Mustaat Saman, Meracik Daya Disabilitas di Pontianak dari Kedai Kopi

Mustaat Saman getol memberdayakan semangat disabilitas di Pontianak. Ajakan bahagia tidak harus sempurna dia terapkan lewat pelatihan untuk disabilitas.

09 Des 2024 18:34 WIB · Tokoh

Oleh Emanuel Edi Saputra

Dari kedai kopi, Mustaat Saman (43) menebar semangat bagi penyandang disabilitas untuk berdaya dan saling menguatkan. Selain membuka lapangan kerja, dia juga memfasilitasi berbagai pelatihan dan mengajak disabilitas berdamai dengan diri sendiri.

Feliska (18), difabel daksa, serius mengoperasikan mesin espresso di kedai kopi Satu Per Dua Kopitiam di Jalan Sepakat 2, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/12/2024). Semangat terpancar dari dirinya saat menyeduh kopi susu pesanan konsumen pagi itu.

Feliska belum lama bekerja, baru lima hari. Di sana, dia mengisi waktu selain menekuni profesi sebagai atlet atletik paralimpiade.

Sebagai anak baru, Feliska tidak sendiri. Dia ditemani Andi Rai Bawadi (27). Andi, yang juga disabilitas daksa, dengan sabar membagikan ilmu kepada Feliska, seperti mengoperasikan mesin espresso. Pada Agustus 2024, ia mengikuti pelatihan barista di Pontianak. Mustaat Saman, pemilik Satu Per Dua Kopitiam, memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimba ilmu di sana.

Mustaat Saman (43) sedang berbincang dengan salah satu penyandang disabilitas di Satu Per Dua Kopitiam, Jumat (6/12/2024).

Peran Mustaat lebih dari sekadar pemilik kedai yang dia buat pada 11 Juli 2024. Ada 32 penyandang disabilitas yang ia berdayakan. Delapan di antaranya atlet paralimpiade tenis meja, renang, atletik, dan angkat berat. Keterbatasan mereka beragam, mulai dari netra, daksa, grahita, hingga rungu.

Akan tetapi, tidak hanya kemampuan menjalankan usaha kedai kopi yang diwariskan Mustaat bagi penyandang disabilitas. Dia juga menularkan beragam pelatihan lain, mulai dari pertanian, peternakan, merias wajah, melukis, dan desain grafis, hingga katering.

Quote

Mereka harus bisa di semua lini, meracik kopi, dan masak. Disabilitas di seluruh kabupaten/kota di Kalbar boleh ikut. Mereka akan kuat jika bersama.

Pelatihan biasanya dilaksanakan pada Sabtu dan Minggu di ruangan learning center pemberdayaan. Berukuran 10 meter x 5 meter, ruangan itu bisa menampung 130 orang. Semua bisa datang. Semua digelar gratis tanpa biaya.

”Mereka harus bisa di semua lini, meracik kopi, dan masak. Disabilitas di seluruh kabupaten/kota di Kalbar boleh ikut. Mereka akan kuat jika bersama,” ujar Mustaat, Jumat pagi.

Salah satu penyandang disabilitas sedang meracik kopi di Satu Per Dua Kopitiam di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/12/2024).

Sejauh ini sudah ada sekitar 400 penyandang disabilitas yang mengikuti pelatihan. Setelah pelatihan, mereka diberi bantuan peralatan, antara lain untuk merias wajah dan perlengkapan untuk menjadi montir.

”Beberapa sudah ada yang membuka bengkel di daerah. Ada juga beberapa sudah beternak kambing, sapi, dan bebek,” ujar pria kelahiran 1981 itu.

Kendati Satu Per Dua Kopitiam terbilang baru, jejak perhatian Mustaat kepada penyandang disabilitas sudah lama. Pada 2016, misalnya, dia menjadi donatur untuk olahraga disabilitas. Saat itu menurut dia, olahraga disabilitas bisa dikatakan belum begitu diperhatikan.

Quote

Itu ruang pemberdayaan ekonomi dan seni budaya. Di situlah tempat berkumpul dan becerita tentang nasib penyandang disabilitas sehingga terkuak banyak masalah sosial, ekonomi, dan pendidikan mereka.

”Saat itu saya merasa bahagia bisa membantu. Apalagi, saya juga penyandang disabilitas karena salah satu kaki saya tidak memiliki jari,” ujarnya.

Mustaat juga pernah menjadi pegiat sosial di bagian ambulans gratis dan pemadam kebakaran. Namun, karena sudah semakin banyak yang bergerak dalam bidang pemadam dan ambulans gratis, dia mengambil inisatif mengisi ceruk pemberdayaan disabilitas.

Keahlian terbatas

Dia juga menemukan fakta di lapangan, penyandang disabilitas kesulitan mencari pekerjaan. Keahlian mereka terbatas, mengemis di jalan, bahkan ada yang nyaris bunuh diri. Ruang mereka masuk dalam bidang ekonomi terbatas.

Dari situ muncul ide Mustaat mendirikan Komunitas Parapreneur pada 2022. Komunitas itu bergerak dalam bidang usaha, mikro, kecil, dan menengah serta ekonomi kreatif. Anggotanya penyandang disabilitas.

”Itu ruang pemberdayaan ekonomi dan seni budaya. Di situlah tempat berkumpul dan becerita tentang nasib penyandang disabilitas sehingga terkuak banyak masalah sosial, ekonomi, dan pendidikan mereka,” tuturnya.

Dari awalnya komunitas, perlahan dia mendirikan Satu Per Dua Kopitiam. Konsepnya kedai kopi karena niat awalnya tempat ngumpul. Daripada ngumpul di tempat lain, lebih baik membuat kedai kopi sendiri. Penghasilannya bisa membantu ekonomi penyandang disabilitas serta tempat pelatihan agar mereka bisa mandiri.

Menurut Mustaat, nama Satu Per Dua Kopitiam berawal dari candaan dia dan rekan-rekan. ”Di sini orangnya ibarat setengah (tubuhnya). Saya juga penyandang tunadaksa. Namun, kebahagiaan bukan dari organ tubuh, tetapi diri sendiri menciptakan,” ujar Mustaat.

Kendati demikian, tidak mudah bagi Mustaat untuk konsisten pada pemberdayaan penyandang disabilitas. Apalagi, ada disabilitas yang belum berdamai dengan diri. Emosi yang tidak stabil hingga belum satu frekuensi. Antarpenyandang disabilitas kerap salah paham.

Mustaat bahkan sempat berpikir ingin berhenti memikirkan mereka saking rumitnya. Namun, dukungan dari istrinya membuat dia tetap kuat karena hal itu memang bagian dari dinamika kegiatan pemberdayaan.

Terlebih, saat Mustaat melihat penyandang disabilitas bahagia, dia pun bahagia yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dia bahkan kerap menyisihkan penghasilannya dari sumber pendapatan lain demi keberlanjutan pemberdayaan di kedai kopi itu.

Merawat hati  

Dia tidak kehabisan akal. Untuk melatih pengendalian emosi penyandang disabilitas, Mustaat memasang tulisan ”zona dilarang marah” di beberapa lokasi kedai kopinya. Itu untuk mengingatkan mereka agar saling memahami. Kini mereka relatif bisa mengendalikan emosi.

”Saya juga membuka sesi curhat dari mereka termasuk apa yang perlu dibenahi. Hati mereka juga harus dibentuk,” ujarnya.  

Mimpi Mustaat ke depan, ada suatu rumah besar untuk pemberdayaan penyandang disablitas di semua sektor. Penyandang disabilitas sebetulnya hanya perlu diberi kesempatan. Harapannya bisa membantu pemerintah mengurangi angka kemiskinan.

Salah satu tulisan berisi motivasi bagi para penyandang disabilitas di Satu Per Dua Kopitiam, Jumat (6/12/2024).

Di Satu Per Dua Kopitiam hanya tempat transisi mereka. Saat memiliki keahlian kerja dan manajemen, mereka bisa hidup mandiri baik berwirausaha maupun bekerja di tempat lain. Beberapa ada yang sudah membuka usaha warung kopi dan bekerja di tempat lain.

Mereka diajak meresapi makna salah satu tulisan di tembok kedai kopi itu yang menyatakan, ”Bahagia Tidak Harus Sempurna”. Di Satu Per Dua Kopitiam, mereka diajak untuk berdaya, bahagia, dan berdamai dengan diri.

Biodata

Nama: Mustaat Saman

Lahir: Singkawang, 15 Oktober 1981

Riwayat Pendidikan: S-1 Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak (1999-2005)

Istri:  Mimi Kurnia Juliati (46)

Anak:  Ziyad Rizqullah (16) dan Finnal Ziya Zulima (8)


Kerabat Kerja

Penulis:

Emanuel Edi Saputra
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang, Moh. Hilmi Faiq