SEPAK BOLA

Pemain Muda Naturalisasi ke Liga Super Indonesia, Layu Sebelum Berkembang?

Berkontrak tinggi tidak menjamin tiga pemain muda diaspora tampil reguler. Karier mereka terancam mandek karena Liga Super Indonesia tidak ramah pemain muda.

05 Feb 2026 10:12 WIB · Olahraga

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Bursa transfer pertengahan musim BRI Super League alias Liga Super Indonesia 2025–2026 menyita perhatian. Bukan karena kehadiran pemain berstatus marquee atau eks bintang dunia, melainkan eksodus tiga pemain diaspora muda yang ”pulang” ke tanah leluhur mereka.

Mauro Zijlstra (21), Dion Markx (20), dan segera disusul Ivan Jenner (22), memilih untuk melanjutkan karier di Indonesia. Usia mereka terbilang masih sangat muda. Bahkan, mereka masih masuk dalam skuad U-22 Indonesia di SEA Games 2025 lalu.

Ketiganya membela klub berbeda yang sejak awal musim ini sudah mendatangkan pemain-pemain naturalisasi. Sebut saja Zijlstra yang mengikuti jejak Jordi Amat membela Persija.

Kemudian Markx bergabung dengan Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Marc Klok sebagai pemain naturalisasi yang memperkuat Persib Bandung. Adapun Jenner sudah mencapai kesepakatan untuk menyusul Rafael Struick dan Stefano Lilipaly sebagai pemain naturalisasi di Dewa United.

Berbeda dengan para seniornya yang datang ke Liga Super pada permulaan musim 2025–2026, trio anggota tim U-22 Indonesia itu belum pernah mencicipi kerasnya persaingan di kompetisi kasta tertinggi Eropa, minimal Eredivisie Belanda.

Iraq's Zaid Tahseen, right, is challenged by Indonesia's Mauro Zijlstra during the World Cup 2026 Asian qualifier fourth-round Group B soccer match between Iraq and Indonesia at Alinma Bank Stadium in King Abdullah Sports City, in Jeddah, Saudi Arabia, Saturday, Oct. 11, 2025. (AP Photo/Ali Issa)

Hal itu sangat kontras jika membandingkan dengan perjalanan karier Jordi yang sudah melanglang buana di Spanyol, Belgia, hingga membela tim raksasa Malaysia, yakni Johor Darul Ta’zim, sebelum tiba di Persija.

Haye dan Reijnders datang setelah beberapa musim bermain di Eredivisie. Bahkan, Haye pernah mencicipi persaingan di Liga Italia bersama Lecce. Hal serupa juga dialami oleh bek sayap kiri baru Persija, yakni Shayne Pattynama, yang sudah merasakan kerasnya persaingan di Belanda, Norwegia, Belgia, dan Thailand, sebelum menerima pinangan tim ”Macan Kemayoran”.

Sementara Zijlstra, Markx, dan Jenner belum pernah mencicipi liga terbaik di Belanda dalam karier profesional mereka yang baru dimulai satu hingga dua tahun terakhir. Zijlstra, misalnya, hanya menghiasi daftar susunan pemain Volendam di Eredivisie 2025–2026, tetapi belum pernah mendapat menit bermain.

Quote

Struick dan Raven tidak masuk dalam 50 besar pemain muda Indonesia berusia di bawah 23 tahun dengan menit bermain terbanyak di Liga Super 2025–2026.

Jenner pun sekadar membela Jong Utrecht yang bersaing di Divisi Dua Belanda. Nasib lebih tidak mengenakkan dialami oleh Markx yang hanya mengoleksi dua penampilan selama dua musim membela TOP Oss di Divisi Dua Belanda atau Keuken Kampioen Divisie.

Zijlstra mengungkapkan sulitnya mendapat kesempatan tampil bersama Volendam pada paruh pertama musim ini menjadi alasan dirinya berpikir untuk hijrah. Akibat tidak mendapatkan klub Eropa yang memberinya tawaran bagus, ia akhirnya memilih untuk berlabuh ke Persija.

”Persija memberikan tawaran kontrak jangka panjang, yakni 2,5 tahun. Bagi saya, ada kepercayaan besar dari klub kepada saya. Saya perlu berkembang dan bermain lebih banyak di level tinggi,” ujar Zijlstra, dilansir laman Persija, Rabu (4/2/2026).

Ambisi Zijlstra dan Markx, juga Jenner, untuk tampil rutin di kompetisi kasta tertinggi Indonesia tidak seperti membalikkan telapak tangan. Mereka harus bersaing dengan pemain-pemain yang sudah lebih dulu menjadi andalan klub anyar.

Jalan terjal

Nama besar Persib juga menjadi pertimbangan Markx untuk datang ke Indonesia. Jalan pemain kelahiran Nijmegen, Belanda, itu untuk menjadi pilihan Pelatih Persib Bojan Hodak di jantung pertahanan akan terjal.

Alasannya, ia bersaing dengan bek-bek senior dan berpengalaman, seperti Patricio Matricardi, Federico Barba, Julio Cesar, dan pemain marquee terkini Persib, yakni Kurzawa.

”Saya masih sangat muda dan kompetitif. Saya siap bersaing,” ucap Markx kepada tim media Persib.

Pemain sepak bola Indonesia U-22 Dion Wilhelmus Eddy Markx berhadapan dengan pemain Filipina U-22 Otu Abang Banatao pada laga fase grup C SEA Games 2025 di Stadion Peringatan 700 Tahun Chiang Mai, Thailand, Senin (8/12/2025). Tim sepak bola Indonesia U-22 harus mengakui kekelahan dari Filipina U-22 dengan skor tipis 0-1. Kekalahan ini membuat Indonesia harus berjuang melawan Myanmar di fase grup C agar dapat masuk ke babak semi final SEA Games 2025. Sementara Filipina telah mengantongi tiket semi final.

Zijlstra juga harus bersaing dengan pencetak gol terbanyak sementara Liga Super, yakni Maxwell, yang sudah menyumbang 12 gol untuk Persija. Selanjutnya ada Gustavo dan Eksel Runtukahu yang enggan kekurangan menit bermain di Macan Kemayoran. Selain itu, Persija juga memiliki penyerang tengah baru, yakni Alaeddine Ajaraie, yang datang dari tim India, NorthEast United.

Adapun Jenner tidak akan mendapat karpet merah di Dewa United. Ia harus mampu meyakinkan Pelatih Dewa Jan Olde Riekerink untuk mengotak-atik trio lini tengah yang selama ini telah menjadi pakem permainan ”Banten Warriors” yang diisi Jaja, Alexis Messidoro, dan Ricky Kambuaya.

Seringnya Jaja mengalami cedera kambuhan menjadi asa Jenner untuk bermain rutin sejak awal kedatangannya.

Satu hal yang harus dilakukan tiga pemain muda debutan Liga Super itu ialah tidak menyia-nyiakan 1 menit pun kesempatan bermain. Jika mereka gagal memberikan kesan pertama yang apik bagi pelatih dan suporter, bangku cadangan akan lebih akrab dengan mereka dibandingkan dengan menginjakkan kaki di lapangan hijau.

Hal itu sudah dialami Struick di Dewa United dan Jens Raven bersama Bali United. Dua pemain berposisi penyerang itu tidak tampil lebih baik dibandingkan dengan pemain-pemain lokal yang dibina dari sekolah sepak bola dalam negeri yang tidak semewah di Belanda.

Struick, misalnya, hanya mencatatkan penampilan rata-rata 32 menit per laga dalam 10 pertandingan berseragam Dewa United di liga. Dalam 10 laga tersebut, ia belum sekalipun turun dengan status 11 pemain utama.

Nasib Raven lebih buruk lagi. Selalu bermain sebagai pemain pengganti dalam 14 laga Bali United, ia hanya mengoleksi rata-rata 20 menit per laga. Meskipun sudah mencetak satu gol, performa Raven masih jauh dari ekspektasi.

Penjaga gawang Persebaya  Ernando Ari Sutaryadi mengamankan bola dari sergapan pemain Bali United Jens Raven dalam lanjutan BRI Liga Super 2025/2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (23/8/2025).

Bisa dibayangkan, dua pemain diaspora berlabel tim U-22 Indonesia itu kesulitan bersaing di kompetisi domestik. Menit bermain mereka tidak sampai satu babak dalam setiap pertandingan.

Bahkan, merujuk data Transfermarkt, Struick dan Raven tidak masuk dalam 50 besar pemain muda Indonesia berusia di bawah 23 tahun dengan menit bermain terbanyak di Liga Super 2025–2026. Struick kalah durasi laga dari dua pemain muda Dewa United lainnya, yakni Theo Number (gelandang) dan Rizdjar Nurviat (bek sayap).

Sementara Raven kesulitan mengimbangi menit bermain rekan setimnya di Bali United dan ”Garuda Muda”, yakni Kadek Arel dan Rahmat Arjuna. Tidak hanya mereka, kesempatan bermain Raven pun lebih inferior dibandingkan dengan eks skuad U-17 Indonesia, Mouri Simon.

Tidak ramah

Terlepas dari tuntutan performa individu yang harus mampu memenuhi standar klub masing-masing, tiga pemain debutan itu juga harus menghadapi realitas tidak ramahnya Liga Super bagi pemain-pemain muda. Rata-rata usia pemain Liga Super ialah 27,1 tahun.

Liga Super 2025–2026 sudah berjalan 19 pekan dengan menyediakan total 1.710 menit bagi setiap pemain untuk tampil di klub masing-masing.

Catatan terbaik pemain muda lokal dipegang oleh kiper Persebaya Surabaya, Ernando Ari, dengan 1.620 menit tampil dalam 18 laga, serta bek tengah sekaligus kapten Persija, Rizky Ridho, yang mengoleksi 1.601 menit bermain dalam 18 pertandingan.

Pemain sepak bola Indonesia U-22 Ivar Jenner berhadapan dengan pemain Filipina U-22 pada laga fase grup C SEA Games 2025 di Stadion Peringatan 700 Tahun Chiang Mai, Thailand, Senin (8/12/2025). Tim sepak bola Indonesia U-22 harus mengakui kekelahan dari Filipina U-22 dengan skor tipis 0-1. Kekalahan ini membuat Indonesia harus berjuang melawan Myanmar di fase grup C agar dapat masuk ke babak semi final SEA Games 2025. Sementara Filipina telah mengantongi tiket semi final.

Dengan menyimulasikan pemain muda mendapat setidaknya setengah dari total menit bermain tersedia atau sekitar 855 menit, hanya ada 17 pemain U-23 lokal yang mampu memenuhi standar tersebut.

Kondisi itu membuat kehadiran lima pemain U-23 diaspora—mulai dari Struick, Raven, Zijlstra, Markx, hingga Jenner—di Liga Super tidak bisa dianggap sebagai cara mudah untuk menyelamatkan karier yang mandek di Belanda. Mereka justru berisiko membuat potensi besar mereka layu sebelum berkembang di usia emas pesepak bola.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto