Pertemuan ini membahas upaya yang bisa dilakukan untuk memperkuat stabilitas rupiah.
06 Jun 2026 14:32 WIB · Politik & Hukum
Kompas/Hendra A Setyawan
JAKARTA, KOMPAS — Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Mereka bersama pimpinan DPR membahas koordinasi antara bidang fiskal dan moneter guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
Kedatangan Perry, Purbaya, dan Prasetyo disambut Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta. Dalam jumpa pers seusai pertemuan, Dasco menyebut pertemuan ini dilakukan untuk membahas perekonomian negeri ini.
”Teman-teman dari otoritas moneter ataupun kebijakan fiskal, serta dari pihak pemerintah mengadakan evaluasi mengenai perkembangan ekonomi, sekaligus kemudian melakukan koordinasi bagaimana antara fiskal dan moneter bisa saling mendukung demi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik,” ungkap Dasco.
Setelah itu, Perry angkat bicara terkait penegasan koordinasi antara fiskal dan moneter tetap dijaga erat. Semuanya saling mendukung dan memperkuat upaya-upaya bersama dalam melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/620a46d77cec1a8e7513edb29c0638f9-20260606_094521.jpg)
”Bersama-sama menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Penguatan koordinasi fiskal-moneter itu terus kita lakukan dan saat ini adalah memang difokuskan bagaimana fiskal dan moneter seirama, saling mendukung, saling memperkuat dengan kewenangan masing-masing,” papar Perrry.
Menurut Perry, hasil pertemuan ini menghasilkan dua strategi yang diharapkan bisa memperkuat stabilitas rupiah. Pertama, pemerintah dan BI sepakat untuk terus meningkatkan daya tarik imbal hasil instrumen surat utang, baik Surat Berharga Negara (SBN) ataupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Strategi kedua, lanjut Perry, pihaknya bersama otoritas fiskal bersama-sama menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Upaya tersebut dilakukan BI melalui pengelolaan kas pemerintah, tetapi dengan peningkatan remunerasi atau bunga kepada pemerintah.
Sementara itu, Purbaya memastikan dukungan terhadap Bank Sentral, dalam hal ini Bank Indonesia, untuk memperkuat koordinasi agar semakin sinkron. Hal tersebut, lanjutnya, diharapkan bisa mengembalikan kepercayaan pasar terhadap nilai tukar sehingga rupiah meningkat secara signifikan dan lebih tinggi daripada saat ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/03/531369dd685c169c55cfdb1d23e40f5c-20260603_H01_ADI_P2SK_mumed.png)
Sebelumnya, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menutup nilai rupiah di 18.039 per dolar AS pada Jumat (5/6/2025) sore. Angka ini sama dengan Kamis, tetapi lebih rendah daripada hari Rabu yang menyentuh Rp 17.931 per dolar AS.
”Dengan kebijakan yang lebih bagus, kita akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga para pedagang dan ibu-ibu rumah tangga bisa merasakan harga yang lebih baik dan tidak terbebani hidupnya karena kenaikan harga yang siginifikan. Jadi, sinkronisasi kebijakan ini baik sekali untuk ekonomi kita di level makro ataupun level mikro ke depan,” kata Purbaya.
Prasetyo Hadi juga menegaskan pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui percepatan berbagai program strategis. Langkah ini, katanya, dinilai penting untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi makro di tengah dinamika global.
Menurut Prasetyo, kondisi ekonomi global saat ini menuntut adanya kerja sama yang kuat antarpemangku kepentingan. Ia mengatakan, seluruh kebijakan yang diambil pemerintah harus mampu saling memperkuat demi menjaga stabilitas nasional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/7472c405ed598d9a5a681b3c9297b8db-20260604TOK5.jpg)
”Mendorong program-program yang dapat meningkatkan pertumbuhan sektor ekonomi riil untuk bisa dipercepat, terutama program-program di bidang pangan, bidang energi, kemudian perikanan dan termasuk industrialisasi dan hilirisasi,” paparnya.
Prasetyo juga mengingatkan stabilitas nasional tidak bisa dijaga oleh satu institusi saja. Pemerintah, lanjutnya, juga memperkuat koordinasi lintas lembaga agar kebijakan moneter dan fiskal berjalan seiring dan saling mendukung.
Prasetyo juga menyoroti pentingnya sinergi antara kebijakan moneter yang dijalankan Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah. Ia menilai, fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi kuat.
”Situasi hari ini menuntut kerja sama di antara kita semua. Kebijakan-kebijakan harus saling mendukung, saling memperkuat satu sama lain,” ucapnya.
Penulis:
Machradin Wahyudi RitongaEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto