Indonesia memiliki ratusan peraih medali Olimpiade Sains di tingkat internasional. Keberadaan mereka tidak semua terdeteksi, tetapi karya-karya mereka mengagumkan.
04 Des 2024 05:19 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
Di panggung Olimpiade Sains Internasional, mereka pernah mengharumkan Merah Putih dan menjadi kebanggaan negeri. Seiring waktu, sinar yang mereka pendarkan ternyata tak meredup. Mereka kini berjaya di berbagai belahan dunia. Sebagian dari mereka mungkin dilupakan di Tanah Air, tetapi karya mereka diakui dunia.
Tiga orang tengah mengaso di lantai tiga Experimental Medicine Building, Nanyang Technological University, Selasa (29/11/2024). Siang itu, mereka mengobrol ringan seputar isu terkini di Tanah Air.
Satu dari tiga orang itu, Prastudy Fauzi (38), pada 2003, mewakili Indonesia berkompetisi di ajang Olimpiade Matematika Internasional (IMO). Tahun itu tergolong spesial bagi Indonesia karena untuk pertama kalinya, delegasi Indonesia yang berjumlah 6 orang semuanya meraih medali, yakni dua perunggu dan empat honourable mention. Prastudy adalah salah satu peraih honourable mention.
Selepas melambungkan nama Indonesia di IMO, Prastudy melanjutkan pendidikan sarjananya di Universitas Indonesia. Lulus sarjana, ayah satu anak itu bertekad untuk menekuni kriptografi. ”Passion saya dari kecil suka baca Sherlock Holmes, tentang kode-kode dan pemecahan. Dan saya maunya S-2 itu. Saat itu, yang saya tahu ada di Amerika Serikat dan di Eropa,” kata Prastudy.
Jurusan Kriptografi di awal 2012 sampai 2017 memang masih berkutat seputar pengetahuan yang bersifat teoretis. Namun, jurusan itu kini kian relevan sejak munculnya bitcoin dan criptocurrency.
Mimpi Prastudy pun terwujud setelah berhasil jadi salah satu penerima beasiswa Erasmus. Dia melanjutkan studi magister dengan sistem double degree di dua negara, yakni di Norwegian University of Science and Technology (NTNU), Norwegia, selama satu tahun dan tahun terakhirnya di University of Tartu, Estonia.
”Waktu itu tesis saya karena sudah cocok, S-3 saya juga di Estonia. Itu beasiswa S-3 dari Pemerintah Estonia,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/02/04/91066a72-8727-4339-bcfa-3c8605c6817c_jpg.jpg)
Seusai menyelesaikan studi S-3, Prastudy mengambil program postdoctoral di Denmark dua tahun, kemudian melanjutkan program itu di Norwegia dari 2019 hingga 2021. ”Waktu Covid-19 di Eropa, mau pulang susah banget. Kebetulan anak saya lahir di Norwegia, tidak ada keluarga, tidak ada siapa-siapa. Saya ngurus anak berdua saja sama istri,” ujarnya.
Pandemi Covid-19 yang mewabah di seluruh dunia saat itu membuat Prastudy dan keluarga kecilnya kesepian. Mereka pun akhirnya memutuskan kembali ke Tanah Air pada 2021.
Tiba di Indonesia, Prastudy sempat berpikir untuk menetap sembari mencari pekerjaan. Namun, pasar tenaga kerja di Tanah Air rupanya tak ramah bagi lelaki asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, bergelar doktor itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/b4003496-836e-4fc4-b5c0-173cb2620fc9_jpg.jpg)
“Saya sempat apply di Indonesia, cuma tidak dapat. Di Indonesia saya pernah (melamar) di salah satu start up. Tapi di online form-nya, pilihan pendidikan terakhir hanya S-1 dan S-2. Tak ada S-3, berarti mereka memang tidak nyari untuk S-3,” katanya.
Prastudy saat itu sebenarnya tak terlalu mempersoalkan besaran gaji jika ada peluang untuk bekerja sebagai periset di Tanah Air. Bagi dia, ada kemewahan tersendiri saat bisa berkarya di dalam negeri karena dekat dengan keluarga besar.
Namun, karena tak ada kesempatan di Indonesia, Prastudy akhirnya melamar ke salah satu kampus terkemuka di Singapura. Dia mengirim curiculum vitae ke Nanyang Technological University (NTU) dan satu minggu setelahnya dia menjalani proses wawancara. Prastudi kemudian mendapat surel pemberitahuan dari NTU pada Desember 2021 dan mulai berkarya sebagai Research Fellow di NTU Scripts Center pada Mei 2022.
Kisah luar biasa juga ditorehkan Oki Gunawan, salah satu peraih medali perunggu Olimpiade Fisika Internasional (Ipho) pada 1993, di Wiliamsburg, Amerika Serikat. Lulusan SMA Negeri 78 Jakarta itu terus menggebrak dunia sains dari negeri Paman Sam.
Jalan Oki menuju jalur ilmuwan dimulai dengan terlebih dahulu mengeyam pendidikan sarjana di Universitas Indonesia. Satu tahun belajar Fisika di UI, Oki hijrah ke Singapura setelah mendapat beasiswa Goh Keng Swee dan melanjutkan studi S-1 dan S-2 di NTU bidang electrical dan electronics enggineering.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/08/08/935ce5d8-72a0-4d7b-80b3-717d3e12533a_jpeg.jpg)
”Memang saya suka Fisika. Cuma waktu itu saya ingin lebih mendalami praktiknya, ingin mendalami elektro. Sampai sekarang, riset saya itu gabungan fisika dan elektro,” kata Oki, saat wawancara via Zoom, Rabu (30/10/2024).
Oki seusai menyelesaikan studi magisternya di NTU pada 2000, dia melanjutkan studi S-3 di Princeton University Amerika Serikat (AS) dan lulus pada 2007. AS akhirnya juga jadi negeri tempatnya berkarier.
Lelaki kelahiran 11 Oktober 1975 itu kemudian berkarier sebagai peneliti di IBM TJ Watson Research Center, New York. Di tempat ini, dia berhasil membuktikan kalau orang Indonesia bisa berkontribusi dalam fisika fundamental.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/03/99e044ed3a32ac815caaa09aca88e08a-20241202_H02_Nanyang_Singapore_mumed.png)
Kontribusi terbaru nan luar biasa yang ditorehkah Oki, yakni memecahkan teori Efek Hall yang menjadi misteri selama 140 tahun. Penemuan baru berjudul ”Efek Foto Hall dengan Muatan Terpisah” (2019) dilaporkan di jurnal Nature edisi 7 November 2019.
”Sejarahnya itu ada efek fisika yang ditemukan oleh profesor namanya Edwin Hall awal abad ke-20. Di dalam efek itu, ternyata ada misteri yang orang enggak tahu. Itu saya temukan rumusnya dan saya laporkan pada tahun 2019,” kata Oki.
Inti penemuan “Efek Foto Hall dengan Muatan Terpisah” memberikan cara baru untuk memperoleh sifat-sifat kelistrikan bahan semikonduktor secara lebih detail, yang menjadi material dasar teknologi elektronika. Dalam industri penelitian dan pengembangan semikonduktor, para ahli perlu mengetahui sifat-sifat listrik bahan yang dipakai sebelum mereka memproduksi komponen-komponen elektronika, mikrocip, atau sel surya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/03/ec97313d-3869-4db5-9635-c2d174c311d1_png.png)
Adapun untuk mengetahui sifat kelistrikan bahan bisa menggunakan tiga eksitasi yang ada di alam, yaitu listrik, magnet dan cahaya. Penggunaan medan listrik disebut percobaan hukum Ohm yang ditemukan tahun 1827. Cara kedua disebut efek Hall yang menggunakan medan listrik dan magnet yang ditemukan ilmuwan AS, Edwin Hall tahun 1879. Efek Hall ini sangat fundamental dan terkenal dalam dunia fisika.
Sebelumnya, Oki bersama peneliti Indonesia Dr Yudistira Virgus, alumni ITB yang mengambil doktor di AS dan magang di IBM TJ Watson, juga menemukan satu fenomena fisika baru yang disebut ”Efek Punuk Unta” (2014). Penemuan ini juga bersifat fundamental dalam Fisika dan aplikasinya terus berkembang. Sistem ini juga menjadi basis alat eksperimen yang dipakai dalam penemuan ”Efek Foto Hall dengan Muatan Terpisah” (Kompas.id, 18/12/2019).
Oki dan Prastudi hanya contoh kecil dari para jebolan Olimpiade Sains Internasional yang kini berjaya di luar negeri. Indonesia masih memiliki ratusan jebolan Olimpiade internasional yang saat ini berkarya di luar negeri. Mutiara-mutiara unggul Indonesia itu sebagian belum dikenal di Tanah Air. Sayang sekali.
Penulis:
Stefanus Ato, Insan Alfajri, Melati Wewangi, Sarie Febriane, Pandu WiyogaEditor:
Sarie Febriane, Andy Riza HidayatPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase