Penurunan permukaan tanah akibat ulah manusia dapat dikurangi, seperti ditunjukkan kota-kota lain di dunia.
28 Sep 2024 10:56 WIB · Humaniora
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/06/21/8fb2f439-0aa9-4c82-821a-67eaf5edff93_jpg.jpg)
Jakarta, Pekalongan, Semarang, dan kota-kota lain di pesisir di utara Pulau Jawa terus tenggelam. Selain oleh naiknya permukaan laut, tenggelamnya kota-kota ini terutama disebabkan oleh turunnya permukaan tanah. Kabar baiknya, penurunan tanah ini bisa dicegah sebagaimana ditunjukkan beberapa kota-kota pesisir lain di dunia.
Pemanasan udara dan lautan telah mempercepat kenaikan permukaan laut global sehingga mencapai rekor tertinggi baru pada tahun 2023. Laporan yang dikeluarkan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) tentang Keadaan Iklim di Pasifik Barat Daya 2023 bulan Agustus 2024 telah memperingatkan tentang hal ini.
Di sebagian besar wilayah Pasifik tropis bagian barat, termasuk perairan Indonesia, permukaan laut telah naik 10–15 sentimeter dalam dua dekade terakhir. Secara tahunan, laju rata-rata kenaikan permukaan laut antara Januari 1993 dan Mei 2023 adalah 4,52 milimeter per tahun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/03/30/Screen-Shot-2021-03-30-at-15.23.24_1617102050_png.jpg)
Kenaikan permukaan laut ini bakal menjadi masalah serius bagi Kepulauan Indonesia yang dikelilingi lautan. Dampak lebih terasa di wilayah pesisir utara Jawa yang mengalami penurunan tanah dengan cepat, seperti terjadi di Jakarta, Pekalongan, dan Semarang.
Laporan Susilo dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta tim di jurnal Scientific Data (2023) menyebutkan, pengamatan dengan Sistem Satelit Navigasi Global (GNSS/GPS) terus-menerus antara tahun 1982 dan 2010 memperkirakan bahwa laju penurunan daratan di Jakarta berkisar 1-28 cm per tahun. Studi terbaru yang menggunakan data InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar) Sentinel-1 antara tahun 2014 dan 2020 memperkirakan bahwa angkanya adalah dari 1 hingga 11 cm per tahun.
Pengukuran GNSS antara tahun 1999 dan 2011 di Semarang memperkirakan bahwa tingkat penurunan daratan berkisar 14-19 cm per tahun, sementara penelitian terbaru menggunakan data InSAR Sentinel-1 antara tahun 2015 dan 2020 mengungkapkan bahwa penurunan berkisar dari 2 hingga 3 cm per tahun.
Sementara itu, pengukuran di stasiun GNSS Pekalongan terekam mengalami penurunan tanah 107 mm (10,7 cm) per tahun. Pekalongan termasuk mengalami penurunan tanah dengan laju paling tinggi.
Berbagai laporan menunjukkan, sebagian besar wilayah kota di pesisir utara Jawa ini telah turun 3-4 meter sejak tahun 1980-an dan terus turun dengan laju satu hingga 10 cm setiap tahunnya. Di Jakarta, sekitar 40 persen wilayah kota berada ini telah di bawah permukaan laut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/07/02/595e3a94-8868-4f06-82dc-72a162c18c43_jpg.jpg)
Berbagai studi telah menjelaskan penyebab penurunan tanah di kota-kota utara Jawa. Misalnya, penelitian Hasanuddin Z Abidin dari ITB dan tim di Natural Hazard (2014), penurunan tanah di Jakarta disebabkan oleh empat faktor utama, yaitu pengambilan air tanah, beban konstruksi, konsolidasi alami tanah aluvial, dan penurunan karena faktor tektonik.
Peneliti Universitas Wageningen, Belanda, Philip Minderhoud, yang mempelajari penyebab penurunan tanah di kota-kota di dunia, mengatakan, ekstraksi air tanah memainkan peran paling penting dalam sebagian besar kasus tenggelamnya kota-kota pesisir.
Dalam laporan yang dirilis Wageningen pada Kamis (26/9/2024), Minderhoud menyebutkan, penyebab tenggelamnya Jakarta sebagian besar merupakan dampak dari ekstraksi air tanah. Tragisnya, dalam kasus Jakarta, penyebab ini telah diabaikan selama bertahun-tahun.
Seorang profesor tektonik di Jakarta mengklaim bahwa pergeseran tektonik bawah tanah menyebabkan penurunan tanah. Hal ini memang dapat menyebabkan penurunan tanah, tetapi dampak dari ekstraksi air tanah cenderung tidak dipertimbangkan secara memadai,” kata Minderhoud.
Fenomena ini, menurut dia, juga terjadi di beberapa kota besar lain di dunia. ”Meskipun secara teknis mudah untuk menghentikan ekstraksi air tanah, melakukannya kerap mendapat tantangan sosial ekonomi,” katanya. Minderhoud telah mempelajari penurunan tanah di Delta Mekong di Vietnam selama satu dekade.”Di sana, penurunan tanah telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir sekitar 7 cm per tahun. Percepatan ini dapat dikaitkan dengan ekstraksi air tanah, untuk air minum dan pertanian,” katanya.
Tanggul laut yang membatasi dan melindungi kawasan permukiman di Tambaklorok, Kota Semarang, Jawa Tengah, 22 Januari 2023.
Pola yang sama terlihat di pesisir di sekitar Manila di Filipina. ”Di sana, tanah turun 10-12 sentimeter per tahun. Sebagian wilayah pesisir sudah tenggelam. Beberapa desa telah tenggelam oleh laut dan telah ditinggalkan,” katanya.
Minderhoud menjelaskan bahwa penduduk setempat sering kali tidak menyadari adanya penurunan permukaan tanah. ”Mereka melihat permukaan air naik dan mengalami lebih banyak banjir selama pasang surut musim semi dan topan. Mereka berasumsi permukaan laut naik, tetapi itu bukanlah penyebab utamanya. Kuncinya terletak pada penurunan permukaan tanah dalam kasus-kasus ini,” ujarnya.
Meningkatnya permukaan air laut global akibat perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit dihentikan oleh kebijakan pemerintah pusat atau daerah. Ini membutuhkan upaya global untuk mengurangi laju pemanasan global. Namun, penurunan permukaan tanah akibat ulah manusia dapat dikurangi atau bahkan dihentikan.
Minderhoud menunjukkan beberapa praktik baik. Ibu kota Jepang, Tokyo, turun 4 meter pada abad lalu akibat penurunan permukaan tanah. Penurunan permukaan tanah dihentikan ketika pemerintah setempat menerapkan kebijakan air yang ketat, membangun waduk air di sekitar kota, dan menghentikan pengambilan air.
Langkah-langkah serupa yang diambil di Bangkok, Thailand, yang berhasil menghentikan penurunan permukaan tanah. ”Bangkok tenggelam sekitar 10 cm per tahun ketika direktur lembaga pengelolaan air mengambil keputusan yang berani,” kata Minderhoud.
Baca juga: Risiko Terendamnya Jakarta dan Utara Jawa Bisa Diperlambat
Meskipun ada protes, ia memutuskan untuk menutup banyak pompa dan mengenakan pajak yang besar atas pengambilan air tanah. ”Penegakan hukum yang ketat juga diberlakukan. Kota ini berinvestasi dalam sumber air alternatif. Semua tindakan ini telah menstabilkan situasi di Bangkok. Sebuah kisah sukses yang nyata,” katanya.
Venesia juga berhasil mengatasi penurunan tanah. Situs warisan dunia di laguna Italia itu tenggelam karena kombinasi pemadatan sedimen dan pengambilan air di bawah kota. Pemerintah kota menghentikan pengambilan air tanah dan sekarang memperoleh air minumnya dari daratan Italia. Akibatnya, Venesia sekarang hanya tenggelam 1 mm per tahun.
Selama ini, upaya yang dilakukan di kota-kota pesisir kita yang terus tenggelam ini lebih terfokus pada pembuatan tanggul. Seperti dilakukan di Jakarta, di sepanjang pesisirnya saat ini sedang dibangun tanggul laut.
Solusi ini mungkin bermanfaat untuk menghadapi kenaikan muka air laut. Masalahnya, seperti yang disampaikan Minderhoud, penyebab utama tenggelamnya kota-kota pesisir seperti Jakarta adalah penurunan tanah.
Tanggul laut merupakan solusi temporer, yang tidak akan bisa menyelesaikan akar masalah ambles kota-kota pesisir kita. Tanggul laut juga bisa turut turun seiring dengan penurunan tanah sehingga harus terus ditinggikan. Belum lagi, risiko jika tanggul ini jebol pasti bakal memicu bencana banjir rob.
Keberhasilan beberapa kota di luar negeri untuk mencegah ambles lebih cepat ini seharusnya menjadi contoh bagi pengambil kebijakan di negeri ini untuk menyelamatkan kota-kota kita. Sekalipun laju kenaikan muka air laut lebih sulit diatasi, tetapi penurunan tanah yang cepat, yang selama ini menjadi penyebab utama tenggelamnya kota-kota pesisir kita, seharusnya bisa diatasi atau setidaknya dikurangi.
Baca juga: Ancaman Tenggelamnya Kota-kota Pesisir di Indonesia
Penulis:
AHMAD ARIFEditor:
ICHWAN SUSANTO