AS-Israel menyerang Iran dua hari setelah Oman kembali memediasi perundingan AS-Iran. Menlu Oman sedang di AS kala serangan dilancarkan.
28 Feb 2026 14:32 WIB · Internasional
AP
WASHINGTON, SABTU — Mediasi oleh Oman sia-sia oleh keputusan Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran. Oman bekerja keras mencegah serangan itu.
AS-Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026). Ledakan terdengar di Teheran dan sejumlah kota lain di Iran.
Media Iran, Irna, melaporkan, ledakan terdengar di setidaknya dua lokasi di Teheran. Media lain di Iran, FARS, melaporkan sejumlah rudal menghantam area Joumhouri dan Universitas. Lokasi itu dekat dengan Kantor Pemimpin Tertinggi Iran. Sejumlah saksi malah menyebut, kantor itu jadi sasaran.
Serangan dilancarkan kala Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi sedang di Washington DC, AS. Di sana, ia diterima Wakil Presiden AS JD Vance.
Setelah bertemu Vance, ia menghubungi para petinggi negara-negara Timur Tengah. Ia juga menghadiri wawancara dengan media AS, CBS News. ”Kesepakatan damai berada dalam jangkauan kita jika kita memberi diplomasi ruang yang dibutuhkan untuk mencapainya. Sebab, saya rasa tidak ada alternatif selain diplomasi yang akan menyelesaikan masalah ini,” ungkap Albusaidi kepada pembawa acara Margaret Brennan.
Memberi diplomasi ruang, artinya masih akan ada lagi putaran perundingan berikutnya. Seperti yang dihasilkan dalam perundingan putaran ketiga di Geneva, Swiss, Kamis (26/2/2026), perundingan menghasilkan kesepakatan soal pertemuan lanjutan di Vienna, Austria, pekan depan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/28/4f303669-66d2-43fe-bb34-7b25fb14966d.jpg)
Beberapa jam sebelum wawancara Al-Busaidi, Presiden AS Donald Trump mengatakan ”tidak senang” dengan hasil perundingan terbaru terkait program nuklir Iran itu. ”Saya tidak senang dengan fakta bahwa mereka tidak bersedia memberikan kita apa yang harus kita miliki. Saya tidak senang dengan itu. Kita lihat saja apa yang terjadi. Kita akan berbicara nanti,” kata Trump.
Meski demikian, Trump mengindikasikan ia akan memberikan lebih banyak waktu kepada para negosiator untuk mencapai kesepakatan. Hal itu akan mencegah perang baru di Timur Tengah.
Al-Busaidi dalam acara ”Face the Nation” menyatakan, ia merasa kesepakatan damai dapat dicapai jika proses perundingan berjalan lancar. ”Saya meminta untuk melanjutkan proses (perundingan) ini karena kita telah mencapai kemajuan yang cukup substansial ke arah kesepakatan. Dan inti dari kesepakatan ini sangat penting, dan saya pikir kita telah menangkap inti tersebut,” ujar Al-Busaidi.
Ia menjelaskan, jika tujuan utama dari perundingan adalah untuk memastikan Iran tidak akan memiliki bom nuklir, tujuan itu sudah tercapai. Akan tetapi, ada hal lain yang mesti dikejar dan disepakati dengan tuntutan Iran tidak boleh memiliki bom nuklir.
Hal lain itu adalah Iran tidak akan pernah memiliki bahan nuklir yang diperkaya untuk dapat menciptakan bom. ”Ini, menurut saya, adalah pencapaian besar. Ini adalah sesuatu yang tidak ada dalam kesepakatan lama yang dinegosiasikan selama masa pemerintahan Presiden Obama,” jelas Al-Busaidi.
Dengan tidak memiliki bahan nuklir yang diperkaya, argumen pengayaan uranium menjadi kurang relevan. ”Hal itu sangat penting. Sebab, jika Anda tidak dapat menimbun material yang diperkaya, tidak mungkin Anda dapat membuat bom,” kata Al-Busaidi.
Adapun uranium yang diperkaya, yang saat ini ada di Iran, menurut Al-Busaidi, akan dicampur ke tingkat terendah yang mungkin, ke tingkat netral, tingkat alami. Bahan kemudian diubah menjadi bahan bakar. Bahan bakar itu tidak dapat dibalik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/28/f7bd2c26-c8ef-4453-9752-837dbde21921_jpg.jpg)
Kesepakatan lain yang akan dikejar adalah proses verifikasi penuh dan komprehensif oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). ”Itu juga merupakan pencapaian yang sama pentingnya, menurut saya,” kata Al-Busaidi.
Apabila Iran sepakat dengan proses verifikasi penuh dan komprehensif, Iran akan membuka akses kepada inspektur dari IAEA untuk melakukan peninjaun dan pemeriksaan. ”Saya pikir jika kita dapat menangkap itu dan membangunnya, saya pikir kesepakatan berada dalam jangkauan kita,” ujar Al-Busaidi.
Adapun untuk detail teknis dari kesepakatan itu, Al-Busaidi memperkirakan butuh waktu tiga bulan maksimal untuk memastikan program nuklir Iran bertujuan damai. Waktu tiga bulan itu diperlukan IAEA untuk memastikan tidak adanya penimbunan, kontrol, serta proses verifikasi.
Al-Busaidi optimistis kesepakatan tersebut bisa dicapai di Vienna. Pada Senin lusa, di Vienna, kedua belah pihak sepakat untuk membahas hal-hal teknis. ”Kemudian beberapa hari setelah itu, dalam waktu seminggu, sebenarnya dari sekarang, kami sedang mengerjakan putaran pembicaraan lain di tingkat negosiator,” jelas Al-Busaidi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/23/d830ee04-6079-4a94-9fa8-fad3d1637df7.jpg)
Beberapa jam setelah Trump menyatakan ketidaksenangannya pada Jumat, sejumlah pemerintah, seperti AS, Inggris, Jerman, Kanada, Italia, Australia, India, China, dan beberapa negara Eropa dan Asia, mengeluarkan peringatan perjalanan. Peringatan itu menyarankan warga negara mereka untuk menghindari Iran.
Peringatan perjalanan negara-negara itu juga menyarankan agar warga negaranya pergi sesegera mungkin dari Iran. Di tengah ketegangan kawasan, gangguan perjalanan sudah mulai terjadi.
Penerbangan antara beberapa pusat regional dan Teheran telah dibatalkan atau dialihkan. Penerbangan dari Bandara Istanbul ke Teheran, rute utama bagi para pelancong ke dan dari Iran, termasuk di antara penerbangan yang dibatalkan karena ketegangan yang meningkat.
Pembatalan penerbangan ini menunjukkan dampak krisis terhadap mobilitas regional. Sementara maskapai penerbangan mulai melakukan penilaian risiko operasi di wilayah udara Iran.
Sementara Departemen Luar Negeri AS mengizinkan keberangkatan personel pemerintah yang tidak penting dan anggota keluarga mereka dari misi mereka di Israel. Langkah itu diambil dengan alasan risiko keamanan.
Dalam peringatannya, Deplu AS menyatakan bahwa perjalanan pejabat AS di daerah-daerah tertentu, termasuk sebagian Jerusalem dan Tepi Barat, dapat dibatasi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Disarankan juga supaya setiap warga negara AS yang ada di wilayah itu segera pergi selagi penerbangan komersial masih tersedia.
(AP/AFP)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto