Penjaringan atlet seperti Audisi Umum Persatuan Bulu Tangkis Djarum diharapkan jadi upaya pertama agar rantai regenerasi atlet tidak terputus.
03 Jul 2025 20:05 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Ekosistem bulu tangkis Indonesia akan terus terjaga seiring klub-klub daerah, sebagai aktor paling hulu dalam pembinaan, terus berkomitmen mencetak calon-calon atlet masa depan. Penjaringan atlet seperti Audisi Umum Persatuan Bulu Tangkis Djarum diharapkan jadi upaya pertama agar ekosistem ini terus eksis dan rantai regenerasi atlet tidak terputus.
Tahun ini, Audisi Umum PB Djarum akan kembali digelar pada 18-12 September 2025 di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah. Audisi tahunan tersebut biasanya menjadi ajang bagi ratusan atau bahkan ribuan pebulu tangkis belia dari sejumlah daerah untuk unjuk kemampuannya.
Audisi 2024, misalnya, diikuti sebanyak 1.966 pebulu tangkis dari tiga kelompok usia. Mereka terdiri atas peserta putra dan putri U-11 (usia 8 – 10 tahun), usia 11 tahun, dan usia 12 tahun.
Ketua PB Djarum Yoppy Rosimin berharap, ada lebih banyak peserta yang bisa menunjukkan kemampuannya di audisi tahun ini. Semakin terbuka kesempatannya, semakin banyak peserta yang ikut, dan semakin besar peluang kemunculan pebulu tangkis potensial.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/b1fda911ed9e9b2812976de0ec90cff9-IMG_6214.jpeg)
”Kami meyakini masih banyak potensi yang terpendam. Saya berharap, mereka mendengar soal audisi ini dan mempersiapkan diri untuk muncul dan unjuk gigi,” tutur Yoppy dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (3/7/2025).
”Dengan audisi dan komitmen untuk menggelarnya setiap tahun, kami berharap ikut menjaga rantai regenerasi bulu tangkis Indonesia, ikut menjaga ekosistem ini. Sebab, dari klub-klub daerah inilah muncul bintang-bintang bulu tangkis Tanah Air,” ujarnya lagi.
Audisi, yang digelar sejak 2006, melibatkan tim pencari bakat yang dikomandoi juara dunia sektor ganda putra 1997, Sigit Budiarto. Di dalam tim itu ada pula sejumlah legenda hidup bulu tangkis Indonesia, seperti Fung Permadi, Yuni Kartika, Liliyana Natsir, Tontowi Ahmad, Lius Pongoh, Hariyanto Arbi, Richard Mainaky, dan Maria Kristin.
Sigit mengatakan, tidak ada perbedaan kriteria dalam pencarian atlet potensial pada audisi tahun ini dengan edisi-edisi sebelumnya. Aspek yang dilihat tetaplah kemampuan teknik bermain bulu tangkis dan ketangguhan mental para atlet muda.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/11/21/479f0ad1-705a-4281-afb9-f9b35f9274d2_jpg.jpg)
”Kami memulainya dari tiga katagori usia ini untuk menyesuaikan pembentukan dari segi fisik, teknik, ataupun perkembangan mental mereka. Itu semua membutuhkan waktu dan baiknya dimulai sejak usia-usia ini,” tutur Sigit.
Rangkaian seleksi Audisi Umum PB Djarum 2025 diawali dengan fase skrining yang mengadopsi pertandingan dengan sistem gugur 1 gim hingga poin ke-21 (tanpa deuce/setting). Setelah fase ini, tahapan berikutnya ialah tahap turnamen. Untuk kategori putra, para finalis akan mendapatkan tiket menuju tahap karantina. Sementara di kategori putri, peraih tiket adalah para finalis di babak turnamen.
Tahap karantina diselenggarakan selama empat minggu (13 September-11 Oktober 2025) dengan dua kali fase eliminasi, yang bertujuan melihat potensi dan mentalitas atlet. Mereka yang lolos di tahap karantina akan mendapatkan Djarum Beasiswa Bulu Tangkis dan bergabung bersama PB Djarum.
”Dari karantina ini, konsistensi dan ketahanan mereka akan diuji. Kalau soal semangat juang, kan, mudah saja. Mereka bisa menunjukkannya saat audisi, dengan euforia pertandingan. Namun, ketika sudah berlatih berminggu-minggu, di sini akan terlihat tekad mereka,” ujar Fung Permadi, tunggal putra Indonesia peraih medali perak Kejuaraan Dunia 1999.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/22/1150a70d-5c72-42dc-88a2-1ee186b0edce.jpg)
Adapun mantan atlet tunggal putri Indonesia, Yuni Kartika, menekankan, tujuan pembinaan di klub bukanlah untuk membuat sebanyak-banyaknya atlet menembus pemusatan latihan nasional. Klub di daerah justru jadi jembatan bagi para pebulu tangkis berkualitas untuk membela Indonesia nantinya.
”Jadi, poinnya bukan memasukkan sebanyak mungkin atlet ke pelatnas, tetapi membentuk atlet berkualitas super untuk bisa berbicara lebih banyak lagi di dunia bulu tangkis,” ujar juara dunia yunior 1991 ini.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase