Lontaran Miftah Maulana Habiburrahman ditanggapi negatif berbagai pihak. Meski mengklaim bercanda, apa yang dilakukannya disebut jauh dari kata lucu.
04 Des 2024 14:03 WIB · Politik & Hukum
Potongan video ceramah Miftah Maulana Habiburrahman, Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Agama dan Pembinaan Sarana Keagamaan, viral di media sosial. Ia dianggap mengumpat seorang penjual es teh. Meski mengklaim ”guyonan”, ucapannya dinilai tak lucu oleh banyak kalangan.
Dalam video itu, Miftah berbicara kepada seorang penjual es teh yang berdiri di tengah kerumunan. ”Es tehmu masih banyak enggak? Masih? Ya, sana dijual, g****k,” ucapnya dalam bahasa Jawa dan diakhiri sebuah kata seperti umpatan. Sejumlah orang di panggung pun tertawa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/10/16/a8337b4d-3c3b-4085-a6e1-af08a2e3eb95.jpg)
Cuplikan video tersebut kemudian viral di media sosial. Di platform X, misalnya, nama Miftah masuk dalam topik populer dengan lebih dari 183.000 unggahan pada Rabu (4/12/2024) siang. Begitu pula dengan kata ”es teh”, menjadi topik yang tren dengan 129.000 lebih unggahan di X.
Miftah mengaku khilaf. ”Saya memang sering bercanda dengan siapa pun. Maka untuk itu, atas candaan yang bersangkutan, saya akan meminta maaf secara langsung dan mudah-mudahan dibukakan pintu maaf untuk saya,” ujarnya dalam video klarifikasinya seperti dikutip dari Kompas TV.
Lalu, mengapa pernyataan yang dianggap candaan itu tidak lucu, setidaknya bagi sejumlah warganet? Ceramah James Danandjaja, pakar folklor, berjudul ”Lelucon sebagai Salah Satu Bentuk Folklor Lisan” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Desember 1979 bisa jadi pisau analisis.
Menurut James, lelucon dibagi menjadi dua, yakni lelucon atau joke dan humor. ”Perbedaannya, sasaran lelucon ialah pribadi atau kelompok lain, sedangkan sasaran humor lebih pada diri pribadi dan kelompok sendiri,” ujarnya dikutip dalam arsip Kompas, 20 Desember 1979.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/04/0652b83fc7e9033b1d9fbbf582ffbb44-IMG_0687.jpeg)
Itu sebabnya, lelucon atau joke sangat mungkin menyinggung perasaan orang karena menyerang pribadi atau kelompoknya. Sebaliknya, humor mengundang tawa karena membahas ”kelemahan” sang pembicaranya sendiri. James mencontohkan pelawak Ateng sebagai orang humoris kala itu.
Ateng, misalnya, kerap menjadikan bangunan fisiknya yang berbeda dengan orang lain sebagai bahan candaan. Penonton pun tidak hanya terhibur, tetapi juga merasa simpati. Tanggapan penonton bisa berbeda jika orang yang kondisi fisiknya bagus bercanda seperti Ateng.
Begitu pula dengan seseorang yang menyebut seorang penjual es teh dengan kata tidak pantas atau merendahkan intelektualitasnya. Meski mungkin maksudnya bercanda, publik bisa jadi menangkapnya sebagai ejekan. Apalagi, sang penjual sedang berusaha mencari sesuap nasi.
Heru Gendut Janarto dalam artikelnya ”Olah Humor ala Gus Dur” di buku Gus Dur, Santri Pas Excellence Teladan Sang Guru Bangsa terbitan Penerbit Buku Kompas (2010) menyebut Presiden RI Keempat itu humoris. Sebab, Gus Dur kerap menjadikan dirinya contoh humor.
”Ia mau berendah hati menelanjangi ’kelemahan’ dan ’kekurangan’ yang dimilikinya. Gus Dur melakukan itu nyaris tanpa reservoir. Karena yang menjadi bulan-bulanan diri sendiri, orang malah jatuh simpati kepadanya,” tulis Heru.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/07/1afc2f8d-f943-451d-8670-011adad53e00.jpg)
Dalam sebuah wawancara dengan majalah Keluarga (1994), misalnya, Gus Dur bilang, ia harus berjuang keras menaklukkan hati Shinta Nuriyah yang kini jadi istrinya. ”Bayangkan, delapan tahun saya nunggu dia supaya mau. Dipikir-pikir, ternyata saya ini memang jelek, ya,” kata Gus Dur.
Pada sebuah pertemuan internasional di Bali, Gus Dur pernah melemparkan humor tentang dirinya dan wakil presiden, Megawati Soekarnoputri. ”Kami berdua akan jadi sebuah tim yang sempurna. Saya tidak bisa melihat, dia tidak bisa omong,” katanya dalam bahasa Inggris.
Humor juga berbeda dengan sarkasme. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, sarkasme ialah kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain, cemoohan, atau ejekan kasar. Sekilas, sarkasme, seperti ”dasar bodoh” atau ”payah” dapat membuat pendengarnya tertawa.
Namun, di balik itu, menurut Clifford N Lazarus dalam artikelnya di Psychology Today (2012), mereka yang mendapat sarkasme merasa direndahkan. Psikolog ini menyebut sarkasme sebagai intimidasi halus. Dan, sebagian besar pelaku intimidasi adalah pemarah, tidak percaya diri.
Sebaliknya, ketika seseorang berhenti menyampaikan ungkapan sarkasme, ia mulai merasa lebih bahagia dan percaya diri. ”Orang lain dalam hidupnya juga akan mendapatkan manfaat lebih cepat karena mereka tidak perlu lagi mendengar bahasa sarkasme yang menyakitkan,” tulisnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/06/15/3858ddbc-7c9f-48fa-a827-69f48f84d83d_jpg.jpg)
Clifford tidak mengatakan sarkasme sepenuhnya buruk. Ungkapan sarkastik kadang diperlukan. Namun, ibarat bumbu dalam hidangan, sarkasme juga tidak boleh berlebihan.
”Sarkasme berlebihan dan terus-menerus akan membuat percakapan terasa pahit bagi penerimanya,” ujarnya.
Ia pun menyebut sarkasme sebagai bentuk permusuhan yang dibalut dalam humor. Cara membedakannya, katanya, sarkasme sepintas membuat tertawa, tetapi terasa tajam menusuk perasaan. Sebaliknya, humor kerap mengundang senyum dan sama sekali tidak berbahaya.
Jadi, apakah ”guyonan” tentang penjual es teh yang tengah viral adalah humor atau joke? Atau bahkan sarkasme? Mungkin ada penonton yang tertawa saat mendengarkan peristiwa itu. Namun, hanya perasaan Anda yang bisa memberikan jawaban sesungguhnya.
Penulis:
Abdullah Fikri AshriEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra