Ekonomi Susah, Siasat Apa yang Bisa Dilakukan Rohana-Rojali?

Ekonomi sedang susah. Siasat apa yang bisa dilakukan kelas menengah yang daya belinya terus tergerus?

27 Jul 2025 09:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

Kelas menengah sedang susah. Daya belinya terus tergerus. Bukan kebetulan jika belakangan muncul istilah satir populer; rombongan jarang beli atau rojali dan rombongan hanya tanya alias rohana.

Sejoli rohana dan rojali benar-benar faktual bagi kelas menengah tatkala besar pasak daripada tiang. Bila tidak hati-hati, bukan tidak mungkin kelas menengah tergelincir menjadi kelompok rentan miskin.

Sudah setahun kiranya Emmanuel Rendy Maliluan (25), pekerja swasta di Jakarta, merasakan tekanan ekonomi yang mulai menjalar. Beban pengeluaran yang kian terasa besar, sedangkan pemasukan yang relatif stagnan, membuatnya memilih untuk mengurangi belanja.

”Saya mulai lebih selektif dalam membelanjakan uang. Porsi yang paling dikurangi itu belanja kebutuhan tersier dan sekunder, seperti makan di luar, beli baju baru, langganan hiburan, atau jalan-jalan. Soalnya, hal-hal itu bisa ditunda tanpa terlalu berdampak langsung ke kehidupan sehari-hari,” katanya saat dihubungi, Sabtu (26/7/2025).

Potongan harga hingga 50 persen ditawarkan ritel Matahari di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Barat, Sabtu (8/2/2025). Kinerja industri usaha ritel dan pusat perbelanjaan pada awal tahun 2025 ini masih dipengaruhi oleh daya beli masyarakat kelas menengah bawah dan pengetatan pengeluaran yang dilakukan pemerintah

Kini, Rendy mencoba realistis dengan memprioritaskan kebutuhan pokok, transportasi, serta belanja yang benar-benar dirasa mendesak atau penting. Demi menutup kekurangan, ia pun terpaksa mengambil pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, meski kerap sulit membagi waktu.

Sekitar 500 kilometer ke arah timur dari Jakarta, situasi yang hampir serupa dirasakan Pius Anugra Bagus Saputra (26), pekerja swasta di Cepu, Jawa Tengah. Uang senilai Rp 50.000-Rp 70.000 untuk kebutuhan sehari-hari pun kadang tak terasa bisa habis dalam seketika.

Sebagai perantau, Pius benar-benar memperhatikan pengeluarannya dengan sesekali mencatatnya dan menyisihkannya untuk ditabung. Dalam konsumsi, keluarganya juga lebih memilih untuk memasak sendiri ketimbang makan di luar.

”Asal masih bisa memasak nasi, listrik masih menyala, internet masih berjalan, motor masih ada bensin, ibaratnya itu sudah cukup,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.

Pengunjung memilih pakaian anak di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (28/10/2024). Pasar Tanah Abang ramai di saat jelang perayaan Hari Raya Idul Fitri. Penurunan daya beli masyarakat kelas menengah bawah mulai terlihat, terutama setelah Idul Fitri 2024.

Tekanan ekonomi

Pengelolaan keuangan dan perilaku konsumsi itu dijaganya mengingat tekanan ekonomi saat ini cukup terasa. Apalagi, banyak beredar berita mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri tempatnya bekerja.  

Selain mempersiapkan tabungan dan sejumlah dana darurat, Pius juga turut mencari penghasilan sampingan. Sehabis bekerja, ia biasanya menyempatkan diri membuka gawai sembari mencermati grafik perdagangan di pasar modal untuk menambah penghasilan.

Quote

Rojali adalah sinyal penting bagi pembuat kebijakan untuk tidak hanya fokus menurunkan angka kemiskinan, tetapi juga memperhatikan bagaimana untuk ketahanan konsumsi dan stabilitas ekonomi rumah tangga pada kelas menengah bawah.

Dua cerita tersebut kiranya menjadi potret kecil perjuangan kelas menengah tatkala situasi ekonomi masih menantang. Ini sekaligus memberikan salah satu jawaban mengapa daya beli masyarakat melemah atau tergerus.

”Rojali adalah sinyal penting bagi pembuat kebijakan untuk tidak hanya fokus menurunkan angka kemiskinan, tetapi juga memperhatikan bagaimana untuk ketahanan konsumsi dan stabilitas ekonomi rumah tangga pada kelas menengah bawah,” kata Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono pada konferensi pers, di Jakarta, Jumat (25/7/2025).

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Ateng Hartono memberikan penjelasan dalam konferensi pers Profil Kemiskinan dan Tingkat Ketimpangan Pengeluaran Penduduk periode Maret 2025, di Jakarta, Senin (25/7/2025).

BPS mencatat, porsi pengeluaran atau konsumsi dari kelompok 40 persen terbawah dan kelompok 40 persen menengah pada Maret 2025 turun secara tahunan. Sebaliknya, porsi konsumsi kelompok 20 persen ke atas meningkat 35 bps menjadi 45,91 persen.

Selain itu, BPS turut melaporkan, jumlah penduduk miskin pada April 2025 tercatat 23,85 juta orang. Angka ini turun 210.000 orang dibandingkan September 2024 dan 1,37 juta orang dibanding Maret 2024.

Tolok ukur kemiskinan itu ialah garis kemiskinan yang diukur dari pengeluaran senilai Rp 609.160 per kapita per bulan. Warga dengan pengeluaran per bulan di bawah nilai ini berarti masuk kategori miskin.

Di sisi lain, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dalam laporannya mengenai Outlook Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2025 menemukan, kelas menengah menghadapi tekanan yang terus mengimpit.

Kondisi itu tecermin dari distribusi konsumsi saat masa pemulihan pasca-pandemi Covid-19 yang semakin terpolarisasi. Kelompok 20 persen terbawah mencatatkan kenaikan pangsa konsumsi yang moderat, kelompok 20 persen teratas mengalami percepatan yang kuat, sedangkan kelompok 60 persen tengah justru mengalami penyusutan.

Infografik Jumlah Kelas Menengah d Indonesia

Menurut Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, penurunan jumlah penduduk miskin memang mengindikasikan kenaikan kelas, dari miskin ke kelompok rentan. Di sisi lain, banyak juga penduduk yang turun kelas, dari kelas menengah atau calon kelas menengah ke kelompok rentan.

Merujuk hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS, jumlah kelas menengah menurun sekitar 9,48 juta orang, dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Laju penurunan ini lebih tinggi dibanding periode 2018-2023 yang sebanyak 8,5 juta orang.

”Perbaikan iklim investasi dan usaha penting dilakukan karena akan menciptakan lapangan pekerjaan. Penciptaan lapangan pekerjaan yang good quality akan meningkatkan income masyarakat dan meningkatkan daya beli masyarakat,” katanya saat dihubungi.

Namun, upaya untuk meningkatkan pendapatan serta menjaga daya beli masyarakat tidaklah mudah. Apalagi, sejumlah lembaga internasional meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan akan melambat di bawah 5 persen, setidaknya hingga 2027.

Infografik PDB Berdasarkan Pengeluaran

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), misalnya, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7 persen pada 2025 dan 4,8 persen pada 2026. Bank Dunia memproyeksikan rerata pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,8 persen hingga 2027.

Tantangan tak berhenti di situ. Pemutusan hubungan kerja (PHK) masih berlangsung. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan, jumlah PHK selama Januari-April 2025 mencapai 24.036 orang atau meningkat 27,8 persen secara tahunan. Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat, jumlah PHK pada triwulan I-2025 mencapai 73.992 orang.

Gaya hidup

Pertumbuhan ekonomi yang melambat dan badai PHK kiranya telah memberikan sinyal kuat bagi kelas menengah untuk mulai mengenakan sabuk pengaman. Setidaknya, kelas menengah memulai berbenah dari aspek gaya hidup.

Perencana keuangan, Andy Nugoroho, berpendapat, situasi ekonomi saat ini memang sedang dalam kondisi yang kurang baik. Ini, antara lain, ditandai dengan maraknya kaum rojali dan rohana yang notabene berasal dari kelompok kelas menengah.

”Maka, yang harus dilakukan oleh kelompok ini agar tidak jatuh miskin adalah dengan mengendalikan gaya hidupnya disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing,” ujarnya saat dihubungi.

Lalu-lalang pengunjung saat berbelanja di Glamlocal Magnificent Ramadan di West Mall Grand Indonesia, Jakarta, Minggu (16/3/2025). Sebanyak 56 jenama lokal menawarkan beragam promo dan diskon di bazar busana muslim ini. Pengunjung menyambut bazar ini dengan berbelanja untuk kebutuhan saat Lebaran 2025. Bazar ini juga diserbu para jastip atau jasa titip untuk mendapatkan keuntungan dengan membeli sejumlah barang dari para penitip. Bazar ini juga akan digelar di Grand Metropolitan Mall Bekasi, pada 19 sampai 23 Maret 2025. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 16-03-2025

Dengan pertimbangan kondisi kemampuan finansial yang sedang kurang memadai, perilaku rojali dan rohana notabene sudah tepat dilakukan oleh kelas menengah. Jika mereka memaksakan untuk mengonsumsi sesuatu di tengah kondisi sekarang ini, justru akan dapat memperparah situasi.

Selain mengendalikan gaya hidup, ada baiknya warga kelas menengah mulai menabung dengan menyisihkan pendapatannya ketika baru menerima gaji. Idealnya, porsi menabung berkisar 10 persen dari penghasilan.

Warga kelas menengah, ia melanjutkan, sebaiknya juga memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan yang sifatnya penting dan wajib. Ini, misalnya, adalah pembayaran cicilan kredit dan utang, pembelian token listrik, pembayaran air (PDAM), dan pembayaran uang sekolah anak.

Selanjutnya, pengeluaran dialokasikan untuk kebutuhan yang penting, tetapi masih bisa diatur ulang jumlahnya, seperti kebutuhan makan dan kebutuhan transportasi. Barulah kemudian, porsi pengeluaran bisa dialokasikan untuk hal-hal yang bersifat kesenangan atau hiburan.

”Selain itu, sebaiknya juga berusaha untuk mendapatkan penghasilan tambahan selain dari pekerjaan utama mereka agar dapat lebih leluasa dalam mengatur keuangannya,” kata Andy.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto