Suporter timnas Indonesia kecewa dengan sikap Patrick Kluivert dan stafnya setelah gagal lolos ke Piala Dunia. Sudah tidak ada cinta untuk Kluivert.
14 Okt 2025 15:44 WIB · Olahraga
Setelah matinya harapan tim nasional sepak bola Indonesia menuju Piala Dunia 2026 akibat dua kekalahan beruntun di Jeddah, Arab Saudi, gelombang pemecatan Patrick Kluivert dari kursi pelatih tim nasional Indonesia menguat. Kemarahan kelompok suporter ”Garuda” bukan hanya didasari performa buruk tim. Lebih dari itu, Kluivert dan tim kepelatihannya dianggap tidak menghormati etika.
Garuda Saudi, kelompok suporter timnas Indonesia yang dibentuk diaspora di Arab Saudi, mengeluarkan pernyataan resmi, Senin (13/10/2025). Foto Ketua Umum PSSI Erick Thohir bersama Kluivert dan stafnya, ditambah pesan ”kalian itu pengecut atau tidak peduli?”, menjadi tampilan utama dalam pernyataan di akun Instagram Garuda Saudi.
Ketua Garuda Saudi Muhammad Erlangga, yang dihubungi dari Jeddah, Selasa (14/12/2025), berkata, unggahan itu adalah luapan kekecewaan kelompok suporter, yang terdiri dari diaspora dan pekerja migran Indonesia di Saudi, atas sikap tidak acuh Kluivert dan staf pelatih kepada para pendukung di Stadion Kota Olahraga Raja Abdullah seusai laga kontra Irak, Minggu (12/10/2025) dini hari WIB.
”Kluivert dan tim pelatih tidak ada yang mendatangi kami yang menunggu mereka di tribune. Semua pemain datang memberikan apresiasi kepada kami, tetapi Kluivert dan staf pelatih hanya duduk di bench. Kami berusaha memanggil, tetapi mereka mungkin tidak mendengar karena jarak tribune dengan bench jauh,” tutur Erlangga.
Satu hari setelah pertandingan, Erlangga baru menerima apresiasi dari Manajer Timnas Indonesia Sumardji dan sejumlah staf lokal tim di luar tim kepelatihan. Tidak ada pertemuan PSSI dengan kelompok suporter setelah laga itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/12/e7faac6a42437000a45a752fc7a45629-cropped_image.jpg)
Padahal, Erick dan sejumlah anggota Komite Eksekutif PSSI berada di Jeddah hingga Minggu lalu. PSSI juga menggelar gala dinner dengan pemain, tim kepelatihan, dan keluarga pemain sebelum para pemain pulang dan kembali ke tim masing-masing.
”Kami tidak mengharapkan apa-apa. Kami hanya berharap ada itikad dan gestur permintaan maaf dari Kluivert kepada para suporter yang telah merelakan waktu, biaya, dan tenaga. Tidak sedikit juga suporter yang menjadi korban terinjak-injak dan dipersulit petugas keamanan stadion demi menonton laga versus Saudi,” kata Erlangga.
”PSSI juga tidak menyampaikan apa pun ke kami setelah laga melawan Irak. Padahal, anggota Garuda Saudi yang membantu tim ketika datang dan membawa barang tim ke hotel dengan kendaraan pribadi karena jemputan dari SAFF (Federasi Sepak Bola Arab Saudi) telat tiba,” ujarnya menambahkan.
Erlangga menyebut perlakuan Kluivert dan tim kepelatihannya berbanding terbalik dengan sikap Pelatih Tim U-17 Indonesia Nova Arianto di Piala Asia U-17 2025, April lalu. Kata dia, Nova tidak segan menyempatkan waktu untuk menemui dan berbincang dengan para suporter di sela memimpin skuad ”Garuda Muda” untuk merebut tiket lolos ke Piala Dunia U-17 2025.
Erlangga menyebut Garuda Saudi sepakat dengan tuntutan seluruh suporter timnas untuk mendesak adanya evaluasi terhadap Kluivert dan tim kepelatihannya. Hal itu adalah peran check and balance dari suporter yang sangat mencintai skuad Garuda.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/08/aa622ce8f1afc4c8307b985ee0fb0c69-cropped_image.jpg)
”Timnas tidak pantas dipimpin oleh mereka yang tidak punya nyali, nurani, empati, dan tanpa rasa memiliki terhadap Indonesia,” kata Erlangga.
Garuda Saudi, lanjutnya, menuntut PSSI untuk menghadirkan performa timnas yang lebih baik jelang Piala Asia 2027 di Saudi, Januari-Februari 2027. Ia berharap timnas yang dibekali generasi emas tidak hanya bertarung untuk sekadar berpartisipasi, tetapi juga mengejar prestasi terbaik di pentas Asia.
Selain Garuda Saudi, kelompok suporter timnas Indonesia, La Grande Indonesia (LGI) dan Ultras Garuda, juga telah lebih dulu mengeluarkan pernyataan tentang tuntutan untuk tim pelatih. LGI mendesak agar Kluivert undur diri dari posisi sebagai pelatih timnas Indonesia.
”Kepercayaan kami sudah hilang. Untuk memohon maaf atas kegagalan di dalam stadion seusai kalah melawan Irak, Kluivert tidak mampu berjalan menemui kami, para suporter yang sudah berdiri sejak putaran pertama. Silakan dia mencari jalan keluar secepatnya,” ucap Ilham Sukrai dari Divisi Media dan Komunikasi LGI.
Desakan agar Kluivert melepas kursi pelatih timnas Indonesia juga disuarakan oleh para legenda Garuda. Dede Sulaeman, anggota timnas di pra-Piala Dunia 1986, menganggap Kluivert tidak menunjukkan sikap nyata berani bertanggung jawab atas kegagalan memenuhi target ke Piala Dunia 2026. Dede menyoroti keputusan Kluivert dan para pembantunya yang langsung kembali ke Belanda dari Jeddah, alih-alih datang dulu ke Jakarta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/13/17625313852013398db74e1de396dc89-20251013_GKT_Timnas_Indonesia_mumed.png)
”Sikap itu tanda mereka tidak bertanggung jawab. Para tim pelatih juga tidak menunjukkan teladan baik karena tidak menemani pemain menyapa dan meminta maaf langsung kepada pendukung setelah kalah dari Irak,” tutur Dede.
Kluivert menyampaikan pernyataan publik setelah kegagalan timnas di Jeddah melalui akun Instagram pribadinya, Senin kemarin. Ia memulai pernyataan itu dengan menyebut juga merasakan kepedihan dan kekecewaan seperti para pendukung timnas.
”Sebagai pelatih kepala, saya mengambil tanggung jawab penuh,” tulis Kluivert.
Meski begitu, Kluivert sama sekali tidak menyampaikan kata ”maaf” atas kekecewaan yang telah diberikan kepada lebih dari 280 juta warga Indonesia. Ia hanya menekankan perjalanan di kualifikasi Piala Dunia 2026 adalah titik mula untuk terus meningkatkan sepak bola Indonesia.
Sorotan mengemuka karena Kluivert juga mematikan fitur komentar pada unggahannya itu. Kluivert mungkin tidak mudah mengeluarkan kata ”maaf” dengan berlindung di balik budaya Barat yang dianutnya. Berbeda dengan kultur Timur yang tidak segan menyebut maaf dalam apa pun kondisinya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/12/b57a2b02fc9f79df5604339dcbb58172-cropped_image.jpg)
Namun, Kluivert seharusnya meniru Wiel Coerver, pelatih timnas Indonesia periode 1975-1976 asal Belanda. Setelah kalah pada laga final perebutan tiket Olimpiade 1976, 26 Februari 1976, di Stadion Utama Senayan, Jakarta, Coerver menghampiri pemainnya yang menangis di tengah lapangan.
Merujuk arsip Kompas, Coerver juga menyampaikan gestur maaf kepada puluhan ribu suporter di tribune. Jika membandingkan kualitas melatih, Kluivert tak ada apa-apanya dalam hal metode dan prestasi dibandingkan Coerver, juara Liga Belanda dan Piala UEFA musim 1973-1974. Coerver, yang wafat pada 2011, masyhur di Belanda dengan sebutan ”Albert Einstein-nya sepak bola”.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra