Alih-alih mengejar prestasi instan, sepak bola Indonesia semestinya merawat akar rumput dengan serius melakukan pembinaan.
17 Okt 2025 08:00 WIB · Artikel Opini
Tim nasional sepak bola Indonesia kembali gagal melaju ke putaran final Piala Dunia. Keputusan PSSI untuk melakukan naturalisasi dan merekrut para pemain diaspora demi meningkatkan peluang lolos Piala Dunia tidak membuahkan hasil. Alih-alih, kebijakan yang tidak bijak ini justru mematikan akar rumput sepak bola domestik kita.
Betapa tidak, bayangkanlah diri Anda menjadi pemain muda lokal yang merintis karier sepak bola dengan susah payah. Beranjak dari kucuran keringat di lapangan kampung, sekolah sepak bola, kemudian liga domestik. Begitu hendak masuk timnas, kans nyaris tiada karena jatah pemain lokal justru diisi pemain naturalisasi dan diaspora.
Setali tiga uang, tim-tim lokal di liga utama kini sah-sah saja dipenggawai oleh sebagian besar pemain asing. Nyaris tiada proteksi dan ruang untuk tumbuhnya talenta lokal dari seantero Nusantara. Sepak bola nasional kini bahkan ditengarai menjadi ajang kontestasi ambisi politis oknum pengurus federasi.
Mendulang suara lewat sepak bola menjadi agenda tersembunyi di balik perekrutan massal pemain naturalisasi dan diaspora serta pembiaran tim-tim liga utama dikuasai pemain asing. Dua hal ganjil ini nyata-nyata mematikan pemain akar rumput nasional.
Sepertinya Indonesia perlu sungguh rendah hati berkaca pada Jepang dan Korea Selatan. Dua negara Asia ini telah lama bertumpu pada pembinaan sepak bola akar rumput guna memproduksi pemain lokal berkualitas.
Laman Japan Football Association (JFA) atau PSSI-nya Jepang memamerkan Japan’s Way, sebuah peta jalan komprehensif untuk menciptakan 10 juta keluarga sepak bola dan mengangkat trofi mondial 2050. Sebuah peta jalan jangka panjang yang terukur dan realistis.
JFA mempromosikan empat pendekatan, yakni penguatan tim nasional, pengembangan pemain muda, pembinaan pelatih, dan penguatan akar rumput. Uniknya, Jepang memadukan sukacita bermain bola dengan kesuksesan berkompetisi.
Jepang menawarkan aneka jalan bagi anak dan remaja untuk merintis karier sepak bola. Sejak usia enam tahun, anak-anak berkesempatan merasakan kegembiraan bermain sepak bola di tim lokal, tim sekolah, akademi, tim kampus, dan sebagainya. Dalam tahap paling awal sepak bola akar rumput, Jepang menekankan kebahagiaan anak-anak bermain bola dengan dukungan keluarga dan tim kepelatihan.
Merasakan kebahagiaan bermain bola dengan teknik yang lebih baik menjadi sasaran tahap berikutnya, yakni tahap pesepak bola muda. Setelah tahap ini, ada dua cabang yang dapat dipilih. Pertama, sepak bola untuk kesehatan jiwa dan raga. Kedua, sepak bola untuk meraih prestasi. Puncak dari rangkaian proses ini adalah dua opsi: sepak bola seumur hidup secara amatir dan sepak bola profesional sebagai atlet.
Sejak tahun 2000, Jepang menyelenggarakan liga untuk tim sekolah menengah atas. Sejak 2008, Jepang mengadakan liga U-15 dan U-12. Sejak 2022, Jepang secara rutin menggelar kompetisi U-18 yang diikuti 24 tim. Hasil dari pembinaan sepak bola akar rumput ini adalah munculnya talenta-talenta lokal berkelas seperti Kaoru Mitoma, sayap serang klub Brighton & Hove Albion di Liga Primer Inggris.
Di sisi lain, Korea Selatan pun mampu membina sepak bola akar rumput dengan baik. Lanskap sepak bola yunior Korea Selatan mencakup tim berbasis sekolah, akademi swasta, dan tim muda yang disponsori klub.
Perjalanan pemain muda Korsel dimulai di sekolah dasar, tempat anak-anak diperkenalkan dengan program pendidikan jasmani, diikuti dengan pelatihan dan kompetisi yang lebih terstruktur di sekolah menengah. Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) memastikan bahwa program mematuhi standar nasional.
Belajar dari negara-negara maju sepak bola, Indonesia perlu segera merancang kompetisi kelompok umur dengan pendekatan sains olahraga. Perlu juga dirinci apa indikator keberhasilan pada setiap kelompok usia, sama seperti yang dilakukan Jepang dalam Japan’s Way.
Alih-alih mengejar prestasi instan, sepak bola Indonesia semestinya merawat akar rumput dengan serius melakukan pembinaan. Kita tidak kekurangan jumlah calon pemain andalan. Secara postur pun, pemain Indonesia masih bisa dikembangkan dengan gizi dan penerapan sains olah raga yang tepat sejak dini. Bukankah postur pemain Indonesia tidak sangat jauh berbeda dengan pemain Jepang?
PSSI beserta segenap pemangku kepentingan sepak bola nasional perlu menata peta jalan yang jelas seperti Japan’s Way yang memuat rencana konkret jangka panjang beserta indikator yang jelas. Kultur sepak bola Indonesia juga menyimpan kekayaan potensi yang menjanjikan demi menciptakan suasana bahagia dalam bermain sepak bola bagi generasi muda yang didukung keluarga, sekolah, pelatih, dan suporter.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/a52705a65b13e0d7845dc2a52b06da06-FBL_WC_2026_ASIA_AUS_INA_128351399.jpg)
Dahulu, Indra Sjafri rajin berkeliling ke pelosok Nusantara untuk memantau talenta lokal. Hal ini patut dilakukan PSSI dalam skala yang lebih luas dan terprogram. Mengapa sedikit sekali diklat sepak bola di Indonesia tengah dan timur? Sangat sukar mengharapkan munculnya bintang baru sepak bola lokal bila fasilitas belum merata.
Alih-alih memberikan makan gratis, lebih elok membangun fasilitas olahraga di sekolah-sekolah dan permukiman. Pemerintah pusat dan daerah bisa menggandeng pula pihak swasta dan masyarakat untuk menyiapkan sarana olahraga yang layak, termasuk lapangan bola.
Sepak bola adalah magnet bagi penonton dan perusahaan. Dana sponsor sangat layak digelontorkan untuk menggulirkan kompetisi usia dini secara berkala. Kompas Gramedia menjadi salah satu contoh baik dengan menggelar Liga Kompas Gramedia (LKG) U-14 secara rutin.
Selain itu, kita memiliki potensi pemain berbakat di antara para santri dan siswa tempat pendidikan berasrama. Keunggulan para santri dan siswa sekolah berasrama umumnya ialah bahwa mereka memiliki pola hidup sehat dan teratur. Umpama, kita memiliki Liga Santri. Salah satu produknya adalah Muhammad Rafli Mursalim, yang pernah memperkuat Timnas U-19. Rafli adalah pencetak gol terbanyak Liga Santri 2016.
Tak boleh kita lupakan adalah pengembangan sepak bola putri Indonesia. Tanpa ada liga yang digulirkan secara rutin, para pemain putri kita akan sulit menempa diri. Ganjilnya, proyek naturalisasi malah juga dilakukan PSSI di sektor sepak bola putri. Padahal, naturalisasi tidak bisa menjadi solusi jangka panjang. Penyelenggaraan kompetisi dan penguatan akademi sepak bola serta kepelatihan sepak bola akar rumput adalah solusi sejati.
Wasana kata, kesuksesan itu bukan hasil satu malam. Ia adalah hasil dari kerja keras dan kerja cerdas dalam jangka waktu yang relatif panjang. Tanpa visi, lolos putaran final Piala Dunia hanya akan selalu menjadi mimpi. Jadi, mari kita bangun Peta Jalan Indonesia menuju Piala Dunia. Semoga!
Bobby Steven, Pemerhati Sepak Bola, Dosen Universitas Sanata Dharma
Penulis:
Bobby StevenEditor:
Johanes Waskita UtamaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase