Kesehatan seseorang dimulai sejak sebelum kelahiran. Kesehatan yang terjadi pada generasi saat ini pun akan menentukan kesehatan generasi berikutnya.
07 Apr 2025 17:14 WIB · Humaniora
Hari Kesehatan Sedunia diperingati setiap 7 April. Tahun ini, tema yang diangkat adalah ”healthy beginnings, hopeful future” atau ”awal yang sehat, masa depan yang penuh harapan”. Tema ini dipilih sekaligus untuk mengajak semua pihak agar lebih fokus dalam menangani kesehatan ibu dan anak yang artinya juga mencegah terjadinya kematian ibu dan bayi baru lahir.
”Kesehatan kita dimulai sebelum kelahiran. Kesehatan adalah warisan lintas generasi yang diwariskan dari kakek-nenek kepada orangtua kepada kita,” ujar Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia untuk Asia Tenggara Saima Wazed dalam pernyataan resminya yang diakses di laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Senin (7/4/2025).
Kesehatan ibu dan bayi baru lahir dinilai sangat penting. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas saat ini akan berdampak jangka panjang, bahkan dapat mengangkat derajat generasi masa depan yang belum lahir. Kesehatan generasi kini menentukan semua generasi berikutnya.
Namun, kondisi kesehatan ibu dan bayi masih menjadi masalah. WHO memperkirakan hampir 300.000 perempuan harus kehilangan nyawanya karena kehamilan atau persalinan setiap tahun.
Kesehatan kita dimulai sebelum kelahiran. Kesehatan adalah warisan lintas generasi yang diwariskan dari kakek-nenek kepada orangtua kepada kita.
Selain itu, lebih dari 2 juta bayi meninggal pada bulan pertama kehidupan dan sekitar 2 juta bayi lainnya meninggal saat lahir. Jumlah ini sangat memilukan karena berarti setiap 7 detik ada 1 kematian yang seharusnya bisa dicegah.
Di Asia Tenggara, angka kematian ibu dan bayi baru lahir mengalami penurunan yang signifikan. Setidaknya rasio kematian ibu menurun sebesar 53 persen dan kematian neonatal atau bayi pada awal kehidupan menurun sebesar 44 persen. Angka kematian ibu pada 2023 tercatat di bawah 100 per 100.000 kelahiran hidup.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/07/18/8c286c5a-8391-4a6f-8ef0-c00295958dee_jpeg.jpg)
Meski begitu, kondisi perbaikan pada angka kematian ibu dan bayi ini tidak merata. ”Sekitar 2.700 ibu dan 45.000 bayi baru lahir meninggal setiap bulan. Sebagian besar kematian ini disebabkan oleh penyebab yang dapat dicegah,” tutur Saima.
Di Indonesia, menurut data Sensus Penduduk 2020, angka kematian ibu masih mencapai 189 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini membuat Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi di antara negara keanggotaan ASEAN. Negara lain, seperti Malaysia, Brunei, Thailand, dan Vietnam, sudah di bawah 100 per 100.000 kelahiran hidup.
Jumlah kematian bayi di Indonesia pun tinggi dengan peringkat ketiga di Asia Tenggara. Angka kematian bayi yang tercatat di Indonesia mencapai 16,85 per 1.000 kelahiran hidup. Jumlah kematian bayi di Indonesia yang dilaporkan dari data Maternal Perinatal Death Notification justru mengalami peningkatan. Pada 2022 sebanyak 20.882 kasus kematian bayi, meningkat pada 2023 sebanyak 29.945 kematian.
Akses perawatan yang berkualitas selama masa kehamilan dan persalinan sangat menentukan keberhasilan dalam persalinan serta kesehatan ibu dan bayi untuk jangka panjang. Pada 2021 saat pandemi Covid-19 terjadi, ketika seluruh layanan kesehatan terganggu, termasuk layanan ibu dan anak, ada lebih dari 40.000 perempuan yang meninggal karena kehamilan dan persalinan.
Kematian yang terjadi tidak hanya terkait dengan komplikasi yang disebabkan oleh Covid-19, tetapi juga karena layanan bersalin yang terganggu. Ini semakin menyoroti pentingnya untuk menjamin perawatan ibu hamil dan melahirkan yang berkualitas sekalipun dalam kondisi darurat. Ibu hamil perlu akses yang andal untuk pelayanan, pemeriksaan rutin, dan pemeriksaan darurat 24 jam.
Direktur Eksekutif Badan PBB untuk Anak-anak (Unicef) Catherine Russell menyampaikan, dunia harus berinvestasi pada layanan yang mendukung kesehatan ibu dan bayi. Itu terutama pada sumber daya manusia kesehatan, seperti bidan, perawat, dan petugas kesehatan masyarakat yang terus berusaha memastikan setiap ibu dan bayi punya kesempatan untuk bertahan hidup dan berkembang.
”Ketika seorang ibu meninggal saat hamil atau melahirkan, nyawa bayinya juga terancam. Terlalu banyak ibu dan bayi yang meninggal karena penyebab yang sebenarnya kita tahu cara mencegahnya,” ucapnya.
Selain layanan esensial selama kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan, upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan perempuan secara keseluruhan juga amat penting. Layanan kesehatan untuk perempuan tersebut meliputi layanan keluarga berencana, pencegahan pada kondisi kesehatan dasar, seperti anemia dan penyakit tidak menular; serta layanan kesehatan reproduksi.
Penting pula untuk memastikan setiap anak perempuan bisa mendapatkan pendidikan. Dengan pendidikan yang baik, setiap perempuan diharapkan punya pengetahuan dan sumber daya untuk melindungi kesehatan mereka.
”Akses terhadap layanan kesehatan ibu yang berkualitas merupakan hak yang harus dipenuhi. Kita semua punya tanggung jawab yang mendesak untuk membangun sistem kesehatan dengan sumber daya memadai yang melindungi kehidupan setiap ibu dan bayi,” ujar Direktur Eksekutif Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) Natalia Kanem.
Penulis:
Deonisia ArlintaEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra