Mentalitas Monster Jannik Sinner

Sinner bangkit dari ketertinggalan dan rasa sakit untuk mengalahkan Ben Shelton pada semifinal Australia Terbuka. Sinner akan melawan Alexander Zverev di final.

25 Jan 2025 11:31 WIB · Olahraga

Oleh Prasetyo Eko Prihananto

MELBOURNE, SABTU — Jannik Sinner tinggal selangkah lagi untuk mempertahankan gelar juara Australia Terbuka. Bangkit dari rasa sakit akibat keram, petenis Italia tersebut menyingkirkan Ben Shelton untuk melaju ke final menghadapi Alexander Zverev, Minggu (26/1/2025).

Pertandingan semifinal menghadapi Shelton memperlihatkan ketangguhan mental Sinner. Meminjam istilah mantan pelatih Liverpool Jurgen Klopp, petenis Italia tersebut memiliki ”mentalitas monster” melihat kemampuannya bangkit ketika menghadapi rasa sakit atau kesulitan.

Sinner mengalami keram pada set ketiga sebelum mengalahkan Shelton dengan skor 7-6(2), 6-2, 6-2, Jumat (24/1/2025), untuk kembali ke partai puncak Australia Terbuka. Petenis berusia 23 tahun tersebut juga sempat ketinggalan pada set pembuka dan dua kali nyaris kalah ketika Shelton memegang servis pada kedudukan 6-5.

Sinner mampu bangkit dari ketinggalan dengan mematahkan servis Shelton sebelum kemudian mendominasi tiebreak. Dua set berikutnya sepertinya akan berjalan mudah bagi Sinner dengan keunggulan cepat.

Akan tetapi, keram yang dialaminya pada set terakhir sempat membuat pendukungnya khawatir apa yang terjadi terhadap Novak Djokovic pada partai semifinal sebelumnya akan terulang pada Sinner. Djokovic terpaksa mundur setelah mengalami cedera selepas set pertama saat menghadapi Zverev.

Australian Open Tennis

Sinner tampak mencengkeram bagian paha kirinya, kemudian bagian pangkal paha kanannya. Pendukungnya pun khawatir ia mengalami cedera otot hamstring atau pangkal paha yang akan memaksanya mundur.

Namun, setelah mendapat perawatan dari pelatihnya, yang memijat dua kaki Sinner, ia pun mampu bangkit untuk melanjutkan pertandingan. Kecuali di set pertama, Shelton yang diharapkan memberikan perlawanan ketat tidak banyak memberikan tekanan sehingga pertandingan di Rod Lever Arena itu hanya berlangsung tiga set dalam waktu sekitar dua setengah jam.

Sinner kini menjadi petenis putra termuda setelah Jim Courier pada 1992-1993 untuk mencapai final Australia Terbuka dua kali beruntun. Courier pula yang bertugas mewawancarai Sinner selepas pertandingan.

Sinner menepis kekhawatiran soal cedera menjelang partai final melawan Zverev yang tengah mengejar gelar Grand Slam pertamanya. Menurut dia, kesulitan fisik yang dialaminya pada semifinal adalah bagian dari perjuangan berat yang harus dilaluinya selama hampir dua pekan bertanding di Melbourne.

Sinner mengakui, ia sangat bersyukur bisa menyelesaikan semifinal dengan straight set sehingga kondisi fisiknya tidak lebih terkuras lagi. Terlebih lagi, lawannya akan menjalani pertandingan final dalam kondisi lebih bugar.

APTOPIX Australian Open Tennis

Zverev, selain punya waktu istirahat lebih banyak karena memulai laga semifinal terlebih dahulu, juga hanya perlu menjalani pertandingan dalam satu set saja. Hal itu karena keputusan Djokovic untuk mundur setelah mengalah cedera otot robek di bagian paha kirinya.

”Saya mengalami tekanan hari ini, sedikit keram. Anda tahu, pertandingan seperti ini bisa berlangsung sangat lama. Untuk tiga set, dua setengah jam terhitung cukup lama,” kata Sinner yang juga sempat mendapat perawatan karena sakit pada babak keempat.

”Saya gembira menyelesaikannya dalam tiga (set),” tambah petenis peringkat pertama dunia ini.

Sinner menambahkan, penderitaan fisiknya sudah bisa diduga karena ini adalah turnamen pertamanya musim ini. ”Tanpa bermain di turnamen sebelumnya, kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Kemudian kamu harus meningkatkan permainan dari hari ke hari,” ujarnya.

Menurut Sinner, siapa pun yang bisa melaju ke partai puncak harus melalui penderitaan seperti itu karena itu bagian dari perjuangan keras dalam sebuah turnamen mayor yang berlangsung selama dua pekan.

Jannik Sinner melakukna pukulan saat menghadapi Ben Shelton pada semifinal Australia Terbuka di Melbourne, Jumat (24/1/2025).

”Kami semua yang bisa melaju jauh di turnamen memiliki hari-hari di mana kami akan kesulitan. Bisa fisik, bisa mental, banyak yang terjadi. Kini, hanya tinggal satu pertandingan lagi. Kita lihat apa yang akan terjadi,” tandas Sinner.

Shelton mengatakan, ia sangat kecewa dengan penampilannya pada semifinal. Sejumlah kesalahan yang dilakukannya pada masa krusial, terutama pada set pertama membuatnya kehilangan peluang unggul.

Mengenai pertandingan final, Sinner mengatakan bahwa tidak ada yang difavoritkan untuk menang. Menurut dia, semua memiliki peluang yang sama untuk menjadi juara.

Yang pasti, ujar Sinner, pertandingan akan berlangsung sangat berat. ”Ini akan menjadi pertandingan sangat berat bagi kami berdua. Penuh pertarungan fisik. Kita lihat saja,” ujarnya.

Serbia's Novak Djokovic (R) embraces Germany's Alexander Zverev after retiring from the men's singles semifinal on day thirteen of the Australian Open tennis tournament in Melbourne on January 24, 2025. (Photo by DAVID GRAY / AFP) / -- IMAGE RESTRICTED TO EDITORIAL USE - STRICTLY NO COMMERCIAL USE --

Partai final kali ini akan mempertemukan dua unggulan teratas sehingga bisa disebut sebagai final ideal meskipun banyak pula yang menginginkan Djokovic di partai final. Zverev belum pernah menjuarai turnamen Grand Slam, dengan pencapaian terbaiknya adalah ketika runner-up pada Perancis Terbuka 2024 dan Amerika Serikat Terbuka 2020.

Djokovic mengatakan, dirinya akan memberikan dukungan kepada Zverev untuk meraih gelar Grand Slam pertamanya. Menurut petenis Serbia ini, Zverev layak mendapatkan gelar mayor.

”Saya harap Sacha (Zverev) yang terbaik. Anda tahu, ia layak untuk mendapatkan Grand Slam pertamanya. Saya akan mendukungnya. Harapannya, ia akan mendapatkannya di sini,” tandas Djokovic. (AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Editor:

Kusnadi .