Merek Baru, Strategi Adaptif Korporasi Hadapi Tren Pasar

Langkah peluncuran identitas merek baru untuk beradaptasi dan relevan dengan kebutuhan pasar Indonesia.

03 Jan 2025 20:53 WIB · Ekonomi

Oleh Emanuel Edi Saputra

JAKARTA, KOMPAS — Dinamika pasar sesuai tren permintaan konsumen menuntut dunia usaha senantiasa menyusun strategi bisnis agar tetap dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut. Salah satu langkah adaptif itu, misalnya, meluncurkan merek baru perusahaan.

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menuturkan, pergantian merek usaha merupakan hal yang lumrah dalam strategi bisnis. Beberapa perusahaan juga pernah melakukannya. Hal itu biasanya dipengaruhi beberapa hal, salah satunya menyesuaikan dengan kebutuhan pasar dalam negeri.

”Kalau dulu (perusahaan) terkenal dengan produk perabot rumah tangga, sekarang dengan merek baru, mungkin menambah sisi layanan ataupun produk,” tutur Nailul, Jumat (3/1/2025).

Barang-barang elektronik untuk rumah tangga seperti teko elektrik dijual dengan setengah harga atau beli satu gratis satu di Ace Hardware selama 26 September-30 Oktober 2018. Meskipun rupiah melemah, belum ada dampak pada harga barang-barang impor yang dijual Ace Hardware.

Peluncuran identitas merek baru juga berpeluang mengukuhkan posisi perusahaan di pasar dalam negeri. Tak sebatas itu, dengan merek yang baru, perusahaan juga bisa lebih dekat dengan konsumen.

Hal itu juga sebagai upaya membangun citra positif merek perusahaan, contohnya dari sisi harga produk yang terjangkau dan lebih adaptif. Selain itu, merek baru juga bisa lebih familiar dengan karakteristik masyarakat di Tanah Air.

Terkait perubahan identitas merek, pusat perlengkapan rumah tangga PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (AHI) pada Kamis (2/1/2025) resmi meluncurkan identitas merek baru, yaitu AZKO, yang mencerminkan keragaman koleksi produk A sampai Z dengan layanan komprehensif dan ide kolaboratif. Identitas merek baru diluncurkan, setelah berakhirnya perjanjian lisensi dengan ACE Hardware International Holdings Ltd pada 31 Desember 2024.

Direktur PT AHI Gregory S Widjaja mengatakan, peluncuran identitas merek baru untuk memperkuat posisi perusahaan di industri tersebut. Langkah itu juga menandai babak baru mereka untuk terus beradaptasi dan relevan dengan kebutuhan pasar Indonesia.

Suasana belanja di pasar swalayan di kawasan Karang Tengah, Kota Tangerang, Banten, Selasa (26/4/2022). Jelang lebaran, pusat perbelanjaan ritel, pasar swalayan hingga pasar tradisional mulai diserbu pengunjung yang hendak berbelanja stok bahan makanan untuk lebaran.

Perubahan merek di 245 toko yang tersebar di 75 kota di Indonesia dilakukan bertahap. Pembukaan toko pertama mengusung konsep next-gen yang modern dan interaktif adalah AZKO Mal Living World, Alam Sutera.

Perubahan merek itu juga berlandaskan fundamental bisnis AHI yang solid serta strategi ekspansi dan inovasi yang konsisten. Pada kuartal ketiga 2024, AHI mencatat pertumbuhan laba bersih 18 persen dan pendapatan bersih 13 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023.

Di samping itu, aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian dengan terpilihnya ACES sebagai konstituen Indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI pada Desember 2024 hingga Mei 2025. Pengakuan itu menunjukkan, tidak hanya fokus pada kinerja bisnis, tetapi juga aktif mengintegrasikan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam operasionalnya.

Selera bisnis

Secara terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Merek Global Indonesia (Apgerindo) Handaka Santosa menuturkan, merek terkait selera dan bisnis. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan. Merek yang terkenal memengaruhi orang untuk datang dan membeli produk.

Telur ayam ras yang ditawarkan di supermarket ritel di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (10/5/2024). Kinerja komponen utama yang semestinya berkontribusi besar terhadap ekonomi justru cenderung moderat pada awal tahun. Itu terlihat dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang hanya 4,91 persen alias di bawah level ideal 5 persen.

”Hanya saja, jika membawa merek, perusahaan harus membayar royalti, tergantung perjanjiannya. Bisa saja, mereka (pemilik merek) meminta royalti naik, tetapi tidak memungkinkan,” tuturnya.

Bisa juga karena konsumen sudah loyal dan mengetahui lokasi ritel tersebut sehingga tidak masalah jika kemudian berganti merek. Langkah itu untuk membuat perusahaan lebih menguntungkan lagi.

”Kemungkinan lain, tidak mendapat dukungan dari ACE Hardware, sementara timnya (AHI) sudah bisa bergerak sendiri,” ujarnya menambahkan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Emanuel Edi Saputra
 | 

Editor:

Hamzirwan .
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra