Menyambut Gencatan Senjata di Gaza

Kita benar-benar berharap kesepakatan gencatan senjata kali ini hadirkan cerita berbeda. Cerita yang mengakhiri salah satu babak paling berdarah di Timur Tengah.

13 Okt 2025 05:30 WIB · Tajuk Rencana

Oleh REDAKSI

Di bawah tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Israel sepakat melakukan gencatan senjata dengan Hamas. Ada kelegaan, tetapi juga waswas. Benarkah perang Gaza berakhir?

Rasa waswas itu tidaklah mengada-ada, mengingat kesepakatan yang terjalin antara Hamas dan Israel pada 9 Oktober 2025 baru fase pertama dari rancangan penghentian perang di Gaza. Selama dua tahun perang yang telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina, kita mencatat, berulang kali gencatan senjata terhenti di fase seperti saat ini: kedua pihak saling tukar sandera dan tahanan, lalu perang pecah lagi.

Kita benar-benar berharap kesepakatan gencatan senjata kali ini menghadirkan cerita yang berbeda. Cerita yang mengakhiri salah satu babak paling berdarah di Timur Tengah, diikuti dengan perdamaian dan upaya pembentukan negara Palestina.

Dalam formula solusi dua negara, saat negara Palestina berdiri berdampingan dengan Israel, itulah yang diyakini komunitas internasional bakal menghadirkan perdamaian.

Fase pertama gencatan senjata Hamas-Israel kali ini dimulai pada Jumat (10/10/2025) lalu. Pada fase ini disepakati tiga hal: pertukaran sandera warga Israel di Gaza dengan tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, penarikan parsial pasukan Israel dari sejumlah posisi di Gaza, dan akses bantuan bagi warga Gaza.

Menurut rencana, Hamas akan membebaskan para sandera Israel pada Senin (13/10/2025) ini. Diperkirakan, 48 sandera—20 orang di antaranya diyakini hidup—masih ditahan Hamas atau faksi-faksi perjuangan Palestina lainnya. Israel bakal membebaskan 1.700 warga Palestina, yang ditahan sejak 7 Oktober 2023, dan 22 anak-anak Palestina serta 360 jenazah.

Selain itu, bagian dari kesepakatan yang ditunggu-tunggu warga Gaza adalah masuknya bantuan kemanusiaan yang selama ini diblokade Israel. Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan Tom Fletcher mengatakan, 170.000 ton bantuan berupa makanan, obat-obatan, alat kesehatan, tenda, dan selimut siap disalurkan ke Gaza. Bagi warga Gaza, bantuan itu menjadi penyambung nadi kehidupan mereka.

Warga Palestina di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, mengambil bantuan dari truk-truk pengangkut bantuan yang masuk ke Gaza melalui gerbang Karem Abu Salem, Minggu (12/10/2025).

Hal lain yang juga disepakati di fase pertama adalah penarikan pasukan Israel dari sejumlah posisi di Gaza. Namun, mereka masih bercokol dan menduduki 53 persen wilayah Gaza.

Kesepakatan fase pertama ini bagian dari 20 poin proposal perdamaian rancangan Trump. Meski diapresiasi karena menghentikan gempuran Israel ke Gaza, ada beberapa catatan. Seperti banyak prakarsa AS sebelumnya, proposal tersebut tampak lebih untuk mengakomodasi tuntutan Israel.

Peneliti senior pada Carnegie Endowment for International Peace, Aaron David Miller (The New York Times, 10/10/2025), menyebut proposal Trump sangat klop dengan ambisi Netanyahu, termasuk demiliterisasi Hamas dan pelucutan pemerintahannya di Gaza. Aspirasi negara Palestina disebut sekilas tanpa kejelasan mewujudkannya.

Suka atau tidak, hanya Trump yang mampu menekan Israel. Namun, seberapa serius dan jujur ia mewujudkan perdamaian Palestina-Israel, perlu ditunggu langkah-langkah berikutnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

REDAKSI
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi, Andreas Maryoto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti