sedap sekali. Saya belum berani mencoba,” ujarnya.
Kuliner di sisi utara China memang lebih sedikit rempah dan bumbu dibandingkan kuliner di bagian selatan. "Orang-orang Asia Tenggara umumnya cocok dengan makanan Hainan. Rasanya mirip-mirip. Kalau tidak salah, banyak sekali warung di sana (Asia Tenggara) menjual Nasi Ayam Hainan," lanjut Hong.
Makanan halal juga bagian dari kebudayaan Hainan. Meski minoritas, ada orang Utsul di sisi selatan provinsi itu. Mereka Muslim dan bahasa aslinya sama sekali berbeda dari Mandarin atau Kanton.
Meski dikuasai China lebih dari 2.000 tahun, Hainan dan demikian pula Haikou tetap menunjukkan ciri khas tersendiri. Selain Utsul, ada Li dan Miao yang suku asli Hainan. Sementara orang-orang Han menjadi pendatang sejak 2.100 tahun lalu.
Han, Li, Miao, Utsul terdapat dalam berbagai aspek kehidupan di Hainan. Bahasa dan kebudayaan Li lebih mirip orang-orang di Indo-China, sebutan untuk wilayah yang terbagi menjadi Thailand, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Wajar, secara geografis Hainan lebih dekat ke Vietnam. Jarak lurus Haikou-Hanoi cuma 450 kilometer. Jarak lurus Haikou-Beijing hampir 2.300 kilometer.
Oleh-oleh khas suku Li, Miao, hingga Utsul bisa ditemukan di toko-toko suvenir di Qilou. Oleh-oleh, serta bangunan di Qilou, itu gambaran lain, bahwa China bukan negara dengan identitas tunggal.
Memang, tidak bisa ditemukan bukti lebih luas percampuran budaya Hainan jika berputar di Qilou saja. Walakin, setidaknya kita bisa melihat perpaduan budaya di kota persinggahan pelaut itu.
Perpaduan paling mencolok tentu saja fasad bangunan di Qilou, kawasan seluas 2,5 hektar. Alih-alih arsitektur oriental, kawasan itu malah menunjukkan perpaduan arsitektur Indo-China hingga Semenanjung Malaya awal abad ke-19. Arsitektur yang terinspirasi gaya Eropa abad ke-18.
Mobil tidak boleh lewat di mayoritas jalanan Qilou. Bahkan, di sebagian jalan sama sekali tidak boleh ada kendaraan lewat. Sepeda kayuh atau sepeda listrik pun tidak boleh. Cuma boleh jalan kaki.
Berbeda dari Hong Kong, Shenzhen, atau Shanghai, ritme di Qilou melambat. Tujuannya menikmati sekitar, bukan tergesa sampai ke tujuan.
Kalau panas, kita bisa berteduh dulu di kedai-kedai. Kalau mau jalan, pelan-pelan saja sembari melihat-melihat berbagai hal. Ada banyak patung di Jalan Zhonzhan, bisa menjadi tempat berfoto. Tentu saja bangunan berusia hampir 100 tahun menarik jadi tempat berfoto.
Di Haikou dan khususnya Qilou, cuma oleh-oleh, baik benda atau makanan, paling pantas dibeli. Barang lain sebaiknya dibeli di provinsi atau kota lain di China.
Berada di pulau paling selatan, pengiriman ke Hainan tentu berbeda dengan tempat lain. Harga sepatu hingga baju di Hainan lebih tinggi daripada harga di Beijing atau Shanghai.
Selain itu, jenama juga aneh-aneh. Alih-alih Balenciaga, malah akan ditemukan Balenciac atau Balengiage di kedai-kedai baju sekitar Qilou. Ada pula busana berjenama Dori dan JSL, bukan Dior atau YSL.
Jenama-jenama itu mengingatkan pada sejumlah unggahan populer di media sosial. Unggahan itu membahas China menjadi pabrik bagi sejumlah jenama terkenal.
Kecuali jenama, kualitas sebagian barang di kedai-kedai sekitar Qilou tidak kalah dari barang di berbagai toko dalam pusat perbelanjaan di Jakarta.
Memang, ada produk dengan kualitas yang dikenal sebagai ”kw”. Sebagian sepatu di Haikou mirip seperti sepatu di Pasar Mayestik dan Taman Puring di Jakarta.
China memang begitu, siap menyediakan berbagai hal dengan beragam kualitas. Tergantung harga yang sanggup dibayar. Pokoknya, cincai....
Kenangan akan terjaga selama tetap dipakai. Demikian diajarkan kawasan Kota Tua Haikou di Provinsi Hainan, China. Selama hampir dua abad, kawasan itu terus berganti fungsi dan tetap berguna sampai sekarang.
Berbeda dari kebanyakan wilayah China lain, Hainan relatif selalu hangat sepanjang tahun. Pulau seluas 33.900 hektar di sisi selatan China dan berada di pesisir Laut China Selatan itu merupakan provinsi terkecil di China. Kota terbesarnya di Sanya dan Haikou.
Sejak pulau itu masih dikenal sebagai Aynam dan Qiongya, Haikou telah menjadi pusat kehidupan Hainan. Jalan Zhongzhan menjadi salah satu inti dari denyut Haikou sejak dulu. Kini, jalan itu menjadi pusat kawasan Kota Tua Haikou atau lebih dikenal sebagai kawasan Qilou.
Serial Artikel
Berkembangnya Dunia Wisata di Pulau Sengketa Laut China Selatan
Negara-negara yang bersengketa terkait kepemilikan wilayah di Laut China Selatan sedang mengembangkan wisata di sana. Filipina, China, Vietnam, dan Malaysia mengembangkan aneka paket wisata.
Pada Sabtu (24/5/2025) pagi, kawasan itu basah oleh hujan di awal musim panas. Dari 596 bangunan, ada yang didirikan pada pertengahan abad ke-19, sebagian tetap menjadi kedai dengan aneka barang dagangan. Sebagian lagi menjadi penginapan. Ada pula bangunan dalam proses perbaikan.
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China menetapkan Qilou sebagai daerah wisata Hainan pada 2022. Sementara, pada 2009, kawasan itu diakui sebagai pusat kebudayaan dan sejarah.
”Paling gampang mencari tahu perkembangan Hainan, dan khususnya Haikou, dengan melihat Qilou. Wajah lama dan mutakhir Haikou bisa dilihat di sekitar kawasan itu,” kata Han Su, penduduk Haikou.
Tentu, tidak ada lagi jejak sejarah kala rombongan tentara Dinasti Han mulai masuk Hainan di akhir abad ke-2 sebelum Masehi. Jejak paling tua di Qilou cuma Kelenteng Tianhou atau dikenal sebagai Kelenteng Mazu.
Berdasarkan keterangan resmi, kelenteng untuk memuja dewi laut, Mazu, itu mulai dibangun di era Dinasti Yuan pada abad ke-13. Pelaut dan pedagang biasanya mampir di kelenteng itu di tengah pelayaran mereka.
Kelenteng itu luar biasa ramai di ujung bulan ketiga dan awal bulan kesembilan dalam kalender China. Ada perayaan khusus untuk Dewi Mazu pada periode itu. Di hari lain, pengunjung tetap ada, dan mayoritas para pelancong.
Serial Artikel
Paket Wisata ke China Dialihkan ke Negara Lain
Sejumlah perusahaan yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia Sumsel mengalihkan paket wisata ke China ke negara-negara lain yang aman sejak mewabahnya virus korona jenis baru, 2019-nCoV.
Seperti semua daerah persinggahan pelaut, Qilou menampilkan perpaduan beragam budaya. Salah satu toko di Jalan Zhongzhan bernama Toko Durian. Dagangannya? Kelapa dan es cendol.
”Beberapa tahun terakhir, penduduk China semakin tergila-gila pada durian. Harga durian di sini lebih murah ketimbang di Guangzhou, Shenzhen, apalagi Beijing,” tutur Hong Yue, penduduk Haikou.
Ia datang beberapa tahun lalu ke Haikou karena diterima bekerja di salah satu lembaga kajian di Hainan. Ia berasal dari Liaoning, satu dari dua provinsi China yang berbatasan dengan Korea Utara. ”Sampai sekarang, saya belum paham mengapa orang suka durian dan makanan pedas,” kata pria itu sembari geleng-geleng kala menceritakan aneka kuliner Hainan.
Di Qiluo ada pasar tradisional yang menjual aneka masakan. Sebagian kedai khusus menjual sambal. ”Kalau melihat orang makan, sepertinya sedap sekali. Saya belum berani mencoba,” ujarnya.
Kuliner di sisi utara China memang lebih sedikit rempah dan bumbu dibandingkan kuliner di bagian selatan. "Orang-orang Asia Tenggara umumnya cocok dengan makanan Hainan. Rasanya mirip-mirip. Kalau tidak salah, banyak sekali warung di sana (Asia Tenggara) menjual Nasi Ayam Hainan," lanjut Hong.
Makanan halal juga bagian dari kebudayaan Hainan. Meski minoritas, ada orang Utsul di sisi selatan provinsi itu. Mereka Muslim dan bahasa aslinya sama sekali berbeda dari Mandarin atau Kanton.
Meski dikuasai China lebih dari 2.000 tahun, Hainan dan demikian pula Haikou tetap menunjukkan ciri khas tersendiri. Selain Utsul, ada Li dan Miao yang suku asli Hainan. Sementara orang-orang Han menjadi pendatang sejak 2.100 tahun lalu.
Serial Artikel
Kisah Suku Salar, Salah Satu Etnis Muslim di China
Han, Li, Miao, Utsul terdapat dalam berbagai aspek kehidupan di Hainan. Bahasa dan kebudayaan Li lebih mirip orang-orang di Indo-China, sebutan untuk wilayah yang terbagi menjadi Thailand, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Wajar, secara geografis Hainan lebih dekat ke Vietnam. Jarak lurus Haikou-Hanoi cuma 450 kilometer. Jarak lurus Haikou-Beijing hampir 2.300 kilometer.
Oleh-oleh khas suku Li, Miao, hingga Utsul bisa ditemukan di toko-toko suvenir di Qilou. Oleh-oleh, serta bangunan di Qilou, itu gambaran lain, bahwa China bukan negara dengan identitas tunggal.
Memang, tidak bisa ditemukan bukti lebih luas percampuran budaya Hainan jika berputar di Qilou saja. Walakin, setidaknya kita bisa melihat perpaduan budaya di kota persinggahan pelaut itu.
Perpaduan paling mencolok tentu saja fasad bangunan di Qilou, kawasan seluas 2,5 hektar. Alih-alih arsitektur oriental, kawasan itu malah menunjukkan perpaduan arsitektur Indo-China hingga Semenanjung Malaya awal abad ke-19. Arsitektur yang terinspirasi gaya Eropa abad ke-18.
Mobil tidak boleh lewat di mayoritas jalanan Qilou. Bahkan, di sebagian jalan sama sekali tidak boleh ada kendaraan lewat. Sepeda kayuh atau sepeda listrik pun tidak boleh. Cuma boleh jalan kaki.
Berbeda dari Hong Kong, Shenzhen, atau Shanghai, ritme di Qilou melambat. Tujuannya menikmati sekitar, bukan tergesa sampai ke tujuan.
Kalau panas, kita bisa berteduh dulu di kedai-kedai. Kalau mau jalan, pelan-pelan saja sembari melihat-melihat berbagai hal. Ada banyak patung di Jalan Zhonzhan, bisa menjadi tempat berfoto. Tentu saja bangunan berusia hampir 100 tahun menarik jadi tempat berfoto.
Di Haikou dan khususnya Qilou, cuma oleh-oleh, baik benda atau makanan, paling pantas dibeli. Barang lain sebaiknya dibeli di provinsi atau kota lain di China.
Berada di pulau paling selatan, pengiriman ke Hainan tentu berbeda dengan tempat lain. Harga sepatu hingga baju di Hainan lebih tinggi daripada harga di Beijing atau Shanghai.
Serial Artikel
Barang Mewah ”Aspal”, Antara Gengsi, ”Trolling”, dan Perang Tarif
Jenama-jenama mode Eropa tidak memproduksi barang di China. Namun, produsen barang ”aspal" di China berkat perang dagang dengan AS berani berjualan dengan terbuka.
Selain itu, jenama juga aneh-aneh. Alih-alih Balenciaga, malah akan ditemukan Balenciac atau Balengiage di kedai-kedai baju sekitar Qilou. Ada pula busana berjenama Dori dan JSL, bukan Dior atau YSL.
Jenama-jenama itu mengingatkan pada sejumlah unggahan populer di media sosial. Unggahan itu membahas China menjadi pabrik bagi sejumlah jenama terkenal.
Kecuali jenama, kualitas sebagian barang di kedai-kedai sekitar Qilou tidak kalah dari barang di berbagai toko dalam pusat perbelanjaan di Jakarta.
Memang, ada produk dengan kualitas yang dikenal sebagai ”kw”. Sebagian sepatu di Haikou mirip seperti sepatu di Pasar Mayestik dan Taman Puring di Jakarta.
China memang begitu, siap menyediakan berbagai hal dengan beragam kualitas. Tergantung harga yang sanggup dibayar. Pokoknya, cincai....