Menyelamatkan Kemanusiaan

Penderitaan kemanusiaan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah penderitaan kita semua. Sebab, kita semua terikat pada persaudaraan kemanusiaan yang satu.

04 Des 2025 05:00 WIB · Kolom

SALOMO TOBING

Oleh SUKIDI

Ketika bencana ekologis meluluhlantakkan kehidupan manusia, kita semestinya memprioritaskan pada usaha menyelamatkan kemanusiaan. Di atas segalanya, kemanusiaan memperoleh perhatian pertama dan utama. Tidak ada yang lebih bernilai dalam kebijakan negara di masa krisis daripada usaha menyelamatkan setiap jiwa manusia.

Ketika ratusan jiwa manusia tewas dan hilang, utamakan etika bela rasa kemanusiaan, bukan kepentingan politik. Mereka yang tidak menjiwai etika emas ini dengan memburu pencitraan dan keuntungan politik di tengah penderitaan kemanusiaan, tiada ungkapan yang lebih tepat kecuali sangat memalukan! Dan tiada tindakan yang lebih memadai kecuali mundur atau dipaksa mundur!

Kita tidak pernah memberikan toleransi sedikit pun kepada mereka yang menjadikan negara sebagai panggung teatrikal politik di atas luka-luka kemanusiaan. Setelah kegagalan demi kegagalan dalam mengatasi kehancuran ekologis yang membunuh kehidupan di sekitar kita, para pengurus dan pelbagai institusi negara harus diingatkan secara maksimal dan sepenuhnya untuk memikul tanggung jawab utama dalam menyelamatkan jiwa manusia dan meringankan penderitaan kemanusiaan.

Ribuan korban bencana dari Tapanuli Tengah berjalan kaki mencari bantuan ke Tapanuli Utara, Sumut, Rabu (3/12/2025). Warga berjalan kaki selama 5-6 jam karena sudah kehabisan bahan pokok. Sudah lebih sepekan Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah terisolasi dan tidak bisa diakses dari jalur darat.

Utamakan kemanusiaan. Titik. Penderitaan kemanusiaan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah penderitaan kita semua. Kehidupan yang saling terhubung dan tergantung antara satu manusia dan manusia yang lain seyogianya mengetuk kesadaran nurani kita bahwa penderitaan kemanusiaan yang dialami saudara-saudara lain merupakan bentuk penderitaan kita juga. Sebab, kita semua terikat pada persaudaraan ”kemanusiaan yang satu,” sesuai pesan pahlawan sejati Bung Karno, dan pada ”saudaramu yang setara dalam kemanusiaan,” sesuai pesan Imam Ali kepada Gubernur Malik al-Ashtar.

Quote

Dalam bencana ekologis, kita harus mampu mengesampingkan perbedaan dan kepentingan politik untuk sementara waktu.

Karena itu, kemanusiaan adalah yang utama—humanity first. Setiap usaha menyelamatkan kemanusiaan membutuhkan ikatan persatuan kita sebagai satu bangsa. Tanpa spirit itu, kita pasti terpecah belah dengan menelantarkan jiwa manusia yang terbengkalai. Terinspirasi dari pidato Bung Karno yang juga terinspirasi dari bapak pendiri Amerika Abraham Lincoln, a nation that divided against itself cannot stand, kita harus berdiri tegak sebagai satu bangsa dengan fondasi utama gotong royong guna menyelamatkan kemanusiaan yang tunggang-langgang.

Pada masa krisis yang menempatkan kemanusiaan sebagai pertaruhan terbesar dalam bencana ekologis, kita harus mampu mengesampingkan perbedaan dan kepentingan politik untuk sementara waktu. Dengan hanya memprioritaskan kemanusiaan di atas kepentingan politik, kita terpanggil untuk memikul tanggung jawab bersama dalam menapaki jalan terjal dan panjang dalam menyelamatkan kemanusiaan dan masa depan bangsa. Kita mewujudkan tanggung jawab itu melalui berbagai bentuknya, mulai dari doa, pikiran, tenaga, uang, hingga berbagai bentuk bantuan kemanusiaan lainnya, yang kesemuanya itu pasti menyelamatkan penderitaan jiwa manusia.

Ribuan warga korban bencana berjalan kaki dari Tapanuli Tengah yang masih terisolasi untuk mencari bantuan ke Tapanuli Utara, Sumut, Rabu (3/12/2025). Warga berjalan kaki selama 5-6 jam karena sudah kehabisan bahan pokok setelah lebih sepekan menghadapi bencana. Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga masih terisolasi.

Saatnya kita berkejaran dengan waktu dan bergerak cepat untuk memastikan terbukanya akses ke berbagai lokasi bencana, terutama yang terisolasi agar saudara-saudara kita dalam kemanusiaan dapat segera memperoleh berbagai bentuk bantuan kehidupan. Dengan mempertimbangkan dahsyatnya bencana ekologis yang mematikan kehidupan manusia dan lingkungan dan keterbatasan kapasitas negara, kita perlu berbesar hati untuk menetapkan bencana ekologis ini sebagai bencana nasional dan sekaligus membuka diri pada bantuan internasional untuk menyelamatkan kemanusiaan yang sedang menderita di berbagai aspek kehidupannya.

Hari-hari ini dan ke depan, kita seyogianya terpanggil untuk meneguhkan komitmen nasional bahwa kepedulian kita pada usaha menyelamatkan penderitaan kemanusiaan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak berhenti selama terjadinya bencana ekologis, tetapi juga terus berkelanjutan.

Pascabencana ekologis, kita justru menghadapi tantangan yang teramat berat untuk memulihkan dan memperbaiki harkat dan martabat kemanusiaan dengan kehidupan yang layak, pendidikan yang berkualitas, kesehatan yang prima, infrastruktur yang bagus, dan, yang jauh lebih penting, tata kelola lingkungan yang selama ini dirusak sedemikian parah melalui keputusan politik yang salah kaprah.


Kerabat Kerja

Penulis:

SUKIDI
 | 

Editor:

Madina Nusrat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase