Merawat Kartini di Kebun Nirkertas

Kita harus lebih kritis terhadap siapa yang dipilih negara untuk mewakili ”perempuan” dalam sejarah visual. Mengapa hanya tokoh tertentu yang ditampilkan?

21 Apr 2025 10:00 WIB · Opini

Oleh Aniendya Christianna

”Saya mau bekerja bukan karena ingin menjadi besar atau termasyhur, tapi karena cinta kepada manusia dan kepada kebenaran.”— RA Kartini, Surat kepada Abendanon, 1 Agustus 1903

Di tengah gempuran teknologi dan pergeseran budaya digital, kita kerap lupa bahwa simbol-simbol yang dulu hadir dalam keseharian kini mulai menghilang. Salah satunya: wajah RA Kartini di uang kertas. Dalam era cashless society—ketika transaksi dilakukan lewat QRIS, e-wallet, dan mobile banking—representasi visual tokoh perempuan yang dulu melekat di dompet rakyat kini perlahan lenyap dari pandangan. Di dunia digital yang cepat dan tanpa wajah, kita patut bertanya: ke mana perginya simbol-simbol perempuan seperti Kartini?

Setiap 21 April, bangsa Indonesia mengenang RA Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan. Namun, peringatan ini sering terjebak dalam seremoni: lomba kebaya, unggahan bertema pastel, atau kutipan yang viral sejenak. Padahal, pemikiran Kartini jauh lebih dalam. Ia menulis dengan keberanian dan kegelisahan, menantang tatanan yang mengekang perempuan untuk belajar dan berpikir bebas. Kartini adalah perempuan pertama yang menuntut perubahan dalam struktur sosial, dengan keyakinan bahwa emansipasi bukan hanya tentang kebebasan individual, tetapi kebebasan kolektif dalam berpikir.

Kartini pernah menjadi perempuan pertama yang wajahnya muncul di uang kertas Indonesia—dimulai dari pecahan Rp 5 tahun 1953, lalu Rp 10.000 tahun 1985. Ini adalah langkah simbolik yang kuat: negara mengakui peran perempuan dalam narasi kebangsaan, dan menyematkannya di medium yang paling luas sirkulasinya, yaitu uang.

Namun, wajah Kartini yang tercetak itu adalah versi yang telah ”ditertibkan”: perempuan cerdas, anggun, dan berbakti, tetapi tidak mengguncang tatanan. Wajah Kartini pada uang kertas adalah representasi dari emansipasi yang ”dapat diterima”: berprestasi, tetapi tetap dalam bingkai sopan dan nasionalis.

Namun, simbol itu tidak abadi. Kini uang fisik Kartini tak lagi beredar. Ia menjadi koleksi langka bagi para numismatis. Tokoh perempuan lain, seperti Cut Nyak Dhien atau Cut Meutia memang sempat menggantikan, tapi proporsi pahlawan perempuan dalam sejarah uang Indonesia masih sangat timpang. Dari total tokoh yang pernah tampil di uang rupiah, lebih dari 80 persen adalah laki-laki. Ketimpangan ini mencerminkan masih sempitnya ruang representasi perempuan dalam narasi visual negara.

Di masa lalu, saat uang berpindah tangan, wajah Kartini ikut berpindah—menyapa siapa pun, dari pasar hingga perkantoran. Kini, dengan transaksi digital, tak ada lagi wajah yang terlihat. Tak ada tokoh perempuan yang hadir dalam interaksi ekonomi harian. Dunia digital menciptakan efisiensi, tetapi juga menghapus jejak simbolis yang pernah menanamkan ingatan kolektif.

Apakah hilangnya uang fisik juga berarti hilangnya kehadiran perempuan dalam ruang publik ekonomi kita? Jika representasi hanya muncul dalam seremoni tahunan, makna perjuangan perempuan akan semakin jauh dari realitas keseharian. Kita perlu menggali ulang sejarah Kartini—tidak hanya sebagai simbol, tetapi sebagai pemikir yang gelisah, tajam, dan progresif.

Bagaimana kita kini membentuk ulang ingatan kolektif atas perjuangan perempuan? Tak cukup lewat festival tahunan atau figur di museum. Kita perlu menciptakan ruang-ruang baru bagi pemikiran Kartini—dalam pendidikan, media, hingga kebijakan publik. Representasi perempuan dalam dunia digital pun harus diperluas: tokoh perempuan kontemporer perlu tampil dalam konten visual, kepemimpinan, teknologi, hingga budaya populer.

Yang juga penting: kita harus lebih kritis terhadap siapa yang dipilih negara untuk mewakili ”perempuan” dalam sejarah visual. Mengapa hanya tokoh tertentu yang ditampilkan? Mengapa Kartini yang dulunya radikal kini sering dijadikan simbol netral? Surat-surat Kartini penuh kegelisahan terhadap ketimpangan—dan itu yang justru relevan untuk masa kini.

Ilustrasi Arsip Kartini

Dalam dunia digital yang serba canggih, kita sering terjebak dalam definisi yang dibatasi oleh layar dan algoritma. Teknologi mungkin sudah memudahkan akses informasi, tetapi juga bisa menimbulkan jarak antara simbol dan makna sejati. Kita harus mempertanyakan, apakah kita sedang merawat ingatan yang sahih atau sekadar melestarikan citra yang dibakukan, seperti Kartini yang hanya tampil di gambar uang kertas atau dalam kutipan-kutipan yang hanya bertahan sehari atau berkebaya selama sehari penuh?

Perjuangan Kartini lebih dari sekadar penampilan visual; pemikiran Kartini memprovokasi kita untuk terus berpikir melampaui batas, untuk menantang ketidakadilan yang tersembunyi dalam sistem yang tampak tak tergoyahkan.

Bagaimana kita sebagai generasi muda bisa menghidupkan semangat Kartini dalam dunia yang serba digital ini? Mungkin bukan lewat uang kertas, tapi lewat ruang digital yang inklusif, suara kebijakan yang adil, dan keberanian untuk terus mengangkat suara perempuan dalam arus zaman yang berubah cepat. Mungkin kita bisa merawat pemikiran Kartini di ’kebun nirkertas’, menanamnya dalam bentuk edukasi yang lebih luas, dalam budaya populer yang mencakup semua identitas, dan dalam kebijakan yang memperjuangkan kesetaraan tanpa batas.

”Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Semua akan berubah, menjadi hujan atau hilang sama sekali.” — RA Kartini, Surat kepada Stella, 27 Oktober 1902.

Semoga awan itu kini berubah menjadi hujan—menyuburkan dunia menjadi lebih setara, adil, dan inklusif, dengan semangat Kartini yang hidup dalam setiap ruang baru yang kita ciptakan.

Aniendya Christianna, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra


Kerabat Kerja

Penulis:

Aniendya Christianna
 | 

Editor:

Johanes Waskita Utama